Sang Pemuda

Sang Pemuda
84


__ADS_3

😭😭😭


Jangan tega-tega kali sama aku πŸ˜₯ Kenapa LIKE dan VOTEnya makin menghilang 😩


Cukup TG sialan aja yang bikin aku sesedih ini, kalian jangan begitu juga dong 🀦


Namun Adinda langsung memeluk Adi. Adi terlihat kaget dengan pelukan Adinda yang tiba-tiba itu. Tapi ia tetap membalas pelukan Adinda dan mengelus punggung Adinda.


"Kenapa, hm?" tanya Adi merasa hatinya menghangat hanya karena perlakuan mendadak dari Adinda.


"Makasih udah mau ngurus aku." jawab Adinda dengan meloloskan air bening yang keluar dari matanya.


"Sama-sama Dek." sahut Adi seperlunya.


"Cuma Abang yang begini sama aku. Mantan suami aku pun tak sampai segitunya sama aku. Dia cuma cuci bekas nifas aku. Dan itu pun karena disuruh ibu aku. Selebihnya aku urus semuanya sendiri." ungkap Adinda. Sejujurnya ia tersentuh dengan cara Adi yang seperti ini. Hanya saja, ia tak pandai mengungkapkannya pada Adi.


"Itu kan mantan suami kau. Kalau Abang kan calon suami kau. Pastilah tak sama." ujar Adi setelah melepaskan pelukannya. Ia mengembangkan senyum terbaiknya pada Adinda.


"Apa sih Abang? Bikin aku malu aja." ucap Adinda yang bersemu merah karena perkataan Adi tadi.


Lalu Adi sedikit menunduk dan menciptakan suasana yang lebih intim diantara mereka.


Adi tak bosan-bosannya menyesapi bibir yang semakin memucat karena perlakuannya itu. Lalu Adi menempatkan tangannya pada pinggang Adinda. Membuat Adinda terkunci dalam dekapan Adi.


"Sudah kuduga." seru Jefri yang melihat romansa mereka, lalu ia memutar tubuhnya untuk berbalik arah. Ia mengurungkan niatnya yang berniat ke kamar mandi tadi.


"Jefri putus sama pacarnya." ungkap Adi setelah melepaskan mulutnya yang saling tertaut itu.


"Hah, kok bisa? Padahal udah mau nikah mereka." sahut Adinda terlihat begitu kaget.


"Gara-gara kau itu." balas Adi yang melangkah masuk dalam kamar mandi.


"Pelan-pelan jalannya. Abang mau bersihin ini dulu." lanjut Adi kemudian.


Lalu Dinda berjalan perlahan menuju kamarnya.


"Udah c*pokannya?" ucap Jefri melihat Adinda yang hendak masuk ke kamar.


"Apa sih Bang Jef?" sahut Adinda dengan menoleh pada Jefri.

__ADS_1


"Sini duduk." pinta Jefri dengan menepuk kursi di sebelahnya.


"Di kamar aja lah. Aku mau sambil rebahan. Perutnya nyeri kali." balas Adinda dengan memasuki kamarnya.


"Nanti Adi salah paham lagi." ucap Jefri memunculkan kepalanya di pintu kamar.


"Salah paham kenapa? Dia belum ada ngomong apa-apa. Masih bebas lah aku." ujar Adinda dengan mengambil posisi ternyamannya.


"Sih kau begitu, katanya Adi belum ada ngomong apa-apa." jawab Jefri yang melangkah masuk dalam kamar. Namun tidak menutup pintunya.


"Begitu gimana? Aku baru denger ceritanya dari Bang Haris aja. Bang Adi tadi cuma bilang Mahendra kan mantan suamiku, sedangkan dia calon suamiku. " sahut Adinda, kemudian Jefri duduk di tepian tempat tidur dengan sedikit menyerongkan tubuhnya menghadap Adinda.


"Haris bilang apa tentang Adi sama kau?" tukas Jefri serius.


"Katanya bang Adi ada bilang mau nikahin aku. Cuma umi tak bagi restu. Terus katanya lagi bang Adi sampai nangis nunduk diteras rumah. Tak tau bang Haris ngomong betul apa cuma gurau aja." ungkap Adinda menjeda ucapannya sejenak, "Tapi kira-kira kenapa ya Bang, umi sampai tak bagi aku restu begitu. Sebelumnya ia mojok-mojokin aku sama bang Adi terus. Kemarin juga sempet main ke rumah orang tua aku." lanjut Adinda bercerita pada Jefri.


"Terus gimana, Dek? Apa kata ibu sama bapak?" sahut Jefri menyimak cerita Adinda.


Flashback On


Saat Adi, ibu Meutia dan Givan pergi keluar dari rumah orang tua Adinda. Adinda langsung diberi seruan yang terdengar tak nyaman di telinga.


"Dinda, gak punya otak ya kamu! Anak kamu, kamu biarin dibawa sama orang lain! Apa gak ada rasa curiga atau rasa khawatirnya takut-takut Givan nanti diculik begitu." ucap ibu Risa berapi-api.


"Tenang, tenang. Gimana mau tenang, cucu dibawa pergi sama orang begitu." seru ibu Risa mengulang ucapannya lagi. Dengan masih memperhatikan aktifitas Adinda.


"Kamu tau gak? Tadi ibunya Adi itu, dia minta besarin Givan bareng-bareng terus dia minta kamu buat jadi menantunya." ungkap ibu Risa bernada tak bersahabat.


"Pokoknya kamu jangan sampai nikah sama Adi-Adi itu. Dia orang sebrang, lebih-lebih dia dari ujung pulau sana. Jauh sekali. Nanti gimana kalau kamu sama Givan dibawa kaburnya terus tak pulang-pulang lagi." ibu Risa yang masih mengeluarkan suaranya, membuat Adinda cukup terkejut dan tak habis pikir dengan pemikiran ibunya.


"Bu, kalau suami bawa anak istrinya itu bukan dibawa kabur. Tapi dia paham bahwa dia punya tanggung jawab. Dari pada ditinggalkan kan lebih baik dibawa semua." sahut Adinda mengutarakan pemikirannya.


"Ya memang begitu, kalau orang jauh kan begitu. Kalau tak dibawa ya ditinggalkan. Kamu mau begitu?" balas ibu Risa terlihat begitu marah.


"Bang Adi tak mungkin begitu, Bu." jawab Adinda yang sepertinya ingin sedikit berbagi cerita tentang Adi.


"Belajar dari hari kemarin. Mahendra yang hanya perantauan di pulau sebrang aja begitu. Apa lagi Adi yang asli orang pulau sebrang. Jangan-jangan kamu sama Adi memang ada hubungan serius?" tanya ibu Risa.


"Gak ada, Bu." jawab Adinda dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa lagi dia orang punya. Pasti dia semena-mena sama kamu nanti." seru ibu Risa yang meninggalkan Adinda yang tengah mencapur sabun di mesin cuci.


Tak lama ayah Adinda, bapak Sodikin datang dengan Arif, kakak keduanya.


"Assalamualaikum." ucap mereka berdua.


"Wa'alaikum salam. Sahut ibu Risa yang mendengar salam dari suami dan anaknya itu.


"Mana Dindanya, Bu?" balas pak Sodikin begitu masuk dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu.


"Ada di belakang, lagi nyuci. Coba bener gak itu anak Bapak! Masa cucu kita diizinkannya dibawa pergi sama orang asing." ujar ibu Risa melapor pada suaminya.


"Yang benar? Dibawa siapa?" balas pak Sodikin menyahuti.


"Dibawa bosnya yang orang A*** itu." jawab ibu Risa.


"Ke mana, Bu? Ke A***?" tanya Arif cepat.


"Gak tau, katanya sih ke kota." jawab ibu Risa lagi.


"Din… Dinda." seru Arif memanggil Adinda.


Lalu Adinda meninggalkan aktivitasnya dan menuju ke depan, "Ya A, kenapa?" sahut Adinda dengan berjalan.


"Givan mana?" tanya Arif terlihat tidak bersahabat.


"Anu A, dibawa bos aku ke rumah aku disana." jawab Adinda gugup.


"Kamu gak ada rasa khawatirnya sama anak! Kalau udah gak sanggup ngurus anak, udah taruh aja di sini. Biar diurus bareng-bareng sama Ibu, sama Aa." ujar Arif sewot, "Jangan kamu titip-titipkan ke orang begitu. Lagian buat apa mereka bawa Givan ke rumah kamu, sedangkan kamu aja ada di sini?" lanjutnya.


"Ya nanti aku ke sana, A. Cuma nyelesaiin cucian aku aja." jawab Adinda menundukan kepalanya.


"Jadi cucian kamu lebih penting dari anak kamu?" sahut Arif dengan suara yang cukup kuat.


Adinda menggeleng, ia tak bermaksud seperti itu. Tapi sepertinya kakak dan orang tuanya tak mengerti maksudnya.


"Yang bawa Givan, si bosnya itu ternyata pacarnya Dinda. Dia datang ke sini sama ibunya tadi." ucap ibu Risa menambah panas keadaan saja.


"Jangan sama orang jauh, Din. Bapak sama Ibu ini udah tua. Nanti siapa yang ngurus Bapak sama Ibu kalau bukan anak perempuannya. Kalau kamu carinya orang jauh, udah pasti kamu bakal ikut dia. Gimana nanti Bapak dengan Ibumu, Din?" tutur pak Sodikin datar namun penuh penekanan.

__ADS_1


"Bener bosmu itu pacar kamu?" tanya Arif penuh selidik.


TBC.


__ADS_2