
AUTHOR POV
Cahaya merah mulai terbentang di ufuk barat. Seorang wanita berhijab merah muda, bertubuh semampai dan berparas elok tengah berjalan menuju kedai kopi yang terkenal dengan kupi khopnya yang nikmat dan memiliki candu tersendiri. Dia adalah Zulfanizar adik ketiga Adi Riyana. Gadis 20 tahun itu sepertinya sedang marah, terlihat dari raut wajahnya yang tidak bersahabat. Lantaran Abangnya lupa untuk menjemputnya di stasiun kereta api K******n.
Zulfa langsung menerobos masuk ke ruangan abangnya setelah bertanya kepada karyawan kedai, "Abang tega banget sama Zulfa! Zulfa udah...." teriak Zulfa terhenti setelah melihat sosok perempuan yang fotonya berada di sampul belakang koleksi buku-bukunya.
"Kak Adinda ya? seneng banget aku bisa ketemu kakak. Wah kakak aslinya putih banget, mana imut lagi." teriak Zulfa gembira dan langsung memeluk erat Adinda. Adinda tersentak kaget dengan teriakan dan pelukan Zulfa yang mendadak itu.
"Ah iya, senang bertemu dengan mu." balas Dinda yang masih di peluk erat oleh Zulfa
Adi menghela nafasnya, "Udah dek lepasin, bisa mati nanti tuh perempuan yang kau bilang putih imut itu!"
Zulfa lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum ramah ke Adinda, "Maaf ya kak."
Adinda membalas senyum Zulfa, "Gak apa, santai saja."
Zulfa lalu melihat ke arah abangnya, mencium tangan abangnya lalu bertanya dengan lirih, "Abang kenal kak Adinda di mana?"
"Dia kerja di sini dek, maaf abang lupa jemput Zulfa. Abang sibuk ngerjain kerjaan baru dari ayah." tutur Adi dengan mengelus kepala adiknya itu.
"Tapi kan abang udah janji jemput, untung ini bukan kali pertamanya aku ke kota C." tutur Zulfa, "Kak Adinda kerja di sini? Duh kasian banget pasti capek kan kak?" lanjut Zulfa dengan prihatin.
"Udah resiko. Gak apa tenang saja. Mau ikut nge-gym bareng gak yuk?" ajak Adinda ramah.
"Tak usah dek, Zulfa baru datang dari kota J pasti capek." pangkas Adi langsung dan Zulfa mendelik tajam ke abangnya.
__ADS_1
"Abang anter Zulfa atau Zulfa bawa motor abang aja?" tawar Adi memberikan pilihan.
"Zulfa mau disini dulu bang mau makan mau rehat bentar." cetus Zulfa terdengar tidak suka pilihan dari abangnya. Adi merespon adiknya dengan tersenyum manis penuh arti.
"Tapi baliknya jemput aku dulu di sini!" sergah Zulfa saat Adi akan keluar dari ruangannya dengan tas kecil berisi baju ganti untuk berolahraga. Adi hanya menjawab dengan menyatukan ujung jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf o.
ADI POV
Aku tengah duduk di jok belakang motor matic Dinda yang sedang melaju. Terlihat lucu memang, tapi aku menikmatinya. Sebenarnya Dinda tidak begitu pendek. Mungkin sekitar 155cm tingginya. Tapi karena badannya yang padat berisi dengan bentuk mata sipit, hidung mancung kecil dan bibir yang tipis. Memberikan kesan imut pada pemiliknya.
"Kawan aku di tempat gym bagus-bagus loh bang." Adinda berkata yang terdengar lirih karena hembusan angin yang kuat. Aku sedikit mencondongkan kepalaku kedepan untuk mendengar ucapannya lebih jelas.
"Kau merangkap jadi mucikari juga kah dek?" tanyaku dengan maksud bercanda.
"Memang. Rencananya kau juga mau ku jual di sana!" cetus Dinda terdengar serius. Aku menelan ludah ku kasar. Benarkah aku mau di jual? Pertanyaan yang sekarang ada di benak ku.
Terdengar Dinda tertawa geli. Aku bingung menyikapinya. Jangan-jangan dia hanya mengerjaiku.
"Kau ngerjain abang dek? ah sialan kau. Kesal kali abang sama kau." tukas ku dengan jelas. Ku rasa Dinda ini senang sekali bikin aku kesal.
"Kenapa kau ini mudah terpancing sekali bang? Aku tak seburuk pemikiran abang. Kalau memang aku buruk pun tak akan mengajak anak baik-baik untuk mengikuti keburukanku." ucap Dinda menebak pikiran jelek ku.
Aku jadi merasa di jaga baik olehnya. Karena yang ia tau aku jelas anak baik-baik apalagi aku berasal dari daerah yang kental dengan agama.
Akhirnya aku menceritakan tentang kebodohan ku di atas motor yang melaju sedang itu. Dinda menyimak sesekali menganggukan kepalanya mengerti dan beberapa kali meminta ku untuk sedikit memundurkan posisi duduk ku. Sampai tak terasa telah sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
"Alhamdulillah sampai dengan selamat. Aku kesal sekali sama kau bang." ucapnya sesaat menurunkan standar motornya.
"Pokoknya jangan kau ulangi lagi bang." Dinda berdiri dari duduknya dan turun dari motornya.
"Abang tak melakukan apapun pun. Apa sih kau ini." cetus ku setelah berdiri dan berjalan mencari tempat aman, karena banyak motor yang datang.
"Aku paling gak bisa ada yang ngomong dekat sekali dengan area tengkuk ku, apalagi telinga ku. Bersyukur kau bang kita tadi tak kecelakaan lahir batin." ujar Dinda berjalan di belakang ku menahan kesal. Aku berhenti mendadak mendengar ucapannya. Oh, ternyata itu daerah sensitifnya. Pantas saja dia nampak gelisah tadi. Aku terkekeh pelan.
Dinda menabrak punggung ku karena aku berhenti mendadak dan asik dengan pemikiran ku sendiri, "Mau berhenti kasih rambu-rambu dulu napa!" seru Dinda. "Duh sakit betul hidung aku." Dinda menggerutu dengan mendahului ku. Kenapa aku malah tersenyum tidak jelas begini.
"Cepat lah bang kenapa kau lama sekali!" teriak Dinda yang sudah sampai pintu. Aku langsung menyusulnya dan di arahkan Dinda ke toilet.
"Dek kau tak tahan sekali kah sampai ngajak abang ke toilet?" tanyaku heran.
Dinda tertawa geli ke arahku. Aku pun ikut mentertawakan hal yang tidak jelas ini.
"Ganti baju bang Adi!" serunya di antara tawa kami.
"Oh, jadi?" ucapku yang lebih lama tertawa karena telah salah maksud. Kenapa hal sepele seperti ini terasa lucu sekali dengannya.
Akhirnya kami selesai dengan tawa masing-masing. Dan aku masuk ke toilet khusus pria, Dinda masuk ke toilet sebelah yang khusus untuk wanita.
Aku berganti baju sambil senyum-senyum sendiri. Tak habis pikir aku sama Dinda. Padahal tadi dia terlihat marah, tapi dengan sekejap dia tertawa dengan kekeliruan ku yang menurut ku tidak begitu lucu. Tapi dia tertawa renyah karena itu. Tawa yang terdengar candu di telinga ku.
Dinda sudah menunggu ku di depan toilet. Biasanya perempuan yang lama. Apa aku tadi sambil melamun jadi nampak aku yang lama sekali. Dinda hanya berganti pakaian dengan kaos putih longgar di bagian luar, ia seperti menggunakan baju dobel terlihat dari kaos lengan panjang ketat yang nampak dari siku sampai pergelangan tangan. Di padukan dengan celana olahraga ketat berwarna hitam dengan part belakang yang tertutupi kaosnya, sepatu sport tentu saja dan hijab style yang tidak menggangu aktifitasnya. Dinda selalu terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.
__ADS_1
Aku hanya mengenakan kaos putih, celana training panjang dan sepatu sport. Sederhana sama seperti wanita bertubuh tinggi, dengan mata bulat menatap kearah ku. Hah, dia ada di sini juga.....
TBC.