
"Barang kali mau coba." ucapnya dengan memberiku barang yang terbungkus kardus kecil. Seperti minyak angin aromatherapy.
"Apa nih?" tanyaku yang tak paham dengan barang ini. Karena saat aku keluarkan dari dalam kardusnya. Berisi persis seperti botol kecil dari minyak angin aromatherapy, hanya saja ini isinya berwarna coklat keruh. Cara kerja botolnya pun sama. Di ujungnya terdapat bola kecil untuk mengoles.
"Getah pengeras untuk kejantanan pria." jawab temanku yang membuat mataku membulat. Apa ini? Aku baru mendengarnya.
"Obat kuat?" tanyaku memastikan.
"Semacamnya. Tapi aman karena tak diminum." sahutnya santai dengan menyalakan rokoknya.
Ini solusi untukku. Tapi Dinda pernah berwasiat agar aku tak boleh menggunakan obat kuat. Hm, bagaimana ini?
"Aku paham kau kuat. Buat cadangan aja, sekali-kali kan. Perlu juga nih untuk nanti kau bulan madu." ujar temanku kemudian. Apa dia kata tadi? Aku kuat? Memang tubuhku masih kuat, tenagaku masih full, dan nafsuku pun masih bergejolak. Hanya saja Adi's bird tak bisa berkutik jika sudah terkurung dalam sarang milik istriku. Pasti Adi's bird langsung mabuk dan tak lama muntah-muntah.
"Efeknya apa? Ini diapain? Diminum kah? Dicampurin ke air minum begitu?" tanyaku yang memang tak mengerti.
"Sejauh ini sih belum ada efek sampingnya. Karena memang ramuan tradisional. Kocok produk dulu, oles secukupnya pada alat vital sebanyak 2-3 kali. Tunggu sampai meresap, sampai timbul reaksi panas selama 5-30 menit. Kalau udah mereda panasnya, bilas dengan air bersih yang mengalir." terang temanku yang dulunya adalah bandar barang yang membuatku dulu ketergantungan padanya.
"Kau beralih profesi kah? Terus ada efek apa lagi?" tanyaku yang masih ingin tau jelas.
Temanku tertawa renyah, "Udah beralih profesi aku. Kasian anak aku sekarang malah tak punya emak, gara-gara aku dulu." balas temanku. Jelas dia sudah menikah. Hanya aku yang terlambat menikah untuk di daerahku. Tapi tak rugi-rugi sekali. Aku memang baru menikah, tapi anakku jelas sudah besar. Malah sepertinya anakku tertua di antara anak-anak mereka.
"Efeknya ya kebas di batang. Kau oles di pangkal sama di perbatasan antara batang dan kepala aja. Jangan sampai kena lubang kencing." lanjutnya kemudian.
"Gila betul. Kawin itu tujuan untuk sama-sama enak. Kalau batang aku kebas, cemana aku enaknya." responku dengan menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Kan buat nyenengin istri. Sesekali tak masalah lah." tukasnya santai.
Aku menoleh sekilas padanya. Ada betulnya juga apa yang dia katakan. Itung-itung buat nyenengin Dinda yang masih merajuk itu. Tapi kalau aku ketahuan, bisa habis aku diceramahinya.
"Jadi mau tak? Tenang, privasi aman. Makanya kau, aku ajak ke tempat yang sepi ini. Tak mahal juga kok." tuturnya saat aku terdiam memikirkan tentang ini.
"Memang berapa?" ucapku bertanya padanya.
"Tujuh puluh delapan ribu. Ini yang premium nih. Yang paling mahal." ujarnya dengan menunjuk logo emas pada kardusnya.
__ADS_1
"Premium kok murah kali?" tanyaku merasa heran. Dan memang tak tau pasti dengan barang ini.
"Iyalah murah untuk ukuran kau." jawab temanku dengan tertawa sumbang, "Ada yang biasa, kisaran harga tiga lima sampai lima puluh ribu." lanjutnya kemudian. Aku baru tau sekarang, bahwa obat kuat semacam ini harganya hanya segitu.
"Coba dulu lah satu, Itung-itung ngasih jajan anak aku. Kalau memang tak bagus, kau buang aja lah. Terus tak usah kau beli dari aku lagi." ucap temanku, mungkin agar aku percaya padanya.
"Ya udah, aku ambil satu." sahutku dengan menyerahkan uang seratus ribuan.
"Pas kah?" tanyanya yang membuatku langsung menoleh.
"Kau bilang tujuh delapan. Sekarang kau bilang pas. Cemana lah kau ini!" jawabku, namun ia malah tertawa terbahak-bahak.
"Masih perhitungan aja kau! Aku yakin istri kau kabur bentar lagi, kalau kau masih tetap perhitungan aja." sahutnya dengan menyerahkan kembalian padaku.
"Aku tak begini lah sama istri. Mahar aja aku serahin lebih dari separuh ladang aku." balasku dengan memasukkan kembali uang kembalian darinya.
"Nih, katanya jajan anak kau." ucapku dengan mengembalikan uang dua ribuan darinya. Ia malah tertawa dengan menendang kakiku. Dengan aku tertawa ringan meresponnya.
Setelahnya ia menjelaskan secara detail untuk cara memakai dan daya tahannya. Aku menyimak dengan seksama, agar tak salah dengar nanti. Setelahnya, aku langsung bergegas pulang ke rumah. Aku khawatir Dinda akan marah lagi, jika aku ketahuan mengobrol dengan temanku.
"Givan mana, Mah?" tanyaku pada Dinda yang tengah membereskan mainan Givan.
"Ganti lagi. Biasanya Dek, sekarang Mah." jawab Dinda yang menoleh sekilas padaku.
"Ya Itung-itung latihan lah. Kan bentar lagi juga Givan mau punya adek." sahutku dengan melangkah menuju kamar mandi.
"Apa?" balas Dinda memastikan, yang tak kusahuti. Aku langsung fokus pada Adi's bird yang akan kuolesi obat ini. Bismillah, demi kau Dinda. Tak apa lah panas-panas sedikit. Asal kau terpuaskan nantinya.
Aku keluar dari kamar mandi dengan rasa yang mulai terasa di Adi's bird. Aku mengahampiri anakku, dan terlihat ia masih asik dengan ponsel ibunya saja.
"Bang, bobo udah malam. Besok lagi main hpnya." ucapku dengan menyentuh kepalanya.
"Tanggung. Aku mau panen apel dulu." sahutnya yang asik dengan game pertanian itu.
Aku menemani Givan dan sesekali menjawab pertanyaan darinya.
__ADS_1
Tak lama Dinda datang dengan membawa gelas berisi air yang keruh. Apa lagi ini? Apa jamu lagi?
"Diminum dulu Bang." ucap Dinda dengan menyodorkan gelas itu padaku.
"Apa ini Dek?" tanyaku dengan menerima gelas itu.
"Pasak bumi, jahe merah, jinten hitam. Aku belum nemuin rempah lain yang aku butuhin. Tapi aku udah order yang instannya di online shop." jawab Dinda dengan mendekati anaknya. Dan menciuminya.
"Jamu begitu?" sahutku dengan mengendus bau minuman ini. Baunya seperti wedang jahe.
"He'em, tapi lain dari yang pagi. Papahnya Givan dulu minum itu juga. Dan lumayan bisa normal lagi." balas Dinda yang membuatku langsung mendelik tajam padanya.
Kenapa ia senang sekali membawa bahasan tentang Mahendra itu. Tapi tunggu dulu, lumayan bisa normal kembali. Berarti Mahendra dulu sepertiku?
"Kasusnya sama?" ujarku yang memang ingin tau.
"Sama. Makanya aku kesel kali sama Abang. Kenapa aku dapatnya yang macam itu terus." ungkapnya terlihat begitu kecewa.
"Maaf ya? Abang nanti malam usahain tak macam kemarin lagi." tuturku padanya. Dinda hanya terdiam membisu, dan mencoba menidurkan bayinya yang sekarang sudah besar itu.
Satu jam kemudian, rasa panas di Adi's bird sudah tak kurasakan lagi. Lalu aku mencucinya dan membilasnya beberapa kali. Karena memang barang itu sedikit berbau. Aku khawatir nanti Dinda curiga pula padaku.
Dinda tengah mencuci piring bekas makan malam tadi. Hanya gara-gara aku tak bisa membuatnya kl*maks. Ia sampai jadi irit bicara dan tak seceria biasanya. Aku jadi khawatir istriku nanti akan berubah padaku.
Aku mengunci pintu rumahku, dan mematikan lampu ruangan yang tak kugunakan.
Saat aku masuk ke kamar, terlihat Dinda akan bersiap untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sepertinya malam ini dia tak berselera padaku. Sungguh aku menjadi tidak percaya diri sekarang ini. Tapi semoga saja, khasiat obat itu terbukti bisa membuat Adindaku puas berkali-kali.
"Dinda, sayang…
TBC.
Waduh, josss gak nih si Adi's bird? 🤔
Adi sampai rela pakai obat oles macam itu.
__ADS_1