
Sudah terhitung tiga hari aku tidak menghubungi Devi. Nomor kontaknya sengaja aku blokir untuk sementara. Bukan aku berniat meninggalkan Devi tanpa memberinya keputusan yang jelas. Aku masih ingin bersamanya, tapi sungguh aku tidak nyaman dengan sifatnya yang demikian. Dia terlalu banyak bertanya, mengatur, melarang, dan harus izin ini itu dulu sebelum aku melakukan aktifitas lain. Macam seperti anak baru kenal pacaran, selalu ingin berkomunikasi terus lewat ponsel, aku juga kan punya kesibukan lain. Sedangkan aku baru menyesuaikan diri dengan pekerjaanku. Coba bayangkan saja gimana pusingnya aku.
Lima belas menit lagi jam makan siang. Beberapa menu makanan sudah terlintas dipikiranku. Aku keluar dari ruanganku untuk buang kecil di toilet kedai. Setelah selesai aku masuk kembali ke ruanganku, saat aku hendak duduk di kursiku dengan tubuh yang sebentar lagi akan menyentuh kursi. Tiba-tiba pintu terbuka lebar dengan anak laki-laki berlari menuju ke arahku, "PAPAH ADI" teriaknya terdengar nyaring dan begitu mengagetkanku sampai aku reflek berdiri lagi dan mendorong kursi ku. Aku kira kursiku bermasalah, dengan teriakan yang terdengar tiba-tiba saat aku hendak duduk tadi. Eh, ternyata Givan yang datang dengan membawa mainan robotnya.
"Papah Adi, coba tengok aku punya mainan baru. Papah pasti gak mampu beliin aku ini!" ucapnya dengan menunjukkan mainan robotnya. Ngeremehin aku ini anak. Dia belum tau saja berapa hektar lahan kopi milikku. Huh, lagian kalaupun dia tau pun tak akan paham berapa hasilnya yang aku dapatkan.
"Coba papah tengok. Hm, jelek ini! Buang aja ya? Nanti papah belikan yang baru." sahutku berakting ingin membuang mainan. Coba lihat dia malah terlihat biasa saja. Biasanya kan anak-anak akan nangis atau bagaimana kalau mainan barunya hendak dibuang.
"Ok, yuk beli." ajak Givan menarik tanganku. Oh aku paham, dia tadi memancingku dengan cara meremehkanku. Aduh rugi besar aku, gara-gara salah ucap tadi. Tau begini akhirnya, tak akan aku bilang nanti papah belikan yang baru tadi.
"Hmm, pintar kali kau! Siapa yang ajarin hah?" tanyaku sambil mengangkatnya dan duduk di pangkuanku. Tapi dia malah terkekeh, aku jadi gemas. Ku ciumi pipinya, dia menahan kepalaku dan berseru geli. Mungkin kumis dan jenggotku sedikit tumbuh.
Eh tunggu dulu, ini anak datang dengan siapa. Tak mungkin kan dia datang sendiri ke kedai ini, "Hei bang sama siapa kau kesini?" ucapku saat baru menyadarinya.
"Aku diajak terbang sama robotku." jawabnya dengan mencoba berdiri di pahaku. Jelas ini terasa linu sekali. Langsung ku gendong dia dan aku berdiri, memposisikan dirinya untuk bisa terbang dengan disangga tanganku.
"Terbang sama papah aja lebih tinggi kan?" seruku mengayunkannya. Dia merentangkan tangannya dan tertawa gembira.
Aku terkejut saat ada yang menepuk pundakku. Untung Givan tidak jatuh dari tanganku. Aku langsung menurunkan Givan dan menoleh ke arah belakang. Terlihat Adinda sedang berdiri, tersenyum lebar, dan merentangkan kedua tangannya sambil berkata, "Akupun mau pah terbang macam abang!" ucapnya menyebutku papah dan menyebut anaknya abang.
Ya ampun, rahangku hampir jatuh saking terkejutnya mendengar ucapannya. Dengan badan sepadat itu, dia ingin aku terbangkan juga?
"Oh, mana bisa dek. Bagaimana kalau abang naikin aja dari pada abang terbangin?" bisikku pelan padanya, takut anaknya mendengar gurauanku yang memiliki beberapa arti lain. Lihat, dia malah tertawa dan memukul pelan lenganku.
"Macam kau punya barang besar panjang aja! Berani-beraninya godain aku." tuturnya yang menduduki kursiku. Untung Givan tengah asik dengan robotnya yang mengeluarkan suara tembakan. Jadi tidak mendengar ucapan ibunya yang tidak baik itu.
__ADS_1
"Nih mulut nih. Ada anak kau disini!" sahutku mencubit pelan mulutnya. Dia hanya tersenyum genit dengan mengedipkan satu matanya.
"Aduh, lupa. Aku bawa makanan tadi. Taruh mana ya?" ucap Dinda menepuk jidatnya sendiri dan langsung berlalu keluar ruangan. Memang dia dari mana saja? Givan pun tadi cukup lama denganku.
Aku mengecek ulang data-data milikku dan langsung mematikan laptopku lalu menyimpannya ke tempat yang lebih aman. Aku heran dengan Givan, dia sekecil itu. Ukuran tubuh anak-anak normal. Tapi ruanganku terasa amat sempit untuk aktifitasnya. Lihat dia naik turun sofa, melompat kesana kemari, memutari diriku beberapa kali. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, dan beberapa kali mengusap wajahku kasar. Apa semua anak-anak begini tingkahnya? Aku jadi membayangkan gimana nanti kalau aku punya anak.
"Yuk, makan-makan." ucap Dinda masuk dan membawa wadah makanan kedap udara yang sudah punya nama itu.
"Dek, abang tadi udah bayangin sate taichan. Makan diluar aja yuk. Abang yang bayar!" sahutku mendekati meja didepan sofa panjang. Dinda menyajikan beberapa makanan yang ia bawa tadi di meja itu.
"Bisa tak hargain usaha aku. Masak itu bukan perkara yang mudah. Abang tak hargain jerih payahku." ungkapnya kecewa. Aku jadi merasa bersalah. Aku langsung mengambil sendok dan menyendokan beberapa macam lauk pauk yang tersaji di depanku.
"Jorok! Ambil dan taruh dipiring abang sendiri. Terkontaminasi jigong abang dong lauknya." ungkapnya mendelik kesal ke arahku.
"Heran abang sama kau. Kenapa sih abang selalu salah dimata mu dek?" sahutku melakon.
Aku menoleh kearahnya dengan tersenyum geli, "Oh jadi kalau ada orang salah terus dimata kita, kita minta orang tersebut pindah ke hidung kita dek biar tak salah lagi?" tuturku geli. Dan tertawa renyah setelah Dinda menganggukkan kepalanya. Sepele tapi berpengaruh besar pada humorku. Padahal Dinda tadi tidak sedang melucu. Ku ingat-ingat, setelah sekian lama aku bisa tertawa selepas ini hanya dengan Dinda. Dan beberapa kali Dinda membuat tawaku pecah tanpa berniat melawak.
Hanya dengannya aku merasa jadi diriku sendiri, tanpa berpura-pura menutupi logatku yang asing bagi masyarakat kota C. Tanpa menutupi sifat asliku, dan dia tidak mengubah apapun atas diriku. Tidak seperti Devi, yang menginginkan aku seperti yang ia inginkan.
"Ngelamun lagi! Cepat makan terus ajak aku jalan-jalan!" tuturnya menepuk pahaku lumayan kuat.
"Dek, abang lagi kerja. Kaupun gimana ceritanya bisa sampai disini?" balasku bermaksud menolak ajakannya.
"Tenang aja, nanti aku bantu selesaikan kerjaan abang! Ladang aman sampai lima hari kedepan. Dan juga ada Safar kok yang mengawasinya sementara." jawab Dinda dengan menyuapi anaknya yang tidak mau diam itu.
__ADS_1
"Yakin aman? Abang tak mau merugi gara-gara mempekerjakan kau dek!" ungkapku di tengah kunyahan ku.
"Kau ngeraguin aku bang? Akupun punya beberapa rencana untuk mengubah ladang abang yang dekat dengan jalan besar itu!" ungkapnya berdiri untuk menyuapkan makanan pada anaknya kembali.
"Dek jangan gila. Itu ladang abang punya. Jangan rubah semau kau!" sahutku berhenti sejenak dari acara makanku.
"Lihat aja nanti!" ucapnya santai. Aku tak mengerti dengan jalan pikirannya.
~
Setelah selesai makan siang bersama di ruanganku tadi, Dinda mengajakku ke butik langganannya berniat memesan pakaian seragam untuk dirinya, anaknya, Jefri, Haris beserta anak-anaknya, dan juga aku katanya.
Dia menanyakan padaku pestanya bertema warna apa. Aku menjawabnya bebas, karena pesta pernikahan Edi hanya di hadiri saudara dan kerabat dekat saja. Hanya pesta sederhana.
Dinda menjatuhkan warna merah marun untuk pakaian seragam kami nanti. Dia tengah mencoba beberapa model gaun dan meminta pendapatku. Aku memilihkannya gaun dengan model sederhana dengan kain brokat yang menghiasi bagian atas sampai ke pinggangnya saja, dan dari pinggang kebawah dengan potongan seperti payung yang terlihat anggun untuknya.
"Ketat sekali, dada aku nampak besar kalau begini!" serunya merasa tidak cocok dengan pilihanku.
"Kan nanti kau pake hijab dek. Atur ajalah hijab kau yang sekiranya bisa menutupi beban hidup kau itu!" sahutku santai. Memang benar sih, terlihat begitu mangkal dan menggantung alami. Mungkin karena sudah menyusui anak juga pikirku.
Dia melanjutkan mencari beberapa referensi gaun lain dari karyawan butik tersebut. Tapi tetap menjatuhkan pilihannya pada gaun yang kupilihkan tadi. Dasar betina, buang-buang waktu saja.
Dan Dinda hanya memilihkan untuk para laki-laki, dan anak-anak kemeja panjang marun dengan bahan sama seperti kain gaun bagian bawah miliknya. Pakaian milik Kin hanya dress tanpa lengan sepanjang lutut dengan warna yang senada dengan kami juga. Setelah selesai, karyawan mentotalnya dengan jumlah 9,5 juta. Aku lemas mendengarnya, benarkah sebesar itu. Kenapa dia tidak beli bahan dan membuatnya di tukang jahit saja sendiri.
Dinda menoleh kearah ku, tersenyum lebar dengan mata yang memancar. Aku langsung mengalihkan pandanganku, pura-pura tidak melihat kode yang ia berikan.
__ADS_1
"Hei abang, cepat bayar! Atau kau ku gadaikan disini!" ucapnya padaku. Aku menoleh cepat mendengar ucapannya itu. Dasar gila, bagaimana mungkin aku akan di gadaikan dengan beberapa pakaian saja. Terpaksa aku mengeluarkan kartu platinum milikku dan menyerahkannya pada kasir butik yang tengah tersenyum menatapku. Awas aja kau dek, lepas ini kau yang akan kujual.
TBC.