
"Kena kau!" ucapku yang langsung menyergap Givan. Tapi kenapa Givan dan Dinda malah tertawa renyah. Entah angin dari mana, tawanya menular kepada ku.
Amarah ku yang meletup-letup tadi, berangsur menghilang dan di gantikan dengan rasa bahagia yang menjalar di hati. Sudahlah mau gimana lagi, Givan hanya anak-anak. Mungkin dia tidak sengaja tadi.
Tawa kami akhirnya mereda. "Maaf ya bang, aku gak sengaja tadi." ungkap Givan menyesal, "Mana yang sakit bang? Biar aku minta mamah aku buat obati luka bang Adi." lanjut Givan kembali. Sialan, Dinda malah melanjutkan tawanya sesekali menaik turunkan alisnya.
"Maaf ya bang, sini biar aku obati yang sakitnya." sahut Dinda dengan senyum devil.
"Jangan macam-macam kau dek!" ucapku memperingati. Sialan, dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Seru juga godain kau bang." ujarnya, "Yuk ikut sarapan di rumah!" lanjut Dinda. Dan dia langsung menarik tangan ku dan menggandengnya erat sekali. Dengan tangan kiri ku menggendong Givan, dan tangan kanan di gandeng Dinda mana bisa aku menolak ajakannya.
"Dek, dengan kau begini. Sungguh dek Abang takut sekali!" ucapku merasa ngeri membayangkan keagresifannya. Dia langsung menoleh dan menahan tawa gelinya, aku malah ikut tertawa geli dengan melihat ekspresinya demikian.
"Dek, kau kenapa bisa pendek sekali begini?" tanyaku dengan menahan tawa. Melihat tingginya yang hanya sebatas bahu ku saja, kalau dia bersembunyi di belakang ku pun mungkin dia tidak akan kelihatan.
"Macam aku nanya ke abang, kenapa hidung abang sebesar terong." suara anak laki-laki di gendonganku. Kami tertawa dengan obrolan yang tidak berfaedah sepanjang jalan. Rumahnya ternyata berbeda satu komplek dari kejadian Adi's bird kena senter bola.
Rumah yang sama dengan model rumah di sekitarnya. Aku pun masuk mengikuti perintahnya. Dengan sifatnya yang demikian, dan gayanya yang sok kali begitu. Aku mengambil kesimpulan bahwa Dinda menyukai kebersihan. Terlihat dari lingkungan dan keadaan rumahnya.
Ternyata dia tinggal berdua saja dengan anaknya. Rumahnya terdiri dari ruang tamu berukuran 3×3, ruang tivi di samping ruang tamu yang di sekat dinding kayu berukir dan berlubang besar, yang tingginya sampai ke plafon. Dan di dalam lubang di letakan pot berisi tanaman hias khusus. Oh, wow ternyata dinding kayunya bisa di geser. Terdapat rel kecil di atas dan di bawah dinding kayu tersebut. Hanya ada satu kamar yang bersebelahan dengan dapur dan ruang tamu tadi. Dan juga satu toilet. Minimalis dan menarik.
Aku di ajak Givan ke ruang tivi, sembari menunggu Dinda menyelesaikan masakannya di dapur. Aku bertanya kepada Givan "Bang, siapa yang ajarin abang main bola hm? Tendangannya kuat sekali." ungkapku membuka obrolan. Aku masih ingat waktu berkenalan dengannya dan dia minta di panggil abang.
"Papah aku, aku sering di ajak main bola sama papah sama kawan-kawannya. Tapi sekarang gak lagi, papah gak pulang-pulang kerjanya." jawab Givan sambil mengambil cemilan. Aku mengerti mungkin Givan belum paham keadaan yang sebenarnya.
"Oh begitu, terus kenapa main bola kok di trotoar jalan. Kenapa gak cari lapangan?" tanyaku menerima satu toples cemilan yang ia berikan.
"Disini gak ada lapangan, ada juga jauh di sana dekat rumah Abi Haris." jawab Givan.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk-angguk saja. Dan Dinda datang membawa makanan. Aku berkomentar, "Dek, ini sarapan kan bukan makan siang." merasa sedikit aneh dengan makanan yang ia bawa yang menurut ku berlebihan.
"Memang, aku biasa begini bang Adi. Udahlah makan aja, awas aja kalau tak di habiskan!" sahut Dinda menaruhnya di depan ku.
Disini ada nasi putih, tumis kangkung yang terlihat sedikit hitam mungkin di tambahkan kecap, ada juga ayam tangkap. Oh tunggu dulu, dia bisa masak makanan dari daerah ku. Tapi kenapa cepat sekali masaknya.
"Makan bang Adi, tak ada racunnya pun!" ucapnya sambil mengambil makanan yang tersedia di hadapan ku.
"Bukan begitu dek, cuma....." ucapku terpotong oleh ucapannya, "Mau ku suapkan heh?" pangkas Dinda. Aku langsung menggeleng cepat.
Aku mengambil sendiri sesuai porsiku. Aku bertanya ke Givan, "Abang udah makan?"
"Udah ku suapi dia tadi bang Adi. Makan dan diam bisa tak, aku gak bisa konsentrasi makan nih berisik kali kau bang!" ungkap Dinda sewot. Lihat anaknya malah terkekeh. Jadi si cerewet ini butuh konsentrasi kalau makan.
Saat satu suapan masuk ke mulut ku, aku merasa asing dengan rasa tumis kangkung ini. Sedikit berbau seperti apa ya, entahlah aku tidak tau. Tapi kenapa lezat sekali.
Ku lihat Dinda masuk kamar tadi. Mungkin akan bersiap. Tak lama diapun keluar kamar dengan gayanya yang sok itu dan jangan lupakan kacamata gelapnya.
"Ikut yuk bang ke rumah bang Haris. Masih pagi juga kalau harus ke kedai." ucapnya dengan mengambil salah satu sepatu miliknya. Aku hanya mengikuti keinginannya saja. Karena aku pun tak punya kegiatan lain.
Ternyata kami berangkat menggunakan motor matic milik Dinda. Aku berinisiatif untuk menyetir, karena entah kenapa aku tidak percaya dia bisa mengendarai dengan baik.
Sesampainya di rumah Haris, ternyata dia sudah berangkat kerja. Di saat teman-teman ku sukses menggapai cita-cita nya, aku masih berdiri di tempat dan tidak ada pergerakan. Aku pun ingin memiliki arah hidup dan menjadi lebih baik. Tapi dengan cara apa dan aku harus menjadi apa. Masa mau berladang saja sampai tua. Tapi aku tidak menonjol di bidang apapun. Aku hanya mengerti soal ladang, tapi kenapa terlihat begitu-begitu saja. Aku malah mewarnai hidupku di dalam penjara. Apalagi Dinda, di umurnya yang masih terbilang muda dia sudah punya karya yang membanggakan.
Saat aku asik dengan lamunan ku. Dinda menepuk bahuku dan mengajak ngopi di halaman belakang rumah Haris. Memang aku tau maksudnya, udah kepengen ngerokok dari rumah tapi takut ketahuan anaknya mungkin.
Saat kamu sudah di halaman belakang dia malah asik dengan laptopnya ternyata. Akupun memulai obrolan, "Dek, tadi apa yang kau masak?"
"Ayam tangkap, sama tumis kangkung. Kenapa memangnya?" jawab Dinda tetap fokus pada laptopnya.
__ADS_1
"Kok kau tau ayam tangkap? Itu tumis kangkung biasa apa kau tambahkan bahan kimia dek? Soalnya baunya nyengat kali." tanyaku yang memang tidak tau.
"Resep masakan kan bisa di dapat dari Goo*** bang, itu bukan bahan kimia lah bang!" sahutnya Dinda, dia menghembuskan asapnya dulu sebelum menjawab dan di akhiri dengan tawa geli.
"Kok kangkung kau punya lain dek, bau agak nyengat begitu." tanyaku lagi dengan penasaran dengan masih memperhatikan dirinya.
"Namanya terasi, itu dia sejenis bumbu dapur. Pernah dengar kan kau pastinya bang?" jawabnya kemudian.
"Ya pernah, tapi baru kali ini abang makan makanan yang mengandung terasi dek." jawab ku jujur. Adinda tertawa geli dan aku pun ikut tertawa. Heran aku tawanya bisa menular begini.
"Nanti lain kali ku buatkan makanan lain yang kau sebut mengandung terasi tadi" ujar Dinda sekilas menatap ku.
"Memang resep masyarakat kota ini kah tumis kangkung berterasi?" tanyaku mengambil bungkus rokoknya yang tergeletak di meja dan mengambilnya satu.
"Tergantung pada selera masing-masing aja sih bang." sahutnya. Dia bisa menjawab pertanyaan ku dengan jari tetap mengetik. Aku hanya mengangguk sambil menikmati rokok ku.
"Abang tak punya usaha lain kah selain buka kedai?" tanya Dinda kemudian. Aku malah tersinggung mendengar pertanyaannya.
"Itu kedai milik ayah abang dek. Kau asli mana sih Logat bicara kau lain dari orang sini!" balasku untuk mengalihkan pembicaraan yang menyinggung ku.
"Aku asli orang sini. Aku hanya mengimbangi Abang dan juga aku bisa beberapa bahasa daerah bang" jawabnya dengan sombong dan ekspresi yang menyebalkan itu. Ternyata asik juga orangnya, cuma memang wajahnya menyebalkan begitu kali ya.
"Coba bahasa daerah Abang" tantang ku.
"Boleh, Provinsi A kan?" tanya Dinda menebak.
"Ya dek, provinsi A. B*********h dek A*** Tengah. Cobalah kalau kau bisa. Ku tengok muka kau menyebalkan betul mana sok kali juga kau!" ungkapku yang mulai akrab. Sejenak dia kaget dan tertawa dengan tawa yang selalu menular. Dia beberapa kali menjawab pertanyaan ku menggunakan bahasa daerah ku. Kesimpulan yang aku dapat, mungkin dia sering berpergian jauh. Aku makin iri terhadap nya. Dia punya karya, sudah ada anak, sudah punya rumah sendiri juga meskipun sederhana. Aku membandingkan dengan diriku sendiri, jangankan karya jangankan anak, rumahku yang di daerah ku sana juga peninggalan ayah kandung ku.
TBC.
__ADS_1