Sang Pemuda

Sang Pemuda
67


__ADS_3

LIKE, VOTE , RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, COMENT and tap ❤️ FAVORIT juga. FOLLOW author juga diperbolehkan kok 😂


ADI POV


"Menurut Umi, Dinda ini berharap lebih sama Abang. Umi nampak sendiri bagaimana risaunya Dinda waktu Abang tak sadarkan diri, sampai nangisin Abang kan? Abang pasti tau sendiri." balas umi dengan memijat pelan kepalaku.


"Dinda ini memang cengeng, Umi. Dia nangis udah biasa. Berantem sama Givan pun dia nangis, macam dapat KDRT dari suaminya." ucapku yang menikmati pijatan umi di kepalaku.


"Abang gimana ke Dinda? Udah sejauh apa hubungannya? Jujur aja sama Umi." tanya umi yang membuatku salah tingkah.


"Abang tak tau pasti. Tapi Abang nyaman sama Dinda. Dinda orangnya fleksibel, Umi. Abang sering curhat apa aja ke Dinda. Tapi Dinda tak demikian ke Abang." ucapku mengaku pada umi.


"Demikian gimana?" tanya umi merespon ucapanku.


"Dinda tak pernah curhat terlalu jauh. Apa lagi masalah asmaranya." aku memperjelas maksudku.


"Ohh, kalau mau mastiin perasaan Abang. Nanti masanya kau tengok Dinda jalan sama laki-laki lain, atau masa kau jauh sama Dinda." sahut umi kemudian.


"Kalau Abang sibuk, Abang bisa lupain segalanya. Tapi berasanya pas Dinda telpon tapi cuek. Dichat tak pernah dibalas." balasku mengingat kejadian kemarin.


"Kenapa Dinda bisa cuek begitu? Rasanya tak mungkin Dinda cuek sama Abang." ujar umi.


"Waktu ada acara Edi nikahan. Dinda macam minta status yang jelas. Abang tak bisa kasih itu, Umi." ucapku jujur.


"Tuh jelas bukan, berarti benar Dinda minta kejelasan sama Abang. Lepas Dinda kalau Abang tak ada niat baik untuk nikahin dia. Ungkapin dari sekarang kalau Abang memang mau Dinda menunggu Abang sampai Abang siap." nasihat yang kesekian kalinya umi berikan.


Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Tapi sejujurnya aku tak mau mengungkapkannya pada Dinda. Aku tak mungkin membuat Dinda menungguku yang tak pasti ini. Dan aku tak mau Dinda pergi dariku jika aku melepasnya begitu saja. Ini berat untukku.


"Baca tiga Qulnya, Shalat istikharah Bang." ujar umi kemudian ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Jujur aku takut untuk tidur. Tak ada Dinda dan Givan di sini, aku jadi waspada. Aku takut serangan itu datang lagi.


Lepas umi keluar dari kamar mandi. Lalu aku pun masuk untuk mengambil wudhu. Selang infusku sudah dilepas, karena tanganku bengkak sebelah. Sebenarnya aku tak paham kegunaan infusan itu apa, hanya membuat gerakanku terbatas dan membuat tanganku sakit saja. Tapi aku belum diperbolehkan pulang. Dokter akan meninjau kesehatanku satu hari ke depan.


~


Aku sudah menunaikan Shalat isya. Dan ayah sudah kembali akan berangkat ke provinsi KB lagi. Sebenarnya ayah enggan untuk meninggalkan aku yang masih berada di rumah sakit. Tapi apa boleh buat, orang ayah tak bisa menyelesaikan masalah pada kebun sawitnya.


Disini hanya ada umi dan Zulfa, karena Edi masih berada di rumahku. Ia mengirimiku pesan chat, dia berkata akan kesini agak malam sedikit. Ia ingin bersantai sejenak di sana.

__ADS_1


Umi sudah tertidur di spring bed single, dan Zulfa sedang sibuk dengan ponselnya. Zulfa tak mau aku ajak ngobrol. Ia sungguh menyebalkan jika sudah bermain ponsel, ia tak ingin diganggu sama sekali.


Aku berinisiatif untuk bertukar pesan kembali dengan Dewi dan Silvana yang setiap hari tak pernah bosan mengirimkan pesan chat padaku, meski jarang kubalas.


Satu jam kemudian, pintu ruanganku terbuka dengan berbarengan dengan munculnya Dinda yang sedang menggendong Givan.


"Loh Kak? Katanya Bapak baru balik dari rumah sakit." tanya Zulfa melihat Dinda masuk.


"Iya. Cuma Givan rewel, pengennya sama Papah Adi terus. Mau jagain katanya." jawab Dinda yang menurunkan Givan di sampingku.


"Ih iya begitu Bang? Apa Mamahnya yang rewel nih?" sahutku dengan senyum yang merekah.


Aku senang mereka kembali ke sini. Entah apa pun alasannya. Aku tetap ingin mereka selalu bersamaku.


"Aku takut Papah Adi bengek lagi." tutur anak bermata sipit ini. Sungguh aku gemas sekali padanya. Entah saat besar nanti, apa ia masih terlihat menggemaskan atau tidak.


"Aku rewelnya kenapa? Malah di sini aku susah kali mau ngerokok." ucap Dinda lirih, mungkin sengaja agar tak didengar Givan.


"Kangen mungkin, pengen disentuh. Tapi lebih baik kau jaga jarak. Karena Abang udah mandi besar." sahutku juga pelan.


Dinda melirikku dan tersenyum sekilas, "Jadi maksud kau, aku ini bikin kau jadi junub begitu?" tanyanya kemudian.


Tawaku pecah karena tingkahnya yang berulang kali mencubit perutku, "Ampun Dinda, Dinda." ucapku cepat. Agar Dinda menyudahi aksinya ini.


Namun tiba-tiba Dinda menggelitik di bagian bawah rusukku. Lalu karena terkejut dan merasa geli, spontan aku berteriak, "Aneuk tet"


Sontak membuat umi bangun seketika dan melebarkan matanya, "Astagfirullah, k*itoris kau bawa-bawa!" ucap umi dengan mengelus dada.


Memang artinya demikian, salah satu bagian di dalam v*gina perempuan. Zulfa yang tidak mengerti, ya cuek saja. Namun Dinda tertawa terbahak mendengarnya, sudah dipastikan karena dia mengerti artinya.


"Pada ngapain, heh? Ini udah malam. Ganggu orang tidur aja kalian ini!" ujar umiku sewot.


"Dinda nih Umi, rese betul kau!" tuturku agar Dinda saja yang kena marah umi. Tidak dengan aku.


"Kau yang berisik! Dinda yang kau salahin." balas umiku.


"Hah, hah, kena marah." ucap Dinda pelan dengan menunjukku. Apa ini juga masuk dalam konsep bahwa wanita tidak pernah salah?


"Iya, iya ok. Abang minta maaf Umi." ungkapku kemudian.

__ADS_1


"Bercanda boleh, tapi jangan berisik." jawab umi dengan berjalan perlahan dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Jangan rese coba, Dek!" seruku padanya.


"Iya iya." ujar Dinda yang sekilas melihat layar ponselku yang beberapa kali menyala karena notifikasi masuk.


"Tuh siapa tuh?" tanya Dinda yang bangkit dari ranjangku. Ia bertanya dengan menunjuk ponselku dengan dagunya.


"Bukan siapa-siapa, Dek." jawabku yang merasa seperti ketahuan selingkuh.


"Dek, Dinda makan belum? Nih uangnya, sana beli makanan." tutur umi yang baru keluar dari kamar mandi.


"Udah Umi." sahut Dinda yang duduk di sebelah Zulfa. Kok aku merasa seperti urat wajah Dinda. Apa dia marah karena aku chating dengan perempuan lain?


Umi berjalan menghampiri Dinda, kemudian duduk di sebelahnya. Terlihat Dinda duduk diapit oleh Zulfa dan umi.


"Jangan sungkan. Anggap aja orang tua sendiri." ucap umi dengan merangkul Dinda.


"Aku tak pernah sungkan, Umi. Kecuali keadaan orangnya memang tengah tak punya uang." sahut Dinda yang terlihat begitu akrab.


"Papah, ini aku bikin apa sih?" tutur Givan mengalihkan atensiku.


Ia kesini dengan membawa sekotak mainan balok susun, dan mobil remote control yang bisa berubah menjadi robot.


"Abang memang tengah bikin apa? Kok tanya sama Papah." balasku menyahutinya.


"Aku pun tak tau. Aku tak pernah sukses kalau mainan ini. Aku tak tau apa yang aku buat." ucap anak itu dengan mata beningnya yang polos. Sungguh, anak ini terlihat menggemaskan sekali. Sama seperti ibunya.


"Sini mau bikin apa? Biar Papah bantu." jawabku dengan mengambil beberapa balok susun yang masih tersisa.


"Bikin rumah tangga yang utuh." sahut anak itu yang membuat semua mata langsung memperhatikannya.


"Hah? Rumah tangga yang bagaimana Bang?" tanyaku merasa bingung.


"Itu loh Pah…….


TBC.


Komen ya apa yang harus author perbaiki 🤔

__ADS_1


Komen aja tak apa, authornya ramah lingkungan kok 😂


__ADS_2