
ADI POV
Dinda memintaku bercerita tentang sakit yang aku rasakan. Sebenarnya aku pun tak mengerti kenapa aku sampai mengalami penurunan kesehatan secara mendadak seperti ini.
Kita tak bisa menghendaki penyakit agar tidak bersarang di tubuh kita. Kita juga tidak tau kapan sakit itu datang. Kalau bisa aku ingin sehat selalu.
Ibarat kata batuk, pilek, demam saja datangnya mendadak. Apa lagi masalah penyumbatan pembuluh darah dalam jantung. Tapi itu hanya analisa, tak bisa dibuktikan dengan hasil tes yang aku jalani.
Menurut penjelasan dari Jefri saat aku baru terbangun pagi tadi, saat Jefri baru menyelesaikan tugas malamnya. . .
Flashback On
Aku merasakan ada benda yang berada di sekitar hidung dan mulutku. Aku membuka mataku perlahan. Aku menutup mataku kembali, karena rasa silau karena cahaya yang begitu terang. Aku mencoba beradaptasi dengan cahaya sekitar.
Aku berdekhem, aku merasakan tenggorokanku begitu kering.
"Bang Jefri, Bang Adi udah bangun." ucap pemilik suara yang sangat aku kenal, Zulfa.
"Hah, yang betul Dek?" tanya Jefri pada Zulfa.
Aku merasakan seseorang mengecek keadaanku, "Di, Adi Riyana." suara Jefri memanggil namaku.
"Hmm" suaraku pelan.
"Perlu aku panggil dokter Bang?" tanya Zulfa terdengar begitu khawatir.
"Abang bisa panggil dari sini, Dek." sahut Jefri yang masih berada di dekatku.
Tak lama aku mendengarkan pintu terbuka dengan suara derap kaki dari seseorang.
"Ada dokter Jefri juga di sini. Kenapa panggil aku juga?" tanya seorang laki-laki.
"Aku tak bisa profesional sama orang terdekatku Dok." ucap Jefri menghela nafas panjang, "Baru sadar ini Dok. Tolong di cek lebih lanjut." lanjut Jefri memperjelas.
"Ok siap Dokter Jefri." ujar laki-laki tersebut, "Boleh kasih aku ruang sikit Nona." lanjutnya yang sepertinya ia berkata untuk Zulfa.
__ADS_1
Aku merasakan beberapa benda ditempelkan pada bagian dada, lengan dan tungkai kaki ku. Dan terdapat kabel-kabel yang menyambungkannya.
Setelah aku selesai diperiksa, aku diberi arahan untuk membuka mataku perlahan dan mengeluarkan suaraku.
Memangnya seberapa lama aku tak sadarkan diri tadi?
Aku diajak berbicara dengan dokter tersebut, ia menanyakan apa yang aku rasakan sekarang.
Ia melepaskan alat bantu pernapasanku. Namun saat alat itu terlepas aku merasakan kehilangan oksigenku kembali. Kenapa hanya untuk bernafas saja aku kesulitan seperti ini.
Dokter itu mengerti akan keadaanku sekarang, ia memasangkan lagi alat tersebut. Lalu ia menuliskan sesuatu pada kertas berpapan yang ia bawa.
"Dokter Jefri, tolong sampaikan ke keluarganya untuk lebih memperhatikan pasien lagi ya. Dan untuk selanjutnya akan kami cek secara berkala." ucapnya pada Jefri. Oh ternyata Jefri masih berada di ruangan ini.
"Oh iya satu lagi, jangan banyak bicara dulu dan jangan dulu diberi makanan atau minuman apa pun." sambung dokter tersebut lalu ia pamit keluar pada Jefri.
"Nah, kau dengar itu Di." Jefri berujar sesaat setelah berada di sampingku.
"Pening kali aku. Aku tak bisa diandalkan untuk orang terdekatku. Rasanya aku takut dan gemetaran. Dokter macam apa aku ini." Jefri bermonolog sendiri lalu menyalahkan dirinya.
"Kau tau kan Nuriyani, anak perempuan yang sering dibawa ibuku dalam rapat sekolah dulu. Dia adik perempuanku satu-satunya. Aku gagal menyelamatkannya. Bahkan aku tak menyadari bahwa saat itu adikku tengah sekarat. Itu yang bikin aku tambah takut untuk menolong orang terdekatku sendiri." ungkap Jefri menceritakan pengalaman pahitnya.
"Beberapa kali aku bolak-balik ke tempat kau dari kemarin. Kau bikin aku takut Di. Kau tak bangun-bangun sampai tiga hari. Mana kau perginya bareng aku lagi. Bikin tambah takut aku disalahkan oleh orang tua kau." ujarnya yang masih bermonolog sendiri. Benarkah selama itu aku tertidur.
Aku berencana sore hari setelah tes kesehatanku selesai, aku akan pulang ke provinsi A. Aku berharap Dinda tak cuek lagi padaku setelah aku menepati janjiku. Tapi malah aku tak sadarkan diri selama itu. Huh, ini buruk. Pasti Dinda berpikir aku laki-laki yang mudah berjanji tapi tak pernah aku tepati.
"Eh, Di. Kau dengar aku kah? Pas beberapa menit lalu aku bilang Dinda mau balik. Bilangnya sih hari ini, tapi barusan anaknya telpon katanya emaknya masih tidur." tuturnya yang langsung membuat jantungku bergemuruh. Jadi, Dinda tau kabarku? Benarkah dia mau balik hanya karena aku sakit?
"Kenapa kau? Mikirin apa kau?" tanya Jefri yang melihat mataku. Mungkin ia paham dari isyarat mataku.
"Tak." sahutku dengan suara serak.
"Nah ngomong kek dari tadi. Aku sengaja mancing kau buat bersuara. Jangan banyak bicara bukan berarti tak boleh ngomong. Bicara juga perlu." balasnya dengan memperhatikan alat-alat yang berada di sebelahku.
"Jadi kau sengaja bilang Dinda mau balik biar aku ngomong." ucapku lirih. Kenapa suaraku hilang timbul begini?
__ADS_1
"Tak lah. Memang dia ada bilang mau balik. Semalam juga chatting sama aku, memang dia kata mau balik pagi ini." jawab Jefri dengan mengatur alat pernapasanku.
"Enakan belum sih napasnya? Pelan-pelan sambil diatur coba Di. Masa napas aja mau bergantung sama alat ini terus." ucap Jefri kemudian. Aku merasakan aliran oksigen yang aku rasakan lebih sedikit keluar.
Jefri sedikit membetulkan posisi kepalaku. Ia memberikan ganjalan pada bagian tengkuk kepalaku. Seperti ini memang sedikit lebih lega. Perlahan aku bisa menarik nafasku kembali. Namun aku masih membutuhkan alat ini.
"Sebenarnya aku sakit apa?" tanyaku pelan.
"Aku tak bisa memastikan Di. Tapi dari hasil tes. Kau ini sehat. Kan kaki kau ini kan leter o. Aku obrolin kan sama dokter yang nanganin kau. Mana tau ada sangkut pautnya sama keadaan kaki kau. Dokternya bilang tak ada hubungannya sama kaki." ungkapnya menjelaskan. Memang bisa begitu? Aku merasa heran atau memang sekarang Jefri yang menjadi bodoh? Karena kaki leter o, bisa bikin aku sesak nafas? Benarkah bisa begitu?
Aku tersenyum kecil. Ia mungkin melihat urat mataku sedikit tertarik karena tersenyum.
"Bodoh kali ya aku Di?" tanyanya yang membuatku ingin tertawa lepas. Tapi tak bisa kulakukan.
"Udah lah kau jangan ngelucu Jef." ujarku pelan lalu menghirup nafas dalam-dalam.
"Aku ngerasa buntu Di. Kau tak sakit apa pun, tapi kau udah koma beberapa hari. Kau ini udah masuknya koma. Sempat berpikir juga apa kau ada gangguan di otak, sampai nyebabin kau koma macam ini. Tapi waktu kau pingsan, kau tak jatuh bugh ke bawah langsung. Aku yakin kepala kau aman." ungkap Jefri bercerita. Mungkin aku pun akan merasakan demikian bila ada di posisi Jefri. Segala kemungkinan pasti aku hubungkan, agar bisa mendapatkan jawaban yang tepat.
"Jadi?" tanyaku lalu menghirup nafas lebih banyak lagi.
"Analisis dokter sih kau penyumbatan pembuluh darah di jantung. Penyakit ini sering terjadi pada usia enam puluh lima tahun. Penyebabnya karena faktor usia, faktor genetik juga mungkin keluarga kau ada yang mengalami penyakit serupa, gaya hidup tidak sehat merokok dan jarang olahraga contohnya, tekanan darah tinggi dan juga diabetes." jelas Jefri panjang.
"Tapi, kau tak demikian Di." lanjutnya kemudian. Sungguh aku merasa bingung dengan ceritanya.
"Aku sempat nyaranin ke orang pinter. Tapi Ayah macam tak setuju. Lebih lagi, Edi juga menolak dengan jelas ide dari aku. Kalau mereka setuju aku bisa mulai dari Givan." ungkap Jefri menceritakan tentang pemikirannya. Eh tunggu dulu, kenapa mulai dengan Givan?
Aku ingin menyuarakan suaraku lagi namun aku mendengar Ayah dan Zulfa masuk ke ruanganku dan berbicara pada Jefri.
"Di, kau yang sehat-sehat ya. Aku balik dulu mau istirahat. Lepas tugas malam soalnya." Jefri pamit padaku, yang aku jawab dengan gumaman saja. Lalu aku mendengar ia pamit pada Zulfa dan Ayah.
Flashback off
TBC.
Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
__ADS_1
Terimakasih 🥰