Sang Pemuda

Sang Pemuda
62


__ADS_3

"Heh, mau kemana lagi kau?" tanyaku yang melihatnya keluar dari kamar mandi, dengan air yang masih menetes dari wajahnya.


"Kau belum mandi, Dek?" tanyaku lagi.


"Belum!" ucapnya dengan mendelik padaku. Oh tengah marah rupanya.


"Ya mandi sana, Dek! Ya ampun! Kau buat Abang sesak aja. Cepat mandi! Mau kemana lagi tuh?" sahutku dengan suara yang sedikit meninggi. Untung di sini cuma ada umi dan Givan saja, jadi tak mungkin aku mempermalukannya.


Ayah dan Edi baru keluar dari ruanganku untuk pulang ke rumahku saat Dinda masuk ke kamar mandi tadi.


Dinda mengambil ponsel dan tote bagnya, "Aku balik dulu ya. Mau mandi, dan ambil pakaian ganti Givan." ucapnya dengan berjalan ke arah pintu keluar.


Langkanya terhenti, lalu ia menoleh pada umi, "Oh iya, nitip Givan sebentar ya umi." ucapnya dan melanjutkan langkahnya pergi dari ruanganku.


"Mau aja dititipin anak!" seruku pada umi.


"Umi suka Givan. Pandai anaknya, mana nyambung lagi kalau diajak ngobrol." jawab umiku dengan senyum.


"Makanya cepet kau kasih umi cucu. Sama Dinda juga tak apa. Umi dengar dari Zulfa, katanya Dinda seorang penulis novel ya?" lanjut umi mengajakku bermonolog.


"Iya. Tapi tak mencerminkan profesinya. Aku kira kan penulis gitu sopan kalau bicara, pandai bertutur kata, anggun dan elegan. Eh, tak taunya. Urakan, agresif, mana mesum lagi." jawabku santai sambil bermain ponsel.


"Hah? Kok Abang tau Dinda agresif dan mesum. Pernah ngerasain sendiri dimesumin Dinda?" tanya umiku menoleh padaku. Apa aku salah bicara ya tadi? Aku merasakan atmosfer seperti sedang diinterogasi sekarang.


"Bercandanya mesum. Macam tadi aja, ladang timun gitu. Bikin Abang malu aja." sahutku mencoba santai.


"Ohh. Hahahah." umi tertawa lepas, "Tapi Abang langsung bugar sejak ada Dinda. Tak nampak macam orang sakit lagi." lanjut umiku berbicara.


"Memang tak sakit pun." ucapku dengan menghadap umi, lalu aku menceritakan secara singkat tentang diriku yang mendapat kiriman penyakit itu.


Umi amat terkejut mendengarnya, dan lagi ia seperti tak percaya dengan Givan yang memiliki kemampuan istimewa.


"Abang bisa lihat makhluk halus?" tanya umiku pada Givan.

__ADS_1


"Tak juga." jawab anak ini yang aku rasa sudah diajarkan ibunya untuk menutup-nutupi kebenarannya.


"Kata Papah Adi, Abang bisa liat mereka yang tak nampak macam kita." sahut umi memperhatikan wajah Givan.


"Memang. Tapi aku tak mau pamer." balas Givan.


"Tak pamer, kan tadi umi nanya." ujar umi. Givan begitu mirip dengan Dinda. Bukan hanya wajahnya, tapi caranya menanggapi pertanyaan juga.


"Nanti kalau Umi tau, malah Umi ngerepotin aku lagi. Belum lagi kalau Umi kepo tentang mereka. Pasti bikin risih aku." ucap anak itu. Aku ingin memarahinya, karena ia tak sopan berbicara dengan orang tua seperti itu. Tapi malah umi tertawa menanggapi ucapan Givan barusan.


"Abang pandai kali sih, hm. Gemes Umi sama Abang." ungkap umi dengan menciumi pipi Givan. Kenapa lagi dengan umi? Anak tak sopan dibilangnya pandai. Tepuk jidat aku melihat mereka berinteraksi.


"Minta Mamah nikah sama Papah Adi ya Bang? Dibujuk Mamahnya. Nanti Abang, Umi kasih hadiah kalau berhasil." ujar umiku yang membuat rahangku jatuh ke bawah. Sungguh aku tak habis pikir dengan umi. Sampai hati ia merelakan anak bujangnya menikah dengan janda anak satu.


"Jangan gila dong Umi! Yang benar aja aku disuruh nikah sama Dinda. Macam sudah tak ada gadis perawan aja." aku menyahuti ucapan umiku yang seenaknya sendiri itu.


"Umi dapat cucu yang pandai, lebih lagi dia istimewa. Terus dapat mantu yang udah punya karya juga, belum lagi Dinda pasti bisa bikin kau bugar terus. Hmm, nikmat mana yang kau dustakan? Jangan menyia-nyiakan yang udah ada di depan mata." ungkap umi dengan mata yang berbinar senang, "Kalau kau tak mau anggap Givan anak, tak masalah! Biar Umi yang besarkan dia. Kau tinggal hiduplah bahagia dengan Dinda dan anak-anak kau." lanjut umi kemudian.


Aku tak mungkin sejahat itu, membuang Givan untuk mendapatkan ibunya seutuhnya.


"Nah baguslah kalau begitu. Jadi kapan nikahnya?" sahut umi tersenyum penuh harap.


"Jangan aneh-aneh coba Umi. Aduh, pening kali aku." balasku frustasi, dan membawa tiang infusku. Aku berjalan menuju ranjangku kembali. Aku ingin tidur sejenak, karena pasti jika Dinda sudah kembali pasti sangat berisik sekali.


~


"ABANG……" teriak Dinda yang bisa kudengar, sesaat aku bisa meloloskan diri dari mimpi burukku. Namun detik itu pula aku kehilangan kesadaran.


AUTHOR POV


Adinda telah kembali ke ruang inap Adi. Ia berbincang hangat diselingi canda tawa darinya dan ibu Meutia.


Tiba-tiba terdengar suara Adi yang tercekat. Mereka semua bangkit dan menghampiri Adi yang tengah tertidur itu. Terlihat Adi begitu gelisah dalam tidurnya, nafasnya terdengar lelah dan dadanya terlihat kembang kempis.

__ADS_1


Semua orang yang ada di situ panik melihat kondisi Adi yang terlihat memburuk.


Adinda segera memencet bel yang berguna untuk memanggil dokter. Dan ia berusaha menggoyang-goyangkan tubuh Adi, berharap Adi lekas membuka matanya.


"Abang"


"Bang Adi"


"Abang" suara Adinda yang memanggil Adi berkali-kali, "ABANG…." teriaknya lebih keras saat Adi terlihat kesulitan bernafas.


Adinda tersenyum senang saat Adi membuka matanya. Namun sedetik kemudian, Adi memejamkan matanya perlahan dengan nafas yang sulit ia tarik. Adinda panik melihat kondisi Adi demikian. Ia berusaha memanggil Adi berkali-kali, berharap Adi dapat mendengarnya.


Tak lama dokter pun datang. Adinda, ibu Meutia dan Givan dipersilahkan keluar dari ruangan Adi.


"Mah, padahal tadi aku tak nampak ada ubur-ubur api datang lagi." ucap Givan setelah duduk di samping ibunya. Mereka semua duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan Adi.


"Terus Papah Adi kenapa ya Bang? Mamah takut Papah Adi kenapa-kenapa." sahut Adinda dengan menatap kosong lantai rumah sakit.


"Tenang aja, Papah Adi pasti tak akan kenapa-napa." balas Givan terlihat percaya.


Lalu Adinda menoleh pada Givan, "Abang benar juga. Kalau orang disantet itu, biasanya tak langsung mati. Dia sengaja disiksa perlahan. Terus ia merasa putus asa, dan berakhir tragis dengan membunuh dirinya sendiri. Mamah pernah dengar cerita macam itu." ucap Adinda yang langsung mendapat cubitan dari ibu Meutia.


"Jangan bikin Umi tambah takut. Telpon orang yang dirumah gih. Ponsel Umi ada di dalam." ujar ibu Meutia. Lalu Adinda memainkan ponselnya untuk menelpon keluarga Adi yang sedang berada di rumah.


Tak lupa ia pun mengabari Haris dan juga Jefri. Adinda mencoba biasa saja pada Haris. Karena sebenarnya ia pun tak paham kenapa Haris bisa semarah ini. Ia menyadari kelakuannya dengan Adi kemarin, harusnya tak dilakukan ketika ia sedang bersama Givan. Namun ia yakin saat itu Givan tak mengetahui tindakan Adi padanya.


TBC.


Semangatin aku dong 😅


Bagi aku LIKE, VOTEnya dong 😅


Dan terimakasih kepada kalian yang sudi mengapresiasikan karya aku 😘

__ADS_1


Terimong Geunaseh 🙏


__ADS_2