
"Tak Bang, tenang. Aku perawatan aja. Cuma…" Adinda enggan melanjutkan kalimatnya.
"Cuma apa?" tukas Adi menaikan satu alisnya.
"Aku habisin uang hampir seratus juta." jawab Adinda begitu lirih.
"Ohh, kirain apa." sahut Adi tak begitu terusik. Dan langsung melepaskan kaosnya. Menampakkan tubuh yang mulai terbentuk kembali.
"Abang tak marah? Aku kayaknya udah keterlaluan habisin uang Abang." balas Adinda yang tengah memikirkan sesuatu yang sepertinya akan membuatnya meraung-raung setelah ini.
"Tak juga. Abang paham, mungkin Adek butuh itu semua. Buat nyenengin Abang, dan buat Adek selalu percaya diri dengan penampilannya." tutur Adi yang mengeluarkan Adi's bird, karena ia sudah merasa sangat sempit di dalam sana.
Adi langsung membawa tangan Adinda untuk menggenggam sesuatu yang tengah tegangan tinggi itu.
"Jangan alasan lagi kali ini. Abang udah pengen kali." ucap Adi dengan memperhatikan wajah istrinya yang terlihat bingung itu.
Lalu Adi mulai menyerang bagian sensitif istrinya.
"ABANG…" seru Adinda saat Adi tak memberi ampun istrinya. Ia menguasai atas apa yang menjadi haknya.
Dan terjadi pergulatan rasa yang beradu di dapur rumah minimalis itu.
~
~
Malam harinya, mereka bertiga berada di salah satu mall di kota C ini. Givan begitu terlihat bahagia, dengan senyum merekah yang terpatri di wajahnya.
Satu persatu, Givan mencoba permainan yang berada di lantai paling atas tempat tersebut.
Saat ingin pulang dari mall tersebut. Adi menarik istrinya untuk masuk ke dalam tokoh perhiasan yang ada di mall itu.
"Bang, mau ngapain sih?" tanya Adinda dengan wajah betenya.
"Beli perhiasan lah, masa mau ngerampok." jawab Adi enteng. Kemudian ia langsung meminta istrinya memilih model perhiasan yang ia sukai.
Namun Adinda terlihat enggan untuk melakukannya.
__ADS_1
"Ok, biar Abang pilihkan." ucap Adi saat Adinda hanya terdiam.
"Gelang macam ini 27 biji ya, Kak." ujar Adi pada pelayan toko. Pelayan itu mengangguk dan berlalu untuk mengambilkan apa yang Adi pilihkan tadi.
"Mau buat apa sebanyak itu?" tanya Adinda pelan.
"Ya buat Adek pakai. Di sana, emas tuh jadi tolak ukur buat…" jawab Adi yang belum tuntas.
"Buat apa? Nampak betul macam OKB!" sela Adinda membuat Adi tertawa tertahan.
Lalu pelayan itu datang kembali, Adi mengecek satu persatu barang yang akan dibelinya itu.
"Sama kalung, anting, gelang kaki, dua cincin juga. Hmm, sama kalung pinggang ada tak?" ucap Adi pada pelayan tersebut. Pelayan itu mengangguk dan mengambilkan beberapa barang yang Adi sebutkan tadi. Bertujuan untuk Adi agar bisa memilihnya sendiri. Tentu dengan menyimpan gelang berukuran kecil berjumlah dua puluh tujuh buah itu.
Setelah selesai melakukan transaksi, mereka bertiga pulang ke rumah kembali.
"Dibilang jangan beli emas lagi tuh. Kesel betul aku!" ucap Adinda dengan wajah merengut.
"Heran Abang, kok ada perempuan yang tak mau dibelikan emas. Tenang Dek, uang Abang tak habis hanya karena beli emas aja." jawab Adi dengan fokus pada jalanan.
"Rencananya mau gimana, Dek?" tanya Adi saat mereka tengah duduk di ruang tamu. Dengan rokok yang terselip di antara jari masing-masing.
"Pagi nanti aku mau ke tempat Rozie. Mau pesen kandangnya dulu. Bertahap aja gitu, Bang. Terus siangnya kita langsung ke kota J. Ketemu sama ustad dulu. Terus, syukur-syukur aku mau dikenalin ke mertua aku." jawab Adinda dengan pandangan lurus ke depan.
"Hmm, nanti setelah dari ustad kita cek in di hotel dulu. Besoknya Abang coba ke rumah umi. Biar Abang sendiri yang ngomong baik-baik sama umi. Adek sama Givan tunggu Abang di hotel aja, ok?" sahut Adi dengan mendekati istrinya. Dan duduk di sampingnya.
"Kenapa macam itu? Kenapa kita tak langsung dikenali aja? Abang masih enggan ya rupanya." balas Adinda memperhatikan wajah Adi dengan pandangan tak dimengerti oleh Adi.
"Abang tak mau Adek dimaki umi lagi. Terlebih lagi sama Givan. Abang tak mau Givan memiliki sifat benci sama omanya sendiri. Karena Abang paham gimana Givan kalau ibunya dijelek-jelekkan orang lain." ujar Adi dengan menyandarkan kepala istrinya pada dadanya.
"Yang percaya sama Abang, ok? Meski nanti umi masih melarang hubungan kita. Tapi Abang tak akan pernah ninggalin Adek, tak akan pernah ninggalin Givan sendirian." lanjut Adi dengan mencium pucuk kepala Adinda.
"Nanti Abang balik lagi ke hotel tak?" tanya Adinda mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap wajah suaminya.
"Iya dong. Berhasil atau tidaknya obrolan Abang dengan umi. Abang balik langsung ke hotel. Nanti biar kalau Dinda udah hamil, baru Abang coba ngomong lagi ke umi." jelas Adi dengan tersenyum menenangkan.
"Jadi kita masih lama untuk resmikan pernikahan kita?" ucap Adinda yang menegekan tubuhnya. Dan mematikan rokoknya di asbak yang tersedia di atas mejanya.
__ADS_1
"Sabar, ok? Abang perlu waktu untuk bujuk umi." sahut Adi dengan melakukan hal yang sama seperti Adinda.
"Abang waktu kita mau nikah, Abang bilang mau cepat urus buat resmikan pernikahan kita. Tapi malah diundur-undur terus macam ini. Setiap aku tanya pasti selalu bilang sabar." balas Adinda dengan suara bergetar. Pasalnya memang Adi selalu demikian. Ini adalah bukan kali pertamanya Adinda membahas tentang peresmian pernikahannya dengan Adi. Namun sepertinya Adi enggan mengabulkannya, dan malah diam di tempat tanpa melakukan tindakan selanjutnya.
"Dek, yang paham. Adek pun denger sendiri pas umi telepon waktu itu kan?" tutur Adi mengingatkan kembali kejadian satu minggu yang lalu.
Flashback On
"Bang, hpnya bunyi terus tuh." seru Adinda saat ia tengah memasak di dapur.
"Ya, Dek." sahut Adi yang masuk melalui pintu samping rumahnya, yang langsung mengubungkan ke ruang televisi.
Kemudian Adi meninggalkan aktifitasnya yang tengah memilah sepatu-sepatu lamanya itu. Lalu ia masuk dan mengangkat telepon yang ternyata datang dari ibunya.
"Assalamualaikum, Umi." ucap Adi dengan meloud speaker panggilan teleponnya. Dan ia melambaikan tangannya pada Adinda. Adinda langsung mematikan kompornya dan meninggalkan tugas memasaknya.
"Wa'alaikum salam, Bang. Gimana kabarnya? Kalau tak ditelepon, tak pernah menelpon duluan. Abang tak tau kah, Umi dan Ayah tengah sakit di sini?" sahut ibu Meutia kemudian.
"Maaf Umi, Abang sibuk. Kabar Abang baik. Umi dan Ayah sakit apa?" tanya Adi dengan tersenyum pada Adinda. Ia memperhatikan wajah istrinya yang mengeluarkan banyak bulir keringat itu. Karena menurutnya Adinda terlihat berkali lipat menariknya, jika sedang berkeringat seperti ini.
"Kolesterol Umi tinggi. Kadar gula ayah juga tinggi. Edo terpaksa harus ngurus usaha ayah yang di provinsi KB. Zulfa sendirian di kota C. Edi sama istrinya ngurus usaha ayah yang dicabang sini." jelas ibu Meutia.
"Makanya makannya jangan enak terus. Sekali-kali makan tahu, tempe." ungkap Adi yang malah menceramahi orang tuanya.
"Iya, iya. Jadi kapan Abang sama Retno nikah? Sejauh ini gimana hubungan kalian?" tanya ibu Meutia. Membuat Adinda menatap tajam pada Adi. Adi menggaruk kepalanya, sepertinya Adi lupa untuk menceritakan tentang ini semua pada istrinya.
"Hmm, sebetulnya Abang…
TBC.
Hah 😲
Belum kelar juga masalah perjodohan 🤔
Iya kan, belum ada omongan langsung sama umi. 😅
Ayo kita tengok kelanjutannya 😁
__ADS_1