Sang Pemuda

Sang Pemuda
132


__ADS_3

Rangsanganku berhasil. Aku tengah menikmati pijatan pada Adi's bird yang sedang bersarang itu.


"Jangan cepet-cepet, aku tak tahan." ucap Dinda yang tengah kupeluk dari belakang ini. Karena posisi favoritnya adalah seperti ini. Kurang lebihnya seperti gaya sendok, dengan kaki yang aku angkat sebelah.


"Tumben tak berisik. Biasanya… Akkkhhh Abang, ahh ahhh…" ledekku padanya. Dinda malah tertawa geli dan mencengkram erat tanganku, karena tepat saat ia tertawa. Aku sengaja mempercepat temponya.


"Ngerjain aku, heh? Kau nyiksa aku hidup-hidup ini Bang." ucapnya dengan menggigit selimut tebalnya. Karena aku mengacak goyangan pinggulku. Aku ingin membuatnya kecipkrakan air kali ini. Aku suka mendengar suara becek dari istriku. Entahlah kenapa, tapi aku merasa sangat bangga bisa membuatnya demikian.


"Sabar sayang. Rileks dong, biar bisa squirt." sahutku dengan tanganku yang meraba sana sini.


"Squirt, squirt. Kebanyakan nonton film p*rno tuh. Itu tuh bukan air m*ni. Tapi air… AKHHHH…" balasnya malah berakhir dengan pekikan yang cukup keras. Semoga air terjun buatan itu bisa meredam suara istriku ini. Aku takut besok ditanyai oleh orang tuanya, ada apa dengan anaknya semalam ya berteriak terus menerus.


"Aku hampir sam… pai. Kesel betul aku, dipermainkan terus." tutur istriku dengan otot yang sudah mengencang. Namun aku langsung memelankan laju genjotanku.


"Biar aku yang di atas." ucapnya dengan melepaskan penyatuan kami, dan langsung menaikiku.


"Jangan dong, sayang. Kalau Abang keluar duluan, malah nanti Dinda nanggung loh. Ngambek lagi seharian." tukasku saat m*ki Dinda mulai berakrobat.


Dan malam itu menjadi malam yang panjang untukku dan Dinda. Karena aku sangat merindukan ini semua, setelah satu minggu aku harus berpuasa. Kami sampai mengulanginya tiga kali. Bukan hanya aku, ternyata istriku juga begitu menggebu-gebu.


~


Pagi harinya, aku dan Dinda bangun kesiangan. Sungguh aku merasa tak enak. Apa lagi aku sekarang tengah tinggal di rumah mertuaku.


Saat aku bangun, Givan sudah menghilang entah ke mana. Sepertinya ia bisa membuka sendiri pintu kamar yang aku kunci.


"Dek, bangun. Jam sepuluh ini." ucapku dengan menggoyangkan tubuh Dinda.


"Abang duluan sana." sahutnya dengan memutar tubuhnya memunggugiku.


"Abang malu lah keluar kamarnya. Sana Adek mandi, terus siapin sarapan. Nanti Abang bangun, pas Dinda lagi siapin sarapan." ungkapku. Dinda menggeliatkan tubuhnya, dan menguap beberapa kali.

__ADS_1


Lalu ia keluar dari kamar, terdengar suara ibunya yang tengah menceramahi Dinda. Karena ia bangun siang seperti ini. Mertua perempuanku begitu lancar dan faseh dalam memarahi anaknya. Pantas saja Dinda kadang-kadang selancar itu kalau berbicara. Tak taunya karena warisan kebiasaan dari ibundanya.


Setelah Dinda selesai berpakaian rapih. Aku mengikuti langkah kakinya yang menuju dapur. Ia menyiapkan makanan untuk kami. Dengan aku yang masuk ke dalam kamar mandi.


Dinda bisa bebas bangun jam berapa saja jika berada di rumahku. Hanya saja memang akhir-akhir ini kami bangun pagi rutin untuk berolah raga ringan.


Aku pun tak pernah menganggu tidurnya. Aku menggantikan dulu tugasnya untuk masak sarapan pagi dan menyuapi Givan. Itu bukan masalah untukku. Aku tau ia lelah, makanya ia bisa bangun telat.


Setelah selesai mandi dan berpakaian. Aku langsung menghampiri istriku, untuk mengisi perutku.


"Givan ke mana, Dek?" tanyaku dengan memperhatikan wajah Dinda yang cemberut saja.


"Dibawa A Arif katanya sih. Main di sana sama Anasha." jawab Dinda dengan memulai menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri.


"Jalan-jalan yuk, Dek. Nengokin Zulfa juga ya. Dia di sini cuma sendirian. Edo lagi balik ke kota J." ucapku yang hanya diangguki oleh Dinda.


~


Aku sudah dalam perjalanan menuju ke rumahku yang ditempati oleh Zulfa. Ini adalah kali pertamanya aku mengendarai mobil kesayangan istriku. Ngeri betul, kaki cuma nempel di pedal gas aja, mobil ini udah langsung lari. Enteng betul rasanya, laju pun tak berasa. Pantas saja waktu Dinda lewat di depan rumahku. Kencangnya bukan main.


"Ok, tapi kita ke rumah tante Zulfa dulu ya." sahutku yang diangguki Givan.


"Bang, makan di tempat sea food biasa juga ya." ujar istriku membuka suara.


"Ok Sayang." jawabku menyetujuinya.


"Adek suka sea food?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya dari spion tengah.


"Suka, tapi sesekali aja. Aku takut kolesterol tinggi." jawab Dinda dengan menoleh padaku.


"Aku suka semua makanan. Tapi aku dipantang, tak boleh makan durian, daging kambing, yang terlalu pedes juga tak boleh. Terus tak boleh makan lada yang terlalu banyak juga, makanan panas juga tak boleh." ungkap istriku memberitahuku. Aku baru tau sekarang, Dinda tak boleh makan itu semua.

__ADS_1


"Sakit apa memang Dek?" tanyaku dengan pandangan lurus ke depan.


"Dulu aku sakit radang kandung kemih. Udah sembuh sih, tapi kalau makannya tak di pantang. Aku langsung kambuh. Ngerasain sakit pas pipis. Mirip anyang-anyangan, tapi sampai panas dingin aku nahan sakitnya." jawab istriku bercerita.


"Berarti belum sembuh betul?" sahutku setelah menyimak ceritanya.


"Kata dokter sih lubang kencingnya bisa jadi sobek sedikit karena proses melahirkan dulu, dan tak ketahuan bidan. Jadi tak dijahit kembali. Kalau peradangan memang udah sembuh." balas Dinda.


"Adek dulu melahirkan normal? Di bidan? Terus dijahit juga?" tanyaku beruntun. Dinda berulang kali menganggukan kepalanya. Aku tak habis pikir, Dinda sampai dijahit. Apa dulu k*malu*nnya lebih kecil dari sekarang. Tapi sekarang pun tetap kecil k*malu*nnya. Memang rasanya beda dari yang perawan. Tak begitu ketat sampai membuatku sakit. Tapi hisapan, remasan, dan pijatannya, perawan pun tak bisa menandinginya.


Lalu kami melanjutkan obrolan ringan dan sesekali menjawab pertanyaan dari Givan.


Aku baru tau sekarang, ternyata anak laki-lakiku sudah bisa baca, tulis, hitung. Hanya saja, memang belum sekolah. Nanti jika kami sudah menyelesaikan urusan kami di sini. Pulang ke provinsi A nanti, aku akan mendaftarkan anak laki-lakiku untuk bersekolah TK. Karena aku memang berencana memboyong mereka berdua. Selain karena usahaku bertempat di sana. Aku ingin anak-anakku pun dilahirkan di sana.


Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di depan rumahku. Begitu sepi, tapi sepertinya aku mengenal mobil sejuta umat yang terparkir di halaman rumahku.


Harusnya dia tau kalau aku memang tak ada di rumah ini. Tapi kenapa ia malah main ke rumahku.


"Yuk, masuk." ajakku pada Dinda dan Givan. Dinda mengangguk dan mengambil tasnya, dengan tangan satunya ia menggandeng tangan Givan.


"Aku mau pipis dulu." ucap Givan dengan mengeluarkan alat kelaminnya.


"Ihh, jorok. Pipisnya nanti di kamar mandi dong." sahut istriku. Tapi sepertinya Givan sudah tak bisa lagi menahan rasa ingin buang air kecilnya.


Lalu aku masuk mendahului mereka berdua. Pintunya tak dikunci, tapi tak ada orang di ruang tamu ini.


"Zulfa…"


"Dek, Zulfa…"


Panggilku berulang. Terdengar suara orang dari kamar Zulfa. Apa jangan-jangan mereka tengah…

__ADS_1


TBC.


Mobil sejuta umat milik siapa itu?


__ADS_2