
Happy reading
Jangan lupa LIKE, VOTEnya ya rekan. 😉
"Coba Dek minta bantuan Givan." pintaku penuh harap.
"Kau jangan bawa-bawa anak aku Bang. Kau yang ikhlas, berdoa, minta petunjuk dari Allah. Kalau memang kau sudah tau siapa pelakunya, kau datangi dia, kau minta maaf kalau memang kau salah, terus diomongin baik-baik masalahnya apa. Jangan kau balas balik sikapnya yang demikian ini." ungkap Dinda yang sukses membuatku ingat dengan tingkahku yang selalu mengambil keperawanan gadis-gadis sebelum aku menikahinya, tapi sungguh aku tak berniat meninggalkan mereka.
"Jangan ngelamun Bang Adi." seru Dinda turun dari ranjang dan berjalan untuk mengambil air minum.
"Temani Abang berjuang, Dek." ucapan yang lolos begitu saja dari mulutku. Dinda dan Edi serentak menoleh padaku.
Edi berdekhem, lalu ia berjalan keluar dari ruanganku. Mungkin ia paham ucupanku mengandung arti yang cukup sensitif.
Sungguh aku takut mati sia-sia. Aku butuh dukungan dan sedikit bantuan dari orang-orang terdekatku.
Jujur aku tak ikhlas, ada seseorang yang menyerangku dengan licik seperti ini. Dia mempermainkan nyawaku, dia mempertaruhkan kehidupanku.
"Mah minum." ujar Givan yang membuyarkanku dari kemelut pikiranku sendiri.
Dinda berjalan ke arah kami dengan air minum di tangannya, "Nih" tuturnya memberikan air mineral kemasan gelas pada Givan.
"Kenyang belum? Lanjut tak makannya?" tanya Dinda untuk anaknya.
"Udah." jawab Givan lalu ia bersendawa, "Alhamdulillah." lanjutnya lagi setelah merasa lega. Anak yang pandai. Aku tersenyum senang dan mengelus kepalanya.
"Papah tuh sholat, minta perlindungan dari Allah. Kalau mau bobo baca tiga Qul, baca doa bobo juga. Tapi niat karena Allah, jangan ada unsur lain. Nanti musyrik." ucap Givan dengan senyum manisnya. Aku dinasehati oleh anak kecil. Aku merasa lucu dengan diriku sendiri.
"Ok siap, jagoan." sahutku mencium pucuk kepalanya.
Tak lama Givan tertidur, lalu aku mengajak Dinda berbincang sejenak.
"Dek." panggilku. Lalu Dinda menyahuti dan menoleh padaku.
"Kenapa Bang?" tanyanya kemudian.
"Abang takut!" seruku dengan suara rendah. Aku hampir menangis memikirkan nasibku sendiri.
Dinda mendekatiku, memelukku dan menepuk punggungku, "Ingat ada aku yang selalu di samping Abang. Ayo mari kita berjuang bersama. Jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja." ucap Dinda menenangkanku.
"Coba ikuti saran Givan tadi, ok?" lanjutnya melepaskan pelukannya.
"Tadi sempat e*eksi, apa mesti mandi besar dulu?" tanyaku sedikit malu.
"Keluar pelumas atau m*ni tak?" Dinda bertanya balik padaku.
__ADS_1
"Pelumas sama m*ni menurut Abang sejenis Dek." sahutku mengeluarkan pendapatku.
"Ya udah, junub sana!" balas Dinda melirikku.
"Kenapa ya Dek, Abang kok pengennya gitu terus sama kau. Apa lagi sejak kau nyerang Abang duluan, Abang ngerasa punya amunisi lebih buat nyerang kau kapan aja." ungkapku mengungkapkan apa yang aku rasa jika sedang berada di dekatnya.
"Karena aku barang bagus. Sebelumnya betina-betina kau tak ada yang sebagus aku." ujarnya penuh percaya diri.
"Sok tau kau!" seruku menjitak pelan kepalanya.
"Memangnya kek mana bentuk mantan-mantan kau? Terus berapa banyak?" tanya Dinda yang membuatku berpikir sejenak.
"Yang pertama tuh Salma, Abang lepas perjaka sama dia." ucapku dengan mengingat kejadian dulu.
"Salma perawan Bang?" tanya Dinda yang mendapat anggukan dariku.
"Gimana bentuk Salma?" tanya Dinda lagi.
"Biasa aja, pendek macam kau. Terus kulitnya hitam manis." ucapku dengan mengingat rupa Salma.
"Terus siapa lagi?" tanya Dinda yang sepertinya sedang mengintrogasiku.
"Masa iya Abang mesti sebutin satu-satu Dek!" protesku padanya.
"Gantian ya?" ujarku yang mendapat gelengan kepala dari Dinda, "Abang bagi tau semua, tapi kau tak begitu sama Abang." lanjutku kemudian.
"Aku punya privasi Bang." jawab Dinda dengan wajah serius.
"Kau kira Abang tak punya privasi? Coba seberapa percaya Abang sama kau? Sampai barang privasi Abang pun, Abang tunjukkan langsung depan mata kau." ungkapku berharap ia mau membuka sedikit tentangnya.
"Kalau itu sih dasarnya kau gatal sama aku!" serunya dengan wajah sombong. Aku terkekeh kecil melihat tingkahnya.
"Kalau tak mau cerita aku tidur nih." ancamnya dengan mengambil bantal guling yang berada di sampingku.
"Ok ok, Abang cerita. Kau jangan dulu tidur. Temani Abang dulu, ok? Abang belum ngantuk." tuturku. Entah mengapa aku selalu kalah dengan Dinda. Padahal cuma ancaman seperti itu. Tapi enggan aku menantangnya.
"Terus siapa lagi abis Salma?" tanya Dinda kemudian.
"Revi, hmm Revi Kartika. Itu juga Abang sempet tidurin beberapa kali." balasku jujur.
"Oh, yang bang Jefri ke kondangan minggu lalu itu ya? Eh iya bukan sih? Soalnya Bang Jefri pajang di medsosnya terus ngetag Revi-Revi gitu." tukas Dinda yang duduk di tepian tempat tidur dengan menghadapku.
"Iya Dek, Revi yang nikah minggu lalu." sahutku membenarkan.
"Terus siapa lagi?" tanyanya masih membahas tentang ini.
__ADS_1
"Eh Dek kau mau jajan tak? Coba cari cemilan lewat G*food, Abang ada voucher gratis ongkir nih." jawabku dengan memainkan ponsel membuka aplikasi ojek online. Sengaja aku mengalihkan perhatiannya dari pembicaraan ini.
"Udah lah, kalau tak mau bahas tak usah ngalihin juga. Dah lah, aku mau tidur." sahutnya terdengar sewot.
"Iya iya, sini coba sambil sandaran." balasku menarik tangannya untuk lebih dekat denganku dan bersandar di bahuku.
"Salma, Revi, Nurul, Maya, Shasha." ucapku langsung menyebutkan nama-nama mantanku yang pernah aku tiduri.
"Tak kalah banyak dari aku. Tapi kau macam kaget gitu waktu denger kau bukan yang kedua." ujar Dinda berkomentar.
"Ya kau perempuan, Dek. Tak pantas kau begitu." sahutku dengan menaruh ponselku di paha Dinda.
"Jadi kalau laki-laki pantas begitu?" balas Dinda yang sepertinya sedang ingin berdebat.
"Kalau laki-laki kan butuh pengalaman juga. Kalau istrinya tak puas nanti gimana? Kan jangan sampai istri cari kepuasan di luar." tuturku membela diri.
"Ilmu tentang begitu kan alami Bang. Mereka pasti bisa sendiri mengikuti nalurinya." balas Dinda, "Terus siapa yang paling bagus?" tanya Dinda buka suara lagi.
"Maya paling bagus. Tapi Abang sampai sekarang tak bisa lupa dengan d*sahannya si Nurul." jawabku dengan mengelus Adi's bird.
Dinda menepuk tanganku yang masih berada di atas Adi's bird, ia tertawa dengan mata yang tinggal garis saja.
"Dasar, jangan bilang mulai turn on lagi?" sahutnya dengan beralih menatap wajahku.
"Memang sering turn on. Cuma sejak kenal kau, udah bukan turn on lagi. Tapi udah on fire." balasku yang membuat Dinda tertawa lepas dengan tangan yang ia pukul-pukulan ke pahaku.
"Ketawa terus kau. Udah sana simpan hape Abang di meja samping kau. Terus sini rebahin kepala kau di samping Abang." ungkapku saat tawanya mereda.
"Heh, malu lah. Aku tidur di ranjang sebrang aja tuh. Itu sih tak nampak macam ranjang orang sakit gini." sahut Dinda dengan menaruh ponselku di meja sampingnya.
"Memang itu gunanya buat yang nungguin pasien, Dek." balasku membenarkan posisi kepala Givan, lalu menaruh bantal guling di pinggiran ranjang.
"Kamar Bapak aku di rumah sakit M***a P****n tak ada ranjang macam itu Bang." ujarnya menunjuk spring bed single yang berada di seberangnya. Eh, bapaknya berasa di rumah sakit juga ternyata.
"Tergantung kelasnya, Dek. Bapak memang sakit apa?" sahutku kemudian.
"Darah tingginya kambuh, terus kepeleset." jawab Dinda menurunkan kakinya dari ranjangku.
"Kenapa kau malah sama Abang di sini?" balasku yang mulai merebahkan diri.
"Aku khawatir sama Abang. Terus juga sebenarnya ada yang mau aku omongin." ujarnya yang membuat gerakanku terhenti sesaat.
TBC.
tarik sis,
__ADS_1