Sang Pemuda

Sang Pemuda
SP141. End


__ADS_3

Saat aku sudah berada di dalam kamar hotel, ternyata anak laki-lakiku sudah terlelap tidur. Dengan istriku yang asik dengan rokoknya.


Aku kenal istriku, sedikit banyak aku tau tentangnya. Dia bukanlah wanita nakal, dia bukanlah wanita yang buruk. Buktinya sebulan ini aku berumah tangga. Aku bisa dengan perlahan mengubahnya. Tentunya berubah ke arah yang lebih baik.


Memang dia sering bolong shalat. Aku pun demikian. Tapi aku bertekad untuk menjadi imam dan kepala keluarga yang baik. Meskipun berat kulakukan, aku setiap pagi bangun lebih awal. Hanya untuk mengajaknya shalat subuh berjamaah.


Setiap waktu shalat aku ingatkan dan selalu menyuruhnya shalat. Namun setiap kali disuruh shalat, seolah-olah dia tak mendengar seruanku. Otomatis aku yang mengalah, membersihkan diriku dahulu. Dan bersiap, lalu mengajaknya untuk shalat berjamaah. Ini lebih efektif, dari pada aku gembar-gembor menyuruhnya untuk shalat.


Dan sejauh ini, Dinda selalu patuh dengan apa yang aku pinta. Dia fokus jadi ibu rumah tangga, dan mengurus anak saja. Dia tak pernah mengurusi hal lain. Sekalipun mobil modifikasiku yang selalu menarik perhatiannya, tapi dia enggan untuk melajukannya seperti fast furious. Dia lebih suka duduk di samping dengan aku yang mengemudikan kendaraan.


Untuk hal yang mungkin menjadi hal yang paling malas untuk dilakukan wanita yang sudah menikah, yaitu meng*ngkakang untuk suaminya. Dinda sekali pun tak pernah menolak ajakanku. Tapi memang pernah aku yang memang tak tau situasi dan kondisi. Meminta hakku saat anak masih melek. Alhasil, aku yang dimarahinya. Tapi memang ia tunaikan tugasnya setelah anak kita sudah tertidur. Dan sering kali dia yang malah mengajakku. Ini membuatku semakin mencintainya.


Ketahuilah bahwa cinta seorang laki-laki bukan tentang se*s melulu. Tapi cara seorang laki-laki menumpahkan rasa cintanya ketika sedang melakukan hubungan se*sual. Dan lihat, bagaimana laki-laki itu memperlakukan kalian. Aku selalu berusaha membuat Dinda nyaman terlebih dahulu, membuat istriku teran*sang. Agar ia tak begitu kesakitan saat aku masuki.


Untuk masalah hati, tak perlu diragukan lagi. Karena hanya Adinda lah pemilik hatiku. Rasa cinta, kasih dan sayangku setiap harinya bertambah besar.


Untuk masalah pekerjaan rumah, aku tak terlalu menuntutnya. Jika lelah, tak usah mencuci baju. Biarkan sampai isi satu lemari dia habiskan. Namun Dinda pasti tak lebih dari dua hari langsung mencuci pakaiannya. Mengepel lantai pun paling tiga hari sekali ia melakukannya. Hanya masak nasi, lauk dan menyapu lantai yang aku wajibkan. Tapi memang istriku orang yang bertanggung jawab. Ia tak akan main ke tetangga, tak akan pergi ke mana-mana sebelum tugasnya selesai.


Aku tak pernah bisa untuk bersikap perhitungan padanya. Malah sekarang, ia lah yang mengatur keuangan kami. Aku selalu meminta uang darinya, jika aku membutuhkan sesuatu yang harus kubeli. Tapi memang, istriku pasti selalu meminta izin terlebih dahulu jika ingin membeli sesuatu.


"Kenapa Bang, kok diem aja?" tanya istriku yang berada di hadapanku. Ia terlihat terheran-heran padaku yang tersenyum manis padanya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"I love you. My wife, my life, my adventure." ucapku dengan menarik tangannya lalu menciumnya.


Ia malah tertawa terbahak-bahak, "Aduh, geli betul aku." ucapnya disela tawanya.


"Kenapa sayang?" tanyaku dengan merengkuhnya dan mengajaknya untuk duduk di sofa panjang yang tersedia.


"Coba apa artinya tadi?" sahutnya dengan masih terkekeh kecil.

__ADS_1


"Aku cinta kamu." balasku dengan memperhatikan wajahnya yang putih, licin tiada duanya ini. Karena memang ia tak pernah memakai skin care harian. Melainkan skin care bulanan yang bisa menghabiskan puluhan juta rupiah.


"My wife, my life, my adventure apa coba?" ujarnya dengan memberikan aku kecupan manis di pipiku.


"Istriku, hidupku, petualanganku." jawabku sambil terkekeh kecil. Oh jadi ini masalahnya yang membuat istriku terbahak-bahak tadi.


Memang apa yang salah? Dia adalah akhir dari petualanganku. Aku melepaskan masa lajangku padanya. Pada janda beranak satu yang suka meledakku. Dengan wajah yang kadang menyebalkan ini. Aku begitu mencintainya, dan tergila-gila padanya.


"Kalau tak bisa romantis tak usah coba-coba lah. Kok terdengar lucu jadinya." sahut Dinda dengan bersandar di dadaku.


"Tapi memang begitu adanya, Dek. Adek adalah akhir petualangan cinta Abang. Abang lepas masa lajang Abang sama Adek. Adek… apa lagi ya?" ungkapku dengan menurunkan kepalaku untuk bisa melihat wajahnya.


"Tapi lepas perjaka tak sama aku." ujarnya dengan memanyunkan bibirnya.


Aku gemas betul melihat bibirnya itu. Rasanya ingin ku kulum dan kusesapi dengan liar, "Perjaka Abang tetap sama Adek. Pas kita pertama kalinya hubungan badan. Itu adalah kali pertamanya Abang tak pakai pengaman." ucapku jujur.


"Tapi Abang nyelup pertama kali bukan sama aku." ucap istriku cetus.


Dinda melepaskan tautan kami, dan ia bangkit dari duduknya.


"Kenapa sayang? Sini Abang panasin dulu." ucapku dengan meraih tangannya.


"Aku jarang kali nyentuh Abang. Abang terus yang foreplay. Bagi aku kesempatan dong." sahutnya langsung naik kepangkuanku dengan posisi duduk terbuka.


"Abang cepet k.o kalau Adek yang foreplay. Abang udah kelojotan, Adek tak bagi Abang ampun." balasku yang teringat dengan cara ia meng*ral Adi's bird. Begitu lembut dan perlahan, sampai ke titik sensitifku yang jarang diketahui perempuan umumnya.


"Tak apa, sekali-kali dienakin. Jangan bikin enak terus." ujar istriku dengan senyum yang penuh arti.


Lalu ia berbuat seperti yang ia inginkan. Semoga tembok hotel ini cukup tebal, dan kedap suara. Aku khawatir kamar sebelah dan orang yang berlalu lalang mendengar geraman kenikmatanku, di malam yang penuh dengan gelora hasrat ini.

__ADS_1


~


~


~


AUTHOR POV


Adi begitu senang karena sang umi dan ayah mau menerima permintaannya untuk tak menjodohkannya dengan wanita pilihan mereka. Namun Adi juga bingung dengan status Adinda. Apakah ia harus memberitahu kedua orang tua nya tentang Adinda atau tidak?


Setelah berpikir jauh, Adi memilih untuk tetap merahasiakan status pernikahan mereka dari kedua orang tuanya. Biarlah rahasia besar ini ia simpan. Karena yang terpenting baginya saat ini adalah keutuhan rumah tangganya dengan Adinda.


Dengan keadaan seperti itu saja, Adi sudah cukup bahagia.


TAMAT.


Bagaimana dengan nasib Adinda pada akhirnya?


Bagaimana perjalanan kisah pernikahan Adi dan Adinda?


Apakah orang tua Adi akan setuju dengan pernikahan Adi dan Adinda setelah mengetahui kalau mereka berdua telah menikah?


Penasaran?


Sama aku juga πŸ˜…


Ayo, ikuti kisah mereka di season 2.


Langsung saja ketikan judul, Belenggu Sang Pemuda, untuk season 2 Sang Pemuda.

__ADS_1


Season 2 juga udah tamat ya πŸ˜‰ yuk dicari. Yang seperti ini ya cover dan deskripsinya 😁



__ADS_2