
Doain ya semoga authornya panjang umur, sehat selalu, dimudahkan rezekinya pokoknya doain yang terbaik ya 🤭 **aamiin**
Soalnya lagi besde nih 😂
Jefri menekan tombol yang berguna untuk memanggil dokter. Ia mengatur alat pernapasan Adi. Namun saat itu juga Adi terbatuk lebih kuat, Jefri langsung memiringkan kepala Adi. Dan Adi muntah darah yang cukup banyak.
Dokter datang dengan dua perawat. Jefri dan keluarga Adi yang berada di situ terlihat syok melihat kondisi Adi demikian. Salah satu perawat meminta mereka semua untuk keluar.
Mereka pun menuruti perintah perawat tersebut dan menunggu di luar ruangan Adi.
Jefri memainkan ponselnya, namun ia malah menelpon Adinda.
"Assalamualaikum, ya Bang." ucap Adinda begitu mengangkat sambungan telepon dari Jefri.
"Wa'alaikum salam, Adi sakit Dek." ungkap Jefri memberitahu Adinda.
"Hah, sakit apa Bang?" tanya Adinda sedikit kaget.
"Sesak napas." sahut Jefri prihatin.
"Sekarang gimana keadaannya?" balas Adinda.
"Buruk Dek. Masih dalam perawatan di rumah sakit tempat Abang tugas Dek." ujar Jefri bernada putus asa.
"Aku usahain pulang Bang. Bapak juga lagi di rumah sakit sekarang." tukas Adinda terdengar sedih.
"Bapak sakit apa Dek?" tanya Jefri, ia melambaikan tangan pada Zulfa. Agar tak masuk dalam ruangan Adi.
"Darah tingginya kambuh. Terus kepeleset Bang. Sekarang sih keadaannya udah baikan. Tapi tetap aja aku khawatir. Mana kan pas berangkat Bapak kaya kurang setuju aku kerja jauh, mana bawa Givan lagi." ungkap Adinda.
"Ya udah Dek. Kalau jadi pulang kabarin Abang aja ya? Nanti Abang jemput di bandara." tukas Jefri memberikan tawaran untuk menjemput Adinda.
"Tak perlu susah-susah Bang. Aku bisa sendiri. Ya udah ya Bang, assalamualaikum." ucap Adinda kemudian.
"Wa'alaikum salam." sahut Jefri mematikan sambungan teleponnya. Ia menghela nafas. Ia baru sadar, kenapa ia malah memberitahu Adinda? Ia jadi merasa khawatir pada Adinda, pasti Adinda sekarang tak fokus dalam bekerja.
"Bang." ucap Zulfa sambil mencolek tangan Jefri.
"Hm, kenapa?" tanya Jefri menoleh pada Zulfa.
"Ada apa? Kenapa pada diam aja begitu?" ucap Zulfa menunjuk keluarganya dengan dagu.
"Adi muntah darah." jawab Jefri dengan pandangan lurus.
"Hah? Aduh gimana keadaan Abang aku?" ujar Zulfa khawatir, ia meremas tangannya sendiri.
"Tak apa. Doain Abang kau baik-baik aja." ucap Jefri menggenggam tangan Zulfa yang Zulfa remas sendiri. Jefri mencoba menenangkan Zulfa dengan bertanya pertanyaan lain, untuk mengalihkan pikiran buruknya tentang kondisi Adi.
__ADS_1
Cukup lama akhirnya dokter keluar dari ruangan Adi.
"Gimana keadaannya dok?" tanya ibu Meutia yang langsung menghampiri dokter.
"Kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut Bu. Sekarang kondisi pasien udah stabil." jawab dokter dengan tersenyum ramah dan pamit pergi.
"Bang, kok gak jelas gini bang Adi sakit apa. Apa kita pindah rumah sakit aja?" tanya Edi pada Jefri, ia terlihat kesal.
"Dari hasil tes Adi ini tak mengidap apapun. Dia sehat! Makanya aku nyaranin coba ke orang pinter." jawab Jefri menatap tajam pada Edi. Jefri tidak suka dengan sikap Edi.
"Bang kau kan dokter. Harusnya kau berpikir realistis dong. Kenapa harus ke orang pinter yang pengobatannya gak nampak gitu." sahut Edi nyolot.
"Terserahlah." ucap Jefri yang merasa pemikirannya tak dipertimbangkan. Lalu ia pun pamit pulang pada keluarga Adi yang lain.
Jefri bermaksud baik, ingin menolong Adi. Jangan sampai Adi terlambat untuk ditolong dan malah tak bisa diselamatkan lagi. Itu yang ada dipikiran Jefri. Ia takut terjadi hal demikian.
~
Pagi harinya, saat Jefri baru selesai tugas malam. Ia menyempatkan diri untuk menengok keadaan kawan karibnya kembali. Ia bertekad tak akan membahas hal yang kemarin.
Saat ia masuk dalam ruangan Adi, Jefri mendapati pak Dodi yang sedang membaca Al-Qur'an. Ia mengurungkan niatnya dan duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan Adi.
Ponselnya berdering, ternyata panggilan video dari Adinda. Jefri menggeser ikon hijau ke atas.
"Ayah." ucap Givan setelah bisa melihat gambar Jefri. Ternyata Givan yang menelponnya.
"Aku semalam mimpi buruk." ucap Givan tanpa menjawab pertanyaan dari Jefri.
"Mimpi apa Bang? Udah ijin Mamah belum main hape tuh?" ujar Jefri mengamati gambar Givan yang tidak jelas.
"Mamah masih bobo. Mimpi masuk ke lumpur sawah, tapi gak nemu dasarnya. Serem Yah pokoknya." ungkap Givan bercerita singkat.
"Ih serem. Untung Ayah belum tidur." sahut Jefri kemudian.
"Tugas malam ya Yah? Iya pokoknya Ayah jangan tidur! Nanti mimpi serem." balas Givan dengan serius.
Jefri tersenyum geli, "Iya Ayah tugas malam. Makanya kalau bobo tuh baca doa dulu." Jefri berkata dengan masih tersenyum.
Terlihat Givan menganggukkan kepalanya, "Udah baca doa kok. Soalnya sorenya aku main di saluran irigasi, aku nyari ikan pakai wadah bolong-bolong. Yang buat tempat makanan dan kue dari tahlilan itu loh Yah." ucap Givan polos.
"Terus?" tanya Jefri singkat.
"Terus aku kena marah Mamah. Udah mandi main kotor-kotor lagi." sahut Givan bernada sedih.
Jefri terkekeh mendengarnya, "Yang nurut sama Mamah. Kasian Mamah capek kerjanya, kalau ditambah Abang gak nurut nanti Mamah bisa-bisa marah sama Abang." ucapnya menyelipkan nasihat untuk Givan.
Jefri tak menyadari dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang dari balik pintu ruangan Adi. Orang itu memperhatikan Jefri hingga selesai menelpon dengan Givan.
__ADS_1
Setelah tak mendengar suara pak Dodi yang sedang mengaji, Jefri langsung mengetuk pelan pintu ruangan Adi.
"Masuk aja Bang." suara Zulfa terdengar dari dalam.
"Eh kau tidur di sini Dek?" tanya Jefri setelah melihat keberadaan Zulfa.
Zulfa mengangguk menanggapi pertanyaan Jefri.
"Temenin Zulfa sebentar ya Nak. Ayah mau keluar nyari makanan dulu." ucap pak Dodi berjalan meninggalkan ruangan Adi setelah mendapat anggukan kepala dari Jefri.
"Abang gak cemburu, waktu itu Bang Adi pernah di kamar bareng kak Dinda?" tanya Zulfa ragu.
Jefri menoleh pada Zulfa dan memberikan senyum terbaiknya, "Tak lah, Dek! Dulu memang sempat ge'er juga sama Dek Dinda." jawab Jefri santai, "Eh gimana kemajuan Abang kau?" lanjut Jefri mengalihkan pembicaraan.
"Abang masih tidur aja. Pas kemaren sore Abang dibawa untuk jalani tes apa gitu Bang." jelas Zulfa mengikuti langkah Jefri yang menuju ranjang Abangnya. Jefri mengerti apa yang Zulfa sampaikan tadi.
Jefri memperhatikan Adi, "Kau cepat bangun, sebelum Dinda nanti naikin kau di ranjang ini! Dia bilang mau balik." ucap Jefri lebih dekat pada telinga Adi.
Zulfa menahan tawa mendengarnya, "Ngomong yang baik-baik lah Bang." ucap Zulfa yang akhirnya melepaskan tawanya juga.
"Mana tau kalau bawa-bawa Dinda bikin Adi cepat bangun." ujar Jefri dengan tersenyum.
"Sebenarnya Kak Dinda pacarnya siapa? Tadi aku dengar kayaknya Abang deket banget sama anaknya Kak Dinda." balas Zulfa kembali membahas tentang Dinda.
"Pacarnya orang, kau tak bakal tau. Abang aja cuma sekilas kenalnya. Tapi tak tau juga masih pacaran tak, Dek Dinda agak tertutup masalah asmaranya sendiri." sahut Jefri dengan duduk di kursi yang tersedia di ruangan Adi.
"Sih waktu itu gitu-gitu sama Bang Adi." timpal Zulfa terlihat sedang berpikir, "Aku gak nyangka Kak Dinda orangnya mauan gitu." lanjut Zulfa.
"Mauan gimana? Dinda tak begitu kali Dek. Kau jangan sembarang kalau ngomong. Mungkin waktu itu Abang kau yang maksa apa bagaimana." ucap Jefri terdengar tidak suka.
Zulfa terlihat kaget, ia menundukan kepalanya, "Maaf, soalnya hari itu aku dengar suara Kak Dinda yang keenakan bukannya minta tolong." balas Zulfa merasa bersalah telah memberi pandangan jelek pada Adinda.
"Kau tak paham, dan tak tau juga kan kejadian aslinya gimana?" tukas Jefri menatap Zulfa.
Zulfa mengangguk, ia mengiyakan pertanyaannya Jefri tadi.
"Nah makanya jangan langsung nuduh Dinda mauan. Kalau kau memang tak tau kejadian aslinya lebih baik kau bersikap masa bodoh aja. Lagian mereka juga udah dewasa, semua tindakan yang mereka lakukan pasti sudah dipikirkan matang." ujar Jefri memberitahu Zulfa agar tak bersikap demikian.
Zulfa menunduk, "Maaf Bang." ucapnya lirih.
Jefri merasa tak enak hati, ia bermaksud memberitahu Zulfa. Bukan memarahinya begini.
"Tak apa, Abang pun minta maaf ya? Bukan maksud Abang marah ke Zulfa." ungkapnya halus dan tersenyum pada Zulfa. Lalu Zulfa memberanikan diri menatap wajah Jefri dan membalas senyum Jefri.
TBC.
LIKE, VOTEnya jangan lupa ya rekan 🤗
__ADS_1
terimakasih 🥰