Sang Pemuda

Sang Pemuda
8


__ADS_3

AUTHOR POV


Setelah Adi mengantar Devi pulang ke rumah. Lalu Adi kembali ke kedai kopi ayahnya. Dia terdiam di ruangan nya sembari menghitung berapa jumlah rupiah yang dia keluarkan hari ini. Setelah selesai dengan pikirannya, dia merogoh ponselnya yang berada di kantong celananya. Dia melihat sekilas nomor handphone Devi yang di dapatnya saat mengantar Devi pulang dan tersenyum sesaat, lalu mengirimkan pesan aplikasi untuk Devi.


"Dev, aku baru sampai kedai. Lagi sibuk apa sekarang?" isi pesan chat dari Adi.


Tak lama Devi pun membalas, "Lagi baca buku aja mas, mas sendiri sibuk apa? Sebentar lagi kedai tutup kan ko malah balik ke kedai? Apa tadi pas mas nemenin aku jadi kerjaan mas belum selesai?"


"Gak juga dek, masih ada keperluan sedikit" balas Adi.


"Oh kirain kerjaan belum selesai gara-gara aku. Mas tau gak penulis yang aku ceritain, kalau gak salah dia sering nongkrong di kedai itu." tanya Devi dalam pesannya.


Adi malah bingung, banyak pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya tentang Adinda. Dan Adi memutuskan untuk menjawab tidak tahu saja lalu menyimpan kembali ponselnya. Adi terdiam dengan pandangan kosong, ini adalah hobbynya sampai sekarang sejak menyesali kebodohannya sendiri di dalam tahanan dulu.


ADI POV


Banyak kejadian hari ini, aku merasa sangat lelah dan malas untuk pulang ke rumah ibu Rokhayah. Apa aku tidur di kedai saja? menurut ku itu bukan ide yang buruk.


Aku merebahkan tubuh ku di sofa panjang yang terdapat di dalam ruangan ku. Dan perlahan akupun terlelap tidur.


AUTHOR POV


Adinda dan givan berada di dalam kamar di rumahnya sekarang.


"Mah, tadi siang aku kenalan sama om yang nabrak aku itu. Dia namanya bang Adi Riyana" ucap Givan dengan memperhatikan wajah ibunya.


"Oh ya, terus apalagi bang?" sahut Adinda antusias.

__ADS_1


"Hidungnya macam terong ya mah?" ungkap Givan tanpa ekspresi. Adinda tertawa geli mendengar ucapan anaknya tersebut.


"Itu hidung kan memang mancung sekali bang! Macam artis india." sahut Adinda memberitahu anaknya.


"Di belain terus! Kemarin pas aku ngobrol sama mamah yang bahas sepatu itu aku bilang omnya linglung. Mamah malah jawab omnya mungkin lagi banyak pikiran, malahan mamah tambah-tambah jawab om itu manis!" ucap Givan dengan nada yang terdengar kesal.


Adinda hanya tertawa renyah dan mengatakan, "Udah cepet tidur udah malam nih!"


"Mamah, jadi kapan papah aku balik? Aku kangen bobo di usap-usap punggungnya sama papah." tanya Givan mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya ini bukan pertanyaan yang pertama. Entah kenapa, Adinda selalu kesulitan dalam mencari jawaban atas pertanyaan anaknya tersebut.


"Hmm, gimana kalau mamah cari papah baru aja buat abang?" sesaat dirinya berpikir.


"Memang boleh begitu? Nanti papah Hendra aku di kemanakan kalau pulang?" suara givan polos.


"Boleh, tapi tetep papah kandung Abang ya papah Hendra, nanti papah yang barunya di sebutnya papah sambung." jelas Adinda dengan menatap mata anaknya.


Adinda kebingungan untuk menjelaskannya kembali. Adinda hanya mengangguk, lalu Givan melanjutkan kalimatnya, "Uang jajannya juga nanti dapat dua ya mah? Dari papah Hendra dari papah sambung juga."


Adinda menoleh cepat, "Udah yuk bobo, baca doa dulu ya." lanjut Adinda. Kemudian mereka berdoa dan tak lama pun terlelap dalam mimpi.


ADI POV


Aku terbangun saat terdengar ramainya aktivitas di kedai. Sudah jam kerja rupanya. Aku meregangkan otot ku dan keluar dari ruangan ku untuk membasuh wajah ku. Ruangan ku hanya berukuran 3×3 dan tak ada toilet juga di dalamnya. Selepas aku mencuci muka aku berencana pulang ke rumah Bu Rokhayah untuk mengganti pakaian ku.


Saat aku berjalan keluar dari kedai, aku berpapasan dengan Adinda. Dia memakai sneakers putihnya yang pernah ku cicipi sebelah kanannya, gamis polos berwarna cream yang sedikit longgar di badannya, hijab yang senada, dengan tote bag bergambar kamera dan jangan lupakan kacamata gelap yang selalu ada di kepalanya. Saat dia melihatku dia langsung memamerkan gigi putihnya, dan saat mulai mendekat dia hanya mengerlingkan mata sipitnya saja. Dan diapun langsung berlalu.


Sungguh aku tak mengerti apa maksud mata genitnya itu. Seumur-umur aku baru pertama kali menemukan wanita seperti adinda. Kalau saja waktu kejadian tertukar sepatu dia tidak mentertawakan ku dengan ekspresi wajah yang menyebalkan itu, mungkin saja akan memberi kesan romantis dengan nuansa islami. Kalau saja saat aku meminta maaf dan dia coba memaklumi ku, sudah pasti dia ku ajak jalan seperti Devi kemarin. Tapi kenyataannya tidak demikian. Aku malah tau sisi jeleknya.

__ADS_1


Sesampainya aku di rumah Bu Rokhayah, aku di berikan rentetan pertanyaan dari Bu Rokhayah dan juga ayah yang tersambung melalui panggilan telepon. Akhirnya kami menemukan jalan keluarnya. Aku akan menempati rumah Maya yang berjarak 2 rumah dari rumah ibu Rokhayah. Tentu saja akan melewati proses jual beli, karena aku tidak ingin merepotkan orang lain meskipun kerabat ayahku hanya untuk tempat tinggal saja. Dan aku meminta orang kepercayaan ayah untuk mencarikan aku motor second untuk kendaraan ku disini.


Sekarang aku sudah kembali lagi ke kedai, dengan membawa beberapa pasang pakaianku untuk persediaan saja. Aku melihat adinda baru keluar dari mushola kecil yang ada di dalam kedai, "Dek, tolong buatkan Abang kupi khop satu ya" perintah ku padanya. Adinda hanya mengangguk mengerti. Kupi khop adalah salah satu minuman yang banyak di pesan di kedai ayah, juga merupakan minuman favorit ku. Seduhan kopi ini memang terbilang sangat unik. Bagaimana tidak, seduhan kopi di sajikan dengan gelas terbalik beralaskan piring kecil.


Aku duduk di salah satu kursi kedai. Kopi ku datang dengan di antar karyawan yang lain. Aku perhatikan aktivitas karyawan di kedai, sepertinya adinda tidak pernah keluar dari area dapur, terlihat dari karyawan yang mengantar pesanan hanya itu-itu saja. Pantas lah Devi mengatakan Adinda sering nongkrong di sini, bukan bekerja di kedai ini. Karena mungkin memang tak banyak yang tau kecuali karyawan di sini. Terlebih lagi pakaian adinda seperti orang yang akan mejeng, bukan seperti karyawan pada umumnya. Saat bekerja pun dia tidak mengganti pakaiannya, hanya mengenakan celemek dan alat pelindung untuk memasak saja. Tapi tak ada karyawan ayah yang menegurnya. Akan ku tanyakan langsung nanti lepas dia selesai kerja, aku penasaran sekali.


Setelah ku habiskan kupi khop ku, aku menghampiri Adinda di dapur, "Dek, buatkan Abang makan siang nanti antar ke ruangan Abang!" perintah ku dengan mengetuk meja yang ada di situ.


"Mau makan apa bang?" tanyanya tanpa meninggalkan aktivitas nya.


"Apa aja, sedikit pedas ya dek?" ucapku kemudian. Adinda hanya mengangguk.


Aku heran dengan sikapnya, kadang cerewet sekali, tapi sekarang dia hanya berbicara seperlunya.


Tak lama seseorang mengetuk pintu, aku berseru masuk. Ternyata Adinda, dia datang ke ruangan ku membawa makanan dan air mineral, "Makasih dek, pulang nanti ke ruangan abang dulu ya!" ungkapku menerima nampan yang berisi makanan tersebut. Dan kali ini dia hanya mengangguk lagi.


Ku lewati waktu dengan mengobrol tentang kedai ini dengan abang Mun dan sesekali membantu karyawan di sini. Saat aku masuk ke ruangan ku. Aku di kagetkan dengan wanita yang bersantai di sofa panjang sambil merokok dan memainkan game di ponselnya.


"Kalau mau masuk ketuk pintu dulu dong!" ucapnya dengan tidak meninggalkan aktivitasnya. Siapa lagi kalau bukan Adinda.


"Kan abang yang punya ruangan, ada-ada saja kau ini!" sahutku dan duduk di kursi ku.


"Ada apa sih bang? Penting-penting sekali sih datang aja ke rumah, jangan lupa ajak orangtua abang!" ungkap Adinda dan mengerlingkan mata sipitnya.


Entah kenapa aku malah tertawa mendengarnya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2