Sang Pemuda

Sang Pemuda
87


__ADS_3

"Kenapa di USG?" tanyaku kemudian.


"Takut ada gumpalan darah atau semacamnya di rahimnya. Dia bilang subuh tadi dia ngeluarin darah kental sebesar jempol kaki." jawab Haris dengan jelas.


"Tapi nanti, Dek. Lepas darahnya berhenti aja." ucap Haris untuk Dinda.


Dinda mengangguk mengerti. Aku tak tega melihatnya, dia begitu pucat. Dengan mata yang sedikit bengkak. Kenapa dia diam saja subuh tadi. Padahal jelas aku sudah bangun.


"Kalau ada apa-apa kabarin aja, ok?" ujar Haris begitu siap dengan sepatunya. Lalu ia pun pamit pergi dengan mobil yang perlahan menjauh dari halaman rumah Dinda.


"Makan dulu, Bang." ucap Dinda yang masih berada di ambang pintu.


"Abang puasa, Dek." sahutku memberitahunya. Lalu tanpa kata dia pergi masuk ke dalam rumah.


Umi sudah membicarakan untuk aku tinggal sementara di ibu kota J. Tapi aku tak tega meninggalkan Dinda dengan kondisinya yang selemah ini.


Sebenarnya umi biasa saja pada Dinda. Tapi memang dia tak pernah membahas tentang hubunganku dan Dinda. Mungkin umi benar-benar tak menginginkan Dinda lagi untuk jadi menantunya.


Tak lama notifikasi dari ponselku berbunyi kembali. Ternyata notif dari aplikasi novel, terlihat dari layar ponselku bahwa novel Dinda telah update episode selanjutnya.


Ceritanya tentang seorang suami yang masih sering menghubungi mantan kekasihnya lewat handphone, dan diketahui oleh istrinya. Dan di akhir kalimat episodenya, Dinda menuliskan sesuatu lagi, ‘Purnama mengambang, cuma berteman.’ oh ternyata lirik dari sebuah lagu asal negara tetangga.


Apa Dinda menyampaikan pesan tersirat dari hatinya sendiri. Benar memang hubunganku dan Dinda mengambang, tanpa kejelasan yang pasti. Dan benar kalau kami saat ini hanya berteman. Apa sebaiknya aku ungkapkan saja padanya? Tapi jujur aku khawatir malah akan menambah beban pikirannya.


Tapi mana tau kan setelah aku mengungkapkannya Dinda akan punya semangat sehat lagi. Tidak layu seperti ini.


Tapi bagaimana dengan umi. Rasanya percuma aku ungkapkan perasaanku, jika tak bisa membawanya ke jenjang pernikahan. Aku tak ingin mempermainkan Dinda lagi sekarang.


"Papah" sapa Givan yang keluar dari dalam rumah dengan mengembangkan senyum padaku.


"Ya Bang." sahutku dengan menoleh padanya.


"Main yuk. Kata mamah, aku mainnya sama papah aja. Mamah aku lagi nyeri perut katanya." ucap Givan yang langsung naik ke atas pangkuanku.


"Yuk, mau main apa?" tanyaku dengan merapihkan rambutnya yang tak tertata rapih.


"Main pasir. Pake alat kontruksi yang baru itu." jawabnya dengan semangat.


"Memang boleh sama mamahnya?" sahutku dengan memperhatikan dahinya yang memerah karena biang keringat.


"Boleh. Tapi pake pasir ajaib. Yuk ambil di atas lemari pakaian." balas Givan mengajakku masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Pasir ajaib macam mana bentuknya? Papah baru denger namanya." ujarku mengikuti tarikan tangannya.


"Pasir sintetis, Bang." seru Dinda dari ruangan sebelah. Mungkin ia mendengar ucapanku tadi.


Aku baru tau sekarang kalau pasir ada sintetisnya juga. Maklum, aku belum punya anak kecil yang sering bermain pasir. Aku cuma tau rumput sintetis saja. Kalau pasir sintetis, memang aku baru mendengarnya sekarang.


~


Sekarang aku dan Givan berada di ruang tamu dan tengah bermain pasir sintetis dengan menggunakan alat kontruksi yang memiliki remot kontrol.


Zulfa sudah berangkat ke kedai kopi dan umi tengah memperhatikan aku dan Givan.


Kemudian umi mengeluarkan suaranya, "Jangan terlalu berharap. Umi tetap tak bagi restu untuk kau dan juga Dinda." ucapnya pelan. Mungkin agar tak didengar oleh Dinda yang berada di ruang sebelah.


"Kenapa, Mi? Bukannya kemarin Umi yang semangat mojokin aku sama Dinda." sahutku pelan dengan menyembunyikan rasa kecewaku.


"Mungkin Umi sedikit keliru kemarin. Ya memang jadikan kebaikan seseorang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Tapi Dinda udah kelewatan. Dia mabuk, Di! Jangan-jangan dia lebih buruk dari yang Umi lihat kemarin. Umi pengen perempuan yang bisa membawa kau ke jalan yang lebih baik lagi." terang umi sejenak mengambil nafas yang lebih banyak, "Ini sih apa, Di! Udah kau punya riwayat narkotika. Masa dapatnya perempuan yang pemabuk begitu. Kau tobat dari gele dan obat-obatan terlarang, tapi beralih haluan ke minum-minuman keras karena pengaruh dari Dinda. Rasanya percuma, Umi ungsikan kau dari A*** ke C******. Umi minta lepas ini kau jangan berteman lagi dengan Dinda. Umi khawatir kau jadi pemabuk juga nantinya. Yang paham Bang, Umi ngomong begini karena mau kau jadi lebih baik lagi." lanjut umiku kemudian.


Sungguh detik itu juga aku ingin menghilang dengan membawa kabur Dinda dan Givan. Umi tak mengerti aku! Kemarin ia begitu semangat untuk meyakinkanku agar bisa bersama Dinda. Tapi setelah aku yakin dengan perasaanku sendiri dan hatiku sendiri, umi malah menghalangiku. Apa umi kira tak menyakiti hatiku. Aku merasa dipermainkan oleh umiku sendiri.


"Bang…. Bang." panggil umi dengan menepuk-nepuk bahuku.


"Ya, umi." sahutku dengan menoleh pada umi.


Aku mengangguk mengerti. Lalu umi pergi menuju dapur.


Aku melihat Dinda dari tembok kayu yang berlubang itu, ia tengah memainkan ponselnya. Mungkin ia tengah sibuk dengan tulisannya sekarang.


"Dek… Dinda, sini sebentar." seru umi yang memanggil Dinda. Lalu Dinda menyahut dan berjalan menghampiri umi.


Aku merasa bingung sendiri. Aku tak bisa membantah umi, tapi aku tak tega dengan kondisi Dinda yang selemah ini. Nanti siapa yang akan mengurus Givan. Sedangkan Dinda pun terlihat tak mampu untuk mengurus dirinya sendiri.


Tak lama Dinda muncul di hadapanku. Ia duduk di kursi yang paling dekat dengan posisi dudukku. Lalu ia mulai mengeluarkan suaranya.


"Nanti kabarin aja ya kalau butuh aku." ucapnya dengan tersenyum samar.


"Dek, sebetulnya Abang tak tega sama kau. Nanti siapa yang urus Givan. Jangan bilang kau mau minta bantuan dari Haris dan Jefri lagi?" ujarku dengan memperhatikan wajahnya yang terlihat masih pucat itu, "Jangan terlalu dekat dengan kawan laki-laki. Sedikit banyaknya Abang mengerti tentang perasaan laki-laki yang ada di dunia ini. Abang tau di mana titik lemahnya laki-laki. Tak sedikit laki-laki yang menganggap kawan perempuannya sebagai penghibur, atau lebih kejamnya menjadikan kawan perempuannya sebagai penikmat. Abang harap kau paham, Dek." lanjutku tanpa menunggu jawaban dari Dinda.


"Itu kan kau yang begitu sama aku!" sahutnya dengan melirikku sekilas tapi cukup menakutkan.


"Maaf. Tapi memang Abang ada niatan sama kau. Maaf Abang terlambat menyadarinya." ungkapku dengan menundukan kepalaku.

__ADS_1


Ehh, tunggu dulu. Secara tidak langsung aku sudah menyatakan perasaanku padanya. Lalu cepat aku menoleh pada Dinda. Terlihat Dinda tengah menatapku dengan kedua alis yang mengkerut ke tengah.


"Tak romantis ya, Dek? Mana sambil momong anak lagi." ucapku dengan terkekeh pelan. Berharap suasana menegangkan ini cepat mencair.


"Aku paham." jawabnya lirih, "Jadi, nanti Abang tinggal di kota J? Besok-besok nanti aku balik ke provinsi A. Nanti tinggal bilang aja kalau Abang udah siap buat ngelola ladang sendiri." lanjutnya mengalihkan pembicaraan.


"Jangan dulu berangkat kalau belum sembuh. Nanti Abang susulin kau ke sana." sahutku dengan mengembangkan senyum.


"Abang juga harus sembuh dulu." balasnya menyahutiku. Aku mengangguk mengerti.


~


Siang harinya setelah aku selesai shalat dhuhur. Jefri datang dengan membawa beberapa obat untuk Dinda.


"Obat apa itu, Nak?" tanya umi sepertinya ingin tau.


"Ini vitamin K, bisa untuk menstop pendarahannya. Ini beberapa vitamin yang dibutuhkan oleh Dinda." jawab Jefri jelas.


"Masak apa, Dek? Minta makan dong." ucap Jefri dengan menoleh pada Dinda.


Umi terkekeh kecil, "Umi masak ayam kecap sama capcay tuh. Dinda sengaja Umi larang buat masak. Kasian kayanya masih lemes kali." ujar umiku.


"Segini dia tuh kuat, Umi. Dulu dia hampir mati gara-gara pendarahan begini." sahut Jefri akrab.


"Oh dulu pernah juga?" tanya umi sedikit kaget.


"Iya, tapi keguguran. Lain kasusnya." jawab Jefri.


"Mungkin sekarang keguguran lagi. Soalnya kan malam itu Dinda habis minum kayanya." ujar umiku santai. Dinda menatap umi dengan tatapan bertanya.


"Ohh, itu. Minum juga aman kok Umi. Ada aku yang jagain. Dan Dinda memang tak lagi mengandung juga. Kalaupun mengandung kemungkinan besarnya ya anaknya Adi. Dinda pendarahan mungkin lagi banyak pikiran aja, setres bisa jadi salah satu pemicunya." ungkap Jefri berbicara macam-macam. Apa maksudnya dia mengatakan itu coba.


Umi terlihat begitu kaget dengan menatap tajam pada Jefri. Lalu umi menoleh padaku dan juga Dinda secara bergantian.


"Dek, Abang ambil makan sendiri aja ya?" tutur Jefri memecahkan keheningan yang terjadi.


Lalu Dinda mengangguk, dan Jefri melangkah ke arah dapur.


"Dinda, Adi… coba jelasin ke Umi." seru umiku mengambil atensi kami.


TBC.

__ADS_1


BUTUH AMUNISI SEMANGAT 😓


BAGI LIKE VOTENYA REKAN 🙏


__ADS_2