Sang Pemuda

Sang Pemuda
50


__ADS_3

Happy reading.


Ayo, support author 🥰


ADI POV


Sesaat setelah sampai di rumahku yang berada di kota C, aku merasakan aura seram yang kental. Padahal baru dua hari tak ditempati. Tapi sudah seseram ini, bagaimana kalau beberapa minggu aku kembali ke provinsi A nanti.


Aku tiba-tiba merasakan sedikit pusing dan mual, beberapa kali aku menguap. Aku pun merasa kantuk yang mendadak dan sakit punggung. Sakit di punggungku mungkin karena terlalu lama mengemudi. Tapi entah dengan kejadian lain yang tiba-tiba ini.


Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur dan tak lama aku pun tertidur.


~


Aku terbangun seketika saat bisa meloloskan diri dari mimpi buruk di siang bolong ini. Dengan sesak nafas yang melandaku, aku mencoba bangkit dari posisi tidurku. Ada apa dengan kesehatanku? Sebelumnya aku tak pernah merasakan seperti ini. Aku duduk menyandarkan diriku di kepala ranjang. Aku mengatur nafasku perlahan. Berharap rasa sesak ini berangsur membaik.


Tapi pikiranku malah kemana-mana, aku berpikir Dinda memiliki riwayat penyakit seperti ini dan aku tertular karenanya.


Tak lama sesak yang melandaku tadi berangsur membaik dan bisa bernafas dengan lega lagi.


Aku mengambil minum dan duduk di kursi meja makan. Aku memainkan ponselku untuk memesan makanan. Tapi sungguh rasanya seperti ada yang sedang mengawasiku. Aku langsung pergi ke luar rumah dan duduk di bangku yang terdapat di sini. Ada apa dengan rumahku?


Jujur aku takut dengan makhluk tak kasat mata. Aku mempercayai mereka ada, namun pemikiranku jika aku tak mengganggu mereka juga tak akan menggangguku.


Sembari menunggu pesanan makananku datang, aku menghubungi Dinda dan menanyakan keberadaannya dan anaknya.


Dinda masih cuek saja padaku. Aku makin setres saja karenanya. Aku harus bagaimana menyikapinya?


Jajan anaknya, kemauan anaknya, gaji yang sudah ku transfer sebanyak lima belas juta itu, tiket pesawat, dan juga ku kasih pegangan mobilku. Tapi tetap saja aku tak mendapatkan sesuatu darinya. Berharap tubuhnya sedikit bisa kucicipi, malahan ia meminta status yang jelas untuk hubungan kami.


Ibu Rokhayah berjalan dengan membawa beberapa kantong plastik. Mungkin ia sehabis berbelanja.


"Eh, baru sampai Di?" sapanya yang melihatku tengah bersantai seorang diri.


"Iya Bu." jawabku sambil tersenyum ramah.


"Pas pagi-pagi sekali ada perempuan nyariin kamu Nak!" ucapnya dengan sedikit menghampiriku.


"Siapa Bu?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Kurang tau juga ya. Soalnya Ibu gak nanya juga sih Di." terangnya seperti mengingat sesuatu.


"Oh, mungkin hanya orang singgah sebentar aja Bu! Memang tak nyapa Ibu? Atau nanya apa gitu?" tanyaku memastikan.


"Dia cuma lewat dan nanya di mana rumahnya Adi yang kerja di kedai kopi itu." balasnya memberi tahuku. Setelahnya kami terlebat obrolan ringan, dan Ibu Rokhayah pamit pergi setelah pengemudi ojek online datang yang membawa pesanan makananku.


Siapa ya kira-kira perempuan itu? Tak mungkin Dinda juga. Jangan-jangan Silvana, kawan senam Dinda itu. Atau Ashila, tapi untuk apa juga dia berkunjung. Entahlah, aku tidak mau menambah beban pikiranku.


Aku masuk ke dalam dan menyantap makananku. Lalu aku membersihkan rumahku dengan hawa merinding yang menyelimutiku. Setelahnya aku menelpon Jefri dan Haris untuk datang ke tempat gym. Mungkin aku kurang olah raga sehingga sampai aku sesak nafas secara mendadak tersebut.


~


Sekitar pukul tujuh malam, aku telah bersiap untuk datang pada acara pernikahan Revi.


Mobil Haris berhenti di depan rumahku. Ternyata mereka sudah sampai. Aku keluar dan masuk dalam mobil. Aku datang bersama Jefri, Haris,


Di dalam mobil kami hanya mengobrol tentang anak-anak Haris dan juga Givan. Tak lama, akhirnya kami pun sampai di sebuah hotel yang menjadi acara resepsi pernikahan Revi tersebut.


"Coba kau tengok Revi. Tambah cantik ya dia." ujar Haris menyenggol lenganku. Saat kami sudah berada di dalam gedung.


"Dia cantik karena ber-make up! Coba kalau dihapus itu make up-nya." sahutku yang mendapat pukulan ringan dari Jefri, dan kami menahan tawa membayangkan Revi tanpa make up.


"Kenapa kau ketawa?" ucapku yang masih tertawa kecil.


"Memang selaputnya aku yang dapat!" sahutku membenarkan ucapan Jefri.


Haris menepuk bahuku saat tawanya mereda, "Nih coba kita naik, salamin itu mantan kau Di." ajak Haris seolah aku adalah mantan yang tersakiti.


Lalu kami bertiga pun berjalan ke arah pelaminan. Ah aku ingin sedikit menggoda Revi, mumpung yang menyalaminya tak ramai orang.


"Masih ingat aku Rev?" tanyaku saat tanganku bertautan dengannya dan mengedipkan satu mataku. Tentu saja aku pastikan suaminya tak melihatnya.


Dia tersenyum canggung dan mengangguk, "Masih. Tak mungkin juga aku bisa lupa, Di!" jawabnya kemudian.


Jefri dan Haris langsung bersiul heboh dan tertawa dengan gembira. Aku mendelik tajam untuk memperingatikan mereka. Bagaimanapun juga sekarang Revi sudah bersuami, dan suaminya ada di sampingnya. Gila memang Jefri dan Haris ini.


Setelah mengucapkan selamat untuk keduanya, aku pun turun dan berbaur dengan yang lain dengan menyantap hidangan yang sudah disediakan.


Tak banyak kawan lama yang datang di sini. Mungkin karena Revi juga sudah menggelar pesta pernikahan di daerahnya.

__ADS_1


Seseorang menepuk bahuku, aku berbalik menghadapnya. Dia tersenyum lebar padaku, aku pun membalas senyumannya. Cut Farah Hevina, teman sekelasku. Anak seorang pengusaha pertambangan yang cukup tersohor di jaman aku sekolah dulu. Aku dulu enggan berteman dengannya, karena aku cukup tau diri akan status sosialku.


"Gimana kabarnya?" tanyanya yang sepertinya masih mengingatku.


"Baik. Ada di sini?" tanyaku memperhatikan wajahnya yang terlihat teduh itu.


"Hm, tentu. Sahabatku menikah, tak mungkin aku tak membantunya." jawabnya. Aku hanya mengangguk menanggapi jawabannya.


"Kok kau ada di kota ini Di?" lanjutnya kemudian saat aku hanya diam tak melanjutkan obrolan dengannya.


"Udah hampir sebulan aku stay di sini." sahutku tetap menjaga jarak dengannya.


"Kerja atau bagaimana?" balasnya yang kujawab dengan anggukan kepala saja.


"Kenapa sih kau cuek kali." ujarnya dengan memanyunkan bibirnya.


Aku tersenyum sekilas, "Terus gimana harusnya?" ucapku dengan melirik padanya.


"Huh!" suara kesalnya dan duduk di kursi yang tersedia di dekatku.


Kemana tadi si Haris dan Jefri. Kenapa aku ditinggal sendirian begini. Aku memutuskan untuk duduk di sebelah Farah saja. Karena di sini paling dekat dengan pintu keluar. Jika Haris dan Jefri akan pulang maka aku bisa melihatnya keluar dari sini.


"Kerja di mana memang Di?" tanya Farah mengajakku mengobrol lagi.


"Kedai kopi. Kau sekarang sibuk apa Far?" sahutku dan bertanya balik padanya, agar tak dicap cuek seperti yang ia katakan tadi.


"Sibuk ngelolah cofee shop aja sih. Aku juga ada cabang cofee shop di kota ini, Di. Apa nama kedai kopi tempat kau kerja?" ungkapan dengan menoleh padaku.


"Namanya memang Kedai Kopi." sahutku dengan jelas.


"Oh kirain kedai sebutan Di. Kan biasanya orang-orang kita nyebut toko, warung kopi, cofee shop, atau sejenisnya pakai sebutan kedai." balasnya dengan memandangku lakat. Kenapa ini perempuan? Aku risih melihatnya secara terang-terangan memperhatikankanku dengan saksama begini.


"Bukan. Tempatnya macam cofee shop juga, bukan warung kopi remang-remang begitu. Tapi memang dinamakannya Kedai Kopi." jelasku padanya. Dia mengangguk mengerti.


"Udah nikah Di?" tanyanya random. Pertanyaan yang paling kuhindari. Inilah kenapa aku malas datang ke pesta pernikahan.


TBC.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😉

__ADS_1


LIKE, VOTE, COMENT 😁


TERIMAKASIH 🥰


__ADS_2