Sang Pemuda

Sang Pemuda
90


__ADS_3

"Jangan bilang paman kau dan anak laki-lakinya itu pengen nguwasain ladang Abi kau, Bang." ucap umi padaku.


"Hah?" responku kaget. Tidak mungkin juga rasanya paman begitu. Tapi umi tadikan hanya memastikan.


"Hah gimana? Ayah kata, orang ayah diminta balik sama paman kau. Orang ayah bilang, ladang kau biar paman kau aja sama anaknya yang ngelola. Apa lagi coba maksudnya kalau bukan mereka mau nguasa'in?" ungkap umi terlihat tidak terima.


"Makanya cepet ladang kau balik nama jadi nama kau semua. Kau selalu bilang tak usah, tak usah biar jadi kenang-kenangan dari abi. Kesel kali Umi." ujar umi dengan berlalu pergi dari sini.


Aku tersenyum senang. Rupanya Dinda benar-benar sudah menyusun rapih rencananya. Karena aku yakin seratus persen pamanku dan juga Safar tak akan melakukan hal demikian. Untuk apa coba mereka mengambil lahanku yang tak terlalu besar itu. Sedangkan mereka sudah bergelimang harta dengan usahanya sendiri, dan tentu saja mereka sudah mendapatkan bagian sendiri dari kakekku.


Lalu aku melangkah kembali ke lantai atas, menuju kamarku. Dan langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku begitu aku sampai di dalam kamar. Aku kembali bermain ponsel berharap bisa menemukan fakta lain tentang Dinda dan juga Givan.


Namun sampai akhir postingan Dinda. Aku tak menemukan apapun. Namun terlihat perubahan pada penampilan Dinda yang semakin ke sini, semakin terlihat fashionable, bertambah padat namun tidak gemuk juga, lebih muda, kulitnya lebih terawat, dan dadanya juga sedikit lebih kentara sekarang ketimbang dulu. Apa ia sengaja memperbesar p*yudar*nya kah?


Tapi sepertinya itu akun barunya. Karena postingan paling akhir bertanggal sekitar satu tahun yang lalu. Sepertinya itu akun sosial medianya sejak ia menjadi janda. Karena tak terlihat foto laki-laki di sana, ataupun caption yang menunjukkan ia memiliki seorang suami.


Aku mengetikan nama Dinda dan juga Givan pada kolom pencarian. Namun tak kunjung menemukan foto Dinda dan Givan pada foto profil orang-orang yang bernamakan sama dengan mereka.


Sudahlah, aku lelah sendiri seperti ini. Aku memutuskan untuk membersihkan diri dan menunaikan shalat ashar saja. Karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


~


~


Pagi harinya, saat aku hendak menunaikan shalat subuh. Aku dikejutkan dengan suara benda yang menghantam plafon kamarku. Dan beberapa detik kemudian aku langsung merasa sesak nafas kembali.


Aku meraih alat untuk melegakan nafasku, yang disarankan oleh dokter rumah sakit kemarin hari. Dan aku langsung mencoba menggunakannya.


'Yang ikhlas, Di. Yang sabar, Di.' ucapku dalam hati. Lalu aku membaca shalawat sebisaku.

__ADS_1


Kenapa aku masih menyangka bahwa Dinda pelakunya. Tapi jelas hatiku menyangkal prasangka burukku ini. Aku paham Dinda tak mungkin setega itu padaku. Tapi semakin aku memikirkannya, aku malah teringat kembali dengan kata-kata kasarku yang pernah kulontarkan padanya. Benarkah Dinda sakit hati padaku?


Entah sampai kapan aku harus begini. Sekarang pun aku tak bisa terlalu lelah, dan aktifitasku terbatas karena nafasku yang sudah tak sekuat dulu. Untuk naik turun tangga dalam waktu dekat juga aku langsung merasakan nafasku hampir habis. Aku tak yakin, aku bisa bertahan lama dengan kondisi seperti ini.


AUTHOR POV


Ibu Meutia berjalan perlahan menuju kamar Adi. Ia ingin membangunkan anak sulungnya untuk menunaikan ibadah shalat subuh.


Tok, tok, tok.


"Bang, bangun Nak. Shalat subuh dulu." ucapnya dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar Adi.


"Bukk...ka Um-mi, tooooolong." seru Adi dari dalam kamar dengan suara yang tersengal-sengal.


Ibu Meutia langsung membuka pintu kamar Adi yang tidak dikunci itu. Ia menemukan Adi tengah merebahkan tubuhnya, dengan posisi kepala sedikit tinggi yang bertumpu pada tumpukan beberapa bantal itu.


Ia begitu panik, dan menghampiri anaknya dengan segera.


Adi menggeleng, menolak tawaran ibunya. Sesekali ia melepaskan alat tersebut dan menarik nafasnya sendiri. Berulang kali ia seperti itu sampai cahaya matahari mulai terasa menghangatkan manusia-manusia yang sedang beraktifitas di luar rumah di pagi hari ini.


Setelah nafas Adi sudah kembali normal. Ibu Meutia turun ke bawah berniat membawakan sarapan untuk Adi. Ia pun sekarang dirutinkan untuk meminum obat yang diresepkan dari rumah sakit tempat ia dirawat tempo hari itu.


"Nih, makan dulu." ucap ibu Meutia halus. Terlihat tubuh Adi sedikit kurus. Padahal ia belum lama sakit. Bagaimana jika ia tak kunjung sembuh sampai akhir hayatnya. Pasti sudah tinggal tulang saja.


"Zuhra sama Edo udah berangkat?" tanya Adi pada ibu Meutia. Lalu ibu Meutia mengangguk menanggapi Adi.


Setelah tiga suap makan masuk dalam mulutnya, Adi langsung menyudahinya. Adi merasa perutnya terasa penuh sekali. Padahal ia buang air besar rutin setiap hari.


"Umi, aku kalau tak ada umur panjang. Aku mau dimakamin di provinsi A aja, ya? Bareng abi, masyik dan abusyik." ujar Adi yang merasa lelah dan tak memiliki semangat hidup lagi.

__ADS_1


"Heh, ngomong apa kau? Abang pasti lekas sembuh." sahut ibu Meutia yang mencoba menenangkan Adi.


"Nih , diminum obatnya. Terus Abang istirahat ya." lanjut ibu Meutia membukakan obat untuk Adi dari bungkusnya.


"Tengoklah, Umi. Abang punya badan kurus begini. Perempuan juga tak sudi hanya untuk melirik Abang." ujar Adi frustasi. Susah payah Adi olah raga sebisanya dalam bui. Berharap otot yang ia bentuk setiap hari akan bertahan lama sampai ia menua nanti. Eh tak taunya hanya sampai satu bulan ia bebas saja. Ototnya sudah kembali menghilang karena ia kurusan sekarang.


"Nanti kalau sembuh Abang bisa rajin-rajin fitnes lagi. Yuk jalan-jalan di depan rumah sebentar aja. Terus Abang istirahat. Dari pada ngaco begini. Bikin Umi pusing aja." ungkap ibu Meutia seperti menggerutu, namun masih bisa didengar jelas oleh Adi.


~


Siang harinya, setelah Adi menunaikan shalat dhuhur. Ia berjalan ke ruang keluarga dan menonton televisi bersama adik bungsunya, Zuhra. Ia teramat ingin mendengar suara Adinda dan Givan, yang begitu ia rindukan. Namun ia masih merasa malu pada Adinda. Karena secara tidak langsung, Adinda telah menolak cintanya saat Adi mengajak Adinda untuk memperjuangkan hubungan mereka bersama.


"Kenapa sih Bang, kok akhir-akhir ini sering ngelamun." tegur ibu Meutia menepuk pundak Adi yang tengah menonton televisi namun terlihat pandangannya kosong.


"Tak kok, Umi. Sini duduk." ucap Adi sedikit terkejut, lalu ia mendongak menatap ibunya. Dan menepuk tempat kosong di sebelahnya untuk ibunya tempati.


Ibu Meutia pun menurunkan tubuhnya dan menduduki kursinya, "Kalau ada beban pikiran, coba cerita sama Umi. Biar agak berkurang bebannya." ujar ibu Meutia.


Adi menoleh dan memperhatikan wajah ibunya dengan menyunggingkan senyum, "Masalahnya, Umi……


TBC.


Kasian yah Bang Adi?


Aku bukan mengada-ada atau bagaimana. Salah satu anggota keluargaku sendiri mengalami bagaimana terkena santet itu. Meski lain yang diderita, tapi sama serangannya.


Yuk semangatin author untuk terus melanjutkan kisah Adi Riyana yang punya ladang 14 hektar ini 🤭


Bagi LIKE, VOTE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, COMENT juga boleh. Apalagi bagi author ilmu untuk memperbaiki tulisan author yang masih sangat pemula sekali.

__ADS_1


terimakasih semuanya 😁


__ADS_2