
Bagi LIKE dan VOTEnya donk π Biar author semangat terus π
Happy reading π
"Yah, Abang rasa ini masalah pribadi. Nampaknya orang tersebut sakit hati sama perlakuan Abang. Kalau Abang sudah yakin pelakunya dia. Biar Abang datang ke rumahnya untuk menyelesaikan secara baik-baik. Takutnya dia akan mengulanginya lagi jika Abang minta kesembuhan pada ustad tersebut, tapi Abang tak menyelesaikan langsung masalah ini." ungkap Adi memberikan pendapatnya.
"Begitu juga bagus, jadi masalah bener-bener clear gitu kan." sahut Jefri menimpali, "Gimana menurut kau, Dek?" tanya Jefri pada Adinda.
"Itu yang aku saranin pada Bang Adi kemarin." balas Adinda.
"Ya udah gimana baiknya aja. Tapi benar, jika kau tak datangin orangnya. Dia bakal ngulangin karena permasalahan belum selesai." ujar pak Dodi kemudian.
"Mah, mau ee." ucap Givan dengan suara pelan. Wajahnya terlihat sedang menahan sesuatu.
"Pantas kau diam aja dari tadi." sahut Adi dengan tawa.
"Ayo ayo ke kamar mandi." ajak Adinda buru-buru.
Saat Adinda dan Givan tengah berada di kamar mandi. Ibu Meutia datang dengan Zulfa yang membawa beberapa cemilan.
"Mana tuh anak bawel yang ngilang tadi. Bikin kalap aja." ujar Zulfa mengedarkan pandangannya.
"HEH, AKU DENGAR YA TANTE SEBUT AKU BAWEL. AKU LAGI EE, TUNGGU AJA PEMBALASAN AKU." teriak Givan dari dalam kamar mandi.
"Dengar aja tuh bocah." tutur Zulfa dengan terkekeh. Mereka semua yang berada di ruangan Adi tertawa geli karena ucapan Givan barusan.
"Kemana sih Edi? Beli makanan aja lama kali, udah hampir satu jam tak datang-datang." ungkap ibu Meutia.
"Nih makan yang ada dulu aja Yah, Nak Jefri, Bang." lanjut ibu Meutia memberikan kantong plastik berisi beberapa cemilan.
"Ini makanan dari rumah sakit?" tanya Ibu Meutia pada Adi. Adi mengangguk mengiyakan.
"Dimakan dong Bang? Apa mau disuapin Dek Dinda?" gurau ibu Meutia pada Adi.
"Apa sih Umi. Rese betul sama Abang." sahut Adi merasa dipojokkan.
"Nikahin aja mereka berdua, Mi." ucap Zulfa dengan memperhatikan wajah abangnya, "Oh iya, Umi tau gak. Waktu Abang mau balik pas nikahan Bang Edi, kan kita jemput Kak Dinda dulu tuh. Terusβ¦" ucap Zulfa terhenti dengan suara Adi yang meninggi.
"Terus apa? Terus apa lagi?" sela Adi yang terlihat akan marah.
"Hehe, itu Bang." balas Zulfa takut-takut.
"Itu apa? Awas aja, kupenggal leher kau!" tutur Adi kasar.
Sontak membuat Zulfa memegang lehernya yang tertutup hijab, "Gak Bang. Tenang aja." ucap Zulfa dengan berjalan menghampiri abangnya dan memeluk lengan abangnya, "Janji loh beliin belanjaan aku nanti." ungkap Zulfa seperti berbisik.
__ADS_1
"Hmm." gumam Adi menanggapi.
"Kita paham sendiri ya Umi." ucap pak Dodi dengan menghampiri istrinya dan merangkul istrinya untuk duduk di sofa panjang.
"Pasti paham, kan mudanya aja begitu." ucap Adi seolah tau bagaimana mereka muda.
"Tak pun. Tak pernah ya Umi banyak capnya di leher sebelum nikah." sahut ibu Meutia mengatakan dengan senyum yang mengembang.
"Aku pun tak begitu ya." ujar Adi dengan menegakkan dagunya.
"Iya, cuma kerokan." tukas pak Dodi dengan terkekeh.
"Abang betul gak tau mudanya Umi sama Ayah?" tanya Zulfa pada ibunya.
"Tak tau pasti. Tiba-tiba katanya Abang mau punya ayah sambung. Dikenalin sama Ayah, terus bulan-bulan berikutnya mereka nikah." Adi bercerita singkat.
"Umi kenal Ayah dari mana sih? Kan provinsi A sama provinsi KB jauh Mi?" tanya Zulfa pada ibunya.
"Kenal dari Abusyiknya Abang kau. Dia yang nyuruh Umi buat cepet nikah lagi." jawab umi memberitahu.
"Kenapa ya Bang kira-kira?" sahut Zulfa bertanya pada abangnya.
"Umi tak bisa move on dari Abi Abang yang manis macam Abang ini. Jadi disuruh cari pengganti Abi. Biar tak berlarut-larut dalam kesedihannya." sahut Adi dengan memamerkan senyumannya.
"Oh, jadi Ayah dijadikan pelarian ya Umi?" sahut pak Dodi dengan tersenyum masam.
"Ayah tau sama Abinya Bang Adi?" tanya Zulfa pada ayahnya.
"Tau, dulu Ayah ambil biji kopi dari dia. Waktu Ayah masih merintis usaha kedai." jawab pak Dodi yang sambil memakan keripik kentang.
Lalu pintu kamar terbuka menampilkan Edi yang menenteng beberapa plastik berisi makanan.
"Maaf lama, soalnya tadi Bena telpon. Jadi lupa waktu." ucapnya dengan mengeluarkan makanan dari kantong plastik.
"Bena sehat Ed?" tanya ibu Meutia membantu Edi mengeluarkan makanan.
"Sehat. Tadi dia habis cek kandungan. Bena lagi setres karena mulai muncul stretch mark di bagian paha dan perut bawahnya, Umi." terang Edi menggeleng lemah.
"Tak apa, wajar. Tapi ada beberapa perawatan kulit buat ibu hamil. Jadi kulitnya tetap terawat dan aman dari stretch mark." ucap Adinda yang keluar dari kamar mandi bersama Givan.
"Mahal. Udah jangan ladenin Kak Dinda. Wajar perempuan punya tanda lepas ia melahirkan." sahut Adi langsung.
"Tapi kan tak ada salahnya kalau perempuan pandai merawat tubuhnya. Kan ada untungnya juga buat kita." Jefri menyahuti perkataan Adi.
"Buktinya kau masih ada bekas stretch mark di perut kau. Padahal perawatan kau mahal" ucap Adi untuk Adinda.
__ADS_1
Adinda langsung melotot tajam pada Adi. Apa Adi tak sadar apa yang ia katakan barusan di depan keluarganya.
"Dengar tuh Umi. Dia tau di perut Dek Dinda ada stretch marknya." ujar Jefri dengan tawa renyah.
Adi tersadar ia mengatakan yang tak seharusnya diucapkan di depan keluarganya. Ia menutup mulutnya dengan tangannya. Dengan memperhatikan sekelilingnya.
"Maaf Dek." ucap Adi menatap Adinda dengan rasa bersalah. Adinda berjalan lalu menaikkan anaknya ke ranjang Adi, karena anaknya ingin bermain bersama Adi.
"Tau ah." sahut Adinda memanyunkan bibirnya. Jelas Adi mempermalukannya, entah disengaja atau tidak. Lalu Adinda duduk di tepian ranjang Adi,
"Hei, maaf lah." bujuk Adi dengan menarik-narik tangan Adinda.
"Aku maafin kalau Abang bayarin perawatan stretch mark aku sampai tak nampak lagi." jawab Adinda tak terbantahkan.
"Kalau kau mau Abang kuhamilin, Abang bayarin perawatan kulitnya." balas Adi spontan.
"Hamilin katanya?" ujar Edi dengan menunjuk pada Adi. Pak Dodi dan ibu Meutia menatap tajam pada Adi.
Adi menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Anu Umi, gurau aja." ucap Adi, "Ya kan Dek?" lanjutnya untuk mengajak Adinda membantunya mengelak.
"Hmm, serah kau ajalah Bang!" sahut Adinda datar.
"Jangan marah, tadi keceplosan aja." balas Adi lirih, agar tak didengar oleh yang lain.
"Boleh hamili Dek Dinda kalau kau udah nikahin dia." ucap ibu Meutia mengambil atensi mereka berdua.
"Aku yang tak mau Abang nikahin, apa lagi dihamilinya." tutur Adinda yang membuat hati Adi mencelos, merasa tak diinginkan oleh Adinda.
"Kenapa memang kak?" tanya Edi dengan memberikan paket makanan pada Adinda dan Jefri.
"Aku tak mau siklusnya nikah, hamil, punya anak, badan rusak, suami cari yang lebih enak terus cerai. Macam Bang Adi kan gini. Apa lagi dia jelas carinya yang gadis terus, kan nyata kalau dia mau yang enak-enak. Logikanya kalau perempuan udah beranak kan udah tak mungkin seperti awal lagi rasanya, karena jalan lahirnya udah dilewatin anaknya. Pastilah Bang Adi buang, lalu cari yang baru." ungkap Adinda langsung mengenai hati Adi.
Adi terdiam, ia memikirkan ucapan Adinda barusan. Jadi Adinda berpikiran sejauh itu tentangnya. Adi memilih yang perawan hanya karena ia tak mau dirugikan untuk ukuran mahar yang tinggi. Ia ingin barang yang setimpal dengan yang ia beli.
Tapi Adinda berpikiran ia akan sering berganti istri jika istrinya sudah tak enak lagi.
"Dek, kau salah menilai Abang. Kasar betul ucapan kau, Dek!" ucap Adi melihat Adinda datar. Ia merasa tersakiti tentang penilaian Adinda padanya.
Semua mata tertuju pada Adi yang menatap Adinda dengan pandangan tak bisa diartikan.
TBC.
ikutin ceritanya terus ya kak π π
jangan lupa tap β€οΈ favorit, agar dapat notifikasi dari ceritanya π
__ADS_1
terimakasih π₯°