Sang Pemuda

Sang Pemuda
108


__ADS_3

Esok harinya, aku mengantarkan Retno ke stasiun kereta K*******. Tentu saja karena perintah dari umi. Karena ia ingin mengunjungi keluarganya yang berada di provinsi JTim.


Aku hanya bersuara ketika ditanya. Dan Retno pun bertanya seperlunya saja.


"Dinda itu seperti apa orangnya?" tanya Retno ketika aku menemaninya menunggu keretanya datang.


"Dinda siapa?" aku bertanya balik. Dan seolah-olah tak mengerti maksudnya.


"Dinda penulis itu. Dia kan wanita idaman Abang?" ucapnya memperjelas.


"Tak perlu dibahas." sahutku ringkas.


"Aku ingin tau sedikit saja. Sampai-sampai kau masih menganggapnya wanita kau, walaupun jelas sudah dilarang umi." balasnya menyahutiku.


"Tak ada yang istimewa dari dia. Hanya saja memang dirinya begitu berarti untukku." ungkapku pada Retno.


"Berarti karena apa?" tanyanya seperti ingin tahu lebih.


"Karena ia banyak mengajarkan aku banyak hal. Dulu, aku kira hidup itu cuma hitam dan putih, halal dan haram, benar dan salah. Sampai aku bertemu dengannya, yang berada di lingkungan hitam karena alasan, menjadi salah karena alasan, mencoba haram dan diikuti lagi karena alasan. Dan lebih-lebih ia membuka mataku untuk tidak mempermainkan wanita lagi. Aku harap kau paham. Karena percuma juga kalau kita tetap menikah, tapi tujuan hidupku ada bersamanya." ungkapku yang tak pandai berkata-kata.


Retno mengangguk mengerti, "Aku paham. Aku sekarang tak pernah memaksa kau. Semoga kau dan Dinda segera menemukan jalan keluarnya." ucapnya lalu permisi pergi masuk ke dalam kereta api yang ternyata sudah tiba.


Dan aku pun berlalu pergi meninggalkan stasiun. Dengan membahas Dinda tadi. Aku jadi semakin ingin bertemu dengannya. Tiga kali aku menghubunginya, namun tak diangkat sekalipun. Apa dia tengah sibuk sekarang?


~


~


~

__ADS_1


Satu minggu kemudian, aku sudah berada di tempat ustad lagi sekarang. Aku, umi, Edo dan Jefri berangkat ke kota J dari jam empat subuh. Kebetulan juga Jefri libur, jadi ia tak begitu buru-buru seperti kemarin. Namun tetap kita berangkat lebih awal, karena waktunya sudah ditentukan oleh pihak ustad tersebut. Mereka meminta kami sampai ke sana pukul sembilan pagi.


Kali ini aku tak merasakan begitu sakit seperti waktu itu. Ustad itu memintaku untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Dan memintaku memaafkan perbuatan pelaku yang terlibat dalam kiriman penyakit ini. Selain dukunnya, aku diminta memaafkan orang yang telah menyuruh dukun tersebut.


Yang membuatku begitu terkejut, ustad itu mengatakan bahwa dek Dinda sudah mengetahui pelakunya. Umi menyenggol lenganku, begitu aku menoleh ia terlihat begitu kaget namun tak mengeluarkan pernyataan apa pun.


"Bagaimana caranya dek Dinda bisa tau pelaku itu, Pak ustad?" tanyaku setelah diberi minum oleh ustad tersebut.


"Dinda yang bantu puasa. Dia udah dari sebulan yang lalu ke sini. Waktu Bang Adi ke sini itu udah pengobatan yang ke tiga." jawab ustad tersebut. Lalu terjadi percakapan ringan. Dan ustad tersebut berkata jika masih ada masalah balik ke sini lagi. Khawatir pelaku tersebut malah mengirimkan ulang karena permasalahan aku dan pelaku belum selesai dengan baik. Tak lama kami pun pamit pulang, karena harus bergiliran dengan orang lain yang ingin berobat juga.


Lalu umi mengajak kami semua untuk singgah di rumah makan terdekat. Setelah selesai menyantap makanan, kami bersantai sejenak. Dengan membahas wanita yang dijodohkan dengan aku itu. Umi begitu bersemangat menceritakan tentang Retno pada Jefri. Jefri menanggapi dengan baik. Namun terlihat ia sedikit bingung dan kaget juga.


Terdengar dering ponsel Jefri. Jefri melihat layar ponselnya, dan melirikku sekilas.


"Hallo, Dek." ucap Jefri dengan meloud speaker ponselnya.


"Hallo, Bang. Aku udah transfer uang 150 juta. Tolong bantu A Arif untuk proses pembayaran tanah, dan urus surat balik nama juga. Rekening A Arif bermasalah. Mau pakai rekening istrinya nanti bingung takut kecampur sama uang jualan." ujar Dinda yang bisa kudengar.


"Kau kalau butuh uang tinggal pakai aja. Uang buat tanah sekitar 125 jutaan. Belum urus suratnya." balas Dinda. Ia sepercaya itu pada Jefri. Apa ia tak khawatir uangnya dibawa kabur Jefri.


"Ini masalah uang loh, Dek. Nanti kalau aku khilaf terus Abang bawa kabur gimana?" tutur Jefri yang sepemikiran denganku.


"Jangan salahin aku kalau kau nanti muntah paku." ucap Dinda yang mengundang humor untukku dan Jefri.


"Iya ya Dek. Berani macam-macam, dukun bertindak." tukas Jefri menimpali gurauan Dinda. Terdengar kekehan Dinda diseberang telepon.


"Kau cepat betul ngumpulin duit, Dek. Perasaan kau kemarin sampai jual motor dan bongkar-bongkar tabungan kau yang di bank korea itu." perkataan Jefri yang mengundang penasaran untukku. Untuk apa Dinda sampai jual motor dan mengambil uang tabungannya.


"Yang aku ceritakan dapat bonus dari penerbit itu, itulah uangnya. Dapatnya sih, 165 juta. Itu tuh sama apa gitu lah, tak cuma dari bonus. Buat nyambung ke ustad waktu itu sama yang kata kau minggu depannya harus balik lagi itu. Givan sama Bang Adi totalnya 13,5 juta. Buat pesawat aku, ya sisa 150 itu Bang." ungkap Dinda menceritakan pada Jefri. Aku tak menyangka, ternyata uang pengobatanku semahal itu dan Dinda semua yang biayai.

__ADS_1


"Sekarang kau tak pegang uang lebih?" tanya Jefri kemudian.


"Ada dua juta. Buat nyambung sampai akhir bulan." ucapnya dengan terkekeh ringan, "Yaaa, cukuplah buat jajan anaknya Mahendra sih." lanjutnya kemudian. Aku sedikit tak suka mendengar Dinda menyebut Givan anak Mahendra, walaupun kebenarannya Givan memang anak Mahendra.


"Givan jajannya kenceng, Abang tau betul. Susu kotak aja dia bisa habisin enam sampai tujuh biji sehari. Tiga ribu kali tujuh aja udah berapa. Belum cilok dan ciki-ciki yang lain. Mana cukup dua juta sampai akhir bulan." ujar Jefri merinci uang jajan Givan.


"Belum jajan kaunya. Makan setiap harinya." lanjut Jefri memperjelas.


"Di sini banyak tumbuhan yang bisa di masak." jawab Dinda ringan. Sungguh aku merasa tak tega mendengarnya.


"Nanti lebihnya Abang transfer balik deh uangnya." sahut Jefri setelah beberapa saat terdiam.


"Tak perlu. Nanti juga ada uang lagi." balas Dinda santai.


"Uang dari mana?" ucap Jefri bertanya lagi.


"Rejeki bisa datang dari mana saja. Kau tenang aja." ujar Dinda yang merupakan kalimat penenang semata.


"Ya udah, ada hal lain tak?" sahut Jefri kemudian.


"Hmm, paketin trasi merek biasa aku pakai aja. Aku pengen makan pakai sambel, terus lalabnya daun selada sama ayam goreng. Hmmmmm, kayanya nikmat betul." balas Dinda yang sepertinya sedang membayangkan makanan.


"Ya udah, kirim alamatnya." tutur Jefri yang mendapat 'oke' dari Dinda.


Jefri masih asik bermain dengan ponselnya. Namun terusik dengan pertanyaan dari umi.


"Memang Dinda sekarang ada di mana?" tanyanya yang membuatku langsung menoleh ke arah Jefri, agar ia tak memberitahu umi yang sebenarnya.


Sungguh aku merasa begitu khawatir sekarang. Khawatir Jefri akan memberitahu keberadaan Dinda sekarang.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2