Sang Pemuda

Sang Pemuda
73


__ADS_3

Byuuuuuurr


"MAMAH, TOLONG." suara teriakan dari Givan yang sepertinya terperosok dalam kolam ikan.


Dinda menepuk jidatnya, ia menahan tawa gelinya.


Berbeda denganku yang langsung bergerak cepat mangangkat Givan yang berada satu tempat dengan ikan-ikan yang cukup besar itu. Aku begitu khawatir pada anak itu, dan langsung memeluk Givan yang sudah basah kuyup.


"Abang kenapa-kenapa tak?" tanyaku khawatir dengan mengecek keadaan Givan.


"Ini sakit kali, Pah." jawab Givan yang memperlihatkan betisnya yang memerah.


"Kok bisa begini?" sahutku dengan lebih mendekatkan mataku pada betis Givan.


"Keperosok gini." balas Givan dengan mereka ulang adegan kakinya yang masuk dalam kolam ikan. Lalu dirinya tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, dan terjebur dalam kolam ikan.


"Ya udah, udah! Jangan diulang. Nanti nyemplung lagi loh." tuturku menaikkan kaki Givan kembali.


"Nih, bawa anduknya. Sana ke kamar mandi." ucap Adinda setelah selesai dengan tawanya. Aku heran padanya, anaknya pun ia tertawakan. Tak ada kah rasa khawatirnya pada anaknya yang akan dimakan oleh ikan koi. Aku jadi teringat pertemuanku dulu dengannya. Yang bahagia sekali mentertawakan kebodohanku. Eh tak taunya memang kesenangannya melihat orang lain ketiban sial.


"Aku tak mau mandi sama Papah Adi. Nanti kalau Papah Adi pedofil, gimana Mah?" ujar Givan sontak membuatku menoleh padanya.


"Papah bukan pedofil lah. Papah lebih lahap makan Mamah kau, Papah tak doyan makan kau." jawabku kesal sekali dengan tuduhannya.


"Kau bilang harus hati-hati kalau ngomong sama Givan. Kau sendiri pun begitu, Bang!" seru Dinda dengan mengerucutkan bibirnya.


"Cepet, aku bau ikan. Khawatir nanti aku digoreng pula sama nenek." ungkap Givan mencium bajunya yang basah.


"Ya udah cepet sana pergi. Nih handuknya dua." tutur Dinda memberiku handuk lagi, "Cepetan aku mau beresin lantai yang basah nih." lanjutnya kemudian.


Lalu aku pun ditunjukkan Givan ke arah kamar mandi yang berada di sudut paling belakang rumah ini.


Aku sudah selesai mandi bersama Givan. Dengan handuk yang membelit pinggangku, aku masuk ke dalam kamar Adinda bersama Givan.


"Kenapa pada mandi lagi?" sapa ibu Risa padaku yang berpapasan di depan pintu kamar Adinda.


"Aku tadi nyemplung, Nek!" sahut Givan seperti malu-malu.


"Ya itulah, Mamah kamu. Kolam ikan dibikin di dalam kamar. Tau anaknya gak bisa diem tuh. Heran Ibu sih." gerutu ibu Risa yang bisa kudengar.


"Iya tuh mamah kau!" ucapku pada Givan. Givan langsung memukul wajahku dengan tangan kirinya.


"Betina Papah tuh!" serunya sengit.


"He'em, sana bujuk biar mau sama Papah." jawabku dengan maksud bercanda. Lalu aku dan Givan masuk dalam kamar.

__ADS_1


"Bajunya udah aku siapin di atas kasur. Sekalian salinin Givan." ujar Adinda yang hendak keluar dari kamar.


"Bantuin dong, Dek." ucapku mencekal tangannya.


Dinda menaikan satu alisnya, lalu melirik Givan.


"Nanti. Sembuh aja dulu. Aku tak mau kau bengek di atasku." sahut Dinda kemudian.


Ia terlihat sudah berpakaian rapih dengan style hijab sederhana.


Tak ada yang menyangka Dinda sudah memiliki anak, jika penampilannya selalu begini.


~


Kami semua sudah berada di ruang tamu lagi. Umi menanyakan padaku tentang tragedi Givan terjebur. Lalu aku menceritakan secara singkat pada umi yang kelihatannya ingin tahu sekali.


"Dek, ini baju Mahendra kah?" tanyaku pada Dinda, saat ia duduk di sebelahku.


"Bukan. Baju baru, tapi udah di cuci. Rencananya mau aku kasih ke kau, Bang." jawabnya dengan mengutak-atik ponselnya.


"Kau rupanya suka sekali ngoleksi baju laki-laki. Di rumah kau yang di sana juga ada beberapa setel." sahutku pelan. Kami berbicara dengan suara pelan.


"Ini diskonan semua. Itung-itung kan kalau aku punya suami nanti nginep di sana, udah ada baju. Nginep di sini udah ada baju juga. Kan aku juga naruh baju di rumah kau, rumah Bang Haris, rumah Bang Jefri juga. Biar kalau aku nginep apa kehujanan kan ada baju gantinya. Untuk sekarang kan baju suami aku nanti bisa kalian pakai, karena aku belum ada suami." jelasnya padaku. Aku jadi teringat kejadian Dinda yang katanya mulutnya dicengkeram oleh Haris itu. Dinda belum menceritakannya padaku.


"Iya nanti cerita." sahut Dinda ringan.


"Dah siap, ayo berangkat." ucap ibu Risa kemudian.


"Yuk." balas Dinda yang bangkit dari duduknya dan menggandeng Givan.


"Kemana sih kita, Umi?" tanyaku yang mengikuti gerakan mereka semua yang keluar dari rumah ini.


"Katanya sih mau ke ustad yang punya asrama pesantren." jawab umiku yang berjalan di sampingku.


"Ngasih berapa, Umi?" sahutku kemudian. Aku paham uang bukan segalanya, tapi segala sesuatu butuh uang.


"Katanya biar Dinda aja. Nanti tinggal Abang kasih ke Dinda aja." balas umiku. Aku mengangguk paham dan tidak ada percakapan lagi diantara kami.


Dinda memperlambat langkahnya dan menyetarakan langkah kakinya denganku.


"Junub tak?" tanya Dinda lirih.


"Kenapa sih nanyain itu terus?" jawabku dengan melirik padanya.


"Ya karena harus dalam keadaan bersih dari hadas besar dan hadas kecil." sahutnya sambil memperhatikan langkah kakinya yang ternyata menggunakan sendal berhak seperti akrilik bening.

__ADS_1


"Kau pakai yang hak-hakan lagi. Nanti ngerendem lagi di air panas." ucapku yang membuat ibu Risa dan umiku langsung melihat ke arahku.


Aku teringat setelah pesta pernikahan Edi itu, Dinda yang merendam kakinya pada air panas. Saat aku dan Givan baru balik berbelanja dari mall.


"Ini haknya tak tinggi. Aman aja, Bang." sahutnya kemudian dengan memperlihatkan sendal berhaknya itu. Entahlah aku tak tau harus menyebutkan itu dengan apa.


"Sampai paham ya Bang?" ujar umiku dengan tersenyum. Aku paham maksud ucapan umiku.


Entahlah, aku hanya ingin Dinda baik-baik saja. Bukannya aku bawel. Memang karena Dinda yang selalu ingin dikomentari, sepertinya.


"Pakai mobil Abang aja, Dek. Kayanya tak cukup kalau pakai mobil kau." ucapku setelah sampai di depan gang besar.


"Cukup, Bang!" sahut Dinda yang memaksa ingin menggunakan mobilnya. Lalu ia meminta kami menunggu di sini saja. Ia masuk dalam kawasan sekolah. Terlihat ia mengobrol dengan beberapa orang di sana, dan berlalu pergi dengan membawa mobilnya dengan menyerahkan sepertinya uang yang ia beri lewat kaca jendela mobil yang ia turunkan.


Aku mengambil posisi duduk dengan memangku Givan, di sebelah Dinda yang sedang mengemudi. Ibu Risa dan umi duduk di kursi belakang.


"Ini mobilnya kayanya baru lagi Din?" tanya ibu Risa setelah masuk dalam mobil Dinda.


"Gak kok, Bu. Cuma ada beberapa yang diganti aja." jawab Dinda yang membenarkan letak kaca spion tengah.


"Rusak lagi ya? Heran Ibu sama mobil kamu. Mobil beli baru kok sering rusak. Kemarin hampir dua bulan kan dibetulinnya?" sahut ibu Risa.


Aku menoleh cepat pada Dinda. Apa ibunya tak tau tentang Dinda yang masuk penjara dan mobilnya yang kena sita.


Dinda sepertinya sadar denganku yang tengah menatapnya bingung. Lalu ia menoleh padaku sejenak dengan mengedipkan sebelah matanya.


Oh rupanya begitu ya? Serapih itu ia bermain tanpa diketahui keluarganya.


Givan tertawa geli dengan menunjuk ibunya. Kenapa dengannya? Aku tak paham dengan anak ini yang tiba-tiba tertawa.


"Mamah sering gitu-gituin Papah, maksudnya apa Pah?" tanya Givan dengan menyontohkan matanya yang ia kedipkan sebelah namun tak bisa ia lakukan.


"Tak ada maksud. Memang emak kau aja yang genit." jawabku pada Givan.


"Masa iya Dinda genit?" ucap ibu Risa. Sepertinya keluarganya tak mengenal dengan baik dengan sosok Dinda ini.


"Tak kok, Bu. Dinda tak genit. Memang biasanya Dinda seperti apa sih, Bu?" tanyaku yang mencari tahu langsung pada ibu Risa.


TBC.


Biasanya aku CRAZY UP cuma sampai 4 episode. Ini 5 episode sekaligus. 😎


Ayo jangan lupa bagi author LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE seikhlasnya (tapi kalau bisa sih yang banyak 😅) ***dan juga COMENT apa yang harus author perbaiki 😍


terimakasih 🥰***

__ADS_1


__ADS_2