
PERINGATAN!
AREA DEWASA. HANYA UNTUK KALIAN YANG SUDAH MEMBELAH DIRI (eh, manusia ***. bukan amoeba.) UNTUK YANG SUDAH MENIKAH 😂
gurau aja 🤭
HAPPY READING
"Eh May? Ada apa?" tanyaku setelah membuka pintu.
"Ini, Bang. Aku bikin nasi uduk. Dicicipin ya, Bang?" jawabnya dengan nyelonong masuk dalam rumah.
"Oh iya. Makasih." ucapku ringan dan duduk di ruang tamu. Dengan Maya yang sepertinya sedang menuju ke dapur.
"Udah aku siapin di meja makan. Nanti dimakan loh, Bang." ujarnya setelah beberapa menit menghilang dari pandanganku.
Aku mengangguk mengiyakan. Aku memperhatikan gerakannya yang tengah melihat-lihat rumah yang dulunya adalah miliknya ini.
Kenapa ia begitu menggoda. Dengan rok span hitam diatas lutut, dipadukan dengan seragam bank swasta yang melekat pas pada tubuhnya. Apa lagi bongkahan part belakangnya yang tengah melambai-lambai padaku itu.
Sadar, Di! Sadar! Ingat kau lagi bengek. Yang tau diri kau, Di! Aku merapalkan kalimat itu dalam hatiku, berharap imanku menguat.
Tentu saja Maya lebih menang dari Dinda. Namun tetap hanya Dinda-lah yang membuatku segila ini. Dan cuma Dinda pemenang di hatiku. Gilanya aku malah mengingat kejadian Dinda yang sedang memakan es krim itu. Aku malah membayangkan Dinda tengah berlutut di tengah-tengah kakiku. Dengan tangan dan mulut yang lihai memainkan Adi's bird.
Mulut kecil itu, mungkinkah ia mampu mengulum Adi's birdku. Aku memejamkan mataku membayangkan Dinda yang begitu agresif menyerangku. Sungguh Dek, aku menginginkannya, aku merindukannya.
Tiba-tiba pipiku ditepuk pelan oleh seseorang. Sontak membuatku tersadar dari lamunanku. Terlihat Maya yang sedang menatapku dengan senyum yang merekah. Ia seperti keheranan melihatku seperti ini.
Namun ia malah menyentuhku dengan ujung jari telunjuknya. Dengan tatapan yang seksi, dengan ia menggigit bibir bawahnya juga. Cukup membuatku semakin bernafsu. Lalu ia mendekati telingaku, menghembuskan nafas segarnya dengan mengeluarkan suara yang cukup membuatku on fire.
Tentu saja mataku sudah berkabut, mungkin Maya paham sinyal ini. Lalu ia berjalan menuju pintu, menutupnya segera dan langsung menguncinya. Lalu ia duduk di sebelahku dengan bersandar pada sofa dan memainkan ponselnya.
Apa nih maksudnya? Ia menginginkannya juga? Atau ia ingin aku meminta terlebih dahulu.
"Udah berapa laki-laki?" tanyaku sedikit serak. Aku hanya ingin memastikannya saja.
"Baru Abang dan mantan suami aja." jawabnya yang mengerti maksudku.
Aku berjalan cepat menuju kamar, dan setelah mendapatkan barang yang aku cari dari dalam dompetku. Aku membawanya dan menuju ke ruang tamu kembali.
"Kau yang naik, ok?" ucapku langsung dan duduk di tempat yang kududuki tadi.
__ADS_1
Ia menoleh padaku, dan mengangguk. Maya memang selalu semudah ini. Entah aku tak paham juga. Tapi dari dulu ia tak pernah jual mahal padaku.
Tanpa malu, aku langsung membuka pengait celana jeans pendek yang aku kenakan. Dan aku menurunkan resletingnya. Sedikit menggeser celana dalamku, dan keluarlah Adi's bird yang tengah tegak sempurna.
Maya langsung bangkit dari duduknya dan berjongkok diantara kedua kakiku, dengan kakinya bertumpu pada lututnya.
"Sebentar. Pakai ini dulu." ujarku saat ia sudah menggenggam Adi's bird.
"Kenapa sih masih kaya gitu aja? Aku gak nyaman o*al dengan Abang yang udah pakai sarung begitu." sahutnya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ini kan rasa stroberi juga. Biar ada rasanya." balasku setelah sekilas mencium bibirnya yang mengerucut itu. Sebetulnya itu alasanku saja, agar milikku tetap aman saat berkontaminasi dengan mulut atas atau bawahnya.
Ia mengangguk dan memulai tugasnya. Yang aku bayangkan sekarang adalah mulut kecil Dinda yang melakukannya. Aku memejamkan mata menikmati perlakuan Maya.
Cukup lama, ia bangkit setelah mengusap mulutnya dengan tangannya. Ia menarik bajuku, untuk dilepaskannya. Namun aku tolak, jujur aku sudah berada di ujung sekarang.
"Cepat naik. Nanti Umi datang." ucapku dengan menaikkan roknya sampai ke pinggang, dan menurunkan segitiga tiga biru itu.
"Kenapa sih buru-buru banget? Aku belum ter*ngsang juga." sahutnya kemudian.
"Kau tak ter*ngsang pun tapi tetep kl*maks cepat juga." balasku mengingat kebiasaannya dulu dan tersenyum menggodanya.
Aku mulai merasakan Adi's birdku memasuki lubang hangat. Namun rasa Maya sekarang sudah tak senikmat dulu. Beginikah rasanya masuk ke lubang bekas orang.
Aku memejamkan mataku, dengan menikmati rasa yang semakin memuncak ini. Terlihat goyangan Maya yang tak beraturan namun terasa mengayun semakin cepat. Aku membantunya menaik turunkan pinggulnya. Terlihat ia semakin tak terkendali, dan tak lama ia memekik tertahan dengan urat-urat leher yang mengencang. Bertanda ia sudah mendapatkan kl*maksnya.
"Ayo May, cepat. Abang bentar lagi." tuturku dengan meremas bongkahan part belakangnya berharap Maya cepat menaikkan tubuhnya yang sudah lunglai ini.
"Gantian. Aku capek banget." sahutnya yang masih setia memeluk tubuhku.
"Cepet! Nanti Umi datang!" seruku kemudian. Dan Maya langsung menggerakkan pinggulnya ke atas ke bawah lagi.
Aku membantunya mengehentikan lebih cepat dan lebih kuat. Ia menggigit bibir bawahnya dan mendongakan wajahnya ke atas.
"Abang sam… pai….." gerakku tertahan dan menghentakkan semakin dalam.
Aku mengatur nafasku yang memburu ini. Sungguh, meskipun aku berada di bawah seperti ini. Tapi cukup menguras tenagaku juga.
Terdengar nafas Maya yang terengah-engah. Aku melepaskan pelukan Maya dan melihat wajahnya yang dipenuhi dengan keringat itu.
"Turun May. Cepet cabut. Nanti keburu umi datang loh." ungkapku memberitahunya.
__ADS_1
"Kenapa sih nyuruh cepat-cepat aja?" tanyanya dengan mengusap pelipisku yang dibanjiri keringat.
"Nanti umi tau. Kita main di ruang tamu, tau! Dan lagi, napas aku ngap kali ini. Kau berat betul." jawabku dengan kuselingi dengan candaan.
"Enak aja, aku tak seberat itu kali!" serunya dengan bangkit dari atasku. Dan duduk di sebelahku.
Aku memunggut celana dalamnya dan memberikannya pada Maya.
"Abang cuci dulu ya?" ucapku dengan bangun dari posisiku dan berjalan perlahan dengan memegangi celanaku agar tidak melorot. Terlihat Maya terkekeh kecil karena tingkahku.
Di kamar mandi, dengan perlahan aku melepaskan pengaman yang sudah dipenuhi dengan cairanku.
Lalu aku menggulungnya dan membuangnya dalam lubang kloset, dan memflushnya beberapa kali. Langsung aku mencuci bersih Adi's bird yang terlihat sudah tak berdaya itu. Sungguh aku tak merasa bangga, berada di bawah wanita seperti tadi. Itu bukan gaya favoritku. Dan itu tak mencerminkan tentang diriku sekali.
Sesudahnya aku keluar dari kamar mandi, langsung menuangkan air minum dalam gelas dan meneguknya sampai tandas. Ya ampun, rasanya nafasku hampir habis. Dan tenagaku seperti lolos begitu saja. Kenapa aku menjadi selemah ini sekarang.
Maya menghampiriku, dan menanyakan keadaanku. Setelah ia mengetahui aku baik-baik saja. Ia permisi pulang, karena ia harus berangkat kerja sekarang. Sebelum pergi, ia menyempatkan untuk mencium pipiku sekilas.
Maya terlihat begitu senang. Padahal tadi aku hanya melakukannya karena nafsu, dan tentu saja tanpa hubungan yang jelas.
Entahlah kalau Dinda, mengapa ia begitu sulit kumasuki. Tak seperti Maya yang menyerahkan diri begitu saja.
Entahlah, aku lelah sekali. Aku hanya ingin beristirahat sekarang.
Aku berjalan perlahan menuju kamarku, dan merebahkan diri di tempat tidur. Tak lama aku sudah memasuki alam mimpi di pagi hari ini.
~
Siangnya, aku dibangunkan oleh umi. Ia memintaku untuk makan siang. Terlihat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh menit. Lumayan lama juga aku tertidur.
Saat aku memakan makananku, tiba-tiba terdapat kelabang yang berada di sendok yang hendak kusuapkan dalam mulutku.
Aku langsung melempar sendok itu kelantai, dengan kelabang berjalan cepat menyelinap dalam keranjang baju kotor. Sungguh aku terkejut bukan main. Kenapa bisa ada kelabang di makananku. Jelas makanku bersih dan berada di hadapanku sejak tadi. Aku bergidikan dan menyudahi acara makanku. Aku tak habis pikir jika sampai hewan itu masuk dalam perutku.
Lalu aku bangkit dari meja makan dan berjalan cepat menuju umi yang berada di ruang tamu. Namun saat aku mulai melihat posisi umi. Tiba-tiba dari balik pintu kamarku, ada bayangan hitam kecil yang keluar. Dan menabrak dadaku dengan cepat. Aku terlempar ke belakang cukup kuat. Memuntahkan cairan merah dari mulutku, dan sayup kudengar teriakan umi yang lamat kudengar karena kesadaranku yang perlahan menghilang.
TBC.
Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.
Terimakasih 🥰
__ADS_1