Sang Pemuda

Sang Pemuda
43


__ADS_3

Aku menyaksikan akad nikah yang berjalan lancar. Benazir begitu cantik dengan gaun putih panjang berwarna putih, sayang terkesan seksi sekali. Bahkan gaunnya tak bisa menutupi dadanya dengan sempurna. Kenapa Edi sampai setuju Bena memakai gaun yang demikian.


Jika aku di posisinya aku tak akan mengizinkan wanitaku memakai gaun seperti itu. Aku tak mau orang lain melihat apa yang jadi milikku. Dinda saja kuminta untuk menutupi dadanya dengan model hijabnya. Padahal dia jelas bukan wanitaku.


Aku kesal dari tadi, Dinda selalu disibukkan dengan Kin. Jadi apa gunanya dua pengasuh yang Haris pekerjakan itu, jika Haris masih meminta bantuan Dinda untuk mengurus Kin. Untung Givan sudah besar dan bisa dikasih pengertian sedikit.


"Bang, ayo foto dulu." ajak adik terakhirku, Zuhra. Aku mengangguk dan mengikuti langkah Zuhra.


Setelah aku selesai berfoto dengan keluarga besar aku naik ke lantai atas, menuju kamarku. Aku melihat mereka dari balkon kamar. Sepertinya Haris sengaja membuat Dinda repot dengan anak-anaknya. Seperti yang Dinda katakan tadi. Haris butuh dia untuk anaknya.


Aku tak suka melihatnya, aku masuk kembali ke kamarku dan merebahkan diriku. Aku bosan, aku tidak suka pesta seperti ini. Ini membosankan, dan aku kesal diberi pertanyaan yang sama berulang-ulang. Aku pun pasti menikah jika sudah waktunya, tak harus ditanya kenapa tak nikah-nikah. Menyebalkan memang.


Aku memainkan sosial mediaku, beberapa kali aku menscroll berandaku. Lalu aku menemukan foto USG Shasha di sosial medianya. Dituliskan di situ twenty weeks.


Tak malu kah dia? Hm dasar, kaum rajin menabung! Menikah kurang lebih satu bulan, sudah lima bulan saja usia kandungannya. Jadi begitu kah kelakuannya saat aku di penjara? Memang wanita murahan! Ia saja begitu mudah kudapatkan. Harusnya aku tak kaget, melihatnya seperti ini.


Moodku bertambah buruk saja. Aku pengen gangguin Dinda, tapi tak enak pada Haris. Aku berpikir sejenak, kuputuskan untuk mengganggu Givan sajalah. Aku merasa bosan sekali.


Aku kembali masuk ke dalam kerumunan orang lagi. Aku menemukan Givan sedang makan es krim dengan diawasi oleh pengasuh Ken Kin. Aku mendekatinya dan langsung melahap es krim yang akan masuk ke dalam mulutnya. Ia terkejut dan menatapku dengan tatapan aneh.


Ia menyendokan es krim lagi dan menempelkan pada hidungku. Lalu ia tertawa terbahak-bahak karena ulahnya sendiri. Aku ikut mentertawai diriku. Dan mengangkatnya untuk kugendong.


"Kalau Dinda tanya, bilang ya Givan aku ajak keluar sebentar." ucapku berbicara dengan salah satu pengasuh Ken Kin. Ia mengangguk mengerti dan aku berlalu pergi dari pesta keluargaku dengan mobil ayahku yang tempo hari aku pakai.


"Mau kemana Pah?" tanya Givan setelah kubawa masuk ke dalam mobilku.


"Jalan-jalan yuk. Papah bosen, kemana ya enaknya?" tanyaku bingung dengan tujuan kami.


"Liat biang lala, sama atraksi ikan bermoncong itu loh Pah." ucap Givan tak jelas. Tempat apa itu, aku berpikir namun tak mengerti maksudnya.


"Apa sih Bang? Tak paham Papah!" jujurku padanya. Ia terlihat kesal.


"Tau ah!" balas Givan dengan membuang mukanya.


Aku tersenyum samar. Ini anak begini ya sifatnya ternyata.


"Itu loh Pah!" ungkap Givan sambil menunjuk papan iklan pinggir jalan.

__ADS_1


"Oh itu, lumayan jauh Bang dari sini." sahutku setelah paham maksud tujuan Givan, "Nanti Mamah nyariin, gimana?" lanjutku bertanya padanya.


Dia memperhatikan wajahku, "Ajak Mamah aku juga! Memang kenapa kita jalan-jalan tanpa Mamah? Apa aku mau diculik?" ucap Givan masih memperhatikanku. Ada-ada saja anak ini. Tak mungkin juga aku menculiknya, lebih baik aku buat sendiri.


Aku tersenyum sesaat dan menggeleng, "Tenang aja, tak bakal Papah culik. Lain kali aja, ok? Mamah lagi sibuk soalnya." balasku kemudian. Givan mengangguk mengerti.


Aku mengajaknya ke salah satu mall di kota ini. Aku mengeluarkan baju kemejaku dan menggulung lengannya sebatas siku. Aku melakukan hal yang sama pada Givan. Dan keluar dari mobilku yang sudah terparkir di tempatnya.


Aku berkeliling mall dengan segala celotehan Givan. Dia menunjuk ini dan itu, tanpa mempertimbangkannya lagi aku menuruti keinginannya. Aku langsung merasa sangat senang, dan moodku kembali membaik.


Tak lupa aku membelikan pop corn caramel yang membuat Reno diputuskan oleh Dinda, aku membelinya untuk mengejek Dinda. Lihat saja nanti, kubuat dia malu dengan ledekanku. Dasar sifat matre yang mendarah daging. Biar dia kapok nanti nyepelehin laki-laki.


Aku membeli beberapa pakaian untukku juga Givan. Setelahnya aku berjalan menuju store sepatu. Aku melihat sepatu sneakers putih yang sama dengan milikku juga Dinda. Aku akan menggantikan sepatu Dinda waktu itu, tapi berapa ya kira-kira ukurannya.


"Maaf kak, kira-kira untuk ukuran sepatu perempuan setinggi ini berapa ya?" tanyaku dengan menyetarakan tanganku sebatas bahu. Karena biasanya tinggi badan menentukan juga ukuran kakinya. Aku bertanya pada pegawai wanita yang sedang beraktifitas merapikan rak sepatu yang berada di sampingku.


Dia sejenak berpikir, "Mungkin sekitar tiga tujuh atau tiga delapan, Mas." jawabnya, aku mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih padanya.


Aku mengambil sepatu dengan ukuran tiga tujuh, dan menuju ke kasir untuk membayarkannya. Givan terlihat kelelahan, aku menggendongnya dan meneruskan langkah kakiku untuk mengisi perutku dulu. Mungkin Givan juga lapar.


"Kita makan dulu, ok?" tanyaku pada Givan, ia mengangguk dan menunjuk salah satu resto makanan Jepang.


"Mamah suka makanan ini." ucap Givan dengan menunjuk salah satu gambar menu makanan yang terdapat di buku menu.


Aku mengangguk, "Kalau Abang sukanya yang mana?" tanyaku padanya.


"Aku mau yang berkuah. Sama ini juga. Jangan lupa mintakan sendoknya. Aku tak bisa makan pakai lidi." ucapnya polos. Sepertinya ia sering makan di resto ini cabang kota C. Dia begitu hafal jika di resto ini disediakan sumpit, bukan sendok.


"Ok, minumnya mau apa?" tanyaku dengan memberitahukan pesananku pada pelayan resto.


"Air mineral kemasan aja, yang dingin." sahut Givan dengan bersandar pada sofa dan tersenyum pada pelayan itu.


"Memang ada air mineral kemasan di sini?" tanyaku pada pelayan itu. Dia tersenyum ramah dan menjawab memang disediakan di sini, tapi tidak ada di buku menu. Aku mengangguk mengerti dan menyebutkan ulang pesanan Givan dan pesananku. Lalu pelayan tersebut permisi pergi.


"Pah pinjam handphone. Foto ya, satu aja." tuturnya dengan mengacungkan telunjuknya mengisyaratkan angka satu.


"Boleh. Kenapa cuma satu? Banyak juga boleh kalau mau foto." jawabku memberikan ponselku.

__ADS_1


"Mamah ngelarang aku foto di tempat resto. Jangan pamer katanya. Mamah juga tak suka foto di tempat makan. Kalau mau foto itu di tempat yang view-nya bagus kata Mamah." ungkap Givan menjelaskan. Oh jadi Dinda seperti itu. Aku baru tau sekarang.


Makanan sudah datang, kami memulai makan yang diawali dengan doa terlebih dahulu. Kata Givan itu harus, mana tau restonya ada jin-nya. Memang cerdas sekali anak ini.


Aku sesekali menyuapi Givan, karena ia malas sekali makan dengan tangannya sendiri. Setelah kami selesai dengan makanan kami. Givan meminta langsung pulang saja karena Dinda sempat meneleponku tadi. Dan Givan takut dimarahi oleh ibunya itu. Padahal jelas yang akan dimarahi ibunya itu ya aku, yang membawa anaknya tanpa izin darinya.


Diperjalanan kembali ke rumah umi, Givan tertidur dengan jok mobil yang sengaja aku turunkan. Dia sepertinya sangat kelelahan.


Akhirnya kami sampai juga, pesta terlihat sudah sepi. Oh ternyata pestanya hanya beberapa jam saja, aku kira pestanya sampai malam hari nanti.


Givan sudah terbangun, dia berjalan dengan membawa barang-barang yang ia inginkan tadi. Tentu saja mainan, baju karakter terbaru, sepatu dengan model yang ia pilih sendiri, dan beberapa kue yang ia idam-idamkan.


Aku memasuki ruang tamu yang ternyata sedang ada pembicaraan dengan pihak orang tua Bena, sepertinya. Karena aku melihat Bena dan orang-orang yang mirip dengan Bena juga.


Aku tersenyum ramah dan melalui mereka dengan menggandeng tangan Givan. Aku bertanya pada asisten rumah tangga yang menuruni tangga.


"Kawan wanitaku, ibunya anak ini. Apa ada di kamarnya?" ucapku menghentikan langkahku sejenak.


"Ada, tadi kakak itu habis minta air hangat buat ngerendem kakinya." jawabnya dengan sopan.


"Memang kenapa?" sahutku kemudian. Ada tragedi apa ini saat aku pergi dengan Givan tadi?


"Kurang tau Bang. Coba langsung ke kamarnya saja." balas asisten rumah tangga tersebut yang langsung permisi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Mamah kenapa Pah?" tanya Givan mendongakkan kepalanya.


"Tak tau. Yuk tengok." ajakku padanya dan melanjutkan langkah kami yang sempat terhenti tadi.


TBC.


Ayo semangatin aku 🤭


In syaaAllah aku konsisten, apa lagi kalau kalian tetap setia menunggu up setiap harinya 😅


Support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰

__ADS_1


happy reading


__ADS_2