
"Haduh, segala kau bawa anak Haris pulak." ucap umi yang terlihat tak suka.
"Dia nangis, minta ikut Abang." sahutku tentu saja bohong. Kalau Kin bisa berbicara pasti ia sudah memprotes ucapanku tadi.
Kin terlihat enggan untuk aku tinggalkan. Ia selalu menangis setiap aku meninggalkannya. Padahal ada umi, ayah dan Retno di rumah ini.
Sepertinya rencanaku berhasil. Umi dan Retno terlihat begitu kesal padaku. Dan ayah yang selalu menggelengkan kepalanya setiap kali melihatku kerepotan dengan Kin.
Tak apalah capek karena anak ini. Yang penting betina itu mundur teratur. Aku harap Retno paham bahwa aku menolaknya secara tidak langsung.
"Ngerengek terus itu anak! Ngantuk itu, Di!" seru umi yang mendengar tangisan rewel Kin.
Aku lalu membuatkan susu dengan cara yang sudah diajarkan oleh pengasuh Kin. Kin yang aku tinggalkan di ruang keluarga sampai merangkak mencariku ke dapur, karena tak ada yang ia kenal di rumah ini.
Aku merasa kasian pada anak yang sengaja aku jadikan alasan ini. Maaf ya Kin, Papah tak bermaksud membuatmu rewel seperti ini.
Lalu aku langsung mengangkatnya dan menggendongnya masuk ke dalam kamarku.
Tak lama Kin tertidur setelah menghabiskan susu formulanya. Aku menaruh beberapa bantal di sekitarnya. Dan aku mulai memejamkan mata seperti Kin.
Terdengar pintu kamarku terbuka, dengan suara seseorang yang menghela nafas panjang. Mungkin itu umi atau ayah. Biarkan sajalah, aku harap mereka mengerti penolakanku akan perjodohan ini.
~
Aku terbangun karena suara tangis Kin. Lalu aku menggendongnya dan mengajaknya keluar dari rumah. Sepertinya ini sudah waktunya jam makan siang Kin. Lalu aku mengambil bubur Tim dari wadah makanan kedap udara yang berada di dalam tas perlengkapan Kin.
Dan aku mulai menyuapkan sedikit demi sedikit ke dalam mulut Kin. Umi datang dan mengambil alih kegiatanku. Namun Kin menolak dan mengunci mulutnya ketika hendak disuapi oleh umi.
Aku tersenyum senang melihat penolakan Kin. Aku tak menyangka ternyata Kin bisa diajak bekerja sama seperti ini.
"Cepet selesaikan terus gantian kau yang makan! Apa Kin mau kau antarkan dulu?" ujar umi yang mendapat gelengan kepala dariku.
"Kin pulangnya sore nanti." ucapku dengan fokus pada Kin.
"Sengaja ya? Kasian Retno datang jauh-jauh dari kota M. Kau jangan bikin Umi sama Ayah tak enak sama keluarga Retno, Bang! Kau tak sopan kalau begini caranya! Nanti gimana kalau dia cerita ke orang tuanya tentang kau yang mengacuhkannya begini." ungkap umi. Aku ingin bertanya balik pada umi, apa umi tak kasian padaku? Namun enggan aku ucapkan.
"Terus cepet anterin Kin pulang!" seru umi kemudian, saat aku hanya diam tak menyahutinya.
__ADS_1
~
Aku sudah mengantarkan Kin pulang. Sesuai permintaan umi. Dan sekarang aku sedang menyantap makan siangku di kedai, dengan ditemani oleh Edo yang berkutat dengan berkas.
"Makan sendiri aja kenapa Bang. Aku sibuk nih. Aku balik ya ke ruangan aku." ucap Edo padaku.
"Ya udah, sana masuk." sahutku kemudian.
Aku bersantai sejenak setelah menghabiskan makananku. Tak lama ada seorang wanita yang langsung duduk di sebelahku. Ia menoleh padaku dengan menyunggingkan senyum ramahnya.
Hadeh, ada saja. Belum tuntas dengan Retno yang masih menungguku di rumah, sudah dihadapkan lagi dengan Farah yang terlihat sengaja mendekatiku.
"Ya ampun, Adi. Kau sakit sampai kurus begini." ucapnya dengan mengelus lenganku.
"He'em, jijik kan kau sekarang aku udah kurus macam ini. Sana kau jauh-jauh!" sahutku terus terang.
"Kenapa sih kau galak gitu." balasnya pelan, "Eh, Di. Nanti malam datang ya di cofee shopku. Ada acara live music loh." lanjutnya dengan tersenyum lebar.
"Aku tak bisa. Aku sibuk." tolakku langsung.
"Hmm, ya udah deh." sahut Farah kemudian memesan minuman untuknya sendiri. Karena terlihat aku masih memiliki minuman yang tersedia di atas meja.
"Terus." responku menyimak cerita Farah.
"Itu istri kau kah? Soalnya pas dia buru-buru pergi, dari dalam rumah muncul anak kecil sambil manggil-manggil dia mamah." tutur Farah yang aku tau siapa yang ia ceritakan.
"Betul itu istri kau?" tanya Farah yang langsung mendapat gelengan kepala dariku. Karena memang kenyataannya Dinda belum menjadi istriku.
"Iya tak mungkin juga seorang Adi nikahannya sepi sampai teman tak pada tau. Pasti seluruh temen-temennyan diundang semua kalau kau nikah kan? Kan secara ladang kau empat belas hektar. Pasti untuk gelar pesta besar tak berasa dikantong kau juga." ucap Farah yang berasumsi sendiri.
"Aku udah tak punya ladang. Itu ladang perempuan itu yang punya." ujarku yang membuat Farah tersedak minumannya.
"Apa?" tanya Farah kaget, ia menoleh padaku dengan mata yang hampir lepas.
"Apa sih Far? Iya, rumah itu dan ladang empat belas hektar itu perempuan itu yang punya. Aku sekarang udah tak punya apa-apa lagi. Makanya lebih baik kau jauhin aku." ucapku kemudian. Aku paham Farah mendekatiku karena ia tau aku memiliki ladang empat belas hektar itu.
"Kenapa kau bisa tiba-tiba bangkrut gitu?" tanya Farah heran.
__ADS_1
"Apa kau jual itu semua untuk buka usaha baru?" lanjut Farah penuh selidik.
"Tak, memang dia ahli warisnya sekarang." jawabku dengan memperhatikan raut wajahnya yang terlihat begitu terheran-heran itu.
"Kok, bisa?" ucap Farah memastikan lagi.
"Bisa Far. Udah ya, aku mau balik." sahutku dengan permisi pergi meninggalkannya sendiri.
Aku rasa, mulai hari ini Farah tak akan mungkin mengirimiku pesan chat lagi. Ya, semoga saja ia tak lagi menggangguku.
Lalu aku masuk ke dalam mobilku dan menjalankannya menuju ke rumahku. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan alasan apa lagi ya yang tepat. Aku sengaja mengundur-ngundur waktu untuk pulang tadi. Dengan makan di kedai dan bersantai sejenak. Namun harus diganggu dengan Farah jetset itu. Padahal ia sudah kaya. Tapi tetap saja masih ingin mencari laki-laki yang kaya.
Aku sudah sampai di rumah. Aku memperhatikan sejenak keadaan rumah yang sepi ini. Apa orang-orangnya sedang beristirahat kah sekarang? Syukurlah kalau memang begitu. Kan aku jadi bisa langsung masuk ke kamar untuk menghindari Retno itu.
Namun, saat aku membuka pintu. Nampak umi yang tengah mengobrol dengan Retno. Sepertinya mereka sedang membahas majalah yang berada di tangan umi.
Lalu umi melihatku. Dan memintaku duduk di kursi.
"Dari mana aja? Kenapa lama sekali?" tanya umiku dengan memperhatikanku.
"Dari anter Kin, terus ke kedai sebentar buat makan siang. Soalnya aku tak cocok dengan menu makanan hari ini." jawabku sekenanya.
"Masa iya tak cocok? Umi kan masak ayam tangkap. Salah satu menu kesukaan kau." ucap umi yang membuatku bungkam.
"Ditemani Retnonya. Umi mau ke belakang dulu. Mau masak menu baru buat kau." ujar umi kemudian.
"Heran, udah besar makan masih rewel aja." gumam umi yang bisa kudengar. Apa umi tak paham aku tadi hanya beralasan saja. Aku mana tau umi masak ayam tangkap. Karena pagi tadi aku makan nasi goreng yang sudah dingin. Tapi tetap kumakan.
"Kenapa sih Bang, kok ngehindar terus?" aduhhhh, sial! Suara itu lagi.
"Bangโฆ" panggilnya dengan menyentuh tanganku. Apa lagi ini, ukhti bercadar kenapa berani sentuh-sentuh begini. Kenapa aku yang malah takut padanya.
Aku menoleh padanya, dan malah mendapati mata seksi itu yang sedang memperhatikanku.
TBC.
VOTE AUTHOR ๐
__ADS_1
LIKE JUGA ๐