
ADI POV
Sekarang aku sedang berada di dalam mobil Haris. Bersama Jefri, dua anak Haris yang baru tertidur dan juga givan yang masih tidur di pangkuan ku. Adinda bilang, "Langsung ke lokasi aja ya bang Haris! Aku masih ada keperluan lain sebentar. Nanti aku langsung ke lokasi, ajak juga bang Adi." entahlah lokasi apa yang di maksud, mau kabur juga bagaimana anaknya bersamaku.
Tangan ku terasa pegal, ini anak berat juga. Aku sedikit penasaran tentang anak ini.
"Jef, bapaknya givan namanya kakanda kah?" tanyaku ke Jefri. Tapi malah aku mendapat jitakan pelan di kepala ku. Ku usap kepala ku yang tak sakit, cuman untuk efek dramatis aja sebetulnya.
"Ada-ada saja kau ini! Patah hati boleh, bodoh jangan!" jawab Jefri cetus. Ya mereka sudah tau sedikit tentang cerita hidupku.
"Aku penasaran, ibunya Adinda, anaknya Ananda, kemungkinan besar bapaknya Kakanda" ucapku dengan menatap lurus ke depan. Kami semua tertawa tertahan takut anak-anak terbangun nanti. Sebenernya aku memancing saja, mana tau dapat informasi yang mengurangi rasa penasaran ku ini. Karena tidak mungkin juga bapaknya Givan namanya kakanda.
"Bapaknya Givan namanya Mahendra, dah lama tak nampak setelah menikah lagi dengan perempuan dari kota M" sahut Haris kemudian. Kalau aku bertanya terus terang, besar kemungkinan aku di sangka tertarik lagi dengan adinda, apalagi sekarang aku sedikit tau ternyata Haris punya rasa ke adinda.
Aku hanya menanggapinya dengan mengangguk. Pusing aku memikirkan kalimat apa yang pas untuk bertanya agar tak terlihat kepo. Tak lama mobil Haris pun menepi dan terparkir di depan restoran seafood. Aku keluar dari mobil dengan menggendong Givan yang masih tertidur, Jefri dengan gadis kecil yang aku tau ternyata namanya Kinasyah anak kedua Haris yang baru berusia 8 bulan, dan Haris dengan jagoannya yang bernama Kenandra yang berusia 3 tahun. Ternyata betul juga tebakan ku waktu di depan masjid itu, Givan berusia 4 tahun. Meleset di Adinda yang ternyata berumur 24 tahun, tapi kan 24 masih golongan 20 juga tidak meleset terlalu jauh dari tebakan ku. Tentu saja aku tau dari Jefri dan Haris.
Semua mata tertuju ke arah kami, aku risih melihat orang manatapku seperti itu. Ku lihat Jefri dan Haris cuek saja, mungkin mereka sudah terbiasa. Kami kemudian memilih tempat duduk di tempat paling pojok sebelah kanan. Lalu Haris memesan menu tanpa menawari ku, dan tak lama anak-anak pun bangun mendengar suara sekitar yang cukup berisik.
Givan menggeliatkan tubuhnya dan memegang hidungku, "Papah" gumam Givan yang hampir tidak terdengar. Aku ingin mencari cermin sekarang, benarkah hidungku sebesar terong? Ah, kenapa aku gampang terusik begini hanya karena hidung saja. Kenapa dengan bocah ini, baru selesai dengan panggilan om sekarang malah berganti dengan papah. Lalu dia menengok sekeliling, dan bertanya pada ku.
"Bang Adi, mamah aku hilang kemana?"
"Mamah tak hilang bang, mamah masih ada urusan sebentar!" jawabku dengan tersenyum. Oh, syukurlah ternyata dia masih memanggil ku dengan sebutan abang.
Tak lama makanan pun datang, kami bersiap makan dengan piring masing-masing. Saat aku hendak menyuapkan makanan ke mulut ku, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan ku. Astagfirullah, benar-benar wanita ini tak tau kah aku sedang lapar.
__ADS_1
"Apa dek, Abang mau makan nih. Jangan sampai kau yang ku makan heh!" tandas ku kesal dan menatap tajam manik matanya yang berselimut lensa abu kehitaman itu.
"Hehe, maaf. Apa abang ada alergi seafood?" tanya Adinda, ya siapa lagi kalau bukan dia si mamah givan. Sebenarnya maksudnya baik, tapi timingnya tidak tepat.
"Tak ada! Udah kau jangan ganggu aku makan. Jagain tuh anak kau!" tukas ku dengan jelas. Aku paling tidak suka aktivitas makan ku terganggu. Apa lagi dia yang menganggu.
Lalu dia menoel dagu ku dan mengatakan, "Dikit-dikit emosi, lama ya tak di keluarkan" ucapnya sambil mengerlingkan matanya dan langsung berlalu dan mengatakan, "Mamah ke toilet dulu ya bang" tuturnya untuk anaknya.
Astagfirullah, sungguh ekspresi ku sangat bodoh dengan mulut terbuka yang terisi penuh dan mata yang hampir lepas. Jangan lupakan gelak tawa Haris dan Jefri.
Lalu Haris mengatakan, "Baru segitu aja kau macam di cabut nyawanya begitu Di." ujarnya dengan tawa yang masih terdengar.
"Nah ajarkan lah betina kau baik-baik, tak panas kah kau dia bersikap demikian dengan ku?" ucapku sambil melanjutkan makan ku.
"Yang kuat-kuat ya bang Adi." gurau Jefri dengan terkekeh.
Malas kali aku jawab gurauan mereka, ku fokuskan diri ku pada makanan ku saja.
AUTHOR POV
Jefri pamit lebih dulu karena ada panggilan mendadak dari rumah sakit. Dan Haris mengajak Adi untuk singgah di rumahnya, tentu saja dengan Adinda dan anaknya.
Sesampainya di rumah Haris. Adinda menggiring anak-anak nya ke tempat bermain. Lalu Adi di ajak ke halaman belakang, disana terdapat beberapa burung peliharaan milik Haris. Mereka asik membahas tentang burung.
Lalu Adi bertanya, "Ku tengok, kau punya dua pengasuh kenapa tidak kau ajak tadi daripada kau repot bawa anak-anak kau?"
__ADS_1
"Oh, ya tak apa. Repot apanya? kan aku orangtuanya mana ada orangtua yang merasa di repotkan oleh anak-anaknya!" jawab Haris santai namun Adi malah terdiam mendapat jawaban itu dari Haris.
Mereka menoleh bersamaan saat pintu terbuka. Rupanya Adinda, dia membawa kopi dan laptopnya mungkin akan melakukan aktifitas menulisnya. Adinda hanya nyengir kuda dan melewati mereka berdua. Adinda memilih tempat dekat dengan kolam ikan, disana terdapat dua kursi dan meja yang berbentuk bundar.
"Abang kira buat abang dan bang Adi dek kopinya." tegur Haris saat Adinda berlalu.
"Abang mau kah? Biar aku buatkan!" seru Adinda berhenti sejenak.
"Tak usah dek, lanjutkan saja aktivitas kau!" balas Haris santai.
Saat Adi dan Haris lanjut mengobrol tentang peliharaan milik Haris tersebut. Haris di kagetkan dengan Adi yang tidak merespon obrolannya, Adi terdiam tanpa ekspresi.
"Di Adi, kau kenapa heh?" tanya Haris. Mendadak diapun merinding melihat Adi yang tidak ada pergerakan.
Saat Haris mengikuti arah pandangan Adi. Dia langsung menepuk pundak Adi dan tertawa.
"Kau lihat Dinda macam liat setan aja Adi Riyana!" ucap Haris yang masih tertawa.
"Umumkah wanita di daerah sini begitu modelnya?" tanya Adi kemudian, "Atau aku yang memang mainnya kurang jauh, pulangnya kurang malam!" lanjut Adi sesaat menatap Adinda.
"Hah, kau ini Di ada-ada saja. Di luar sana banyak yang terang-terangan!" jawab Haris setelah menyeruput kopinya.
Adi masih terdiam melihat kearah adinda. Entah apa yang dia pikirkan. Haris hanya menggelengkan kepala melihat Adi yang terlihat syok begitu.
TBC.
__ADS_1