Sang Pemuda

Sang Pemuda
80


__ADS_3

GC author senyap kali tak ada yg mau masuk 😜


***Jangan lupa LIKE, VOTE juga ya 😊


Happy reading 😍***


"Abang kabarin Umi kalau sakitnya kambuh lagi. Terus telpon Umi juga kalau ada apa-apa sama Dinda. Kasian Givan takut tak ada yang urus di sana. Mana belum makan lagi." ucap umi yang membuatku cukup terkejut. Alhamdulillah, umi masih memiliki peduli pada Givan.


"Ya Umi. Jangan lupa di bawa ponselnya." sahutku kemudian dengan mengantarkan umi dan Givan masuk ke dalam mobil Jefri.


Aku tersenyum dengan berdada ria pada Givan yang melambaikan tangannya padaku dari jendela mobil.


"Ada apa ya Mas? Kok rumah Teh Dinda banyak mobil sekali?" tanya tetangga sebelah kiri.


"Dinda lagi sakit, Bu." jawabku ramah.


"Oh pantesan. Sakit apa Teh Dindanya?" sahutnya kemudian.


"Pingsan, belum sadar dari tadi. Tapi udah ada dokter yang menangani." ucapku bingung ingin mengatakan apa.


"Oh begitu. Kalau perlu bantuan tinggal ke rumah saja ya Mas. Kebetulan saya RT di sini." balasnya menyahutiku.


"Iya Bu." jawabku ringan.


"Boleh aku lihat keadaan Teh Dindanya?" ujarnya meminta izin padaku. Sebetulnya aku tak mengerti, apa arti kata teh di depan nama Dinda. Seperti yang ia sebutkan. Apa kah itu sejenis kata sambung atau… entahlah. Aku malah jadi bingung sendiri.


"Silahkan Bu. Mari masuk." ungkapku kemudian. Lalu ibu-ibu berumur sekitar empat puluh tahun itu tersenyum dan berjalan mendahuluiku.


"Assalamualaikum." ucapnya saat memasuki rumah Dinda.


"Wa'alaikum salam." sahut Haris dari dalam rumah.


"Masuk aja Bu. Ada di ruang sebelah Dindanya." tuturku saat ia berhenti di ruang tamu.


Lalu ia melanjutkan langkahnya dan melihat kondisi Dinda yang masih memejamkan mata dengan tangan yang terpasang selang infus.

__ADS_1


Terlihat Haris sedang menempelkan stetoskop pada bagian dalam siku di bawah lilitan manset tensimeter. Dengan stetoskop yang sudah terpasang di telinganya.


Lalu Haris menoleh pada ibu RT tersebut dan mengembangkan senyumnya.


Ibu RT tersebut membalas senyum Haris dengan ramah.


"Kalau Mas sendiri siapanya Teh Dinda?" tanyanya padaku.


"Saya kerabat jauhnya. Dan yang pergi sama Givan tadi ibu saya." jawabku sedikit berbohong.


Setelah Haris selesai dengan dengan alatnya, lalu ia ditanya oleh ibu RT tersebut.


"Sakit apa Teh Dindanya Mas Haris?" ujarnya kemudian.


"Sebetulnya tak sakit. Cuma lagi haid, mungkin kebetulan aktifitasnya berat atau dia lagi setres juga jadi terjadi pendarahan. Penurunan tensi yang cukup banyak membuat keadaannya jadi drop. Ini sih tinggal nunggu bangun aja terus diminumin obat agar pendarahannya berhenti. Tapi kalau tak berhenti juga ya terpaksa harus langsung dirujuk." ungkap Haris menjelaskan. Aku begitu khawatir dan syok mendengarnya. Aku langsung terduduk lemas begitu Haris selesai menjelaskan kondisi Dinda.


"Aduh kasihan sekali. Orang tuanya dikabarin belum?" sahutnya dengan prihatin.


"Sudah Bu." jawab Haris yang terlihat santai saja. Aku tak paham dengan Haris. Bisa sesantai itu dia menangani Dinda.


Terdengar suara motor berhenti di depan rumah dan terdengar suara perempuan mengucapkan salam. Aku kira Zulfa yang datang.


"Suster Linda, tolong dibereskan. Terus dipakaikan popok dewasa saja." pinta Haris pada perempuan yang baru datang tersebut.


Ia mengangguk mengerti.


Lalu ibu RT menawarkan dirinya untuk membantu suster tersebut, "Mari saya bantu." ucapnya dengan tersenyum ramah.


"Oh ya silahkan." sahut Haris kemudian.


"Nanti bekasnya biar taruh saja di kamar mandi. Biar nanti calon suaminya yang bereskan." ujar Haris pada suster Linda.


Sebentar dulu, siapa yang dia maksud calon suaminya tadi.


Suster Linda mengangguk lagi. Lalu ia mulai membentangkan popok dewasa di sebelah Dinda.

__ADS_1


"Aku keluar dulu. Kau cuci tuh bekas darahnya." seru Haris padaku.


Oh begitu, dia berkata aku calon suaminya hanya untuk membersihkan bekas darahnya. Tanpa ia mengatakan aku calon suaminya pun, dengan ikhlas ridho aku pasti mau menyucikan kotoran dek Dinda. Bukan karena apa-apa atau ada maksud lain. Dengan begini saja kan setidaknya aku berguna untuk Dinda. Kehadiranku tak sia-sia.


"Minta kain, Mas. Kain jarik atau semacamnya." ucap suster Linda padaku.


Aku mengangguk mengerti dan mengambilkan kain jarik dari dalam lemari Dinda.


Saat aku kembali, k*malu*an Dinda sedang dibersihkan dengan tisu basah oleh suster Linda. Aku prihatin padanya, pasti ia malu sekali jika sadar dan mengetahui bahwa barang privasinya dilihat banyak pasang mata begini.


Pasti tak jauh beda dengan proses kelahiran bayi. Perempuan jika melahirkan pasti harga dirinya diperlihatkan oleh bidan dan asistennya yang membantu prosesnya. Sebesar itu pengorbanan seorang wanita. Aku laki-laki yang hanya merasakan disunat saja sudah semena-mena terhadap lawan jenisnya. Aku berjanji setelah ini, aku tak akan mempermainkan wanita lagi. Terlebih lagi pada Dinda. Yang membuka mataku hari ini. Terimakasih, dek. Terimakasih telah memberiku pengalaman hari ini.


"Ini Mas, tisunya disiram air dulu sebelum dibuang." ucap suster Linda menyadarkanku dari lamunan.


Terlihat Dinda sedang dipakaikan popok dewasa oleh ibu RT. Dan aku menerima bekas darah Dinda yang suster Linda berikan.


Lalu aku berlalu masuk dalam kamar mandi. Aku merasa sesedih ini saat menyiramkan air pada darah Dinda yang mengalir ke arah pembuangan air. Aku takut kehilangannya, aku amat khawatir melihat darahnya sebanyak ini. Hingga roknya pun basah oleh cairan merahnya.


Setelah aku selesai dan akan menjemur pakaian Dinda ke luar. Aku melihat Haris sudah berada di sebelah Dinda. Ia tengah menyuntikkan sesuatu pada selang infus Dinda.


Aku menoleh ke belakang saat ibu RT mengikutiku keluar.


"Katanya kerabatnya, eh ternyata calon suaminya." ucap ibu RT menyindirku.


Lalu aku tersenyum kecil menanggapinya, "Namanya juga baru calon. Belum tentu pasti jadi suaminya. Mana tau ada kandidat lain yang lebih baik." ucapku merasa miris dengan diriku sendiri.


"Semangat buat Masnya. Aku dukung pokoknya. Tapi lain kali lapor dulu ya kalau Mas dan keluarganya lagi nginep di sini." sahutnya kemudian, lalu ia permisi pulang.


Aku melepaskan kaosku yang penuh dengan keringat. Aku duduk menyandarkan badanku pada tembok rumah Dinda. Pikiranku melayang ke mana-mana. Belum selesai dengan sakitku. Sekarang sudah dihadapkan dengan Dinda yang kondisinya menurun drastis begini. Ditambah umi yang langsung berucap tak merestuiku dengan Dinda.


Rasanya aku sudah pasrah. Biarkan saja apa yang terjadi esok. Entah sakitku yang akan terus berlanjut kah. Toh buat apa juga aku sembuh. Aku tak akan bisa bersatu dengan Dinda juga. Karena aku tak mungkin melawan umiku sendiri. Kecuali Dinda mau berjuang bersamaku untuk mendapatkan restu dari umi. Tapi sepertinya ini akan sia-sia. Tak ada yang aku perjuangkan setelah ini. Biarkan hidupku mengalir apa adanya. Biarkan yang mengirimiku penyakit bosan dengan sendirinya sampai habis masaku.


Aku merasakan mataku memanas. Aku menundukan kepalaku, agar tak seorang pun melihatku yang sedang menangisi apa yang sudah terjadi hari ini.


Andaikan hari kemarin bisa kuputar kembali. Aku akan meminta Dinda selalu bersamaku, aku akan melarangnya setengah mati agar tak pergi seperti malam tadi. Agar tak terjadi kejadian seperti ini. Agar umiku tak tau sisi buruk Dinda yang ini. Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal kita tambahkan suwiran ayam, kecap, dan kuah kuning saja. Agar menjadi bubur ayam.

__ADS_1


Aku merasakan seseorang menepuk bahuku. Cepat-cepat aku menghapus mataku yang sudah basah. Dan aku mendongak menatap orang tersebut.


TBC.


__ADS_2