Sang Pemuda

Sang Pemuda
63


__ADS_3

Ayo LIKE dan VOTE author 😍


Happy reading


Haris membasuh wajahnya dan bersiap untuk datang ke rumah sakit tempat ia bertugas. Ia mendapat kabar dari Adinda bahwa keadaan Adi memburuk kembali.


Setelah beberapa menit ia dalam perjalanan, akhirnya ia sampai di depan ruangan Adi.


"Kau tak balik dari semalam? Givan juga?" tanya Haris dengan menyentuh bahu Adinda yang menunduk menatap lantai rumah sakit.


"Iya Bang, tadi aku sempat balik sebentar." sahut Adinda datar.


"Di mana Givan sekarang?" tanya Haris yang duduk di sebelah kiri Adinda.


"Givan dibawa Zulfa jajan di kantin." jawab Adinda kemudian.


"Lagian masih sakit maksain hubungan badan. Tau napasnya belum sampai tak sadar kondisi kali." ujar Haris pelan namun penuh kesal.


Sontak Adinda langsung menoleh ke arah Haris, "Kita tak segila itu Bang! Aku tau Bang Adi belum baik-baik aja." sahut Adinda menyebut dirinya dan Adi dengan sebutan kita. Ia paham ke mana arah pembicaraan Haris.


"Kalau kau paham kondisi Adi, harusnya kau jangan diam aja waktu Adi meraba-raba kau. Nyatanya kan malah sebaliknya!" balas Haris sengit.


"Jangan berdalih Adi yang maksa nyentuh kau. Kalau kau bisa nolak dan keberatan dengan aksinya, pasti Adi juga berhenti di situ. Dan dia tak mungkin terlalu jauh bermain-main dengan kau. Nampaknya memang kaunya yang gatal akan sentuhan laki-laki." lanjut Haris menyinggung Adinda.


"Lebih baik kau balik aja lah Bang! Kau cuma buat aku tambah pusing." sahut Adinda geram. Ia sedang membutuhkan penenang. Bukan perkataan kasar yang menambah beban pikirannya.


Dan mereka berdua terdiam tanpa ada percakapan lagi. Adinda menunduk dan sesekali menyeka air matanya, ia menangisi Adi yang berada di dalam ruangan.


Beberapa menit kemudian dokter dan dua orang perawat keluar dari ruangan Adi.


"Gimana keadaan anak saya Dok?" tanya ibu Meutia yang duduk paling dekat dengan pintu ruang kamar Adi.


"Pasien membutuhkan alat pernapasan kembali. Nafasnya sudah kembali teratur, dan pasien sudah sadar." jawab dokter itu dengan ramah.


"Boleh kami masuk Dok?" balas ibu Meutia kemudian.


"Oh iya boleh, silahkan." sahut dokter tersebut mempersilahkan, lalu dokter itupun berlalu pergi dari ruangan Adi.


Adinda langsung bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke ruangan Adi, meninggalkan Haris sendirian.


"Kau nakutin aku aja! Udah kau tak usah tidur-tidur. Main ludo aja sama aku." ucap Adinda yang menghampiri Adi dan memeluk Adi yang tengah terbaring dengan alat pernapasan yang menutupi hidung dan mulutnya.

__ADS_1


Terlihat air mata Adinda menetes dengan derasnya, ia sesenggukan karena rasa takutnya kehilangan Adi.


Adi mengangkat tangan kanannya untuk menghapus air mata Adinda.


"Ok, lepas ini kita main ludo." ucap Adi lemah. Ia tersenyum kecil dibalik alat pernapasannya.


Haris ternyata mengikuti Adinda masuk, dan melihat dengan jelas interaksi keduanya. Ia merasa miris dengan dirinya sendiri.


"Udah jangan bercanda! Cepet sehat, terus ayo aku anterin balik ke provinsi A. Kota C ini keras, kau tak akan sanggup, biar aku saja." ujar Adinda dengan menatap Adi.


"Lebih baik kau yang jangan bercanda. Ngap kali loh napas Abang, Dek!" jawab Adi menahan tawa. Lalu membuang muka, ia tak ingin tertawa sekarang. Meski ia paham Adinda tak bermaksud mengajaknya bercanda.


"Apa yang dirasa?" tanya ibu Meutia dengan menghampiri Adi.


"Ngap, sesek kaya ditimpa barang di sini." jawab Adi dengan menyentuh dadanya.


"Mana anak kau Din? Coba sekarang minta dia bantu Papahnya." ucap ibu Meutia pada Adinda.


Adinda berpikir sejenak, ia menatap Adi. Lalu mengangguk mantap.


"Zulfa, bawa Givan balik ke kamar Bang Adi." ucap Adinda berbicara dengan Zulfa lewat ponselnya. Lalu ia memutuskan sambungan teleponnya setelah mendapat sahutan dari Zulfa.


"Ed, tolong belikan makanan buat yang ada di sini." pinta ibu Meutia pada Edi. Lalu Edi mengangguk dan berlalu pergi.


"Papah, tengok." ucap Givan dengan tersenyum lebar dan menunjukkan jajanan berbentuk telur dari dalam plastik.


"Papah tak bisa tengok Abang. Sini Abang naik, duduk di samping Papah Adi." ucap ibu Meutia dengan menghampiri Givan dan mengangkat tubuhnya, lalu mendudukkannya di sebelah Adi yang terbaring.


"Tengok. Aku dapat apa hayo Pah?" ujar Givan menunjukkan jajanan berbentuk telur itu kembali. Lalu Adi mengangguk mengerti.


"Sebenarnya, aku tak pernah mengasahnya. Aku selalu menekankan, tak perlu penasaran dengan mereka. Jadi mungkin Givan tak mengerti apa-apa." ungkap Adinda. Anak yang sedang dibicarakannya tengah asik melahap bola-bola coklat dengan nikmatnya.


Adi melonggarkan alat yang menutupi hidung dan mulutnya, "Abang punya sedikit cerita. Mungkin bisa jadi petunjuk, Dek." ucap Adi pelan.


"Sini biar kubantu." ucap Haris mendekati Adi. Adi melihat Haris bingung. Bukankah Haris tengah marah padanya? Itu yang ada dipikiran Adi sekarang.


Lalu Haris membetulkan posisi alat pernapasan Adi, agar terasa lebih nyaman.


"Kalau napasnya belum stabil jangan dulu banyak bicara." ucap Haris kemudian.


"Maaf yang kemarin hari. Aku, aku…" ujar Adi pelan. Ia merasa bersalah pada Haris.

__ADS_1


Haris terdiam sejenak. Lalu ia menyela ucapan Adi, "Kalau memang begitu adanya, tolong diperjelas. Biar aku paham kalian punya hubungan khusus." jawab Haris menoleh pada Adi dan Adinda bergantian.


"Kami tak ada hubungan." balas Adinda dengan menundukkan kepalanya.


"Ya udah bersikaplah dengan normal. Aku tak mau kau dirugikan di sini." ujar Haris kemudian berlalu pergi dari ruangan Adi. Ia merasa sangat kesal pada Adinda.


Ia percaya Adinda bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi Haris tak menyangka, perempuan yang ia jaga malah merelakan dirinya di sentuh laki-laki yang baru ia kenal. Jelas ini merugikan dirinya sendiri. Apa Adinda sekarang sudah hilang kewarasan karena Adi? Pertanyaan yang muncul di benak Haris sekarang.


~


Satu jam kemudian, nafas Adi sudah kembali normal. Ia sudah tak menggunakan alat bantu pernapasan lagi.


"Masa mau begini terus siklusnya, Di? Mau sampai kapan?" ucap Jefri yang tengah duduk di kursi di samping ranjang Adi. Ia sudah sampai di sini beberapa menit yang lalu.


"Heh, bantuin ini loh." sahut Adi yang lelah dengan posisinya. Ia ingin duduk bersandar sekarang.


"Kau nyusahin aja, Di! Cepat lah balik. Terus pulanglah ke tempat asal kau." gerutu Jefri dengan membantu Adi bangkit dari posisi tidurnya.


"Kawan yang begini. Biasanya yang selalu ada buat kau Bang." ujar pak Dodi yang duduk bersandar pada sofa.


"Nyan betoi, daripada yang ngomong hai kau cantik kali, sukses ya sekarang. Aslinya mereka suka ngomongin aku di belakang. Lidahnya bercabang dua." sahut Adinda yang sedang rebahan di spring bed single.


"Pengalaman ya kau digituin, Dek." tutur Jefri menoleh pada Dinda.


"Iya, makanya males kali aku berkawan bareng betina. Begitu rata-rata. Lebih lagi yang ngechat aku kalau mereka lagi butuh aja." ungkap Adinda bangkit dan menurunkan kakinya. Ia berjalan menuju ke ranjang Adi.


"Tapi kau termasuk beruntung, berkawan dengan laki-laki tapi kau masih utuh. Cuma terjamah sikit oleh laki-laki yang sekarang lagi jadi bahan bulan-bulanannya Haris." sahut Jefri dengan terkekeh.


"Aku, maksud kau?" ucap Adi menunjuk dirinya sendiri.


"Hahaha" tawa Jefri lepas seketika, "Haris yang ngehadang Dinda ke sini ke sana, kau yang ngurung Dinda duluan. Gimana tak mendidih itu darahnya." tukas Jefri santai.


"Sudah sejauh itu rupanya. Tapi nampaknya mereka masih pada gengsi." sindir pak Dodi.


"Tak Ayah, Jefri memang suka mengada-ada." sahut Adi mengelak.


"Kau tak ingin membela diri macam Adi juga, Dek?" tanya Jefri pada Adinda.


"Aku… ikut Bang Adi aja." jawabnya dengan tersenyum kuda. Ia langsung mendapat tatapan tajam dari Adi. Namun sontak ucapannya membuat Jefri dan pak Dodi terkekeh geli.


TBC.

__ADS_1


Yang like tak sampe seratus perhari. Herannya aku tetap lanjut nulis 😂


__ADS_2