
Terlihat wanita berperut besar itu mengembangkan senyumnya setelah melihatku yang menuju ke arahnya.
Dasar, betina tak tau malu! Mau apa lagi dia ke sini? Aku menghindarinya di sana, tapi malah ia sengaja bertamu di rumah umi.
"Ngapain kau jauh-jauh dari A*** ke sini? Ada perlu apa?" cetusku langsung.
"Suamiku berasal dari kota B****, Bang." jawab Shasha yang masih memajang senyumannya itu. Ya benar sekali Shasha mantan kekasih itu yang datang. Beberapa kali aku pernah membawanya untuk berkunjung ke rumah umi. Makanya ia bisa tau kediaman umi di kota J ini.
"Terus?" tanyaku tak suka. Untuk apa juga dia memberitahuku bahwa suaminya berasal dari kota B.
"Aku mau balik ke provinsi A, suami aku nunggu di mobil." sahutnya kemudian. Sebetulnya maksudnya apa coba? Suamiku-suamiku, dia kira aku akan penasaran sekali kah dan memintanya mengenalkan padaku begitu? Tak ada cerita macam itu di kamusku. Aku tak pernah membandingkan diriku sendiri dengan pendamping hidupnya yang ia pilih itu.
"Ya baliklah sana! Kenapa kau malah ke sini pulak?" balasku terus terang menginginkannya cepat enyah dari hadapanku.
Namun ia bangkit dan duduk kembali di sebelahku.
"Aku mau ambil baju dek Dinda yang ketinggalan di sini." ungkapnya setengah berbisik yang sedikit membuatku kaget. Sebentar dulu, ia kenal Dinda? Ini tak lucu, sungguh aku tak pernah ingin Dinda berteman dengan Shasha.
"Gaun merah marun katanya, Bang. Sayang baru sekali dipakai." lanjut Shasha saat tak kunjung mendapat jawaban dariku.
"Kenapa tak bilang ke umi aja, kenapa harus ganggu aku segala." tukasku dengan menoleh padanya.
Lalu Shasha mengeluarkan ponselnya. Dan menunjukkan pesan chatnya bersama Dinda.
Disitu Dinda berkata untuk meminta Shasha mampir ke kediaman umi dulu sebelum ia balik ke provinsi A. Lanjut Dinda meminta Shasha untuk mengambilkan gaunnya, karena akan dikenakannya untuk pesta pernikahan kawannya yang akan dilangsungkan lima hari lagi. Dan juga ia menuliskan untuk memintanya padaku saja. Dan yang membuatku terheran-heran Dinda juga menuliskan, 'Jangan sampai umi tau.'
Ada apa memangnya kalau umi tau? Aku jadi ingin bertanya pada Dinda sekarang juga.
"Kenapa memang umi tak boleh tau?" tanyaku pelan pada Shasha yang tengah menyimpan kembali ponselnya.
"Tak tau juga. Gih ambil, takut ketinggalan pesawat nih." sahut Shasha kemudian.
Lalu aku bergegas menuju ke kamar yang Dinda tempati dulu. Kenapa juga ia tinggal di sini gaunnya. Mana harganya lumayan mahal lagi. Aku mengecek satu persatu lemari pakaian minimalis itu. Tapi tak kunjung menemukannya.
Aku menggaruk kepalaku, kemana harus kucari gaun Dinda itu. Tak mungkin juga aku bertanya pada umi. Aku merasa bingung sendiri.
"Nyari apa, Bang?" tanya asisten rumah tangga yang membawa penyedot debu. Mungkin ia hendak membersihkan kamar ini.
__ADS_1
"Aku nyari gaun marun milik kawan perempuan aku itu. Simpan mana ya?" tanyaku dengan menghampirinya yang berdiri di ambang pintu.
"Oh, itu. Ada di balik ranjang, Bang. Tadinya kakak itu minta gaunnya untuk diloundry." jawab asisten rumah tangga yang berjalan masuk dan langsung menuju ke tempat tidur. Aku tak mengerti maksudnya, gaun kok disimpan di kolong tempat tidur. Apa bagaimana?
Eh tunggu dulu, oh ternyata ranjangnya memiliki ruang di balik kasurnya.
"Dilipet serapih mungkin, Bi." ucapku kemudian. Lalu asisten rumah tangga langsung mengambil gaun Dinda dan melipatnya.
Aku mengambil kantong plastik abu-abu yang tergeletak tak jauh dari lemari pakaian. Sepertinya kantong plastik ini bekas belanjaan Givan waktu itu.
Aku menyerahkan plastik abu-abu itu pada asisten rumah tangga, dan berjalan menuju lemari pakaian kembali. Aku membukanya, dan melihat beberapa pakaian Givan yang masih baru di barisan teratas.
Aku mengambilnya dan menyusunnya dengan rapih.
"Mana Bi?" ucapku meminta gaun Dinda yang sudah terbungkus dengan plastik, "Ini tolong pindahin ke kamar aku." lanjutku dengan menunjuk beberapa pakaian Givan yang sudah ke keluarkan dari dalam lemari. Asisten rumah tangga itu pun mengangguk. Dan aku berjalan keluar kamar menuju ke ruang tamu kembali, untuk memberikan gaun Dinda pada Shasha.
"Makasih ya, Bang." ucap Shasha setelah aku memberikan gaun Dinda pada Shasha.
"Hmm." yang kubalas dengan gumaman saja.
Aku memijat pelipisku, ada-ada saja dengan Dinda ini. Apa dia tak tau kah kalau Shasha ini mantan kekasihku. Malah dimintanya untuk menemuiku.
Tapi kenapa ya Dinda mengatakan jangan sampai umi tau. Aku penasaran sekali kenapa ia bertindak demikian. Apa kutelpon saja kah dia? Atau...kususul saja dia ke provinsi A?
"Shasha udah balik, Bang?" tutur umi yang membuatku terkejut.
"Udah, Umi. Tadi barusan." sahutku setelah menoleh pada sumber suara.
"Nikah baru kan dia?" tanya umi padak. Lalu aku mengangguk mengiyakan, "Kok udah hamil besar aja ya?" tanya umi kemudian.
"Macam Edi." tanggapku langsung.
"Tapi tak mungkin kan itu anak Abang?" balas umi yang membuatku menoleh seketika.
"Ya bukan." tukasku cepat.
"Baguslah. Oh iya, Zulfa minta bantuan tuh. Edi lagi sibuk bantu ayah di provinsi KB. Nanti besok kita berangkat ke kota C lagi, ya? " ungkap umi dengan duduk di sebelahku dan kue kering yang ia sajikan di atas meja.
__ADS_1
"Dari kota C aku diminta tinggal di sini. Ini malah nyuruh aku ke sana lagi. Gimana sih, Umi?" ujarku dengan mengambil satu kue dari atas meja.
"Sebetulnya Umi sengaja ngehindari kau dari Dinda. Mungkin dengan Abang yang sempat menjauh macam kemarin, bikin Dinda mengerti kalau memang seharusnya Abang dan Dinda tak bersatu." jelas umi padaku. Umi tak tau saja Dinda masih berada dalam jangkauanku. Buktinya ia masih bekerja padaku.
Ok aku paham sekarang. Pantas Dinda berpesan pada Shasha agar jangan sampai umi tau. Ternyata ini maksudnya. Kenapa aku menangkap sinyal bahwa Dinda ingin bermain rapih denganku. Tapi benarkah demikian?
"Iya Umi, Abang paham." sahutku kemudian.
"Dinda tak hubungi Abang lagi, kan?" tanya umi memastikan.
"Tak, Umi. Tenang saja." jawabku sambil mengunyah makanan, agar tak kentara sekali aku sedang berbohong.
Tak lama kemudian ayah menelpon umi. Mereka bertukar kabar dan sesekali umi tertawa kecil menanggapi ucapan ayah. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Lalu aku menangkap suara umi yang bertanya pada ayah, tentang pekerja yang mengawasi ladangku.
Sungguh aku takut ayah mengatakan bahwa Dinda yang kembali mengurus ladang kopiku.
Terlihat umi manggut-manggut mengerti, dan beberapa kali mengiyakan ayah yang berada di seberang telepon. Kenapa aku yang deg-degan.
Ayah pasti mengetahui bahwa Dinda yang kembali mengurus ladangku. Jelas karena pasti orang ayahku sudah kembali bekerja pada ayahku.
Aduh bagaimana ini? Sudah pasti Dinda akan diminta untuk berhenti bekerja padaku, dan untuk menjauhiku.
Sampai umi mengucapkan salam penutup dan menaruh ponselnya di atas meja. Lalu umi menoleh padaku dan bertanya…
TBC.
***Rencananya mau up 2x sehari 🙄
Tapi respon pembacanya masih sedikit betul 🤭
Tapi tenang, masih aku pantau 😎 Naskah pun masih dipersiapkan 😅
Jangan lupa tinggalkan LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE dan COMENT 😊
TERIMAKASIH 🥰***
__ADS_1