
AUTHOR POV
Beberapa hari berlalu dengan aktivitas masing-masing yang sangat sibuk. Tapi tidak dengan Adi. Dia hanya pergi ke kedai saja lalu kembali ke rumah. Tapi sore ini dia ada janji temu dengan seorang wanita. Dia telah bersiap dengan menaiki motor hijaunya untuk menuju tempat yang telah di janjikan.
Akhirnya mereka bertemu, dan terjalin keakraban yang lebih hangat di antara mereka. Setelah mereka selesai makan. Adi mengajak teman wanitanya, tidak lain adalah Devi untuk menonton bioskop. Devi sendiri tidak menolak ajakan Adi.
Sepertinya Adi tertarik dengan Devi. Begitu pula sebaliknya. Saat mereka keluar dari bioskop, mereka bertemu dengan Haris dan dua pengasuhnya. Haris terlihat sangat lelah menggendong anak perempuannya. Tapi apa daya, dua pengasuhnya tengah kesulitan membujuk dua anak laki-laki tersebut.
Adi dan Devi menghampiri mereka.
"Carilah mamah barunya cepat, kasian sekali kau ini" ejek Adi menyapa Haris. Lalu mengambil alih menggendong Kinasyah.
"Baru bawa betina satu aja udah sok kali kau!" jawab Haris dengan kesal.
"Kenalin nih namanya Devi. Jangan betina-betina aja kau cakap" ujar Adi dengan tersenyum.
Devi dan Haris saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.
Lalu Haris berujar kepada pengasuh anaknya, "Kalian disini dulu ya!"
"Di, jagain dulu ya sebentar!" lanjut Haris berbicara kepada Adi.
Adi merasakan aura tidak enak, setelah mengetahui ada Givan juga di antara mereka.
ADI POV
Jangan-jangan ada Adinda juga. Dari jauh ku lihat Haris repot dengan belanjaan yang cukup banyak dan di gandeng wanita yang terlihat bahagia dengan caranya dia tertawa. Oh sudah ku duga, betul kan tebakan ku.
__ADS_1
"Hai kak." suara dari wanita yang berada di samping ku. Devi Latvia.
Dinda menoleh ke arah Devi dengan mengangkat satu alisnya seolah bertanya siapa itu. Menurut ku Dinda tidak sopan dan terlihat sombong.
"Aku Devi Latvia kak, yang minggu lalu kirim bingkisan buat kakak" ucap Devi, "Nih aku tunjukin foto bareng waktu di acara kakak, sepertinya kakak lupa." lanjut Devi. Ya ampun Devi, aku ingin mengatakan lebih baik kau tak perlu sok akrab begitu dengan betina yang satu ini.
Setelah terdiam cukup lama Dinda berucap, "Oh ya, hai juga." sahut Dinda kemudian dia dan Devi bercipika cipiki khas perempuan lainnya. Dan lihat, dia mengerlingkan matanya kepada ku setelah dia selesai dengan Devi. Aku berdoa dalam hati, semoga Devi tak melihatnya tadi. Susah payah aku deketi Devi, ngechat tiap hari biar dapat perhatian nya.
"Naik apa Dev, ikut aku yuk ke rumah abang aku dulu", ucap dinda yang lanjut menggandeng Haris. Haris menghembuskan nafas panjangnya.
"Abang bawa motor dek, udah malam juga abang mau antar Devi balik. Nih ambil anak perempuan kau. Mepedin pejantan terus kau!" cetusku sebelum Devi mengiyakan. Devi menyenggol lenganku memperingati.
Lihat dia hanya cekikikan, "Gendonglah Kin sebentar sampai mobil bang Haris. Aku lelah sekali loh bang." ujar Dinda sambil berlalu. Aku hanya menurut saja. "Lagian kau pantas bawa anak begitu bang!" lanjutnya.
Apa dia kata, aku bahkan belum pernah menikah. "Abang belum punya anak dek, pantas dari mana coba kau ini." sahutku mulai kesal.
"Banyak juga anak abang kalau jadi!" tutur Dinda tanpa beban. Terdengar Haris dan pengasuhnya sedang tertawa geli mendengar ucapan Dinda barusan. Devi melihat ke arahku ku seolah meminta penjelasan.
~
Sekarang aku sudah kembali ke rumah ku. Ya benar, aku sudah menempati rumah yang dulunya milik Maya. Terdengar suara ponsel ku berbunyi, ternyata Jefri menghubungi ku. Aku sekarang lebih memilih teman, aku takut kejadian yang mengecewakan orang tua ku terulang kembali. Di kota C aku hanya berteman dengan Haris dan Jefri, aku tidak pernah menghubungi kawan ku yang pernah aku kenal dulu di kota ini.
"Malam weekend nih, yakin mau di rumah aja?" suara Jefri langsung terdengar saat aku menggeser ikon hijau.
"Memang mau kemana?" tanya ku datar.
"Share lokasi tempat kau sekarang!" pinta Jefri yang langsung mematikan sambungan teleponnya. Aku melakukan hal yang Jefri minta.
__ADS_1
~
Jefri datang dan memarkirkan mobilnya di sebrang jalan. Aku membukakan pintu rumah untuknya, "Jadi kau sibuk meratapi nasib kau Di?" Jefri bertanya sesaat setelah ku persilahkan masuk. Aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Terus kalau kau mantan napi kenapa? Kau ini makhluk sosial, mau sampai kapan nutup diri terus?" sambungnya lagi.
"Aku gak nutup diri, cuma sedikit berhati-hati aja dalam bergaul. Takut bikin Umi Ayah kecewa lagi." sahutku seperlunya.
"Yuk keluar, biar tau hidup ini bukan tentang benar dan salah aja!" ajak Jefri. Aku mengikutinya. Dan masuk ke dalam mobilnya.
"Kau tau, aku ini masih support orang tua." Jefri bersuara setelah beberapa saat kami terdiam di dalam mobil.
"Maksudnya?" tanyaku yang tidak mengerti arah pembicaraan kami.
"Biaya hidup ku disini masih di bantu orang tua dari kampung, masih di fasilitasi dari orang tua juga!" Jefri bermonolog sendiri, "Belum bisa balas jasa orang tua, tapi wanita ku sudah minta di halalkan!" lanjutnya kembali.
"Bukannya kau ini dokter! Memang tak di gaji kah kau dari rumah sakit" balasku menanggapinya.
"Masih meniti karir, Aku ini masih baru. Gaji juga belum seberapa!" jawabnya. Entahlah aku tidak mengerti. Aku juga tak tertarik membahasnya. Malah yang aku pahami disini , ternyata Jefri belum siap menikah.
Ternyata tujuan kami ke tempat hiburan malam. Dokter butuh hiburan juga rupanya. Kami menuju pintu masuk. Terdapat penjaga disana. Jefri tersenyum ringan dan berjabat tangan dengan mereka. Sepertinya dokter yang satu ini sering main ke tempat ini. Lalu kami masuk begitu saja. Terdengar musik yang cukup memekakkan telinga, dan lampu yang tidak baik untuk mata. Ini bukan tempat ku, aku jadi khawatir dengan diriku sendiri. Meskipun aku dulu pecandu, tapi tempat ku di arena balap liar. Tidak ada tempat hiburan malam di daerah ku, jangankan hiburan malam. Bioskop pun tak ada di sana.
Jefri berjalan terus, membuka dan menutup pintu beberapa kali. Aku hanya mengikutinya saja. Kami sampai di ruangan khusus. Ternyata di sini sudah ada beberapa orang. Ada Haris yang sedang asik mengobrol dengan seorang wanita bertubuh tinggi memakai celana jeans panjang dan hanya menggunakan tanktop putih. Sepertinya tidak mungkin ada Dinda juga disini kan. Dengan dia merokok bukan berarti dia nakal juga. Apalagi jelas di sini bukan tempat wanita berhijab. Pasti sekarang dia sedang asik dengan laptopnya, atau dengan tempat tidurnya.
Haris melihat ku sekilas dan mengatakan sesuatu dengan lawan bicaranya. Dia lalu menghampiriku, "Sini Di." ucapnya. Aku di ajak berkenalan dengan beberapa kawannya. Dan wanita tadi adalah wanitanya Haris. Aku kira dia pekerja di sini. Tak ku sangka duda panas yang satu ini punya selera yang bagus juga. Jefri berbisik mengatakan bahwa wanita Haris adalah owner resto sebrang jalan kedai kopi ayah ku. Hm, wanita modern yang mandiri. Jadi Dinda ini siapanya, jangan-jangan Haris tidak cukup dengan satu wanita saja.
Kami larut bermain kartu sambil sesekali meminum entah apa namanya, yang memiliki sensasi rasa terbakar di tenggorokan. Sampai datang seorang wanita memakai terusan rajut panjang berwarna hijau tua di padukan dengan jaket armi, dan hijab berwarna hitam. Jangan lupa dengan kacamata di atas kepalanya, tapi tidak berwarna gelap yang dia pakai sekarang. Baru juga tadi aku berpikiran baik tentangnya. Malah muncul disini orangnya.
__ADS_1
"Eh udah selesai kau dek?" tegur Haris.
TBC.