
Adi lebih gencar dalam beribadah dan berdoa. Ia sekarang merasa tenang dan bisa tertidur lelap.
~
Pagi harinya, mereka beraktifitas seperti biasa. Edi akan kembali ke ibu kota J. Zulfa akan menggantikan posisi abangnya di kedai untuk sementara waktu.
Dan ibu Meutia dengan Adi sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tua Adinda. Alamatnya Adi dapatkan dari Jefri.
"Nomor Adinda masih belum aktif kah Bang?" tanya ibu Meutia yang berada di samping Adi yang tengah mengendarai mobil.
"Ya Umi, masih belum aktif." jawab Adi yang fokus pada jalanan.
"Mau apa sih Umi ngajakin Abang ke rumah orang tuanya Dinda." tanya Adi kemudian.
"Ya silaturahmi aja." ucap ibu Meutia ringan.
"Jangan aneh-aneh ya Umi nantinya. Aku tak mau orang tua Dinda nanti salah paham." sahut Adi menoleh sesaat pada ibu Meutia.
"Ya Abangnya aja bagaimana." balas ibu Meutia dengan terkekeh pelan.
"Ya tak gimana-gimana." ujar Adi cepat.
Lalu tak ada percakapan lagi diantara mereka. Tak lama ia pun sampai di depan gang C***** 06. Ia kembali mengecek alamatnya. Benar ini adalah nama gang di alamat tersebut.
Di parkiran sekolah dasar, depan gang rumah orang tua Adinda terdapat mobil Adinda terparkir. Terlihat juga beberapa mobil lain terpakir di sini.
Adi keluar dari mobil, "Dinda mantap kali, Umi. Macam kepala sekolah aja. Parkir mobilnya di parkiran sekolah." ucap Adi dengan memperhatikan mobil Adinda.
"Mungkin mobilnya tak bisa masuk gang." sahut ibu Meutia setelah keluar dari mobil dan yang berjalan menghampiri Adi.
"Masa sih, Umi? Kan gangnya cukup besar." balas Adi beralih menatap gang tersebut.
"Coba tanya sana." pinta ibu Meutia pada Adi. Lalu Adi mengangguk dan menghampiri orang yang sedang beraktifitas.
"Permisi Bu, numpang nanya. Di mana ya rumahnya Adinda yang punya mobil itu?" tanya Adi pada ibu-ibu yang sedang menyapu teras rumahnya, Adi bertanya dengan menunjuk mobil Adinda.
"Oh Dinda. Mamahnya Givan kan?" tanyanya.
"Oh iya betul. Di mana ya, Bu?" tanya Adi berulang.
"Ayo mari saya antarkan aja." ucap ibu itu mengajak Adi.
Adi melambaikan tangan pada ibu Meutia. Mengajak ibunya untuk mengikuti langkah dari ibu-ibu itu.
Ibu Meutia memberikan senyum ramah pada ibu-ibu tersebut.
"Rumahnya masuk gang kecil soalnya. Takut nanti Ibu sama Aanya nyasar nanti." ujar ibu-ibu tersebut membuka suara.
"Oh iya Bu. Terimakasih." ucap ibu Meutia.
__ADS_1
"Dari B*********n ya Bu?" tanya ibu-ibu tersebut pada ibu Meutia.
"Bukan. Dari A***, Bu." sahut ibu Meutia.
"Calonnya yang baru ya?" balas ibu-ibu itu yang sepertinya ingin tahu sekali.
"Memang yang lama siapa?" ungkap Adi yang langsung mendapat cubitan dari ibunya.
"Katanya sih yang orang B*******n itu, duda anak dua. Memang dia sih suka ganti-ganti. Pasti ada aja yang nyariin." jawab ibu-ibu tersebut.
"Nah itu rumahnya yang cat hijau. Tuh ada Givannya juga lagi main sepeda." tunjuk ibu-ibu tersebut saat berbelok di gang yang lebih sempit.
Adi setengah berlari menghampiri Givan yang tengah bermain sepeda seorang diri, Adi meninggalkan ibunya dengan ibu-ibu tersebut tanpa mengucap satu kata pun.
"Eh, makasih ya Bu. Sampai repot-repot nganterin segala." ucap ibu Meutia kaget dengan sikap Adi yang tak sopan pada ibu-ibu itu. Lalu ibu Meutia mengucapkan terima kasih pada ibu-ibu tersebut.
"Iya Bu, mari." sahut ibu-ibu tersebut yang pamit pergi dari situ.
"Tak sopan kali Adi ini!" gerutu ibu Meutia berjalan menghampiri Adi dan Givan yang tengah tertawa senang itu.
"Mana Mamahnya, Nak?" tanya ibu Meutia pada Givan.
"MAMAH, ADA UMI SAMA PAPAH ADI." teriak Givan yang berlari masuk ke dalam rumah.
"Kau tak sopan betul, langsung kabur aja." ucap ibu Meutia pada Adi.
"Hehe, lupa. Maaf Mi, aku lupa daratan." jawab Adi cengengesan.
Kemudian Adinda keluar dari rumah dengan ditarik oleh Givan.
Terlihat ekpresi wajahnya begitu kaget, namun ia langsung tersenyum ramah pada ibu Meutia dan menghampirinya.
"Kok tak kasih kabar dulu." ujar Adinda kemudian mencium tangan ibu Meutia dan bercipika-cipiki.
"Kenapa memang? Takut ketahuan lagi pakai daster begitu." sahut Adi dengan memperhatikan penampilan Adinda yang memakai daster berlengan panjang, dengan motif bunga-bunga bermekaran berwarna ungu itu.
Adinda menghampiri Adi dan menggapai tangan Adi lalu menciumnya. Ini kali keduanya Adinda bersikap demikian pada Adi.
"Dasteran juga aku tetap modis yee…. Dan tengok, aku tetap terlihat seksi meski pakai seragam emak-emak begini." balas Adinda dengan memasang wajah menantang pada Adi.
Ibu Meutia memijat pelipisnya melihat tingkah mereka berdua.
"Eh ada tamu. Mari masuk." ucap ibu dari Adinda.
Ibu Meutia tersenyum ramah lalu mengulurkan tangannya menyalami ibundanya Adinda. Lalu ia masuk, menjejakkan kakinya dalam rumah orang tua Adinda.
"Kok gak bilang dulu mau ada tamu?" tanya ibundanya Adinda yang diketahui bernama ibu Risa Yoshika.
"Aku pun tak tau, Bu." sahut Adinda pelan.
__ADS_1
"Mari silahkan duduk." ungkap ibu Risa pada ibu Meutia.
"Papah ayo masuk." seru Givan menarik Adi yang berdiri di ambang pintu.
Ibu Risa melihat Adinda dengan tatapan aneh. Lalu ia kembali melihat Adi.
Lalu Adi menyalami ibu Risa, dan duduk di sebelah ibu Meutia.
"Dengan siapa ini?" tanya ibu Risa bingung dengan tamu yang berkunjung tersebut.
"Saya Adi, Bu. Ini Ibu saya, Ibu Meutia namanya." jawab Adi dengan tersenyum ramah.
Adinda permisi ke belakang untuk menyiapkan minuman dan cemilan.
"Maaf, ada perlu apa ya? Baru kali ini ada laki-laki datang ke sini dengan orang tuanya." ujar ibu Risa terlihat begitu bingung dengan kedatangan mereka.
"Kami hanya ingin bersilaturahmi, Bu. Dan lagi ada Papah yang kangen sama anaknya juga." jawab ibu Meutia, Adi langsung menoleh dan membulatkan matanya.
"Givan maksudnya?" sahut ibu Risa.
"Iya betul, Bu." balas ibu Meutia menampilkan giginya yang masih lengkap itu.
"Bukanya ini anak Mahendra?" gumam ibu Risa yang di dengar oleh Adi.
"Memang, Bu. Umi saya saja yang memang suka bercanda." ungkap Adi cepat, sebelum didahului oleh ibunya lagi.
"Ohh…" sahut ibu Risa dengan terkekeh pelan.
Adinda datang menghidangkan minuman sirup berwarna merah, dan beberapa kue kering lainnya.
"Tak perlu repot-repot, Dinda." ucap ibu Meutia kemudian.
"Tak merasa direpotkan kok, Umi." balas Adinda kemudian ia keluar dari rumah untuk mencari Givan.
"Anak itu memang suka kabur kalau pintunya gak dikunci. Bilangnya iya cuma di depan rumah. Eh gak taunya sampai ke depan gang sana." tutur ibu Risa melihat Adinda pergi dengan memanggil-manggil nama anaknya.
"Iya Givan aktif kali, Bu." ucap Adi menimpali.
"Kemana ayahnya Adindanya, Bu? Kemarin denger katanya masuk ke rumah sakit." tanya ibu Meutia pada ibu Risa.
"Ohh, lagi keluar sama Aanya Adinda." ibu Risa menjeda ucapannya, "Iya, kepeleset pas wudhu di mushola. Sempet masuk rumah sakit kurang lebih seminggu." lanjut ibu Risa yang mulai akrab.
"Bapak sama Aanya keluar kemana, Bu?" tanya Adi ingin tahu.
"Di suruh Dinda buat ngecek lahan yang mau dibelinya." jawab ibu Risa tak bermaksud menyombongkan Adinda. Karena memang betul adanya seperti itu.
Lalu Adinda kembali dengan menggendong Givan. Ia menaruh Givan pada pangkuan Adi. Lalu ia berjalan ke arah pintu, untuk mengunci pintu besi yang terdapat di bagian luar pintu inti.
"Kau secepat itu mau bikin peternakan puyuh? Gimana dengan Abang, Dek?" tanya Adi saat Adinda hendak duduk di kursinya.
__ADS_1
Adi teringat cerita Adinda yang hendak membuka usaha sendiri. Untuk apa Adinda membeli tanah, jika tidak untuk usahanya. Tidak mungkin ia ingin membuat rumah lagi. Karena Adi tau Adinda sudah memiliki rumah sendiri.
TBC.