Sang Pemuda

Sang Pemuda
69


__ADS_3

CRAZY UP 😱


Happy reading


"Gila kau! Lepasin Dinda." ucap Jefri kaget melihat Haris yang mencengkram kuat rahang Adinda.


"Susah dibilangin. Ditanya diam aja." jawab Haris yang melepas cengkramannya pada rahang Adinda.


"Ya tak gini juga caranya. Kalau dia tak mau bagi tau kau. Kau tak perlu maksa begini Ris!" seru Jefri yang menarik lengan Haris, agar menjauhi Adinda.


Edi langsung berjalan cepat dan menarik Adinda agar berada di dekatnya. Terlihat kondisi Adinda tengah amat ketakutan dengan air mata yang terus keluar membasahi pipinya.


"Bawa pergi, Ed!" pinta Jefri berseru pada Edi, untuk membawa pergi Adinda.


Edi mengangguk dan mengajak Adinda pergi dari ruangan Haris.


"Kau bener-bener Ris! Kenapa sih kau?" ujar Jefri menatap tajam pada Haris.


"Udahlah, pergilah kau sana!" seru Haris mengusir Jefri.


"Apa masalahnya sampai kau segitunya sama Dinda?" tanya Jefri yang enggan pergi dari tempat itu.


"Tanyakan saja langsung pada perempuan yang kau kenalin ke aku dengan rasa kasihan dari kau itu." sahut Haris yang masih terlihat marah itu.


"Keluar kau sana!" seru Haris mengusir Jefri lagi.


Lalu Jefri pun keluar dari ruangan Haris dengan perasaan bingung dengan keadaan ini.


Di ruangan Adi


"Kenapa ini Ed?" tanya Adi yang terlihat panik melihat Adinda yang langsung berlari kepelukannya. Dengan keadaan Adinda yang menangis tersedu-sedu.


"Dek, kau kenapa?" ucap Adi pelan dengan memeluk tubuh Adinda yang bergetar hebat.


"Gak tau pasti. Tadi pas aku sama bang Jefri masuk. Bang Haris tengah nyengkram rahang kak Dinda." terang Edi yang sebenarnya merasa malu dihidangkan dengan adegan seperti ini di depan matanya.


"Kok bisa?" balas Adi yang masih menenangkan Adinda.


"Gak tau juga Bang." sahut Edi lalu duduk di sofa.

__ADS_1


"Tenang Dek. Kau udah di sini sama Abang." ujar Adi yang mendongakkan wajah Adinda agar dapat ia tatap.


Lalu Adi membersihkan air mata yang membasahi wajah Adinda. Dan mendaratkan bibirnya cukup lama pada pucuk kepala Adinda.


Ibu Meutia sebenarnya sudah bangun saat terdengar suara tangisan Adinda. Namun ia diam saja dan malah menyaksikan romansa drama anaknya yang sedang mencoba menenangkan Adinda.


Edi pura-pura menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Cari tau sana Ed!" seru Adi setelah melepaskan bibirnya dari pucuk kepala Adinda.


Edi merasa ia memiliki peluang untuk pergi dari sini, ia pun mengangguk cepat dan keluar dari ruangan Adi.


"Tenangin diri kau. Terus ceritain sama Abang, ok?" ujar Adi yang masih memeluk erat tubuh Adinda.


"Maaf… aku udah nge..bantah Ab-ang. Aku.. Tak nurut sa-ma A…. bang." tutur Adinda yang terpotong-potong karena tangisnya yang belum reda.


"Lain kali jangan begini lagi, ok? Yang patuh sama Abang. Jangan ngebantah terus." sahut Adi yang masih toleransi pada Adinda.


Adinda mengangguk mengerti dalam pelukan Adi. Ibu Meutia memperhatikan mereka dari tadi. Ia paham apa yang sedang dialami oleh anaknya. Hanya saja anaknya mungkin masih enggan untuk mengatakannya.


Satu jam kemudian Adinda sudah tertidur dalam dekapan Adi. Mereka tidur di atas selimut yang cukup tebal, yang Edi bawa dari rumah Adi.


Adi sebetulnya tak habis pikir, kenapa ia dan semua orang yang berada di sini harus menginap di rumah sakit. Padahal tidak ada yang sakit di sini. Hanya saja beberapa jam sekali, dokter mengontrol keadaan Adi yang terlihat baik-baik saja itu.


Saat tengah malam, dokter kembali mengecek keadaan Adi. Namun ia bingung, kenapa pasiennya bisa berubah menjadi anak kecil. Dengan terpaksa ia membangunkan pasiennya agar tidur pada tempatnya, dan mengecek kembali keadaan Adi.


Adi terlihat malu dan akhirnya menuruti perintah dokter yang biasa memeriksanya tersebut.


Dokter berpesan jika sampai esok pagi Adi dinyatakan sehat. Ia akan diperbolehkan pulang. Adi pun mengangguk mengerti dan tersenyum ramah saat dokter pamit undur diri dari hadapannya.


Adi berinisiatif untuk mengambil wudhu dan menunaikan Shalat malam.


Adi beribadah dengan husyuk, dan dilanjutkan dengan doa dan dzikir penyerta lainnya.


Lalu ia kembali tidur dan bangun saat adzan subuh berkumandang, lalu ia melanjutkan dzikirnya sampai fajar menyingsing. Dan orang-orang terbangun dari tidurnya lalu memulai aktifitas membersihkan diri mereka.


~


Umi dan Zulfa keluar untuk membeli beberapa makanan untuk sarapan pagi ini. Givan masih tertidur, karena ini masih termasuk jam tidurnya.

__ADS_1


"Givan kira-kira bangun jam berapa, Dek?" tanya Adi yang melihat Adinda sedang merapikan hijabnya.


"Jam tujuh paling pagi. Jam sembilan paling siang." jawab Adinda yang masih berusaha menyempurnakan penampilannya.


"Abang soalnya mau tanya sama Givan." sahut Adi yang tengah melipat selimut yang Adinda tiduri semalam.


"Tanya apa Bang?" balas Adinda dengan mengambil ponselnya dan duduk di kursi dekat ranjang Adi.


Adi menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, lalu ia pun bercerita.


"Semalam kata Edi, di rumah Abang kaya ada benda jatuh lumayan kuat yang nimpa atap rumah. Lepas itu, ada seperti kerikil yang menggelinding di atap rumah juga. Abang ingat waktu Givan bercerita itu. Apa ini juga sama ya?" ungkap Adi dengan wajah serius.


"Bisa jadi. Kalau sampai rumah terus Abang bengek lagi. Berarti ya benar. Orang itu masangnya di rumah Abang. Bukan ngarah Abang langsung. Kan kalau kaya gitu lebih terlihat rapi kan?" sahut Adinda, Adi menganggukan kepalanya. Ia mengerti ucapan Adinda barusan.


"Jadi Abang mesti baliknya ke mana?" balas Adi kemudian.


"Ke rumah aku yang di perumahan belakang kedai ya tak apa. Tapi cuma satu kamarnya." tutur Adinda beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja untuk mengambil air minum.


"Memang Abang tau belum siapa kira-kira?" tanya Adinda setelah ia meneguk habis airnya.


"Belum Dek. Alhamdulillah malam ini Abang udah tak mimpi buruk lagi." jawab Adi dengan memperhatikan wajah Givan yang masih tertidur pulas itu.


"Givan gemesin kali kau Nak." ucap Adi spontan.


"Bang, apa gak ada cara lain?" ungkap Edi yang baru keluar dari kamar mandi.


"Cara apa? Ada masalah apa memang dengan kamar mandinya?" jawab Adi bingung dengan ucapan Edi.


"Bukan dengan kamar mandinya. Tadi aku dengar kau ngobrol sama Kak Dinda. Nah apa gak ada cara lain untuk tau siapa pelakunya agar lebih cepat. Bukan apa-apa, aku takut Abang di kirimin penyakit-penyakit tak nampak itu lagi." jelas Edi dengan menghampiri Adi dan duduk di kursi yang ditempati Adinda tadi.


"Oh kirain apa. Soalnya kau ngomong pas baru keluar dari kamar mandi." ujar Adi terkekeh, "Kan kau yang bilang sendiri, katanya jangan ke orang pinter." lanjut Adi.


"Coba ke ustad gitu." usul Edi cepat.


"Gimana Dek menurut kau?" tanya Adi meminta pendapat dari Adinda.


"Hmm, gimana ya?" sahut Adinda yang sedang berpikir.


TBC.

__ADS_1


Makin seru gak sih? 🤔


__ADS_2