Sang Pemuda

Sang Pemuda
79


__ADS_3

VOTE sebanyak-banyaknya ya rekan πŸ˜‰


Jangan lupa LIKE di setiap episodenya 😁


Happy reading


"MAMAH BANGUN!" teriaknya lebih kuat. Namun Dinda tetap tertidur tanpa ada pergerakan sedikit pun.


Lalu umi datang dan membujuk Givan agar mengikutinya untuk mandi dan makan dulu.


"Tapi Mamah aku tak mati kan?" tanyanya dengan air mata yang berlinangan.


"Tak lah, Mamah kan panjang umur." jawab umi dengan tersenyum, agar Givan tak panik begini.


"Aku pernah liat film India yang ibunya mati di kasur, terus anaknya hampir terjun dari lantai atas buat ambil boneka yang jatuh itu. Aku sedih kali liat anak itu bikin susu sendiri." ungkapnya begitu berada dalam gendongan umi.


Aku tak paham dengan Dinda. Givan masih kecil, sudah disuguhkannya tontonan seperti itu. Atau memang ia sendiri yang memilih film itu. Bahkan game H*y D*y pun ia bisa mainkan. Givan tak seperti anak kecil pada umumnya. Apa memang begini anak-anak yang memiliki keistimewaan sepertinya.


Tak lama terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Dinda. Lalu Jefri masuk dengan Haris yang menenteng tas jinjing di belakangnya.


"Coba kau periksa ulang, aku takut salah perhitungan. Aku udah gemetaran sekali dari tadi." ucap Jefri pada Haris.


"Trauma itu namanya." jawab Haris pada Jefri.


"Tapi waktu awal aku nanganin Dinda, aku tak begitu pun." sahut Jefri saat Haris mulai memeriksa tensi darah Dinda.


"Kan dulu kau tak kenal sama dia." balas Haris yang kemudian fokus pada alat-alat yang ia bawa. Lalu tak ada suara yang terdengar lagi.


Lalu Haris memiringkan tubuh Dinda dan hendak menarik ke bawah rok yang Dinda pakai.


"Hei, kau mau ngapain!" ujarku cepat.


"Aku tak seperti kau. Tenang saja!" sahut Haris dengan mendelik tajam padaku. Sepertinya pertemananku dan Haris memang tidak baik sekarang.


Lalu ia mengecek darah yang terdapat di pembalut Dinda. Dengan cepat ia menutupnya kembali setelah melihatnya.


"Harus diganti nih. Pakaian popok dewasa saja." ungkapnya kemudian.


"Banyak kali kah Ris?" tanyaku kemudian.


Haris mengangguk, "Pendarahan ya banyak." jawabnya cetus.


"Minta Umi pakaikan Dinda popok." pintanya dengan mengeluarkan satu popok dewasa dari dalam tas jinjingnya.


"Umi ngeri sama darah Dinda yang begitu banyak." jawabku kemudian.


"Terus kau gitu? Apa tadi juga kau bukan Umi?" tanya Haris yang langsung kuangguki.

__ADS_1


"Hm, mantap. Menang banyak kau. Kesempatan dalam kesempatan." balasnya dengan tajam.


Saat aku ingin angkat bicara lagi, Jefri langsung mengeluarkan suaranya.


"Bukan waktunya untuk berdebat. Biar aku panggilkan perawat saja kali ya." tuturnya memberikan ide lain.


"Boleh, Ganis aja." tukas Haris dengan menempelkan plester pada perut bawah Dinda. Bukannya dia yang menang banyak. Tadi buka bagian belakang Dinda. Sekarang menyibakkan baju Dinda dan melihat perut Dinda dengan jelas.


"Apa sih Di? Kau ngeliatin aku sampai segitunya!" ucapnya saat aku memperhatikan dengan seksama.


Jefri terkekeh pelan, "Dari tadi dia begitu." ujar Jefri santai.


"Kalau kau mau mau main-main aja sama Dinda, lebih baik kau bersikap sewajarnya teman aja." ucap Haris yang sempat-sempatnya membahas Dinda.


"Udah pikirin aja dulu kondisi Dinda." tukasku tak menjawab ucapan Haris tadi.


Kulihat Haris mengeluarkan kantong infusan, dan selang infus yang masih baru. Ia menyambungnya pada kantong infusan. Lalu ia mencari urat besar yang berada di tangan kiri Dinda. Setelah ia menemukannya ia, ia memulai memasangkannya.


Aku merasa ngeri melihatnya. Aku tak paham kenapa ia sesantai itu. Memang itu bagian dari profesinya. Tapi kenapa terlihat begitu tega saat ia menusukanya pada tangan mulus itu.


Setelah Haris mengatur lajunya air yang mengalir pada selangnya. Lalu ia menggantungkan kantong infusan pada paku untuk tempat bingkai foto dipajang, sebelumnya ia sudah menurunkan terlebih terlebih dahulu bingkai fotonya.


"Dinda udah aman. Tinggal kau jawab aja! Kalau memang tak dijawab itu tandanya betul kau hanya ingin bermain-main aja. Lebih baik kau bersikap sewajarnya pada calon is……" ucapnya langsung kupangkas.


"Nanti Dinda akan kunikahi." sela ku cepat. Haris dan Jefri langsung menoleh kaget padaku.


Ya benar, baru aku menyadarinya sekarang. Saat melihat kondisinya yang seperti ini. Hari ini dia membuatku mengerti akan perasaanku padanya. Perasaan yang selalu kusangkal. Perasaan yang selalu kutolak saat bersamanya. Perasaan yang membuatku amat takut kehilangannya, Adindaku.


"Coba kau ulangi. Takutnya aku salah dengar tadi." balas Haris memintaku mengulangi ucapanku.


"Yang mana?" sahutku yang merasa bingung dan bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa tadi salah mengucap kah?


"Yang tadi sebelum ini." jawab Jefri dan Haris mengangguk.


"Ohh, yang kenapa?" ungkapku kemudian.


"Bukan, t*lol! Yang sebelumnya kenapa." sahut Haris yang sepertinya begitu geram padaku. Aku jadi takut pada mereka yang melihatku seperti akan memisahkan kepala pada badanku.


"Yang mana? Ngeri kali kalian. Ada apa ini?" tuturku jujur.


"Kenapa kau jadi b*doh sekarang, Di?" sahut Jefri kemudian.


"Ya ada apa sebetulnya? Apa aku salah ngucap tadi?" jelasku ingin mengetahui kenapa mereka memandangku seperti ini.


Mereka malah tertawa geli melihatku yang sedang ketakutan ini.


"Gini loh. Tadi aku dengar kau cakap kau mau nikahin Dinda?" ungkap Haris setelah tawanya mereda. Aku memperhatikan ucapannya dengan seksama dan langsung mengangguk saat Haris selesai berkata.

__ADS_1


"Benar begitu?" lanjutnya kemudian.


"Iya, aku mau nikahin Dinda." jelasku kemudian. Oh sekarang aku paham. Tadi Haris memintaku untuk mengulangi kalimat ini.


"Umi tak kasih restu." ucap umiku dengan berjalan melewati kami dengan menggendong Givan yang hanya memakai handuk.


Semangatku luntur seketika, saat aku mendengar umi mengatakan itu. Rasanya seperti terbang tinggi lalu dihempaskan begitu saja. Bukannya dari awal umi mendukungku untuk bisa bersama Dinda. Sampai hati umi mengatakan hal itu padaku saat aku mulai memberanikan diri untuk mengambil keputusan yang tepat.


Apa karena Dinda ketahuan mabuk? Umi langsung memadamkan kembali lampu hijau yang ia berikan. Apa lagi jika mengetahui kalau Dinda seorang perokok aktif dan pembalap juga. Sudah pasti sepertinya umi akan melarangku berteman dengan Dinda.


Jefri dan Haris seperti memahami keadaan ini. Mereka tak membahasnya lagi dan seolah menyibukkan diri masing-masing.


"Jef, Ganis kenapa tak datang-datang?" tanya Haris kemudian.


"Ceritanya panjang. Cari aja perawat lain." jawab Jefri kemudian.


"Jadi kau belum ngabarin perawat yang lain?" sahut Haris kemudian. Jefri mengangguk menanggapinya.


"Gila memang. Tak ada yang becus!" ujar Haris terdengar kesal.


Lalu Haris menghubungi seseorang dengan ponselnya. Setelah ia mengucapkan akan mengirimkan alamatnya, ia langsung mematikan sambungan teleponnya.


Givan keluar dari kamar dengan keadaan yang sudah rapi. Ia menghampiri Dinda dengan mulut yang melengkung ke bawah.


"Mamah, Mamah kenapa? Mana yang sakit?" ucapnya dengan suara yang bergetar.


"Mamah kecapean, Bang. Mamah harus banyak istirahat dulu." sahut Haris menenangkan.


"Abang sana main sama Ken dan adik Kin. Adik Kin udah bisa berdiri sendiri loh, Bang." lanjut Haris berbicara pada Givan.


"Wah, yang betul Bi? Ahh, Ayah belum tau adik Kin udah bisa berdiri sendiri. Yuk ke sana yuk sama Ayah. Ayah juga mau liat adik Kin, ayo Bang?" sahut Jefri membantu membujuk Givan. Oh begitu ya caranya mereka mengalihkan perhatian Givan pada hal yang lain. Terlihat mereka sedang kerja sama padahal sebelumnya tidak ada kesepakatan dari mereka.


"Iya betul, gih main. Tuh sama Ayah juga katanya." balas Haris dengan tersenyum lebar. Aku iri pada mereka. Mana bisa aku membujuk Givan seperti itu.


"Kabarin aku kalau mamah udah bangun." ungkap Givan kemudian.


"Ok siap Bos." ujar Haris dengan memberi hormat pada Givan.


"Umi ikut tak apa. Apa mau di sini saja?" tukas Jefri kemudian.


Umi menoleh padaku. Aku paham umi mungkin akan keberatan untuk mengurus Givan sekarang. Karena jelas umi tak menyukai Dinda sekarang.


TBC.


Hallo semua *reader Sang Pemuda, masuk yuk dalam grup chat author. Di situ kalian bisa ngobrol langsung sama author yang ramah lingkungan ini πŸ˜†


Kita ngobrol-ngobrol santai. Bisa bagi dan dapat poin. Bisa nambah teman juga, bisa kenal author lebih dekat. Mana tau kita tetanggaan ternyata πŸ˜…

__ADS_1


Ditunggu kehadirannya ya 😊


terimakasih πŸ₯°*


__ADS_2