Sang Pemuda

Sang Pemuda
92


__ADS_3

"Udah. Ngaku aja kau!" ucap Jefri setelah berterima kasih pada pelayan yang telah mengantarkan kopi pesanannya.


"Ngaku apa?" tanya Adi dengan sewot. Namun ia tak mendapat respon dari Jefri.


"Ok, aku paham! Dinda bilang begitu ke kau? Dia bilang aku mau nikahin dia karena ada maunya begitu?" ujar Adi dengan menatap tajam pada Jefri.


"Tak tau. Coba kau tanyakan sendiri." elak Jefri setelah menyeruput kopinya.


"Benar-benar itu betina! Sebetulnya apa sih maunya." gerutu Adi jelas.


"Dia ada rasa sama kau. Tapi mulut kau tajam kali. Dia minder sendiri, berulang kali kau cakap kau hanya ingin yang perawan. Dinda cukup tau diri kali. Dia tau statusnya udah bukan perawan lagi. Sampai sekarang dia masih ada buat kau karena dia takut menyesal. Takut tak bisa liat kau untuk selamanya." jawab Jefri mencoba memperbaiki hubungan Adi dan Adinda, yang ia tahu sedang tidak baik-baik saja.


"Dan jaga mulut umi kau juga tuh! Dinda udah cerita banyak tentang kau dan umi kau itu." lanjut Jefri menoleh sekilas pada Adi.


"Kalau kau memang betul-betul cinta sama dia, ya kau perjuangkan! Jika kau tak mau hubungan kau berlanjut, cepetlah kau sembuh. Biar Dinda bisa jauhin kau dari sekarang. Biar dia tak terlalu jauh dalam perasaanya." ujar Jefri bermaksud baik. Sebenarnya ia pun tak ingin mengatakan ini semua pada Adi. Tapi ia merasa kasihan pada Adinda yang mengorbankan perasaannya sendiri untuk tetap bisa melihat Adi. Melihat laki-laki yang mengusik hati dan pikirannya. Jefri hanya ingin Adinda menerima balasan atas perasaannya.


"Dinda pengen aku sembuh?" tanya Adi terkejut syok dengan ucapan Jefri.


"Ya iya b*go! Kalau kau sembuh kan dia tega ninggalin kaunya." jawab Jefri terlihat kesal dengan pertanyaan bodoh dari Adi.


"Jadi kemungkinan besar Dinda bukan pelakunya?" sahut Adi terlihat seperti sedang berpikir keras.


"Pelaku apa? Kalau yang nusuk tangannya Faisal Basri, ya memang Dinda." balas Jefri menjawab pertanyaan Adi ke arah yang lain.


"Bukan masalah penusukan! Dasar lobang taik! Heran aku kenapa kau bisa jadi dokter. Segala kaki aku bentuk o kau sambung-sambungkan dengan sesak nafas. Sekarang aku bilang pelaku, pikiran kau langsung meluncur ke Dinda yang jadi pelaku penusukan." ujar Adi dengan menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan pemikiran Jefri yang meloncat jauh.


Tawa Zulfa pecah melihat perdebatan dua orang laki-laki dewasa itu. Ia tak mengerti maksud pembicaraan mereka. Tapi ia merasa mereka berdua begitu mengundang humor. Apa lagi cara mereka berdebat dengan ekspresi wajah mereka yang mendukung suasana menjadi selucu ini, pikir Zulfa.


"Kenapa pulak kau ketawa?" ucap Adi pada Zulfa.


"Lucu loh Bang. Apa lagi Abang Batak ini." sahut Zulfa dengan menunjuk Jefri dengan dagunya.


"Dia batak cuma keturunan. Tengok, tak ada tampang sangar-sangarnya. Logat aslinya pun hilang timbul." ucap Adi mengomentari Jefri.


"Aku lama di provinsi A. Wajarlah logatku hilang timbul." tukas Jefri menimpali.

__ADS_1


Zulfa masih tertawa geli, "Kenapa sih harus bilang hilang timbul? Itu logat, bukan huruf cetak. Kenapa disebutnya hilang timbul." ujarnya ditengah tawanya.


"Abang kau yang bilang hilang timbul. Bukan aku!" ucap Jefri kemudian.


"Nampaknya kita tak akan pernah selesai kalau debat masalah ini. Lepas aku sembuh, gimana kalau kita duel secara jantan di lapangan bola belakang kompleks Haris?" tutur Adi dengan menggulung lengannya kemeja panjangnya.


"Jangan sampai kau yang kusuntik mati, Di!" tukas Jefri dengan mengikuti gaya Adi yang menggulung lengan kemeja panjangnya.


"Sialan kau!" ucap Adi dengan terkekeh. Dan mereka semua larut dalam canda tawa sederhana.


ADI POV


Sekarang sudah pukul sepuluh malam, dan aku masih belum bisa memejamkan mataku. Aku berinisiatif duduk di luar rumah dengan membawa bungkus rokokku. sebetulnya aku sudah diminta untuk berhenti merokok. Tapi kenapa rasanya berat sekali.


Aku masih teringat ucapan Jefri sore tadi. Benarkah Dinda memiliki rasa padaku. Tapi kenapa responnya padaku seperti itu? Dan ada masalah apa Dinda dengan umi?


Aku menikmati rokokku dengan pikiran yang mengulang kembali tentang kejadian yang sudah kulewati bersama Dinda. Harusnya waktu Dinda menanyakan perihal status, aku langsung memberinya kejelasan saja. Biar tak seperti ini kejadiannya.


Tapi bagaimana kalau nanti orang-orang tau. Khususnya teman yang mengetahui seleraku tentang keperawanan, mengetahui aku tengah dilanda mabuk janda begini. Pasti aku kena ejek sana sini.


Saat aku hendak masuk ke dalam rumah, terdengar suara motor besar yang berhenti di depan rumah ibu Rokhayah. Dan seorang wanita turun dan berdada ria pada motor yang melaju kencang di depan rumahku.


Oh itu Maya, terlihat ia masih menggunakan pakaian kerja. Semalam ini pegawai bank lembur. Atau mungkin ia sekalian kencan dengan pacar barunya. Sudahlah, biarkan saja. Toh itu bukan urusanku.


~


Pagi harinya, aku merasakan sesak nafas seperti biasa. Aku merasa seperti tengah diprank oleh malaikat. Udah cekak-cekak, tiba-tiba begitu mudahnya aku bernafas kembali. Jangan-jangan ini karma untukku. Tapi aku sudah tobat, kenapa aku masih belum sembuh juga?


Hari ini aku malas untuk berangkat kerja. Badan pun terasa lemas tak bertenaga. Aku hanya ingin berbaring di kasur, sambil menstalking sosial media Dinda yang berada pada konsep bernuansa warna biru itu. Akun ini sudah digunakannya sejak masa SMA. Namun hanya foto profil lamanya yang beberapa berganti di bagian postingan paling bawah. Mungkin ia mengubah pengaturan privasinya.


Tentu saja aku mendapatkan akun ini dari akun sosial media milik Jefri juga. Terlihat perubahan Dinda dari masa ke masa melalui unggahan foto profil lamanya. Kenapa Dinda dulu dan sekarang begitu berbeda. Dulu pun ia tak menggunakan kerudung, dengan rambut hitam lurus. Dan warna kulitnya tak seputih sekarang.


Dia lahir di kota C, namun tak ada tanggal lahirnya yang tercantum di kolom tentangnya ini.


Buah dadanya memang sudah besar dari jamannya SMA, tapi aku melihat fotonya yang berada pada sosial media yang berlogo kamera itu nampak dadanya yang tak tecetak jelas. Berarti buah dadanya sempat mengempes juga kah? Atau bagaimana?

__ADS_1


Oh susunan giginya ternyata tak begitu rapih. Setelah ia lulus SMA, ia sempat menggunakan kawat gigi juga dan warna kulitnya mulai terlihat putih glowing seperti sekarang. Aku mengira-ngiranya dari tanggal yang tertera di situ.


Dan ada fotonya yang berbadan gendut juga. Apa ini foto ia waktu hamil Givan. Tapi kenapa tak ada foto pernikahannya. Terlihat dari tanggal yang tertera. Ia lama tak mengupload foto atau status apapun.


Di tahun yang sama, ia mengunggah fotonya yang sudah menggunakan kerudung instan. Dengan menggendong Givan kecil yang berbadan gempal. Namun terlihat wajahnya kusam dan penuh dengan jerawat. Ia tak terawat sekali setelah memiliki seorang anak. Apa begitu kerepotannya kah dia?


Dan beberapa bulan kemudian. Ada status yang cukup menarik perhatianku. Di situ ia menuliskan, 'Kau tak lebih dari sate kambing yang ia nikmati di pinggir jalan. Udah kenyang, bayar, lalu pulang. Praktis bukan?'


Aku sudah dewasa, aku paham bahasa kiasan itu. Dan tak lama dari tanggal itu, ia banyak mempromosikan novel online. Dan terlihat foto-fotonya yang sama aku liat di sosial media berlogo kamera.


Jadi, Dinda bercerai karena suaminya selingkuh? Bukan karena kesalahannya? Tapi kenapa ia mengatakan bahwa sumber masalah ada padanya?


Aku semakin penasaran padanya, rasanya ingin langsung ku interogasi Dinda saja.


Tok, tok, tok


Ketukan pintu mengganggu aktifitasku saja. Siapa sih yang datang?


Bukannya umi dan Zulfa mengatakan akan berangkat ke pasar. Masa secepat ini mereka kembali. Terus kenapa juga pakai acara mengetuk pintu, biasanya pun keluar masuk seenaknya.


Tok, tok, tok.


"Iya, iya sebentar!" seruku dengan bangkit dari tempat tidur.


Ceklek….


TBC.


Siapakah dia? 🤔


Tapi dia bawa rejeki nomplok buat Adi 😉


LIKE VOTENYA JANGAN LUPA 😉


terima kasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2