
Adinda tersenyum manis pada Adi. Lalu langsung memeluk lengan tangan Adi. Terdengar suara klakson dari mobil yang ia tumpangi tadi. Lalu Adinda menoleh pada mobil yang akan berlalu pergi itu dengan mengangkat tangannya dan tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya.
"Jangan bilang itu cuma taksi online." ucap Adi dengan menundukkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Adinda.
"Memang bukan. Dan jangan bilang juga kau cemburu." ujar Adinda membalas ucapan Adi.
"Berani kau main-main sama Abang?" sahut Adi dengan nada sewot.
"Duduk di sana yuk. Aku pengen jajan itu." balas Adinda yang sepertinya tak menghiraukan amarah Adi yang semakin memuncak. Ia berkata dengan menunjuk gerobak batagor di sebrang posisi mereka.
Adi menghempaskan tangan Adinda yang menariknya. Sontak membuat Adinda bingung dengan keadaan ini. Ia berbalik badan dan memperhatikan wajah Adi yang tak bersahabat itu.
"Jangan lebay kali, Bang. Dia cuma temen aku. Aku numpang sama dia pas turun dari angkot di bundaran K******g tadi." ucap Adinda yang paham dengan Adi yang sepertinya tak mentoleransi kejadian tadi.
"Bohong!" sahut Adi yang membuang mukanya.
"Buat apa aku bohongin kau. Tak ada untungnya juga." balas Adinda yang terpancing emosi karena Adi yang sulit ia mengerti fakta yang ia katakan tadi.
"Buat apa kau naik angkot? Kau kan punya aplikasi kendaraan online? Kenapa tak kau pesan taksi dari aplikasi itu. Dari pada kau naik angkot dan harus numpang sama laki-laki yang nampak gatal sama kau itu." ujar Adi dengan meredam suaranya agar tak menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sini.
"Rumah ibu di kabupaten tempatnya paling ujung kota C. Titik penjemputan aku terlalu jauh dari lokasi taksi online itu. Mereka pada tak mau, dan pada minta di cancel. Satu dua ada yang nyangkut, tapi pada minta cancel karena jarak antarnya jauh. Jemput di kabupaten, antar ke kota. Kalau siang sih mungkin pada mau, karena ongkosnya lumayan. Tapi udah malam, mana mau hujan lagi." jelas Adinda agar Adi mau mengerti.
"Betul begitu?" tanya Adi dengan memperhatikan wajah Adinda lekat.
"He'em. Apa? Masih tak percaya juga?" jawab Adinda dengan memberanikan diri untuk mendongakan kepalanya untuk bisa menatap wajah Adi.
"Sebetulnya kau mau ke mana? Mana bawa-bawa koper lagi." ucap Adi dengan mengambil alih koper kecil dari tangan Adinda. Dan menariknya, begitu juga dengan tangan satunya yang menarik tangan Adinda untuk berjalan menuju gerobak batagor tadi.
"Mau ke mana kita ini?" tanya Adinda dengan celingukan.
__ADS_1
"Katanya mau jajan batagor." jawab Adi, "Jadi kau mau pergi ke mana? Balik ke provinsi A kah? Kenapa tak ambil penerbangan siang aja. Ini udah malam, rawan di jalan." lanjut Adi.
Adinda mendahului langkah Adi, dan langsung memesan batagor pada pedagang yang tengah sibuk menggoreng itu.
"Bikin dua ya Mang?" ucapnya dengan mengacungkan dua jarinya.
"Mangga, Neng. Pedes gak?" sahut bapak penjual batagor itu.
"Jangan pedes, Mang." balas Adinda yang mendapat anggukan kepala dari penjual batagor tersebut. Lalu Adinda duduk di bangku panjang yang tersedia di samping gerobak batagor itu.
"Sini Bang. Kenapa kau berdiri terus?" ucapnya dengan memperhatikan Adi.
"Bapaknya jual batagor kan? Kenapa malah nawarin mangga, Dek?" tanya Adi bingung, kemudian ia duduk di sebelah Adinda.
Adinda cekikikan sendiri mendengar ucapan Adi, "Mangga itu artinya silahkan, Bang. Bukan dia nawarin buah mangga macam itu." jawab Adinda yang membuat Adi geli sendiri dengan kesalahan pahamannya tadi saat mendengar ucapan Adinda dengan tukang batagor.
"Jadi kau mau ke mana ini?" tanya Adi begitu tersadar dari tawanya saat tukang batagor mengantarkan pesanan Adinda.
Setelah mengucapkan terimakasih pada bapak penjual tersebut. Adinda menjawab pertanyaan Adi, "Aku mau ke kota Y. Aku mau ngobrol sama penerbit yang minang cerita baruku. Aku tak biasa kalau pakai baju yang tak ganti-ganti. Jadi ini aku bawa pakaian ganti aku sama laptop dan antek-anteknya." jawab Adinda jelas.
Adi manggut-manggut mengerti, "Berapa lama kau di sana?" sahut Adi sambil mengunyah batagor tersebut.
"Satu hari paling. Kelar nanti aku langsung balik dan siap-siap berangkat ke provinsi A. Aku tak bisa lama-lama ninggalin lahan kau." balas Adinda dengan menikmati makanannya.
Adi terdiam sesaat saat teringat inti pembicaraan mereka. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Adinda tengah asik melahap batagor itu. Ia khawatir nafsu makan Adinda lenyap seketika saat mendengar ucapan Adi.
"Katanya ada yang mau diomongin." ucap Adinda saat tak mendengar suara Adi lagi.
"Bentar. Abang makan ini dulu." ujar Adi kemudian.
__ADS_1
"Aku beli air mineral dulu ya." tukas Adinda yang langsung pergi menuju warung kecil di sebelah gerobak batagor.
Tak lama Adinda kembali dengan air mineral kemasan di tangannya, "Ini Bang." ucapnya dengan memberikan Adi satu botol air mineral kemasan.
Adi mengangguk, dan menerima botol air mineral kemasan itu.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua telah selesai menyantap batagor tersebut. Dan Adi langsung membayarnya. Lalu Adi mengajak Adinda untuk masuk ke dalam mobilnya. Karena ia paham obrolan mereka nanti cukup sensitif. Ia khawatir Adinda menumpahkan air matanya di tempat ramai seperti ini.
"Ngapain ngajak aku masuk? Jangan bilang kau mau mesum." ucap Adinda dengan mendelik tajam pada Adi.
Adi terlihat terdiam sesaat dan langsung memperhatikan wajah Adinda, "Besok Abang mau diajak Jefri buat berobat. Lepas Abang sembuh, ayo kita sama-sama minta restu sama Umi. Kau buktikan sama Umi, kalau kau memang pantas untuk Abang." ucap Adi kemudian.
"Jangan maksain, Bang. Kita berjauhan nanti juga lama-lama kita lupa dengan perasaan kita masing-masing." ujar Adinda yang membuat Adi terhenyak.
"Tatap mata Abang, Dinda!" tukas Adi begitu miris dengan nasib cintanya. Lalu Adinda menoleh pada Adi dan menuruti perintah Adi untuk menatap matanya.
"Kau cinta tak sama Abang? Kau rela liat Abang dijodohkan dengan pilihan umi?" tanya Adi kemudian.
"Aku akui, aku cinta sama Abang. Cuma kalau memang kita tak bisa bersatu ya udah. Aku tak mau maksa. Mungkin memang jalan takdir kita tak bisa menyatukan cinta kita. Umi pasti jodohin kau pun tak dengan sembarang wanita. Pasti wanita itu pilihan terbaiknya. Asal kau ikhlasin aku, aku jamin kau tetap akan dapat kebahagiaan meski tak hidup bersamaku." jawab Adinda yang membuat Adi memejamkan matanya menahan rasa pedih yang perlahan membuat matanya berair.
"Abang yang maksa, Dek." sahut Adi dengan membuka matanya yang sudah memerah dan berembun ringan di antara pelapuknya.
"Mau maksa dengan cara apa? Abang mau kita ngemis-ngemis restu dari umi?" balas Adinda dengan menyentuh ujung mata Adi yang basah.
"Ada satu cara yang mungkin bisa Abang usahain. Asal janji, kau rela dengan tindakan Abang nanti?" tutur Adi yang membuat Adinda mengernyitkan keningnya. Ia bingung dengan ucapan Adi.
"Tindakan apa? Jangan bilang kau mau minum racun serangga buat ngancam umi agar mau restuin kita?" tukas Adinda dengan tajam.
TBC.
__ADS_1