
Crazy up dadakan 😥
Aku lagi kesel kali gara-gara gagal masang TG baru.. Bukannya rapih, malah cembung udara sana sini 😭.. mana ada debu yang terperangkap lagi 😩
Udahlah, malah curhat pula aku 🤐
AUTHOR POV
Adi dan Jefri berada di teras rumah. Setelah Adi selesai menjemur pakaian, lalu ia melepaskan bajunya yang basah karena keringat dan bersantai dengan menikmati rokoknya.
"Haris pergi ke mana?" tanya Jefri pada Adi.
"Ditarik-tarik Alvi, diminta ikut sama dia." sahut Adi kemudian. Jefri manggut-manggut mengerti.
Adinda keluar dari dalam rumah, "Bagi rokok, Bang." ucapnya dengan menghampiri mereka berdua.
"Orang sakit tak boleh merokok. Rokok cuma buat orang sehat aja." ujar Jefri menyomot bungkus rokoknya sebelum diambil oleh Adinda.
"Satu aja Bang." rengeknya memohon. Jefri membuang mukanya acuh.
Lalu Adinda menoleh pada Adi, dan mengembangkan senyum di bibir pucatnya.
"Minta dong Bang, satu aja." tuturnya dengan mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan angka satu.
"Cium dulu." respon Adi yang berniat bercanda, Adi menunjuk pipi kirinya agar semakin meyakinkan jika dirinya meminta cium.
Namun gurauan Adi malah ditanggapi serius oleh Adinda. Adinda mendaratkan bibirnya cepat pada pipi Adi.
Tindakan Adinda membuat Adi terkejut dan memundurkan tubuhnya agar sedikit menjauh dari Adinda, "Ngapain sih kau?" tanya Adi pelan, mungkin hanya bisa didengar oleh Adinda saja.
Namun Adinda memegang tengkuk leher Adi, dan mendaratkan bibirnya pada bibir tebal milik Adi. Lalu ia menyesapinya sebentar, merasakan manisnya rokok dari bibir Adi.
"Ngasih ucapan terima kasih untuk calon suamiku yang mau nyuci kotoran aku." ungkapnya setelah melepaskan penyatuan bibirnya. Adi nampak kaget, dan terdiam tanpa ekspresi. Mungkin yang ada dipikirannya sekarang, kenapa Adinda bisa tau soal itu.
Jefri menjatuhkan rahangnya kaget, karena telah menyaksikan adegan mereka yang dinilainya tidak biasa dari seorang Adinda yang berlaku seperti itu.
"Jangan di luar, banyak orang." ucap Adi saat Adinda menarik satu batang rokok dari bungkusnya.
Namun Jefri salah mengerti ucapan Adi, "Aku balik lah, kalau kalian gila macam itu!" ujar Jefri yang membuat mereka berdua menoleh dengan kompak.
"Gila macam mana?" tanya Adi bingung.
Ia mengeluarkan suaranya lagi, saat tak mendapatkan tanggapan dari Jefri.
"Maksud aku, Dinda ngerokoknya jangan di luar. Bukan aku minta dia lanjutin di dalam." ujar Adi menjelaskan.
__ADS_1
"Kau kenapa sih Dek? Gatal betul gitu. Jangan macam perempuan murahan coba. Demi rokok aja kau c*pokin dia. Jijik kali aku!" ucap Jefri mengungkapkan rasa tak suka akan tindakan di Adinda.
"Bukan karena rokok. Memang aku mau cium Bang Adi, kenapa memang?" sahut Adinda dengan berlalu pergi menuju ruang depan.
"Macam tak punya harga diri. Tak punya adab kau. Cium-cium di depan rumah, mana ada orang lain pula. Ini Indonesia, Dek! Kau pikir ini di luar negeri, yang bebas orang mau ciuman di pinggir jalan juga." maki Jefri yang belum selesai.
Adinda hanya menoleh sesaat pada Jefri dan melanjutkan langkah kakinya.
"Seneng? Semangat lagi sekarang? Ketimbang nyuci baju aja kau dapat sosor darinya!" ungkap Jefri pada Adi.
"Bajunya cuma berapa biji aja, ya sekalian aku giling. Nyuci juga pakai mesin. Jangan lebay kali lah kau Jef!" jawab Adi.
"Patah hati kau marah-marahnya ke aku sama Dinda! Marahin sana betina kau!" ucap Adi berlanjut.
"Betina tak tau diuntung! Malas kali aku ngeldadeninnya. Mana pasti lagi drama dia sekarang. Nangis-nangis maki-maki aku. Jelas dia sendiri yang ingin aku tinggalkan. Sok-sokan nantangin dikira aku tak berani apa mutusin dia!" ungkap Jefri mengeluarkan unek-uneknya.
"Cuma gara-gara Dinda kau mutusin dia?" tanya Adi ingin tau.
"Tak juga. Tapi memang salah satunya itu. Setiap kali aku sakit. Yang nungguin aku, jagain aku siapa lagi kalau bukan Dinda. Meski dia repot sama Givan, dia tetap ngerawat aku di rumah. Ganis mana pernah mau ngerawat aku. Datang ke rumah aja mesti dijemput dulu. Tapi dia tak ada ucapan terimakasih apa bagaimana sama Dinda udah ngerawat laki-lakinya yang sakit. Malah setiap kali ketemu Dinda, dia pasti ngehindar, lepas Dinda pergi dia berani-beraninya maki-maki Dinda di depan aku." ungkap Jefri terlihat kesal.
"Geli aku sama kau. Ada gitu laki-laki curhat sama kawan laki-lakinya. Jangan-jangan kau tak normal lagi." sahut Adi dengan bergidikan.
"Macam kau tak pernah curhat aja!" balas Jefri yang mentertawakan ucapan Adi tadi.
"Memang aku sering curhat, tapi sama Umi. Lebih-lebihnya sama Dinda. Aku tak pernah curhat sampai ngomongin keburukan betina aku bareng laki-laki lagi. Geli kali
"Kalau kau lupa, kau kemarin pernah curhat waktu kau pertama kali nyumbuin Dinda. Yang Zulfa kata itu. Kau curhat sama aku!" tukas Jefri sengit.
"Itu aku cerita, bukan curhat." elak Adi dengan mematikan rokoknya.
"Memang apa bedanya? Curhat dan cerita isinya ya ngomong juga." sahut Jefri dengan jelas.
"Ya memang curhat dan cerita isinya ngomong juga. Tapi……." balas Adi terpangkas seruan dari Adinda.
"Ngapain sih kalian? Berisik betul?" seru Adinda menampakkan dirinya di depan pintu.
"Ini Jefri, Dek!" ucap Adi.
"Ih apaan? Kau tuh yang pengennya ngajak ribut terus!" sahut Jefri.
"Kau yang ngajak ribut! Bukan aku!" balas Adi tak mau kalah.
"Kau….." ujar Jefri terpotong lagi dengan suara Adinda yang geram pada mereka.
"Bisa diem tak? Kepala aku lagi berdenyut-denyut. Kalian ribut aja, macam anak kecil! Ada Givan tak ada Givan! Sama aja?" ungkap Adinda sewot.
__ADS_1
Lalu Adi nyelonong masuk mengikuti Adinda dengan menyampaikan bajunya di bahunya.
"Jangan macem-macem kau, Di! Dinda lagi sakit." ucap Jefri memperingati Adi.
Adi berjalan mencari Adinda, "Dek, Dek. Kau di mana?" seru Adi dengan mengecek satu per satu ruangan rumah Adinda.
"Kamar mandi." teriak Adinda yang bisa didengar oleh Adi.
Adi menghampiri Adinda ke kamar mandi, lalu ia mengetuk pintunya, "Lagi ngapain?" tanya Adi.
"Ganti ini Bang. Aku tak nyaman." jawab Adinda. Adi mengerti maksud ini yang dimaksud Adinda.
"Langsung pakai yang baru aja. Biar itunya Abang yang bersihkan." sahut Adi kemudian.
"Udah aku aja, Bang." balas Adinda.
"Nurut, Dek! Cepet keluar kalau udah selesai ganti. Jangan terlalu lama di kamar mandi. Kau masih klieyengan, nanti jatuh!" ujar Adi kemudian.
"Terus ininya?" ungkap Adinda bertanya.
"Tinggal aja, biar Abang yang bersihkan." jawab Adi mengulanginya lagi.
Adi masih menunggu adinda di depan pintu kamar mandi. Lalu dengan tak sabar ia mengetuk kembali pintu kamar mandi.
Tok, tok, tok.
"Cepet, Dek." seru Adi tidak sabaran. Yang sebenarnya ia hanya tak ingin Adinda kenapa-kenapa di dalam kamar mandi.
"Iya Bang." sahut Adinda yang membuka pintu kamar mandi.
"Ngapain sih lama kali? Bikin khawatir aja." ucap Adi begitu melihat wajah Adinda.
"Dibilang lagi ganti." jawab Adinda.
"Lap dulu kakinya. Licin tuh." sahut Adi memperhatikan kaki Adinda.
"Sini pegang tangan Abang. Tiduran aja di kamar. Abang mau bereskan dulu kasur yang di ruang tengahnya." lanjut Adi kemudian.
Adinda menoleh pada Adi dan mengembangkan senyumnya.
"Kenapa kau senyum-senyum begitu?" tanya Adi heran.
TBC.
BAGI LIKE, VOTENYA.. TOLONGLAH HIBUR AKU SEDIKIT AJA 😩
__ADS_1
TERIMAKASIH