Sang Pemuda

Sang Pemuda
12


__ADS_3

"Eh udah selesai kau dek?" tegur Haris.


"Aku tak bisa dapatkan tendernya bang!" keluhnya. Aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang di bicarakan mereka. Adinda langsung duduk di samping Haris dan mengapit lengan Haris untuk di jadikan sandarannya. Haris tidak merasa terganggu dengan Dinda. Kulirik wanita Haris Juda terlihat biasa saja dengan kelakuan Dinda pada kekasihnya. Sebenarnya bagaimana, aku merasa bingung dengan Dinda dan Haris sekarang.


Dinda melihat ke arahku, saat pandangan kami bertemu dia menaikan satu alisanya dengan tersenyum penuh arti. Dia berdiri dan meyuruh Jefri geser, lalu dia duduk di sebelah ku. Aku menguatkan hatiku. Sungguh melihat pergelangan kakinya saja aku sudah hilang fokus, kenapa dia lebih menarik dari perempuan yang ada di sini.


"Bang." seruan darinya. Aku hanya bergumam pelan menanggapinya, "Ambilin itu dong, tuh di samping tangan abang." pintanya sambil menunjuk.


Aku udah ge'er tadi, ternyata dia hanya ingin minum. Dia menenggak nya tanpa ekspresi, mungkin sudah biasa dia minum minuman macam ini.


~


Lama-lama aku merasa kepala ku sedikit berat. Dinda entah kemana, tapi terdengar tawanya yang nyaring mengalahkan suara musik yang hanya di setting tidak terlalu kencang.


"Di, toleransi kau buruk sekali kawan" ucap Jefri yang melihatku sudah bersandar di sofa. Telinga ku masih berfungsi tapi mataku berat sekali.


"Dek, jagain bentar bos kau nih." suara Jefri yang terdengar sedikit berteriak.


"Abang mau kemana?" tanya Dinda pada Jefri yang sudah berada di samping ku.


"Abang butuh pelepasan dek, telpon aja ya kalau udah mau pulang. Nanti abang jemput." sahut Jefri jelas.


"Antar balik dulu napa Jef!" aku bersuara. Yang ada di fikiran ku, aku akan di bawa Dinda pergi dan di buang di jalan yang sepi, dengan ponsel dan dompet yang di rampasnya.


"Takut di jual dia bang sama aku!" Dinda berujar dan di selingi kekehan dari beberapa orang.


"Ya kau jangan nakutin coba dek!" Haris menimpali, "Dah ya Abang pergi dulu." lanjutnya.

__ADS_1


Mataku sudah terpejam menikmati rasa pengar di kepalaku. Tapi sungguh aku tergoda dengan wangi Dinda yang terasa menempel di hidungku.


Aku mencoba membuka mata dan menegakkan duduk ku. Ternyata Dinda di samping ku sambil menikmati rokoknya dan memainkan ponselnya.


"Dek cari kamar yuk" aku mengajaknya berterus terang. Dinda tersenyum manis dan menatap ku. Jangan-jangan dia mau mencium ku lagi, aku tadi berterus terang bukan mengajak terang-terangan begini. Tapi dia malah mengatakan yang tak pernah ku pikir sebelumnya. Aku hanya menebak pasti dia akan menolak ku dan marah merasa di anggap wanita gampangan.


Tapi ternyata, "Aku tidak menerima barang di bawah ukuran SNI, yang SNI pun aku pikir-pikir dulu!" Dinda mengatakan demikian. Aku kaget, lebih-lebih ada yang tertawa pula mendengarnya. Ternyata sufi yang tertawa, salah satu kawan Haris yang di kenalkan tadi. lalu dia berucap, "Kau godain lah dia bang sampai pagi, disini pada sungkan sama dia, tak ada yang pernah berhasil"


Dinda menimpali, "itu sih karena mereka punya barang kecil-kecil mana pendek lagi, jadi sungkan sendiri!"


"Lagian kau ada-ada saja, apa bedanya besar kecilnya barang, rasa sih tetap sama dek. Bawa-bawa ukuran Standar Nasional Indonesia segala pulak" tandasku menoleh ke arahnya.


"Aku jadi curiga sama kau bang, jangan-jangan orientasi seksual kau bermasalah." tutur Dinda menghakimiku.


"Bermasalah apanya, buktinya aku ada minat sama kau!" terangku tidak terima atas tuduhannya.


Sialan kau betina, ucapku dalam hati, "Terserah kau lah dek! Lagian kenapa harus seperti yang kau sebutin tadi?" tanyaku kemudian. Jujur aku sedikit risih membahas kepemilikan laki-laki.


"Aku punya dalam bang, takut tak sampai kalau pakai yang pendek dan kecil!" jawabnya tetap fokus pada ponselnya. Aku tertawa mendengarnya, ada-ada saja betina yang satu ini.


"Tertawa pula kau!" ucapnya sambil melirik ku sesaat. "Apa jangan-jangan kau punya barang kecil ya, pendek juga ya?" tuduhnya kemudian.


Aku langsung menoleh ke arahnya, sembarangan betul itu mulut belum pernah di sumpal rupanya, "Jangan asal jeplak aja kau bicara" sahutku mendelik tajam padanya.


Dia malah terkekeh dan berkata, "Nanti besok kau ukurlah, diameternya juga jangan lupa. Mana tau bisa jadi referensi aku nanti kan."


Aku melongo mendengar penuturannya barusan. Rasa minat ku pun berubah menjadi geram. Awas aja kau nanti, tekad ku dalam hati.

__ADS_1


Aku merasakan kepalaku semakin berat, aku menyenderkan kepalaku di punggung sofa. Beberapa saat kemudian, aku merasakan seseorang mengubah posisi kepala ku seperti bersandar di bahu kecil. Dengan tangan yang melewati tengkuk ku. Aku menikmati elusan di lengan ku, dan tak lama aku sudah merasakan di titik yang paling nyaman.


~


Aku baru membuka mataku, dimana aku sekarang? Terdengar suara anak-anak mengaji. Saat aku hendak bangun, aku masih merasakan sakit di kepala ku. Aku lebih memilih merebahkan lagi kepalaku dan memejamkan mata sejenak.


Tapi perutku tidak bisa di ajak kompromi, memang seberapa lama aku tertidur? Aku mengangkat tangan kiri ku untuk melihat jam tangan hitam ku. Oh, wow. Sekarang pukul 18.20, pantas saja aku lapar sekali. Kurang lebih 17 jam aku tertidur, sepertinya. Aku tidak tau pasti aku di bawa pulang pukul berapa.


Pintu kamar terbuka, menampilkan wanita berhijab yang masih memegang gagang pintu tengah melihat kearah ku, "Masih pengar bang?" tanya Dinda. Aku hanya menjawab, "Iya" dengan lirih. Dinda lalu pergi dan menutup pintunya kembali.


Tak lama Dinda kembali dengan nampan di tangannya. Dia menaruh makanan yang dia bawa di nakas. Membantu aku bangkit, dan menaruh bantal di kepala ranjang. Lalu ia memberikan aku segelas air putih.


"Mau bersihin badan dulu apa mau makan dulu?" tutur Dinda.


"Makan dulu aja dek, lapar sekali abang!" Jawab ku jujur. Dia sekilas tersenyum.


"Tak ada nasi kah? Lapar sekali loh abang. Mana kenyang kalau cuma makan bubur!" tolak ku melihat makanan yang ia bawa.


"Biar perut Abang gak kaget, nih makan!" perintahnya. "Lagian ya bang, tau toleransinya buruk tuh minum secukupnya aja. Tak ada yang memaksa juga disana!" lanjut Dinda. Aku lalu menyuapkan sendok bubur bersayur ke mulut ku sendiri. Serasa di ceramahin umi ku mendengarnya mengatakan demikian.


Dinda mengamati ku yang sedang makan. Sungguh aku risih, serasa makanan ku akan di mintanya, "Dek kalau kau mau ambilah sendiri! Tak nyaman abang kau liatin begitu!" seruku menatap lurus padanya.


"Abang ternyata lebih seksi tak pakai baju begitu!" ungkap Dinda yang langsung keluar dari kamar. Aku langsung menelan makanan ku. Kenapa ucapannya selalu mengandung unsur kemesuman, padahal dia perempuan.


Aku juga tidak tau ternyata aku tidak mengenakan baju, saat aku menyibakkan selimut ku. Ya ampun, kepala ikat pinggang ku tidak terpasang, dan pengait celana jeans ku terbuka. Apa yang terjadi, jangan-jangan Dinda mencoba melihat Adi's bird saat aku tertidur pulas.


Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan berpegangan pada benda yang bisa ku gapai. Kenapa kepala ku masih terasa berputar seperti ini. Aku mencari bajuku, tapi tak ada di sekitar sini. Aku mulai bisa menyeimbangkan tubuhku dan berjalan ke arah pintu kamar. Saat aku keluar dari kamar, semua mata langsung tertuju pada ku. Bodohnya aku, inikan bukan rumah ku kenapa aku tidak menunggu Dinda kembali saja tadi.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2