
Aku menunggu kedatangan Devi, dia bilang akan mampir ke kedai setelah membeli beberapa buku di tempat langganannya. Aku setiap hari chatting dengan Devi, aku tertarik dengan pembawaannya yang dewasa dan anggun.
Tak lama Devi datang, kami makan bersama. Dan aku berniat mengungkapkan ketertarikan ku padanya. Setelah selesai makan, aku mengajaknya masuk ke ruangan ku. Tapi sebelumnya aku memastikan dia dulu kalau aku tak akan berbuat macan padanya. Devi terlihat lebih hati-hati, tidak seperti Dinda yang akrab sana-sini.
"Dev, sebelumnya aku minta maaf. Mungkin ini terlalu cepat dan mengejutkan mu. Saat ini aku ingin mengungkapkan ketertarikan ku padamu. Aku ingin kita tak hanya sekedar teman." ungkap ku jujur. Ini bukan kali pertamanya aku menembak perempuan. Jadi aku biasa saja. Di tolak pun tak masalah, belum ada rasa yang pasti juga kan. Aku hanya ingin memiliki seorang kekasih yang berfungsi dalam kehidupan ku.
Devi terdiam sesaat nampak jelas bahwa ia sedang berpikir, "Maaf mas, kalau mas tidak ada niatan untuk nikahin aku. Lebih baik kita berteman saja. Buat apa menjalani hubungan kalau tanpa tujuan. Aku paham tertarik dengan cinta itu hal yang berbeda." jawab Devi menatap mataku. Berani juga ini perempuan pikir ku.
"Aku tak pernah berjanji untuk sebuah perasaan. Tapi, aku akan berusaha untuk sebuah kesetiaan." ujar ku tak kehabisan akal. Tapi memang sebenarnya aku tidak pernah berselingkuh juga sih.
"Mas kelak nanti mau nikahin aku?" tukas Devi penuh harap. Aku merasa ada yang tidak beres dengan masa lalunya.
"Masalah jodoh tidak ada yang tau Dev." sahut ku ringan. Untuk menikah aku masih belum ingin terburu-buru. Kalau di kampung ku, seumuran aku mayoritas sudah memiliki anak. Tapi aku tetap ingin mencari yang tepat, selain dia harus perawan dia juga harus berkerudung dan mau beranak banyak dengan ku nanti. Ada-ada saja Devi ini, ku pacarin saja belum. Malah minta kelak nanti ku nikahin.
"Jodoh bisa di usahakan mas." sahut Devi sedikit lirih dan menundukkan wajahnya.
"Ya kita pikirkan nanti masalah itu, aku belum mengenal kamu lebih jauh." dan lebih dalam tentunya, lanjut ku dalam hati. Dengan perlahan aku memegang wajahnya untuk ku bingkai dan ku ci.... ah dapat juga kan. Aku hanya mengecup bibirnya sesaat dan melepaskannya kembali. Aku sedikit pemilih untuk berciuman terlalu dalam, takut-takut pasangan ku penyakitan dan aku tidak mengetahuinya.
Devi langsung menunduk kembali begitu ku lepaskan, "Jadi, bagaimana? Aku bukan orang yang ahli dalam berkata-kata Dev. Aku hanya mengungkapkan apa yang harus kamu tau." ucapku berdiri dari kursi ku dan mengambil posisi berjongkok di depannya, memegang tangannya, dan ku tatap dalam matanya. Kebanyakan perempuan lemah ketika di tatap matanya. Mungkin energinya tersedot atau bagaimana. Tapi itu yang aku pahami dari perempuan.
Lalu Devi mengangguk sambil tersenyum. Yes, mantul kan. Biarpun tak romantis yang penting aku dapat betina tanpa ungkapan cinta dan janji yang muluk-muluk. Nambah dosa iya kalau sampai tak ku tepati janji-janji ku.
__ADS_1
Aku langsung berdiri dan mengelus kepalanya yang berhijab itu sesaat. Dan permisi keluar untuk ku ambilkan air. Mungkin dia tegang tadi. Ku beri waktu dia sendiri untuk mengatur detak jantungnya agar kembali normal. Tidak ada adegan cium tangan setelah aku di terima jadi kekasihnya, dia bukan ibuku ataupun guruku. Tidak ada adegan peluk-pelukan, karena memang aku tak menginginkannya, Devi pun pasti sekarang akan merasa canggung dengan ku. Kebanyakan wanita begitu bukan setelah di tembak laki-lakinya. Aku hanya berpikir realistis dan sesuai pengalaman yang aku rasakan saja.
~
Aku sudah mengantarkan Devi pulang, dan aku sudah kembali ke rumah juga. Aku tadi hanya menurunkannya saja di depan pintu pagar rumahnya. Devi sebenarnya mengajak ku mampir tadi, tapi menurutku mungkin terlalu cepat kalau aku langsung di kenalkan orangtuanya dan juga hari sudah semakin malam.
Entah kenapa aku malah menelpon Dinda, tiba-tiba saja aku ingin memastikan apakah Dinda sudah berada di rumah ku. Ternyata niomornya tidak aktif. Aku langsung mencari nama Safar di kontak ku dan menelponnya.
"Hei far, gimana? Adek sudah di rumah abang belum?" tanyaku to the poin.
"Belum bang, adek udah tidur bareng dek Liana." jawab Safar jelas. Liana adalah adik dari Safar. Mereka hanya dua bersaudara.
"Ya sudah, besok pagi suruh adek telpon abang!" pinta ku kepadanya.
Sampai sekarang pun aku belum mengetahui jelas masalah keluarga ku, Zulfa pun tidak tau apapun juga. Akhir pekan nanti aku akan mengunjungi umi di kota J. Aku khawatir dengan kondisi umi ku, apakah dia baik-baik saja dengan tingkah anak-anaknya yang jauh dari harapannya.
~
Tidur ku terganggu dengan suara telepon, rupanya dari Devi. Hm, Devi sudah memegang kendali akan peranannya ternyata. Dia menelepon sepagi ini hanya untuk membangunkan ku.
Aku sedikit asing dengan panggilan mas, akupun sangat kaku untuk menyebut diriku mas. Aku meminta Devi untuk memanggil ku abang saja, seperti orang-orang terdekat ku. Masyarakat kota ini, terbiasa memanggil laki-laki dengan sebutan mas atau aa. Pertemuan antara dua suku yang bertetangga, sebutlah kota ini daerah perbatasan antara suku Jawa dan Sunda. Aku tidak tau pasti, aku hanya pendatang di kota ini. Tapi kenapa dek Dinda terbiasa memanggil laki-laki dengan sebutan abang, sejauh ku mengenalnya aku selalu mendengarnya menyebutkan bang atau om. Dinda memanggil orang lain om hanya saat bersama anaknya saja, mungkin mencontohkan anaknya untuk mengikuti ucapannya.
__ADS_1
Jujur aku penasaran sekali dengan dek Dinda. Kenapa semua yang aku tau menjadi teka teki yang sulit terpecahkan. Aku tak memiliki rasa apapun padanya. Tapi dia terlihat begitu menarik di mataku. Apalagi waktu dirinya menggigit bibir bawahnya saat sedang berpikir. Dia begitu membangkitkan sisi liarku. Tapi aku tak berani menyentuhnya. Takut nyawa ku yang jadi korbannya nanti. Padahal dia tak secantik Maya, tak seanggun Devi juga. Tetap sosok Adinda yang menjadi atensi ku.
Waktu ku jadi terbuang percuma gara-gara memikirkannya. Lebih baik aku membersihkan diri dan mencuci pakaian kotor ku saja.
Setelah selesai semua, aku melirik jam sesaat dan ternyata masih ada waktu untuk bersantai sebelum berangkat kerja. Aku duduk di bangku kayu depan rumah dengan membakar rokok ku dan membuka aplikasi baca ku. Aku membaca karya milik dek Dinda yang tetap menjadi favorit ku. Tak lama, aku merasakan kursi ku sedikit bergoyang. Saat aku menoleh, ternyata Maya yang duduk di sebelah ku.
Dia tersenyum manis padaku, "Kemarin ada anak kecil siapa bang?" tanya Maya penuh selidik.
"Anaknya karyawan abang yang waktu itu bareng abang di tempat fitnes." sahut ku tetap fokus pada bacaan ku.
"Sampai tengah malam ya dia bang di sini?" ujar Maya yang tengah memperhatikan ku.
"He'em May, dia maksa pulang. Abang tawarin nginep aja dia gak mau." terang ku menolehnya sesaat.
"Hmm, dia pacar abang ya?" balas Maya menatap lurus ke depan.
"Bukan May. Sekarang pun dia lagi ada di provinsi A, ngurus ladang abang." sahutku santai dan menghembuskan asap rokok ku.
"Hmm, abang udah percaya banget ya sama dia?" tanya Maya lagi. Jujur aku tidak nyaman di hujami banyak pertanyaan penuh selidik begini.
"Bukan May, dia orang kepercayaan ayah. Abang mau siap-siap berangkat kerja dulu May." tukas ku lelah dengan pertanyaannya. Aku sudah berdiri dan hendak meninggalkannya. Tapi terdengar isakan pelan dan pernyataan mengejutkan dari Maya.
__ADS_1
"Aku gak suka abang dekat dengan perempuan manapun. Aku masih mengharapkan abang. Tapi abang coba menghindari aku terus. Aku gak suka sikap abang yang berubah dingin begini." ungkapnya dan berlalu pergi masuk ke rumah ibunya. Jangan-jangan dia menginginkan untuk ku kejar lagi. Ck, drama betul. Dasar betina random.
TBC.