Sang Pemuda

Sang Pemuda
126


__ADS_3

Aku terbangun dengan keadaan rumah yang begitu sepi. Ke mana perginya Givan dan Dinda? Jangan-jangan ia pulang ke kotanya gara-gara masalah semalam.


Aku langsung membuang selimutku, dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah aku mandi dan selesai bersiap. Aku langsung ke luar dari rumah. Sejauh mata memandang, tak kutemukan mereka berdua. Ini malah membuatku menjadi merasa khawatir.


Aku memakai sandalku dengan buru-buru, dan berjalan menyusuri jalanan yang sepi ini.


Sampai ujung gang, aku tak menemukan mereka berdua. Jangan-jangan benar Dinda dan Givan pulang ke kotanya. Aku memainkan ponselku, mencari nama kontak yang kuberi nama Adindaku. Lalu menyentuh ikon panggil.


Nomornya aktif, tapi sudah dua kali aku menelponnya tetap tak mendapatkan jawaban.


Saat kali ketiga aku menelponnya yang, aku malah mendapati panggilanku ditolak olehnya.


"Apa sih nelponin aja?" ucap seorang wanita yang berada di belakang tubuhku.


Aku langsung memutar tubuhku dan mendapati Dinda yang tengah menggandeng tangan Givan. Urat wajahnya masih terlihat tak bersahabat.


"Dari mana Dek? Abang nyariin." tanyaku dengan menyiggungkan senyum manis padanya.


"Abis belanja." jawabnya seperlunya. Lalu ia melanjutkan langkahnya. Aku hanya mengikuti langkah kakinya dari belakang. Aku masih menyusun kata-kata yang pas untuk meminta maaf padanya. Aku pun tak menghendaki diriku untuk keluar lebih cepat seperti itu. Andai saja Dinda paham dengan keadaanku.


"Mah, jajan dulu." ucap Givan saat akan melewati tokonya bibi Shasha.


"Nih." Dinda memberikan uang lima ribuan pada Givan.


"Kurang. Tambahin." sahut Givan mengembalikan uang dari ibunya.


"Mau beli apa sih?" tanya Dinda terdengar suaranya tak seramah biasanya.


"Susu kotak dua, kripik jagung dua." jawab Givan, Dinda langsung memberikan uang sepuluh ribu. Dan kemudian Givan masuk ke dalam toko itu. Jadi, memang seperti itu Givan kalau jajan. Sudah dipastikan, 15ribu sehari tak akan cukup untuknya.


Lalu kami menuju ke rumah bersama-sama. Begitu sampai rumah, Givan langsung menuju ke ruang keluarga. Menyalakan televisi dan duduk bersila di karpet yang menjadi alas sofa.


Lain dengan Dinda yang langsung menaruh belanjaannya di dapur. Dan ia langsung menuju ke tempat cuci baju. Untuk merendam pakaian kotor.


"Adek yang ngerendemin, biar Abang yang nyuci." ucapku dengan memperhatikan aktifitasnya yang sedang memilah pakaian.


"Tak usah! Cepet sarapannya di makan terus sana ke ladang." sahutnya dengan suara datar. Aku tau Dinda masih marah padaku. Namun jika aku membantahnya, malah moodnya semakin buruk. Dan mengira aku tak doyan sarapan buatannya.


Aku mengambil makanan yang sudah terhidang di atas meja bar. Hanya sepiring nasi goreng, dengan campuran telur, suwiran ayam, dan sayuran yang dipotong kecil-kecil. Dengan minumnya teh manis yang masih hangat.


Aku merasakan makanan buatan Dinda cukup aneh, tapi aku pernah merasakan keanehan ini sebelumnya.

__ADS_1


"Dek, nasi goreng ini di kasih terasi kah?" tanyaku yang langsung diiyakan oleh Dinda. Mungkin itu ciri khas dari masakan istriku. Rasanya enak, hanya saja aku belum terbiasa dengan bumbu dapur dengan bau khas yang cukup menyengat ini.


Setelah aku selesai sarapan, aku berjalan mendekati istriku yang tengah berdiri sambil menumis bumbu.


Aku menoleh ke arah Givan. Terlihat ia asik dengan kripiknya dan dua plontos yang sedang ditontonnya.


Kemudian aku langsung memeluk Dinda dari belakang, "Maaf, Abang pun tak tau kenapa Abang bisa keluar cepat." ungkapku dengan menempatkan kepalaku bertopang di bahunya.


"Makanya kalau berzina itu secukupnya. Biar pas bagian istrinya tak sisa-sisa begini." sahutnya begitu terdengar kasar di telingaku.


"Dek, Abang semalam mau ajak lagi. Tapi Adek…" balasku disela olehnya.


"Nih, diminum. Makanan Abang nanti aku pisah." ujarnya dengan menyodorkan gelas yang berisi minuman yang berwarna pekat.


Mungkin ini jamu, rasanya tak mungkin jika Dinda meracuniku.


Aku langsung meneguk minuman itu. Yang rasanya cukup membuatku mual. Tapi ya sudahlah, mungkin itu usahanya untuk memperbaiki suaminya yang lemah ini.


Aku bersiap untuk pergi ke ladang. Membawa beberapa alat yang mungkin kubutuhkan. Saat aku mengambil cangkulku yang berada di tempat penyimpanan yang berada dekat dengan dapur. Aku melihat istriku tengah meminum obat. Dan bungkusnya ia buang di tempat sampah. Obat apa itu?


"Obat apa, Dek?" tanyaku yang langsung memastikan.


"P***mex. Sakit kepala bandel kali. Biasanya kalau udah tidur, sakitnya hilang. Ini sih dari sebelum tidur sampai sekarang masih sakit kepala aja." ungkapnya dengan memijat pelipisnya.


"Nanti juga sembuh." jawabku kemudian aku mengambil cangkulku dan pergi ke ladang dengan menggunakan mobil j*ep ku. Untungnya tadi Givan asik dengan cemilan dan tontonannya. Kalau dia tau, pasti dia udah pasang badan di depan mobilku.


Aku memakai mobil karena akan mengecek ladang yang cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki.


~


Siang harinya, aku pulang ke rumah untuk mengisi perutku yang sudah semakin menunjam ke dalam ini. Terlihat Givan sedang tertidur pulas dengan ibunya. Aku bingung mau makan yang mana. Apa aku tanya saja kah ke Dinda?


"Bang…" panggil wanitaku dengan rambut awut-awutan. Namun ia tetap saja terlihat menarik, apa lagi dengan beberapa cap yang aku berikan.


"Ehh, Dek. Abang makan yang mana?" tanyaku dengan mengahampirinya dan mencium keningnya.


"Yang ditutupi tutup kaca. Itu sayurnya tak begitu matang. Dagingnya juga matangnya pas. Lain dari punya Givan." jawab Dinda dengan menyiapkan makanan untukku.


"Dek, masih sakit kepala kah?" sahutku dengan duduk di kursi yang tersimpan di bawah meja bar.


"He'em. Bagian ininya sakit kali." balas Dinda dengan menyentuh ubun-ubun kepalanya.


"Abang udah selesai di ladangnya?" lanjut Dinda dengan menghidangkan makanan di depanku.

__ADS_1


"Udah, cuma mangkas beberapa pohon yang tumbuhnya tak bagus aja." sahutku dengan memulai acara makanku, "Lepas ini Abang mau beresin ilalang di sekitar rumah." lanjutku kemudian. Dinda mengangguk dan duduk di sofa dengan menyalakan televisi.


Aku dibuatkan sop daging sapi, dengan sayuran yang tak terlalu matang. Dan daging yang masih terasa alot. Tapi memang sudah matang.


"Dek, ini fungsinya buat apa?" tanyaku dengan menyuapkan makanan ke mulutku sendiri.


"Biar kualitas airnya bagus." jawabnya dengan menoleh sekilas padaku.


"Memang air Abang jelek ya?" sahutku kemudian.


"Tak tau juga. Kualitas air bagus apa jeleknya kan harus melalui tes. Yang kentel tak bisa dikatakan bagus. Dan yang encer belum tentu disebut m*ni encer." jelasnya dengan mencari acara yang menarik.


"Adek udah makan?" tanyaku lagi. Dan Dinda hanya mengangguk.


~


Sampai sore harinya, aku selesai membersihkan semua ilalang jam empat sore. Dan langsung membuangnya, dengan mengikat ilalang tersebut dan membawanya dengan mobil j*epku.


Saat aku kembali, terlihat Givan tengah bermain bola dengan Safar dan beberapa pemuda daerah ini.


Ah, ikutan ah. Itung-itung aktifitas fisik, agar nanti malam aku bisa bertahan lebih lama lagi.


"Papah Adi istirahat dulu sana. Kan capek ya." ucap anakku yang melihatku berlari kecil ke arahnya.


"Tak juga. Mainnya jangan di tengah. Nanti kena senter bola." sahutku dengan membawa Givan lebih ke pinggir lapangan.


~


Malam harinya Dinda tengah berkutat dengan laptopnya. Ia masih seperlunya saja bicara.


"Dek, Abang mau beli rokok dulu ya." ucapku yang diangguki Dinda. Givan sudah berbaring di atas tempat tidur dengan bermain ponsel ibunya, mungkin ia kecapean setelah bermain bola.


Setelah aku mendapatkan rokokku, aku berjalan kembali menuju rumah.


"Nah tuh, tawarin pengantin baru. Di, Di sini bentar." ucap seorang temanku dari arah salah satu rumah warga yang memang setiap harinya ramai, karena ada warung kopi dan juga tersedia WiFi yang berbayar tiga ribu rupiah, bisa sepuasnya.


"Ada apa?" tanyaku dengan berjalan menghampiri mereka.


"Ini aku mau nawarin barang." jawabnya dengan merangkulku dan membawaku duduk di meja yang sepi.


"Hah? Barang apa?" sahutku cukup terkejut. Jangan-jangan ia menawariku barang seperti dulu lagi. Sungguh aku tak ingin membuat istri dan anakku menungguku yang mendekam di dalam penjara lagi.


TBC.

__ADS_1


Semoga itu kawannya gak nawarin yg tidak-tidak. 🧐


__ADS_2