Sang Pemuda

Sang Pemuda
41


__ADS_3

AUTHOR POV


Adi bersembunyi di dalam lemari pakaian yang tidak tertutup rapat. Adinda mengatur nafasnya dan berjalan ke arah pintu kamar.


Ceklek


"Adi ada di dalam?" tanya Haris mengintimidasi Adinda. Haris menatap tajam mata Adinda. Adinda hanya menggeleng, dia enggan menjawab pertanyaan Haris. Ia takut ketahuan berbohong pada Haris.


Lalu Haris mengangguk dan meminta Adinda untuk meyakinkan Givan yang masih takut padanya. Adinda menutup pintu kamar dan pergi ke lantai bawah untuk menemui Givan.


Haris masih berdiam diri di depan kamar Adinda, ia menunggu Adinda menghilang dari pandangannya. Setelah dirasa Adinda telah sampai di kamar anak-anak. Haris lalu membuka perlahan kamar Adinda, ia melihat kebohongan di mata Adinda.


Adi baru keluar dari lemari, karena tak mendengar suara apa pun memutuskan melangkah menuju pintu kamar. Namun ia terkejut saat Haris membuka pintu. Adi tersenyum canggung pada Haris.


Haris menggeleng kepalanya, "Jangan begini caranya. Kau ajarkan dia berbohong. Menyelinap kau dalam kamarnya. Suatu saat terjadi sesuatu dengan Adek, kau yang akan kusered!" ucap Haris penuh penekanan.


"Aku tak ngapa-ngapain tadi." Adi langsung membela dirinya.


"Ya sekarang kau tak ngapa-ngapain! Tapi besok, lusa dan seterusnya. Tak mungkin kau tak akan berhasil. Kalau butuh betina tinggal bilang! Jangan kau minta gratisan pada Dinda!" ungkap Haris berlalu pergi.


"Memang dasarnya kau suka kan sama dia? Sampai kau jaga setengah mati begini?" sahut Adi terpancing emosi. Sontak Haris langsung menghentikan langkahnya, ia berbalik dan menatap tajam pada Adi.


"Kau dengar baik-baik! Kemungkinan terbesar diantara kita bertiga yang akan menikahi Dinda hanya aku, Di! Jadi, lebih baik kau tau posisi kau sekarang!" tutur Haris pelan namun penuh penekanan.


Adi menyadari maksud Haris, Adi mengangguk. Ia tak mau memperpanjang masalah ini, ia mengalah agar pertemanannya tetap baik-baik saja.


"Iya aku paham, kau tenang saja! Tadi aku cuma ngomongin masalah ladang." ucap Adi mengingkari. Sebenarnya Adi merasa amat emosi, namun ia tahan. Ia sadar Haris banyak berjasa untuk Dinda. Sedangkan dia hanya orang baru di kehidupan Dinda. Lalu Adi beranjak pergi dari situ. Ia tak ingin satu kamar dengan Haris. Ia takut tak bisa menahan emosinya pada Haris.


Adi termenung di halaman belakang rumahnya, ia menyesapi rokok yang selalu menemaninya di setiap lamunannya. Adi tidak mengerti tentang perasaanya. Ia merasa sangat kacau sekarang. Ia teramat ingin selalu berdekatan dengan Dinda, selalu bisa menghirup aroma Dinda, selalu menyentuh Dinda.


Tapi ia sadar, ia masih belum sembuh dari lukanya. Masih ada rasa yang tersisa untuk Shasha. Wanita yang selalu menuruti perkataannya. Yang selalu bisa menutupi keburukannya di depan umum. Ia tak menyangka Shasha memilih meninggalkannya dari pada melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan. Ia lebih memilih menikah dengan seseorang yang baru dikenalnya.


Malam semakin larut, Adi masuk ke dalam rumah. Dan mengunci pintu belakang rumahnya. Ia berjalan melewati beberapa ruangan yang lampunya sengaja dipadamkan, karena sudah tidak ada lagi yang beraktifitas.


Namun Adi malah berpapasan dengan Adinda yang hendak naik ke tangga.


"Belum tidur Bang?" tanya Adinda yang menghentikan langkahnya.


"Belum. Gih tidur, udah mulai pagi sekarang Dek." sahut Adi melihat jam tangannya sekilas.

__ADS_1


Adinda mengangguk dan menaiki tangga perlahan. Namun saat ia menyadari Adi tak ikut naik ke lantai atas, ia berhenti dan berbalik menuruni tangga lagi.


"Bang." seru Adinda dengan mengedarkan pandangannya.


"Hmmm." gumam Adi dari arah toilet yang dekat dengan tangga.


"Terkejut aku!" ucap Adinda mengelus dadanya sesaat setelah sampai di bawah tangga. Adi terkekeh pelan, Adi merasakan hatinya menghangat kembali saat berada di dekat Adinda.


"Apa Dek? Kau Bang-bang'an terus. Suruh sana naik, tidur!" balas Adi yang keluar dari kamar mandi.


"Ayo, bareng!" sahut Adinda dengan menarik lengan Adi.


"Kenapa masih berkeliaran aja Dek? Abang kira kau udah tidur bareng Givan." tutur Adi menahan tarikan di lengannya.


"Givan agak rewel kalau di tempat baru begini. Dia tak mau tidur bareng aku. Pas dia terbangun tadi, nampak aku ada di sampingnya. Langsung aku diusirnya pergi." ungkap Adinda dengan mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah, sana tidur! Abang tidur di bawah, Dek!" ucap Adi melepaskan cekalan tangan Adinda.


"Kenapa sih? Katanya tidur bertiga? Sempit kah? Tidur sama aku aja yuk, Abang latihan dulu sama aku. Biar nanti tak kaget tidur bareng istrinya." sahut Adinda dengan tersenyum dan mengeratkan pegangannya pada lengan Adi.


"Jangan gila! Nanti yang ada kita begadang sampai pagi." balas Adi menoleh sekilas pada Adinda. Adinda membuang nafasnya kasar, dan terlihat seperti kesal.


Lalu Adi berjalan menuju ke kamar Edo yang kebetulan tidak dikunci, Adi merebahkan diri dan mencoba memejamkan matanya.


~


Pagi telah tiba, ayah Dodi masuk ke kamar Edo. Ia diminta istrinya untuk membangunkan Adi. Yang menurut laporan Edo, Adi sulit sekali dibangunkan.


"Bang, Adi. Hei, Adi Riyana." ucap ayah Dodi dengan menggoyang-goyangkan tubuh Adi.


"Bentar lagi yah. Aku tidur dini hari tadi." sahut Adi dengan mata terpejam.


"Ganas kali rupanya kawan wanita yang kau bawa. Sampai merah begini leher kau! Kau bilang kawan, gengsi sekali kau ngakuin dia wanita kau." ucap ayah Dodi mengejek Adi. Adi terlihat kalap, ia langsung membuka matanya lebar.


"Hah, tak kok Yah. Ini aku bekas kerokan." sahut Adi gelagapan.


Ayah Dodi mengangguk, "Semalam ayah nampak kau ditariknya di bawah tangga." balas ayah Dodi mengamati tanda merah pias di leher Adi. Adi langsung menutupi apa yang menjadi perhatian ayahnya.


"Kok Ayah tau?" tanya Adi bangkit dari tempat tidur.

__ADS_1


"Ayah baru datang semalam. Ayah tanya umi, katanya kau bawah kawan wanita juga. Eh ternyata si Adinda itu." tutur ayah Dodi dengan terkekeh, "Udah cepet bangun, mandi, dua jam lagi acaranya dimulai." lanjut ayah Dodi melangkah keluar kamar.


~


Adi sudah selesai bersiap dengan memakai kemeja merah marun pilihan Adinda. Hubungannya dengan Haris terlihat biasa saja, ia pun sadar diri bahwa ia tak akan mungkin menikahi Adinda.


Adi menuruni tangga, ia ingin mengisi perutnya yang lapar. Namun ia tak melihat makanan apa pun di dapur. Terpaksa Adi hanya meminum susu yang ada di dalam kulkas. Adi menuangkannya secukupnya, lalu meminumnya hingga tandas.


Ia berjalan ke halaman depan, menuju ke tempat acara yang akan segera dimulai. Ia bergabung dengan anggota keluarganya. Sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan untuknya, namun matanya menjelajahi manusia yang berlalu lalang.


Ayah Dodi menepuk bahu Adi, "Nyari Adinda ya?" ucap ayah Dodi dengan terkekeh. Adi hanya menggeleng, sebenarnya ia tak tahu siapa yang ia cari. Mungkin ia hanya memastikan keberadaan Adinda.


"Hei nak, kenapa tak bareng ibu sama Maya?" sapa ibu Rokhayah yang datang dengan menggandeng Maya.


"Ah iya, Adi lupa bilang. Adi bareng kawan-kawan soalnya." sahut Adi dengan tersenyum ramah.


"Abang jadinya sombong. Di sana juga gitu, kalau gak di sapa ya diam aja." ucap Maya dan ditanggapi kekehan pelan dari beberapa keluarga Adi. Namun Adi tak mendengarkan celotehan Maya.


Matanya menangkap sosok yang mungkin ia cari. Tanpa menghiraukan beberapa pertanyaan dari keluarganya, ia berlalu pergi untuk menghampiri Adinda.


"Adek, Abang lapar! Belum makan." ucap Adi begitu sampai di dekat Adinda.


Rahang Adinda hampir jatuh ke bawah, "Kenapa kau cari aku?" balas Adinda menunjuk hidungnya, "Mau makan ya kau cari yang biasa ngurusin makanan kau!" lanjut Adinda kemudian.


"Umi sibuk, ayolah Dek." sahut Adi dengan menarik tangan Adinda, "Ayo Bang, ikut Papah!" lanjut Adi menggandeng tangan Givan untuk mengikutinya.


Givan dan Adinda menuruti permintaan Adi, "Mau makan apa?" tanya Adinda terlihat kesal.


Adi mencium pipi Adinda sekilas, "Apa aja dek." ucap Adi dengan mendahului Adinda berjalan. Untungnya mereka sudah berada di dalam rumah.


Adinda menendang kaki Adi, "Tak sopan! Kesal kali aku sama kau!" seru Adinda yang membuat anaknya terkejut. Bersyukur, anaknya tidak sampai melihat adegan tadi.


Adi tersenyum kuda dan membawa Givan dalam gendongannya.


TBC.


Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.


Terimakasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2