
"Am-pun Dek. Bisa habis Abang, Dek!" seruku yang tak dihiraukan oleh Dinda. Dinda duduk mengangkang di atas pangkuanku. Dengan agresifnya Dinda menciumi wajahku. Mataku hidungku juga tak luput dari sasarannya. Tangannya tidak tinggal diam, meraba perut dan dadaku. Ia membuka kancing teratas kemejaku.
"Stop Dinda, berhenti sekarang atau Abang tak akan kasih kau ampun!" ucapku memberinya peringatan, namun ia malah meraup bibirku. Menyesapnya dan lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Setelah puas dengan bermain di mulutku dia berpindah menyumbui leherku. Aku merasakan sedikit hisapan di leherku. Dia bernafsu atau hanya mengajakku bercanda? Jujur aku tidak memberikan perlawanan yang berarti, aku sangat menikmati ini semua.
"Yuk, kita ke kamar aja. Rupanya kau tengah ingin sekali Dek sekarang." ungkapku dengan suara yang sudah memberat. Dengan dia tak melakukan apa pun saja sudah membuatku hilang fokus. Jadi jangan tanyakan bagaimana keadaan Adi's bird sekarang, ok?
Dia melepaskan diriku begitu saja, "Jadi, berapa banyak aku harus bayar Abang sekarang?" ucapnya dengan tersenyum mengejek. Dia langsung berdiri memberi jarak diantara kami. Sialan, jadi dia hanya mengajakku bercanda?
"Dek, jangan begini kalau ngajak Abang bercanda!" tuturku dengan geram, aku tidak main-main sekarang. Dinda sungguh keterlaluan. Aku laki-laki normal, aku tak bisa dipermainkan dengan cara seperti ini.
Lalu aku langsung menggapainya, dan menggendongnya ala bridal style. Dia meronta minta dilepaskan, "Abang maaf." ungkapnya dengan tertawa. Jadi dia kira aku mengajaknya bercanda.
Aku membuka pintu kamarnya dan mendorongnya kembali dengan kakiku. Aku membanting tubuhnya di atas ranjang. Dan aku langsung naik ke atas tubuhnya lalu mengunci kedua tangannya ke atas kepalanya dengan satu tanganku.
"Gurau aja aku Bang. Hei, lepasin aku lah." rengek Dinda yang langsung kubungkam dengan mulutku.
Satu tanganku yang lain sedang berusaha mengambil jarum pentul untuk membuka hijabnya. Kakinya berusaha untuk menendangku, aku mengapitnya dengan kakiku. Seberapa kuat tenaga kau tak akan berhasil dek untuk melawanku.
Setelah jilbabnya terbuka, aku langsung membuangnya asal dan menarik cepolan rambutnya. Aku tak ada waktu untuk mengagumi keindahannya, langsung aku menyerang telinganya.
Dinda begitu kelabakan dan merapatkan mulutnya sendiri untuk tidak bersuara. Aku mengendus lehernya dan memberikan beberapa tanda di sana. Dinda sudah terlihat pasrah menikmati sentuhanku. Matanya terpejam dan nafasnya sedikit memburu.
Tapi aku masih mencekal tangannya, aku tak mau Dinda membodohiku dengan ekspresinya. Tanganku yang satunya tidak tinggal diam, aku meraba perut datarnya dengan mulutku yang masih aktif menyumbui leher dan telinganya.
Satu desahan lolos dari mulutnya, "Ahhhhh." suaranya terdengar begitu seksi. Aku merasakan milikku sangat sakit, ia meronta minta dilepaskan dari celanaku.
Aku berusaha membuka kepala ikat pinggangku. Setelah berhasil, aku langsung meloloskan ikat pinggangku dan membuangnya ke lantai.
Dinda sesekali membuka matanya, aku ingin ditatapnya. Tapi Dinda lebih suka memejamkan matanya. Aku membuka pengait celanaku dan menurunkan resletingnya. Oh, sial Dinda mulai memberontak lagi.
Aku tak punya pilihan selain menindihi tubuhnya. Aku menggencarkan seranganku pada telinganya dan sesekali menghembuskan nafasku tepat di lubang telinganya.
"Ahhh Bang Adiiiiiih." desah Dinda yang cukup keras. Aku tersenyum senang bisa membuatnya meneriaki namaku.
Tanganku menelusup masuk dalam bajunya dan mencari beban hidupnya yang menggantung dan padat berisi itu. Ini sungguh kenyal, penuh dan menggemaskan. Aku melihat bagian yang kusentuh sekilas. Bajunya yang tersingkap memperlihatkan perutnya yang putih, datar dan sedikit memiliki cakaran yang memudar menandakan perutnya pernah membesar dan mengecil kembali.
"Kita lanjut, ok?" ajakku meminta persetujuannya. Dinda menggeleng tanda tak menyetujui permintaanku.
__ADS_1
Aku tak mau ini berhenti. Aku menarik penutup beban hidupnya dan langsung kuhisap ujungnya. Dinda menggelinjang hebat. Gaya sekali dia ingin menyudahi ini semua. Tubuhnya malah menikmati apa yang aku lakukan.
Aku meraba part depannya melalui bagian atas celana longgarnya. Dinda mencukurnya rapih ternyata. Aku mencari satu kelemahan wanita, agar bisa membuatnya berteriak kembali. Aku menemukannya, oh betapa tegangnya dia. Aku menggosoknya perlahan dan berhasil, "AKHHHH ABANG." teriak Dinda dengan lepas.
"Bang, aku tunggu di mobil aja ya." suara Zulfa terdengar dengan ketukan pintu beberapa kali. Ah, sial. Aku melupakan Zulfa yang berada di kamar mandi tadi.
Dinda terlihat kaget dengan mata kecilnya yang terbuka lebar. Aku menghentikan aktifitasku sesaat.
"Abang lanjut ya? Abang tak tahan kali, Dek!" ucapku lirih dan mendekati kembali wajahnya. Namun Dinda seolah tersadar dengan apa yang terjadi, Dinda langsung membuang muka memutuskan pandangan kami.
"Dek." panggilku memintanya untuk menatapku kembali. Sungguh aku ingin ini terselesaikan. Biarkan Zulfa menunggu sebentar. Aku yakin Zulfa pasti mengerti aktifitas apa yang sedang abangnya lakukan.
"Abang bakal lanjutin kalau Dinda setuju." tuturku pelan, mencoba menyentuh wajahnya untuk melihatku kembali.
"Turun Bang dari atasku. Aku mau mandi, siap-siap. Silahkan Abang selesaikan sendiri." sahut Dinda enggan menatapku. Aku sudah tak bisa melepaskan mangsaku. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengeluarkan milikku dan mengelusnya perlahan.
Aku tak melepaskan Dinda. Aku menghargainya untuk tidak mau melanjutkannya kembali, "Abang akan selesaikan sendiri, tapi tolong lihat Abang sebentar." pintaku memohon padanya.
"Gila kah kau? Ngapain kau?" ucap Dinda begitu melihat Adi's bird menantangnya.
"Nyelesaiin yang tadi kau buat." sahutku enteng dengan mencari sesuatu yang bisa melicinkan pergerakan tanganku. Lalu aku mengambil baby oil yang berada dalam jangkauanku. Aku meneteskannya pada Adi's bird dan mengurut kembali secara perlahan, tentu saja dengan tanganku sendiri.
"Husttttt, jangan berisik sayang!" balasku dan mulai mendekati lehernya kembali. Aku memejamkan mataku membayangkan bagaimana nikmatnya Dinda.
Dinda menghela nafasnya kasar, "Jangan kau tiup-tiup kuping aku! Kau kira aku nasi panas kah Bang?" seru Dinda menolak perlakuanku. Aku tersenyum geli. Apa dia tak mengerti aku sedang butuh konsentrasi penuh. Malah ngelucu pula dia.
"Kalau kau tak mau mendesah buat Abang, lebih baik kau diamlah. Jangan ganggu Abang." tuturku memberitahunya. Sepertinya Dinda memahami keinginanku. Aku mendekati wajahnya, mataku tertuju pada bibirnya yang memucat dan menjadi sedikit tebal mungkin efek terlalu banyak kusesap.
Dinda menurutiku, memberikan respon baik dengan membukakan mulutnya.
"Bang, cepetan! Bang Jefri udah nelponin aku terus." teriak Zulfa dengan menggedor-gedor pintu kamarku. Dasar adik kurang ajar kau Zulfa. Kesal betul aku, dia menggangguku terus.
"Bentar lagi Dek!" seruku untuk Zulfa. Dinda menahan tawanya melihatku kesal karena Zulfa.
"Awas aja kau Dek! Sekarang kau masih selamat." ungkapku dan menyerang lehernya kembali. Aku merasa sedikit lagi aku akan sampai. Aku mengurutnya lebih cepat. Ototku mengencang berbarengan dengan cairan putih yang tersembur dari Adi's bird. Aku menggeram tertahan menyebutkan nama Dinda.
Terlihat Dinda tersenyum samar. Sepertinya dia amat puas mengerjaiku sampai sejauh ini.
__ADS_1
Aku menindihinya, rasa lengket menyatukan aku dan Dinda.
"Geserlah Bang! Kau ini berat sekali!" seru Dinda menepuk punggungku.
"Biar seperti ini dulu, Dek." jawabku pelan. Kapan lagi aku akan bisa menindihinya seperti ini coba. Namun tak lama Zulfa meneriakiku kembali. Sekarang dengan ancaman dia akan membuka pintu kamar dan melaporkannya pada umi.
Aku menggeser tubuhku dan berbaring di sebelah Dinda, "Dasar tak punya k*m*l*an kau!" ucap Dinda bangkit dan mengambil tisu untuk membersihkan kelengketan yang telah aku berikan.
"Kau tak lihat tadi? Abang punya besar kan? Panjangkan? Tak perlu ukur-ukur lagi. Abang tunjukkan langsung di depan mata kau!" jawabku memasukan kembali Adi's bird yang sudah lemas.
"Maksud aku, kau tak punya rasa malu!" sahut Dinda dengan melemparkan tisu bekas padaku.
"Ya berarti kau yang salah ngucapinnya. K*m*l*an dan rasa malu itu arti yang berbeda!" balasku memejamkan mata.
"Aku mau mandi dulu." tutur Dinda yang langsung keluar dari kamar. Aku merasa lega sekali.
Terdengar gedoran pintu lagi, "Bang Adi. Aku buka nih pintunya." Zulfa berseru dan membuka pintu secara langsung.
"Bau apa ini? Jorok banget!" ucap Zulfa memegangi hidungnya dan menutup kamar kembali.
~
Aku dan Dinda sudah membersihkan diri. Aku membantu Dinda melepaskan selang gas dan mengamankan listrik rumahnya. Sekarang aku sudah berada di dalam mobil. Dengan Dinda yang mengemudikan mobil dan aku duduk di sampingnya dengan mata yang terpejam.
"Berani terang-terangan begini ya Bang! Awas aja nanti aku ceritakan pada umi." Ungkap Zulfa terdengar kesal.
Terlihat Dinda melihat Zulfa dari kaca spion tengah, "Tadi akak gak ngapa-ngapain kok sama Abang." ucap Dinda santai.
"Gak ngapa-ngapain kok kenapa bisa leher Abang ada merah-merahnya, di bawah dagu akak pun ada. Cuma tertutup dengan hijab yang akak pakai aja!" seru Zulfa dengan marah. Sepertinya aku terlalu lama membuat Zulfa menunggu.
"Nanti Abang traktir Zulfa apa yang Zulfa mau, ok?" ucapku bernegosiasi dengan Zulfa, "Asal, nanti Zulfa tutup mulut rapat-rapat. Gimana?" tawarku melanjutkan ucapanku.
"Hmmmm." terlihat Zulfa tengah berpikir dengan jari membentuk tanda ceklis pada dagunya.
TBC.
Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
__ADS_1
Terimakasih 🥰