
Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
Terimakasih 🥰
Happy reading
Ceklek.
Aku membuka pintu kamar Dinda. Terlihat Dinda sedang duduk pada tepian tempat tidur dengan kaki yang masuk ke dalam baskom berisi air. Dinda tengah berkutat dengan ponselnya.
"Mamah tengok! Aku habis jalan-jalan sama Papah Adi." seru anaknya dengan tersenyum gembira.
"Wah, Mamah tak diajak." sahut Dinda dengan mengalihkan perhatiannya pada Givan yang berjalan ke arahnya.
"Papah bilang Mamah sibuk. Tapi Papah beli sesuatu juga buat Mamah." balas Givan yang melepaskan sepatunya dan langsung merebahkan diri di tempat tidur.
"Papah bawain apa buat Mamah?" tanya Dinda menatapku dengan mata yang berbinar. Aku merasakan detak jantungku berdebar saat Dinda memanggilku Papah.
"Tengok nih Mah!" jawabku balas memanggilnya Mamah. Dia tersenyum geli dan memukul lenganku saat aku telah duduk di sebelahnya.
"Pop corn caramel. Janji ya jangan putusin aku." ucapku dengan meliriknya dan mengedipkan satu mataku. Tawanya langsung pecah. Aku pun ikut tertawa bersamanya.
Aku menoleh pada Givan, ternyata anak itu melanjutkan tidurnya. Mungkin ia masih mengantuk, dia tidur kurang dari setengah jam saat diperjalanan tadi.
Aku berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu kamar Dinda. Aku tak mau orang-orang memergokiku berada di dalam kamar Dinda.
"Kakinya kenapa Dek?" tanyaku dengan melepaskan sepatuku lalu merapihkan belanjaan yang kubawa tadi.
"Aku tak terbiasa pakai sepatu hak tinggi." jawabnya mengangkat kakinya kemudian mengelapnya. Kemudian Dinda mengamankan baskom berisi air tersebut.
Lalu aku membuka kancing kemejaku dan menaruhnya di atas kursi yang terdapat di kamar ini.
"Kau mau apa?" tanya Dinda melihatku berjalan mendekatinya.
"Apa sih kau? Negatif terus pikirannya." sahutku dengan berjalan mendekatinya dan, cup. Aku mencium bibirnya sekilas. Namun Dinda diam saja.
"Kok kau tak marah?" tanyaku dengan memperhatikannya dengan heran. Sudah beberapa kali aku menciumnya tapi dia tidak marah.
Dinda berbalik dan langsung mendorongku, aku terjatuh dia atas tempat tidur dengan menarik tangannya. Sontak ia pun terbawa beban tubuhku dan jatuh dengan posisi menindihiku. Kami persis di sebelah Givan yang sedang tertidur.
Aku dan Dinda menahan tawa kami, "Abang mau tidur! Jangan sampai kau yang Abang tidurin, Dek!" ucapku menatap matanya. Entah kenapa hal kecil bersamanya selalu terasa lucu dan berkesan.
"Aku yang mau nidurin Abang!" ucapnya dengan tersenyum miring. Gila memang perempuan ini.
Ia meraba dadaku, telunjuknya seolah menuliskan sesuatu. Aku terpejam menikmati sentuhan tangannya. Ini geli dan begitu memabukan. Aku merasakan posisi tubuhnya sedikit merosod ke bawah.
Tangannya bermain di sekitar p*ting dadaku, dan sesekali mencubitnya pelan. Aku baru pertama kalinya dipermainkan oleh wanita. Aku berusaha menahan desisanku yang akan keluar dari mulutku.
__ADS_1
Hembusan hangat nafasnya menerpa dadaku dan, cup. Ia mencium sekilas dadaku. Hidungnya sengaja ia tempelkan sedikit pada dadaku menuju p*tingku. Ia menjulurkan lidahnya, dan bermain-main dengan p*tingku. Ini gila, Adi's bird menegang sempurna saat dia mengulum dan menggigit pelan p*tingku. Desisku keluar karenanya.
"Jangan gila, Dek! Jangan permainkan Abang lagi!" ucapku memberikan peringatan padanya. Suaraku sudah serak memberat. Aku ingin dia berada di bawahku dan meneriaki namaku sekarang juga.
"Maaf! Makanya jangan telanjang dada di depanku!" serunya merangkak sedikit naik. Aku merasakan hembusan dari mulutnya yang berbicara tepat di depan wajahku.
Aku meraih tengkuknya dan untuk bisa meraup bibir tipisnya. Dinda tak merespon ciumanku. Aku menghisapnya sedikit kuat dan sengaja kugigit pelan bibirnya. Reflek mulutnya terbuka dan lidahku langsung memasuki mulutnya.
Aku memegang pinggangnya sedikit erat. Agar ia tak bisa meloloskan diri dariku.
"Humpppppt, lepaaaas Ba-ng." ucap Dinda disela ciumanku yang sedikit menuntut. Aku melepaskannya sesaat untuk meraup oksigen yang lebih banyak, dan aku membalikkan posisi tubuhnya yang sekarang berada di bawahku.
Entah Dinda berbicara apa. Aku langsung membungkam mulutnya kembali dengan ciumanku yang lebih kasar dari sebelumnya. Dengan posisi seperti ini, aku bisa mengunci tubuhnya dan juga pergerakannya.
Aku melepaskan ciumanku dan berpindah menusuri lehernya yang masih terdapat beberapa bekas merah. Lalu aku menambahkannya lagi.
"Kau kasar sekali! Aku tak suka!" seru Dinda yang bisa kudengar dengan jelas. Aku berhenti dari aktifitasku, dan kembali menatap kedua matanya yang sedikit berair.
Jangan katakan dia menangis. Apa benar aku terlalu kasar memaksanya, "Dek." ucapku halus dengan membelai lembut wajahnya.
"Abang tuh kalau aku bercandain, balasnya tak terkira kali." ucap Dinda dengan menatap mataku sendu.
"Ya ampun, Dek. Kau bercandain Abang lagi? Dek, kau yang paham. Abang laki-laki normal! Tak bisa kau permainkan Abang dengan cara ini. Abang tersiksa Dek!." ungkapku bangkit dari atasnya. Aku duduk di tepian tempat tidur dan mengacak rambutku frustasi.
"Bang." lirih Dinda dengan duduk dari posisinya. Dia memegang bahuku. Aku emosi setengah mati. Dinda keterlaluan dalam bercanda. Apa dia tak punya otak? Apa dia kira aku tak berer*ksi terhadapnya?
Namun tepat di depan kamar Dinda, ada Edi yang terlihat kaget dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
"Bang." seru Edi saat aku berjalan melewatinya begitu saja.
"Abang lagi tak mau diganggu!" tegasku tanpa memperdulikannya. Aku berjalan melewati beberapa orang dengan kemeja yang tak kupakai lagi.
Aku keluar dari rumah, dan masuk kembali ke dalam mobilku. Aku menginjak pedal gas dengan emosi yang meletup-letup. Aku mengemudi dengan tak tentu arah tujuanku. Sudah beberapa kali Dinda sengaja seperti ini.
Kali ini aku masih melepaskannya, karena posisi kami berada di rumah umi. Aku tak mau meningkatkan resiko ketahuan dan dipaksakan untuk menikah karena sudah berbuat mesum.
Aku menepi disalah satu ruko yang tutup. Aku membuka ponselku, terdapat beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Dinda, Edi, juga Jefri.
Aku memejamkan mataku, sungguh aku merasakan amat tersiksa dengan milikku yang masih mengeras. Aku harus menuntaskan ini. Aku membuka aplikasi chatku, mencari kontak seseorang yang mungkin bisa membantuku.
Aku menemukan nama Seila, aku menanyakan posisinya berada di mana sekarang. Dia menjawab stay di kota ini. Aku langsung beralih menelponnya.
"Seila?" ucapku memastikan apa benar ini dengan dia sendiri.
"Ya, kenapa Di?" tanyanya langsung dari sebrang telepon.
"Bisa tolong carikan perempuan satu aja. Tapi perawan ya." ungkapku tanpa basa-basi lagi.
__ADS_1
"Buat apa? Mau kau jadikan istri?" tanya Seila bingung.
"Tak juga. Aku butuh pelepasan, tapi aku jijik kalau bekas orang." sahutku jujur.
"Hmm, kejadiannya udah seminggu lalu sih." tutur Seila tak jelas.
"Apanya?" tanyaku bingung dengan arah pembicaraan kami.
"Jadi minggu lalu, suamiku ketahuan pesen gadis SMA yang masih ting-ting gitu. Terus keburu ketahuan sama aku. Aku sempet sih screenshot nomornya." balas Seila menceritakan secara singkat.
"Bener perawan tak? Dia jual buat apa? Kalau palsu gimana?" tanyaku beruntun. Karena di jaman sekarang selaput darah palsu sudah banyak dijual di toko online.
"Ya kau pastiin aja sendiri! Aku kirimin aja ya screenshotnya." jawab Seila langsung mematikan sambungan telepon. Tak lama aku mendapat kiriman hasil screenshot kontak tanpa nama. Aku sudah amat kebelet, aku langsung menyalin nomor tersebut dan menelponnya.
~
Aku sudah berada di tempat yang dijanjikan gadis yang akan menjual dirinya tersebut. Entahlah ini benar atau salah, aku sudah gelap mata.
Aku melihat gadis berseragam SMA mendekat ke arahku. Hah, dia baru pulang sekolah ternyata?
Dia tersenyum ramah padaku, "Permisi, aku Intan. Apa benar Om yang menelpon saya tadi?" tanyanya ramah.
Aku tak habis pikir. Aku mengangguk mengiyakan, "Iya saya Adi." ucapku mengulurkan tanganku, dia menyambut uluran tanganku.
"Silahkan duduk. Mau minum apa?" lanjutku tersenyum ramah padanya. Kebetulan kami berada di cafe pinggir jalan.
"Apa aja boleh." sahutnya singkat dan duduk di depanku. Kenapa dia tak pulang dulu? Kalau dia habis pulang sekolah bagaimana dengan bau keringatnya? Aduh, aku langsung tak bersemangat memikirkannya.
"Baru balik sekolah Dek?" tanyaku memperhatikannya. Dia tidak cantik, dan tidak jelek juga.
"Iya Om." jawabnya singkat. Sungguh aku tersinggung dipanggilnya Om.
"Jangan panggil Om, Dek! Kalau boleh tau, atas dasar apa sampai kau menjual dirikau sendiri?" tanyaku ingin mengetahui alasannya.
"Sebenarnya aku butuh uang tambahan buat beli handphone terbaru Mas." ungkapnya yang sepertinya jujur. Ada-ada saja anak muda jaman sekarang.
"Benar kau perawan?" balasku memastikan.
"Iya Mas. Untuk berhubungan se*s aku belum pernah melakukannya." terangnya dengan malu-malu.
Berarti dia pernah pacaran kan, bagaimana kalau dia tertular penyakit dari ludahnya. Aduh bagaimana ya? Apa tidak jadi saja?
Tubuhnya juga kurus begitu, tidak membuatku bergairah. Aku ingin yang putih, montok, padat, tak terlalu tinggi, juga menarik seperti...Dinda.
Uhh, stop. Kenapa Dinda lagi? Aku memijit pangkal hidungku. Apa kuselesaikan dengan bermain tangan saja kah?
TBC.
__ADS_1