Sang Pemuda

Sang Pemuda
104


__ADS_3

Jefri menurunkankan aku di depan rumah. Lalu ia melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah, karena sebentar lagi dia harus berangkat bertugas.


"Assalamualaikum." ucapku dengan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikum salam." sahut umi yang muncul dari arah dapur. Aku langsung mencium tangan umi. Terlihat dari raut wajahnya, ia sepertinya begitu khawatir padaku.


"Gimana Bang? Abang baik-baik aja kan?" tanya umi dengan menarikku menuju meja makan.


"Abang udah makan, Umi." tolakku ketika umi hendak menyendokan nasi goreng untukku.


"Makan di mana?" tanya umi dengan duduk di kursi yang paling dekat dengan posisi dudukku.


"Aku makan di rumah… di warung nasi jamblang." ujarku yang hampir keceplosan.


"Oh, ya udah. Umi bikinin teh manis ya." tawar umi yang langsung aku angguki.


Aku merogoh ponselku dan mengecek aplikasi chatku. Terlihat beberapa chat yang belum pernah kubuka setelah sekian lama. Ada dari Farah, Dewi, dan Silvana yang masih setia menghubungiku meskipun tak mendapat respon dariku.


Aku bertekad dalam hati untuk mengincar Adindaku saja. Aku sekarang betul-betul tak menginginkan wanita lain.


Kecuali mereka yang menghidangkan daging pada kucing yang kelaparan ini. Tapi semoga tak ada lagi kejadian seperti kemarin. Sungguh aku menyesali perbuatanku dengan Maya di ruang tamu waktu itu. Sebetulnya aku tak menginginkannya. Cuma kegilaanku pada Dinda, membuatku gelap mata. Dengan memakai perempuan lain, dan malah membayangkannya dirinya.


"Nih tehnya, Bang." ucap umi dengan memberiku secangkir teh manis hangat.


"Cerita Bang. Gimana berobatnya? Dan tempatnya di mana?" tanya umi dengan bertopang dagu, dan memperhatikanku.


"Di kota J, Umi. Ya gitu deh, macam di tv. Alhamdulillah sih, Umi. Memang Abang ngerasanya udah jauh lebih baik. Nafas pun udah lega rasanya. Cuma kalau narik napas terlalu dalam, di sini agak sakit." ungkapku menceritakan pada umi dengan menunjuk ulu hatiku yang memang sedikit sakit.


"Nanti masuk ke tv dong. Abang malu nanti." ujar umi setelah menyimak ceritaku.


"Tak masuk tv. Datang ke tempatnya langsung. Nanti minggu depan juga Abang mesti ke sana lagi." tuturku pada umi.


"Nanti Umi ikut ya?" sahut umi yang langsung kuangguki. Lagian tak akan mungkin Dinda menemaniku juga. Ia sekarang sudah akan berangkat ke provinsi A.


Mungkin nanti jika keadaanku pulih. Aku akan menyusulnya ke sana. Aku sudah rindu untuk menghabiskan hariku bersama ibu dan anak yang bermata sipit itu.


Setelah mengobrol dengan umi. Aku langsung mengambil handukku, dan masuk ke kamar mandi. Karena saat di rumah A Arif tadi, aku belum sempat mandi.


Setelah selesai mandi, dan mengambil wudhu. Aku memakai sarung dan baju yang layak untuk menunaikan shalat dhuha. Aku sekarang lebih mendekatkan diri kepada Allah. Jujur aku ingat dosa-dosaku, saat aku di doakan oleh ustad yang mengobatiku tadi. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk masa depanku dan masa depan anak istriku.


~


~

__ADS_1


~


Sekarang aku dan umi tengah duduk di depan rumah, dengan membicarakan wanita yang bersuku batak itu. Jujur aku tak mempermasalahkan suku dan budaya. Hanya saja, aku tak menginginkan wanita lain selain Dinda.


Umi memberitahuku akun sosial media milik Retno itu. Dan juga umi memberikan nomor kontaknya.


Aku dengan terpaksa mengetikan nama Retno Wulandari di kolom pencarian sosial mediaku, karena umi yang memaksa.


Dan aku menemukan beberapa nama yang sama. Namun langsung ditunjukkan oleh umi, akun sosial media milik Retno.


Terlihat beberapa fotonya yang menggunakan kerudung besar berhias cadar. Ia hanya menggunakan pakaian berwarna hitam saja. Dan terlihat matanya yang menggunakan cilak.


Konsep apa lagi ini. Berpakaiannya seperti itu. Namun matanya terlihat sedikit menggoda kaum adam. Mana terlihat ia rajin berfoto-foto lagi. Aku dibuat bingung dengan tingkah perempuan jaman sekarang. Dinda dengan mobil dan pergaulannya. Dan Retno dengan rahasia di balik cadarnya.


"Cantik ya, Bang." tanya umi dengan senyum yang mengembang.


"Tak nampak cantiknya. Tapi matanya macam sengaja ngegoda." sahutku pada umi. Dengan sesekali menghembuskan asap rokokku.


"Itu kan dia lagi bergaya." balas umi terdengar seolah membela Retno itu.


"Besok dia ke sini sama ayah. Ayah sekarang ada di kotanya Retno." ujar umi yang membuatku tersedak asap rokokku sendiri. Aku terbatuk-batuk setengah mati. Umi lalu memberikanku minum segera.


Ya Allah, ujian apa lagi ini. Tau begini, aku ikut Dinda pulang ke provinsi A saja.


"Kaget dia pas Umi bilang Retno besok mau datang." jawab umi menyahuti pertanyaan Edo.


"Ohh…" balas Edo dengan senyum samar.


"Ayo Umi masuk. Aku udah lapar. Umi masak apa hari ini?" ucap Zulfa yang berjalan memasuki rumah dengan menggandeng umi.


"Adik-adik yang tau perhitungan pengeluaran. Untuk makan siang pun pada pulang ke rumah." gumamku seorang diri. Lalu aku bangkit dari bangku kayu panjang ini, dan masuk ke dalam rumah mengikuti mereka semua.


Hari ini, aku merasa masih sangat lelah sekali. Aku hanya ingin tidur dan terus tidur.


~


Sampai esok harinya. Aku hanya bangun untuk shalat subuh dan melanjutkan tidurku lagi sampai siang. Aku merasa badanku seperti habis di pukuli. Di bagian dada pun muncul beberapa ruam biru yang terasa sakit saat di sentuh.


Aku bangkit dari tempat tidur. Lalu aku membetulkan posisi sarungku dan keluar dari kamar hanya menggunakan sarung saja.


Aku memundurkan langkah kakiku dan langsung menutup pintu kamarku kembali, setelah aku melihat sosok bercadar hitam itu tengah bergurau dengan umi.


Gila memang! Jam sembilan pagi ia sudah sampai di sini. Dari jam berapa Retno dan ayah berangkat dari kota M?

__ADS_1


Tok, tok, tok


Terdengar ketukan pintu berulang. Aku langsung mengambil kaos yang bisa kuraih. Dan langsung mengenakannya.


Lalu aku membuka pintu dan nampaklah umi yang mengembangkan senyum padaku.


"Mandi gih! Retno udah datang. Ada ayah juga di luar." ucap umi.


Aku mengangguk dan keluar dari kamar dengan langsung melangkah menuju kamar mandi tanpa menoleh pada Retno terlebih dahulu.


Aku mandi dalam gelisah. Apa maksud umi menjodohkanku seperti ini? Apa ia tak mengerti anak laki-lakinya tengah dilanda mabuk janda?


~


Aku sudah memakai pakaian sehari-hari. Biarlah, aku tak ingin Retno tertarik padaku. Sengaja aku hanya mengenakan kaos dan celana jeans pendek saja. Tentu saja warnanya sudah sedikit pudar, karena aku sering kenakan setiap hari.


Lalu aku keluar dari kamar, dan langsung memanggil umiku yang masih asik mengobrol dengan Retno.


"Kenapa, Bang?" tanya umi yang mengikuti langkah kakiku menuju dapur.


"Aku mau makan, Umi." sahut ringkas. Lalu umi langsung mengambilkan makanan untukku, dan langsung pergi berlalu ke ruang depan kembali.


Setelah aku menyelesaikan acara makanku yang sempat menambahkan satu centong nasi lagi. Lanjut aku mengambil satu buat apel dari dalam kulkas. Lalu aku mencucinya dengan air mengalir, dan langsung mengigitnya.


Apa sekarang aku tengah memasuki masa pertumbuhan lagi. Karena merasa lapar yang amat sangat seperti ini.


Dengan menggerogoti apel, aku berjalan menuju teras rumah dengan melewati umi dan Retno.


Aku sengaja tak menyapanya. Aku sengaja bertingkah seperti ini. Agar Retno ilfeel padaku.


Namun langkahku terhenti saat sudah mencapai ambang pintu, karena mendengar suara serak-serak basah yang memanggil namaku.


"Bang Adi." panggilnya mengalun lembut di gendang telingaku.


TBC.


Aduh, siapa lagi ya ini? 🤔


Semoga Adi bisa bisa menjaga hatinya hanya untuk dek Dinda seorang 🤲


BEK TUWOE, LIKE, VOTE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, COMENT JUGA 😉


YANG BELUM TAP ❤️ FAVORIT, SEGERA TAP ❤️ YA 😅

__ADS_1


__ADS_2