Sang Pemuda

Sang Pemuda
36


__ADS_3

Aku melanjutkan menyuapi Givan, namun ia berlari ke arah halaman belakang. Givan berlari ke sana ke mari dengan mainan pesawat terbang di tangannya. Ternyata Dinda ada di sini, di dekat kolam ikan. Ia terkejut dan langsung menginjak-injak sesuatu, tapi terlihat samar ada asap di sekelilingnya. Oh, rupanya ia sedang merokok tadi. Ia terlihat panik dengan munculnya Givan secara tiba-tiba.


"KENAPA KAU BAWA KE SINI BANG?" teriak Dinda mendelik tajam padaku. Sepertinya ia kesal aktifitasnya terganggu.


"Dia lari ke sini sendiri, Dek!" seruku dengan suara yang sedikit kuat. Karena posisi kami berjauhan.


Tak lama mangkuk makanan di tanganku diambil alih oleh pengasuh Ken Kin. Lalu aku mendekati Dinda.


"Nih lanjutin!" ucapku menyalakan rokok untuknya dan memberikannya.


"Tak mau aku. Abang penyakitan, tertular pula nanti aku!" sahutnya kembali bermain ponsel, "Tethering Bang!" lanjut Dinda kemudian.


"Biar Abang isikan paket datanya." balasku dengan mengutak-atik aplikasi pembayaran di ponselku, "Risih betul Aku, bentar-bentar tethering!" gerutuku pelan.


"Udah masuk belum?" tanyaku setelah selesai memberikannya paket data yang biasa aku gunakan. Kebetulan provider kami sama.


"Hehe, udah Bang." jawabnya dengan tersenyum kuda.


"Cium dong!" sahutku bergurau.


"Cuma ngasih paket data aja minta cium." balasnya dengan memainkan ponselnya dan melirikku sekilas.


"Jangan sok kali kau! Semalam Abang tak kasih apa pun, kau sosor pipi Abang." ungkapku dengan menoyor pelan kepalanya.


"Ahh, ketahuan pula aku." sahutnya dengan menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya. Lalu kami tertawa geli dan terdiam sesaat.


"Dek, kemarin hari Abang ke K******n." ucapku membuka obrolan dengannya.


"Is, kok aku tak diajak!" sahutnya memanyunkan bibirnya.


"Kau dengerin Abang dulu coba. Abang lagi cerita ini." balasku kemudian.

__ADS_1


"Ok sip baiklah." tukas Dinda cepat, ia menoleh padaku dengan ekspresi wajah yang ia pasang serius. Kenapa aku malah tertawa melihatnya.


"Ketawa pula kau! Katanya mau cerita." tutur Dinda kemudian. Aku langsung mengangguk dan melanjutkan ceritaku.


"Abang ke sana sama Devi, Dek." ungkapku berbicara perlahan. Sebetulnya aku ragu, ini bersifat privasi. Tapi aku tak mau Dinda menganggapku penyakitan. Lalu Dinda mengangguk mengerti.


Aku menghisap rokok yang tadi ku nyalakan untuk Dinda, "Singkat cerita Abang singgah di kamar penginapan dengan Devi. Sebelumnya Abang udah tanya padanya apa sudah pernah hubungan apa belum, Devi tak jawab iya. Orangnya cukup berbelit-belit untuk menjawab pertanyaan, tapi intinya dia bisa menjaga keperawanannya. Pas Abang coba, kok tak sulit dimasuki. Abang pun tak merasa sakit..." ungkapku.


Namun Dinda langsung menyela, "Kan bukan yang pertama kan buat Abang?" tanya Dinda memperhatikan ku. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya, "Ya wajar dong Abang tak merasa sakit!" lanjut Dinda kemudian.


"Kalau perawan kan ketat sekali, Dek. Jadi cukup sakit buat laki-lakinya. Kau kira-kira sajalah!" sahutku sedikit menjelaskan padanya. Laki-laki juga merasakan sedikit sakit pada kel*minnya saat melepaskan keperjakaannya pertama kali. Dan Dinda paham itu? Luas juga pengetahuannya tentang beginian.


Dinda mengangguk kembali, terlihat ia seperti tengah berpikir, "Terus gimana lagi Bang?" tanya Dinda memintaku melanjutkan ceritaku.


"Abang baru paham saat hentakan kedua dan terlihat dari ekspresinya, Devi tak kesakitan seperti perawan pada umumnya. Kau paham kan maksud Abang?" ucapku dengan mengamati wajahnya. Dinda menganggukan kepalanya mengerti.


"Terus tetap kau lanjutin kan Bang? Kenapa sih kau bermasalah sekali dengan perawan atau sudah tak perawan. Yang penting kan kau cinta sama orangnya. Macam kau perjaka asli aja! Banyak aturan betul." ungkap Dinda memberi jeda, "Lagian ya Bang. Perempuan tak berdarah saat lepas keperawanan bukan berarti dia sudah tak perawan, bisa jadi ia jatuh dari sepeda dan selaput darahnya sobek. Terus kau dengar dulu penjelasannya, dia tak perawan karena apa? Apa sih dia ini korban pemerkosaan kah? Atau korban pelecehan yang diobok-obok kah?" lanjut Dinda terdengar masuk akal juga.


"Abang langsung cabutlah, dan bersihin milik Abang. Abang khawatirnya tertular penyakit se*sual dari Devi." tuturku menatap kosong kolam ikan di depanku.


"Ya kau jangan main sebelum nikah, kalau kau takut tertular penyakit dari pasangan kau Bang!" sahut Dinda, kenapa yang keluar dari mulutnya banyak benarnya juga.


"Macam kau bersih aja!" seruku dengan melirik kearahnya.


Dia tersenyum samar, "Aku pun tak mengaku diriku bersih. Terserah kau mau percaya tak Bang, tapi sejak cerai sampai sekarang aku belum pernah having se* dengan laki-laki manapun." ungkap Dinda dengan menatap beberapa tanaman hias yang berada di depannya.


"Iya tak pernah having se*, tapi sering making love." ucapku menanggapi tuturannya. Having se* adalah aktivitas se*sual yang hanya melibatkan fisik semata. Sementara making love perpaduan aktivitas seksual yang melibatkan fisik, emosi, perasaan, dan komunikasi.


"Aku tak minta kau buat percaya." sahut Dinda dengan tersenyum ke arahku. Sungguh sebetulnya aku sangat mempercayainya.


"Udah sana kau berangkat! Aku rasa aku tak perlu ikut cek kesehatan juga. Bulan kemarin aku baru cek." ucap Dinda bersiap-siap berlalu dari hadapanku.

__ADS_1


"Kau bulan kemarin sakit? Atau sengaja cek rutin?" tanyaku mengikuti langkah kakinya yang pergi dari halaman belakang rumah Haris.


"Kurasa Abang pun tau ceritaku yang pernah masuk bui itu kan? Pas aku jadi tersangka itu, aku diminta tes darah. Katanya jangan-jangan aku pemakai juga." ungkapnya sambil berjalan.


"Memang sebetulnya bagaimana?" tanyaku menyikapi ceritanya.


"Ya aku melakukannya secara sadar, bukan dalam pengaruh obat-obatan terlarang!" jawab Dinda kemudian. Aku manggut-manggut mengerti.


"Oh iya, Dek. Nanti sore kita berangkat ke kota J." tuturku memberitahu Dinda.


"Ok, nanti kabarin aja. Aku udah ada kuota sekarang." balas Dinda dengan tersenyum kuda. Aku menyampirkan hijabnya yang terjuntai ke bawah pada bahunya. Lalu aku menuju ke P*****a lab, laboratorium klinik yang Jefri rekomendasikan padaku.


flashback off


"Hai, Adi kan?" sapa seorang wanita yang menggunakan masker medis, ia menunjuk padaku.


"Hai juga. Iya, kok ada di sini?" sahutku membalas sapaannya. Aku mengenalinya setelah ia menarik maskernya ke bawah dagunya.


"Sakit apa Di? Aku panggilnya Adi aja ya? Kayanya kita seumuran deh." tuturnya mencoba akrab padaku. Dan dia langsung duduk di kursi sebelahku.


"Tak sakit kok. Cuma mau tes kesehatan aja. Kau sendiri ngapain di sini?" tanyaku melihatnya hanya sendirian.


"Aku nganterin ibu hamil yang harus melakukan beberapa tes di sini." jawabnya dengan tersenyum ramah. Dia berhijab sekarang, tapi hijab biasa. Bukan hijab dengan kain panjang seperti Dinda.


"Kok kau yang anterin, kenapa bukan suaminya?" tanyaku heran dan memperhatikan wajahnya, dia berkulit kuning langsat seperti laki-lakinya Dinda ternyata. Dia terlihat ayu khas suku Sunda. Aku jadi teringat Dinda, sebenarnya dia dari suku apa ya?


TBC.


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2