Sang Pemuda

Sang Pemuda
115


__ADS_3

CRAZY UP 😱


Biar gak nanggung 😉


Aku mulai mendekati bibirnya, namun ucapannya selanjutnya membuatku langsung menggeser tubuhku dan berbaring di sebelahnya.


"Tadi kau berisik aku tega mukul aset kau. Tapi nyatanya kau lebih tega menuhin nafsu kau dengan keadaan aku yang lagi tak sehat begini." ucapnya tepat di depan wajahku yang sedang mengincar bibirnya.


Lalu aku bangun, dan berjalan menuju pintu kamar. Dan membuka kuncinya setelah aku berhasil mengambilnya dari atas angin-angin pintu kamarku.


"Gih keluar. Abang mau istirahat sebentar." ucapku dengan menahan rasa yang berpusat di Adi's bird.


"Kau ngusir aku?" serunya dengan menatap tajam padaku. Ya ampun, Dinda. Apa dia tak paham keadaanku?


"Bukan macam itu, sayang. Abang lagi coba nahan." ucapku selembut mungkin. Aku khawatir Dinda marah karena tindakanku.


"Dan Abang bisa memastikan perasaan Abang sendiri. Abang cinta sama kau, ini perasaan yang nyata, perasaan Abang yang harus kau tau. Bukan karena obsesi dan penasaran semata." ungkapku dengan sedikit berjongkok dan menyetarakan tinggiku dengan Dinda yang duduk di tepian tempat tidur.


"Bohong." respon Dinda yang malah meneteskan air matanya. Kenapa lagi dengannya? Apa ia tersinggung karena tadi aku minta dia keluar dari kamarku?


"Abang tak bohong. Abang tak main-main sama kau. Makanya dari awal Abang sadar sama perasaan Abang sendiri, Abang langsung ajak kau buat nikah kan? Buat berjuang bareng?" tuturku dari hati.

__ADS_1


"Asal kau tau, Dek. Abang sebelumnya tak pernah mengajak perempuan yang Abang pacarin untuk menikah. Setiap Abang ditanya tentang keseriusan Abang, Abang selalu jawab dijalani aja dulu. Karena Abang tak pernah seyakin ini dengan wanita. Terlebih lagi wanita itu kau. Abang akui, Abang pernah tak menginginkan perasaan ini. Abang selalu memungkirinya. Tapi ternyata dengan Abang berusaha membuang perasaan ini, Abang semakin merasakan sesak di hati Abang." ungkapku agar Dinda mau mengerti aku.


"Lalu setelah Abang sadar, umi malah menghalangi Abang. Orang tua kau melarang kau. Ditambah kau tak mau berjuang bareng Abang. Udah kemarin lagi sakit, masalah hati Abang tak beruntung. Kau tau rasanya jadi Abang? Macam orang gila kurang setan." ujarku dengan menghapus air mata Dinda yang kembali menetes.


"Abang paham, rasa cinta kau bahkan lebih besar dan lebih tulus dari Abang. Kau usahain kesembuhan Abang. Kau mau berusaha dengan membantu puasa untuk Abang. Belum biaya yang kau keluarkan cukup besar. Tapi yang tak bisa Abang mengerti. Kau malah ngelepas Abang begitu aja. Apa benar kau sengaja nyembuhin Abang, agar kau tega ninggalin Abang?" tanyaku karena mengingat kembali ucapan Jefri waktu di kedai itu.


"Karena kau harus memperbaiki kehidupan kau selanjutnya. Dan kau juga berhak dapatkan perempuan yang lebih baik dari pada aku. Apa yang Abang liat dari aku? Bang, hidupku berantakan. Aku tak punya arah yang jelas." Dinda membuka suaranya.


"Abang yakin kau perempuan baik-baik, Dek. Abang ingin kita berubah menjadi lebih baik bersama-sama. Abang paham hijrah itu sulit, makanya mari kita saling memperbaiki satu sama lain. Insyaa Allah Abang sanggup membimbing kau. Cuma satu yang Abang minta, kau yang nurut sama Abang." sahutku kemudian.


"Kau tau, bahkan aku pernah di titik hijab syar'i. Dengan kaki berkaus kaki setiap hari. Tapi nyatanya aku kembali seperti dulu lagi." ungkap Dinda dengan menghapus kasar air matanya. Aku baru mengetahui sekarang, ternyata Dinda sudah sejauh itu dalam hijrahnya. Aku pun tak paham, tapi aku tetap yakin Dinda bisa berubah dengan bersamaku. Perlahan namun pasti, nyatanya aku bisa merubah diriku sendiri hanya karenanya. Dan juga karena aku tak ingin anak laki-lakiku mengikuti jejak burukku.


Dinda tetap menggelengkan kepalanya, "Aku mengalaminya sendiri menikah tanpa restu. Dan aku tak ingin menjadi janda untuk kedua kalinya dengan pengalaman yang sama. Aku ingin dianggap keluarga oleh keluarga suamiku, aku ingin orang tua suamiku nanti nganggap aku macam anaknya sendiri." balas Dinda mengungkapkan keinginannya jika berkeluarga lagi nanti.


"Maaf kalau kau tak suka dengan tindakan Abang. Dengan atau tanpa restu mereka. Abang tetap ingin hanya kau yang jadi istri Abang." jelasku penuh penekanan. Kenapa sulit sekali membujuk wanita ini? Aku rela mengemis restu pada mereka. Namun wanitaku tetap enggan mendukungku. Ok, mungkin tindakanku kali ini benar. Karena jelas, wanita yang kucintai tak mendukungku.


Dengan tubuhku yang mulai menindihinya. Perlahan namun pasti, aku melancarkan aksiku untuk bisa menanam benihku di rahimnya. Berharap kelak nanti ia bisa tumbuh di perut wanitaku. Dan bisa menjadi alasan untukku agar bisa menikahi wanitaku. Jangan ditiru tindakanku, jangan dihakimi dosaku. Aku seperti ini karena alasan.


Dinda memberontakku, mencoba melepaskan diri dari cengkramanku. Aku membekap mulutnya dengan mulutku. Dan tanganku mulai beraksi untuk membuatnya lemah atas usahaku. Tanganku yang satu berusaha untuk menghalau tangannya yang terus mendorongku. Dan tanganku yang lain mencoba menyelinap masuk ke dalam celana longgarnya, untuk mencari sesuatu yang bisa membuatnya takluk tanpa penolakan.


Sebenarnya aku tak tega dengan Dinda yang berurai air mata dan kesehatan yang belum fit betul. Tapi tak ada cara lain. Berulang kali aku mendengar penolakannya. Hanya semakin membuat hatiku sakit. Padahal aku sudah memintanya dengan baik-baik, untuk berjuang bersamaku. Namun ia tak mau mengerti jika aku benar-benar mencintainya. Maaf jika sebuta ini aku mencintainya, sampai hal yang dilarang pun aku lakukan hanya untuk mendapatkannya seutuhnya. Dan menguncinya untuk selalu berada di hidupku.

__ADS_1


AUTHOR POV


Dua sejoli itu tidak mengetahui, bahwa Sang Pemuda pemilik rumah telah diawasi sejak memarkirkan motornya di halaman rumahnya.


Apa lagi sejak terdengar suara pintu yang sedang dikunci dari dalam rumah itu. Hal itu membuat beberapa orang yang berada di lingkungan rumah itu menjadi semakin curiga.


Seseorang memastikannya sendiri dengan mengitari rumah tersebut. Dan mendengar suara seorang perempuan yang berusaha melepaskan dirinya. Namun karena kaca yang menghalangi tak mampu menembus apa yang ada di dalamnya. Membuat seseorang itu berinisiatif pergi dan menemui orang yang lebih mempunyai kewenangan di kampung ini.


"Assalamualaikum." ucap orang tersebut yang terlihat buru-buru untuk segera sampai di hadapan ketua rukun tetangga itu.


"Wa'alaikum salam. Eh, Dek Shasha. Masih belum jadi E-KTPnya. Biar nanti saya antar aja kalau sudah jadi." sahut pak RT tersebut yang mengira wanita berperut besar itu meminta KTP barunya.


"Begini, Pak. Aku dengar suara Dek Dinda yang kesusahan di dalam rumah. Dan ada beberapa saksi mata juga melihat Bang Adi masuk ke dalam rumah. Aku khawatir Dek Dinda tengah diperlakukan tidak manusiawi oleh Bang Adi." ungkap Shasha cepat.


"Hah?" respon pak RT yang membulatkan matanya.


TBC.


Haduh, cemana ini?


Semoga Adi udah tuntas, biar ga ketahuan. 😰

__ADS_1


__ADS_2