Sang Pemuda

Sang Pemuda
68


__ADS_3

Happy reading


"Itu loh Pah, rumah tangga yang utuh." ucap Givan dengan sedikit ngotot.


"Papah, Mamah, Abang gitu?" sahutku sedikit ragu. Tapi benarkah Givan menginginkan demikian.


"Papah, Mamah, Abang memang mau ngapain?" balasnya terlihat kebingungan.


"Ihh, Abang gimana sih?" ucapku merasa serba salah. Mereka semua memperhatikan interaksi aku dan Givan. Lihat mereka bukanya membantuku memecahkan masalahku dengan Givan. Tapi malah cekikikan, mentertawai kami.


"Rumah terus ada tangganya. Lengkap dengan gentengnya." jawab Givan memperjelas. Oh maksud dia rumah tangga yang utuh itu seperti itu. Aduh, aku merasa malu sendiri. Aku menyangka Givan menginginkan aku untuk jadi pelengkap di keluarga kecilnya.


Umi dan Zulfa heboh sendiri dengan tawa renyah yang menyertainya. Terlihat wajah Adinda merah pias. Apa ia sedang dipojokkan oleh Umi dan Zulfa sekarang.


"Papah cepat bikin." tukas Givan menggoyang-goyangkan lenganku.


"Ok Papah bikin. Tapi atapnya balok juga ya?" ucapku kembali fokus pada Givan.


"Ok" sahut Givan langsung menyetujuiku.


Satu jam kemudian, Givan sudah tertidur. Dinda sibuk dengan ponselnya. Aku enggan untuk menegurnya. Karena terlihat jelas, jarinya sedang lihai menari di atas layar benda pipih tersebut. Mungkin ia sedang menulis ceritanya sekarang.


Umi dan Zulfa sudah tertidur, umi tidur di spring bed single dan Zulfa tertidur di sofa. Aku sudah mengabarkan Edi untuk membawa kasur lipat juga. Karena tidak mungkin Dinda tidur bersamaku dan juga Givan. Givan terlalu makan tempat saat ia sudah pulas.


"Bang, pengen ngerokok dulu ya." ucap Dinda yang bangun dari duduknya. Ia sebelumnya duduk di kursi yang terdapat di sebelah ranjangku.


"Ya sana di kamar mandi." sahutku kemudian.


"Ke ruangan Bang Jefri atau Bang Haris aja deh. Aku tak nyaman, masa iya ngerokok di toilet." balas Dinda.


"Kalau kau ke Haris. Nanti yang ada, kau dip*rkosanya loh Dek." ujarku mengutarakan feelingku.


"Kenapa mesti diperkosa? Kenapa tak minta baik-baik aja?" tutur Dinda enteng.


"Jangan gila ya Dek. Dari pada sama Haris, mending sama Abang aja. Kenapa kau tak menyerahkan diri dari awal aja?" tukasku menarik tangannya, saat ia hendak berlalu.


"Orang cuma mau ngerokok aja drama kali Abang ini." jawab Dinda dengan mendelik tajam padaku.


"Jangan bikin Abang khawatir! Nurut coba, Dek." ucapku halus. Kenapa dia susah betul dibilangnya.


"Sebentar aja, ok?" sahut Dinda melobi.


"Lima menit aja." balasku mengalah.


"Lima menit buat jalan dari sini ke sana aja Bang! Setengah jam, ok?" ujar Dinda dengan tersenyum kuda.


"Lima belas menit, atau tak sama sekali." cetusku kemudian.


"Ok" tutur Dinda cepat lalu berlalu pergi. Semoga Dinda masuk ke ruangan Jefri saja. Entah mengapa aku merasa Haris tak akan seperti biasa pada Dinda.

__ADS_1


Pintu kamarku terbuka kembali, kusangka Dinda berubah pikiran dan balik lagi ke ruanganku. Ternyata Edi yang datang, dengan selimut bed cover yang ia bawa dengan tas bening.


"Ini aja lah Bang, tak ada kasur lipatnya." ucap Edi kemudian.


"Ya udah tak apa." jawabku santai.


"Bang tadi pas aku tiduran, aku dikagetkan dengan benda yang jatuh di atap kayanya. Kenceng banget suaranya, terus lepas itu kaya ada banyak krikil yang menggelinding turun dari atap." Edi bercerita dengan tiba-tiba.


"Macam Givan pernah ceritakan. Kiriman lagi rupanya." sahutku dengan mengingat ucapan Givan.


"Salah kirim mungkin Bang. Dia kira Abang udah di rumah." balas Edi duduk di kursi sebelah ranjangku.


"Masa bisa salah kirim. Tapi kau tak apa-apa nampaknya." tukasku memperhatikan wajahnya.


"Iya sih. Coba tanya Givan apa Kak Dinda." Edi menjeda ucapannya saat melihat sekeliling, ia seperti sedang mencari seseorang.


"Eh mana Kak Dinda?" tanyanya lagi.


"Lagi ke ruangan Jefri, entah ke Haris." ucapku teringat kembali dengan Dinda yang kuizinkan hanya lima belas menit pergi.


"Mau ngapain memang Bang?" tanya Edi ingin tahu.


"Biasa." jawabku cepat. Aku pun tak mungkin memberi tahu Edi, jika Dinda ingin merokok di sana.


"Sepuluh menit lagi kalau Dinda tak balik tolong jemput ke sana ya, Ed." pintaku pada Edi.


"Nanti juga balik sendiri Bang. Anaknya juga di sini." ungkap Edi menolak perintahku.


"Tak mungkin dibalasin ke Kak Dinda juga kan Bang." Edi menyahuti.


"Tinggal jemput aja tuh. Berisik kali." balasku sewot.


"Ya ampun Bang. Kau segitunya sama betina kau sendiri." ucap Edi nyolot.


"Udah sana jemput." seruku padanya.


"Kau bilang sepuluh menit lagi Bang. Kenapa sekarang aku harus pergi." jawab Edi menatapku heran.


"Kan sekalian kau cari di mana ruangannya." sahutku kemudian.


"Iya iya." balas Edi kemudian ia berlalu pergi keluar dari ruanganku.


Aku khawatir Dinda sedang pasrah di bawah Haris sekarang, sungguh aku tak rela jika sampai hal itu terjadi.


Akan kubuat Haris menyesal nanti, jika sampai ia melakukan itu pada Dindaku.


AUTHOR POV


Di tempat lain Edi sedang berjalan sendirian, ia menuju ruangan Jefri. Yang ia peroleh dari pesan teks dari Jefri barusan.

__ADS_1


Tok, tok, tok.


Edi mengetuk pintu ruangan Jefri.


Ceklek.


Jefri membuka pintu ruangannya.


"Eh Ed, ada apa nih?" ucap Jefri terdengar akrab.


"Disuruh Abang jemput betinanya." jawab Edi yang dipersilahkan masuk oleh Jefri.


"Siapa memang?" tanya Jefri bingung.


"Kak Dinda." sahut Edi dengan menduduki kursi di sebrang meja kerja Jefri.


"Oh, iya tadi ke sini. Cuma aku dapat panggilan dari pasien. Jadi aku tinggal dia di sini. Pas balik lagi, udah tak ada orangnya. Udah balik ke tempat Adi lagi mungkin." tutur Jefri menjelaskan.


"Tapi di jalan aku gak papasan sama Kak Dinda." balas Edi terlihat seperti mengingat.


"Lewat jalan lain mungkin." Jefri menyahuti ucapan Edi.


"Jalan lain udah pada di tutup, cuma jalan yang aku lewatin tadi yang bisa diakses." ujar Edi kemudian.


"Mungkin karena udah malam, jadi dibatasin." tukas Jefri santai.


"Kemana ya Kak Dinda. Abang pasti kalap nih, kalau aku balik tak bawa betinanya juga." ungkap Edi menggaruk kepalanya.


Jefri tertawa kecil menanggapi ucapan Edi tadi.


"Di mana sih Bang ruangannya Bang Haris. Katanya aku suruh cari ke Bang Haris kalau di sini tak ada." tanya Edi.


"Coba kita ke Haris." ajak Jefri kemudian bangkit dari kursinya. Mereka berdua keluar dari ruangan milik Jefri.


"Tolong awasin sebentar ya sus." ucap Jefri pada suster yang sedang berlalu lalang di jalan sekitar ruangannya.


"Jauh gak Bang?" tanya Edi yang mengikuti langkah Jefri.


"Di ujung lorong ini." jawab Jefri menunjuk salah satu pintu paling ujung.


Mereka akhirnya sampai di depan pintu ruangan Haris. Tanpa mengetuknya, Jefri langsung membuka dan masuk dalam ruangan Haris sambil berkata, "Ada Dinda tak Ris……..


TBC.


Kira-kira ada Dinda gak ya di ruangan Haris?


Kok aku jadi penasaran πŸ˜…


BAGI LIKE DAN VOTENYA, JANGAN LUPA πŸ˜‰

__ADS_1


TERIMAKASIH πŸ₯°


__ADS_2