Sang Pemuda

Sang Pemuda
SP135


__ADS_3

Tawa Adi pecah saat Adinda begitu kesal dan mencubitinya.


"Orang tuh mesum betul!" ucap Adinda dengan memakaikan Adi pakaian ganti.


"Padahal Adek dulu yang lebih mesum, tapi sekarang kalah mesumnya sama Abang." sahut Adi yang membantu Adinda yang tengah memakaikan celana bahan untuknya.


"Macam mau kerja kantoran aja pakai celana bahan, item pulak. Abang pakai sarung aja tak apa, Dek. Tetap nampak pantas dan manis." balas Adi berkomentar.


"Zulfa yang ambilkan, waktu dia dianterin Jefri pulang." tutur Adinda yang merapihkan pakaian kotor Adi.


Adi terdiam sesaat, "Jadi cemana Zulfa sama Jefri?" tanya Adi kemudian.


"Tak tau pasti, Bang. Tapi memang mereka ada hubungan sejak kita nikah." jawab Adinda yang hanya mengetahui hal itu.


Lalu Adinda masuk ke dalam kamar mandi yang berada di ruangan itu. Ia membuang air bekas bilasan Adi tadi.


"Eh, Bang. Gimana? Apa kata dokter?" tanya Adinda yang baru keluar dari kamar mandi, dan melihat Jefri sudah kembali dengan Givan.


"Aku tak berhasil lobi dokternya. Haris lagi ngusahain sekarang." jawabnya yang menurunkan Givan di tempat tidur Adi.


"Kau kan cuma pandai lobi betina." sahut Adi menimpali ucapan Jefri sambil menciumi putranya.


"Tak macam itu juga, Di." balas Jefri begitu pelan.


"Awas aja sampai kau tinggalin Zulfa. Kuteteli organ dalam kau!" ancam Adi dengan mendelik tajam pada Jefri.


"Iya, tenang aja. Kecuali adik kau yang ninggalin aku sendiri. Itu lain ceritanya." tukas Jefri yang membuat Adi semakin ingin menjotosnya.


"Ya kau usahain, Bang. Contoh dong suamiku." ucap Adinda membanggakan Adi. Dengan menepuk pelan dada suaminya.


"Apa yang harus dibanggakan? Udah licik, kena grebek pulak!" ejek Jefri setelah meneguk air mineral kemasan.


"Setidaknya aku udah berusaha semaksimal mungkin. Aku samperin dia sampai ke provinsi A. Dinda berulang kali tetap nolak aku, ya aku tak ada cara lain selain maksain kehendak aku." sahut Adi membela diri.


"Terserah kalian aja lah. Yang udah kesampaian nikah sih udah tenang." tutur Jefri merebahkan diri di spring bed single.


"Siapa Dek pelakunya. Adek bilang lepas ini Abang harus nyelesaiin masalah Abang sama dia." ucap Adi yang sedang disuapi makanan oleh Adinda.


"Abang juga makan dong. Nih barengan sama papah Adi." ujar Adinda pada anaknya.


"Aku udah jajan banyak sama abi Haris." jawab Givan menolak tawaran ibunya


"Jawab dong, Dek." tutur Adi lagi.


"Nanti biar Abang tau sendiri di sana. Aku udah dapatin juga alamatnya." tukas Adinda yang memakan satu suap makanan milik Adi. Karena ia belum sempat untuk membeli makanan.


"Pakde-pakde aku pada ke mana?" tanya Givan yang merasa seperti ada yang kurang.

__ADS_1


"Udah pada pulang ke rumah Mamah yang di sana tuh." jawab Adinda, kemudian ia fokus menyuapi suaminya.


~


Sore harinya Adi sudah diperbolehkan pulang. Karena Haris berucap akan bertanggung jawab terhadap keadaan pasien.


"Kau yang sehat-sehat. Kalau sakit, jangan masuk ke rumah sakit ini ya. Jangan bikin nama aku jadi jelek." ucap Haris yang datang kembali untuk mengurus tanda tangan yang harus ia bubuhkan, setelah ia pulang ke rumah untuk beristirahat.


"Ada pulak kawan macam kau!" sahut Adi dengan menggelengkan kepalanya.


"Perlu bantuan tak?" tanya Haris memperhatikan mereka bertiga, Adi, Adinda, dan juga Givan.


"Tak Bang. Makasih ya." ucap Adinda yang langsung diangguki Haris.


Lalu mereka semua keluar, meninggalkan rumah sakit tersebut.


"Bang, Givan disuruh istirahat aja di rumah aku. A Afan sama A Arif lagi pada tidur di sana." ucap Adinda setelah membantu suaminya untuk duduk. Sebenarnya keadaan Adi sudah baik-baik saja, hanya memang ia masih lemas.


"Ganggu mereka nanti. Kasian kan mereka mungkin kurang tidur semalam." sahut Adi kemudian.


"Masa mau dibawa. Nanti takut gimana-gimana." balas Adinda mulai melajukan mobilnya perlahan.


"Namanya juga punya anak, Dek. Ke mana-mana ya dibuntuti." ujar Adi dengan memperhatikan jalanan.


"Givan anak aku, tapi seolah Givan anak Abang." tutur Adinda dengan tersenyum samar.


Dan beberapa menit kemudian, Adinda buka suara lagi.


"Bawa orang ustad ke sini, biayanya berkali lipat Bang. Belum lagi nanti Abang mesti ke sana." ucap Adinda memecahkan keheningan.


"Berapa memang?" tanya Adi kemudian.


"Sepuluh jutaan. Untung aku tau pin rekening Abang. Kalau tak, coba aku mau minjem uang ke siapa?" jawab Adinda setelah berhenti di lampu merah.


"Adek udah tak ada pemasukan lagi, ya?" sahut Adi yang diangguki oleh Adinda.


"Abang tak bayar gaji aku. Kalau lagi nulis, aku selalu Abang ganggu. Pengen bantuin usaha Bang Haris, aku tak boleh ke mana-mana sama Abang. Gimana mau dapat uang lebih." balas Adinda, "Mana udah sebulan lebih aku tak perawatan lagi. Pasti burik kali aku sekarang." lanjutnya dengan menggelengkan kepalanya.


Adi tertawa kecil, "Untuk apa udah punya suami tapi masih cari uang ke mana-mana? Perempuan kalau bisa cari uang sendiri tuk macam tak butuh laki-laki! Kita sebagai laki-lakinya, merasa sakit hati ditelantarkan oleh betinanya. Dengan begini kan, kalau Adek butuh apa-apa pasti ngerengeknya sama Abang." ujar Adi dengan memperhatikan wajah istrinya dari samping.


"Biar nanti kalau suatu saat Abang udah tak butuh aku lagi. Aku tak kaget untuk cari uang." sahut Adinda membuat mood Adi memburuk.


"Kenapa sih selalu berpikir macam itu? Kalau memang Abang macam itu. Biar Abang yang pergi. Adek lanjutin usaha Abang. Adek tak perlu pergi ke mana-mana." balas Adi dengan tegas.


"Ck, hanya kalimat penenang. Aku tau Abang pelit, dan perhitungan. Tak mungkin rasanya Abang tinggalkan usaha Abang begitu aja." tutur Adinda yang membuat Adi semakin terbawa emosi. Untungnya Givan tak mendengarkan obrolan mereka. Ia tengah fokus pada video alat-alat kontruksi dalam ponsel ibunya.


Adi langsung merogoh ponselnya, "Hallo, Pak cek. Sembilan ladang udah dibalik nama dek Dinda?" ucap Adi berbicara pada orang di seberang telepon.

__ADS_1


"Yang lima hektar balik namakan lagi, Pak cek." jawab Adi yang bisa didengar Adinda.


"Empat balik namakan atas nama dek Dinda lagi. Yang satu hektar balik namakan atas nama Givan. Surat-suratnya Adi simpan di lemari pakaian Adi yang paling atas." sahut Adi dalam teleponnya, yang membuat Adinda menoleh cepat pada suaminya.


"Tak apa, Pak cek. Ya udah, Adi tutup dulu teleponnya. Adi lagi di jalan soalnya." balas Adi yang membuat Adinda menepikan mobilnya.


"Apa lagi ini Bang? Udah lah tak usah berdrama." ucap Adinda dengan memperhatikan wajah suaminya.


"Siapa yang berdrama? Dengan begini mungkin bisa buat Adek percaya, bahwa Abang tak akan pernah meninggalkan Adek! Dan dengar baik-baik Dek. Jangan pernah bahas masalah ditinggalkan dan meninggalkan, Dek. Hanya maut yang bisa memisahkan kita." ungkap Adi penuh penekanan.


Adinda mengangguk mengerti, "Maaf, kalau aku selalu berpikir Abang demikian." tutur Adinda dengan menundukan kepalanya.


"Tak apa. Yang jelas, apa pun yang terjadi Abang tak akan pernah meninggalkan Adek, meninggalkan keluarga kecil kita. Kecuali memang, kontrak umur Abang udah habis." tukas Adi membuat Adinda memeluk suaminya.


"Jangan ngomong macam itu. Aku jadi takut." ujar Adinda diperlukan suaminya.


"Janji sama Abang, jangan pernah minta cerai. Dan jangan pernah tinggalkan Abang. Bertahanlah dengan cobaan apa pun yang kita hadapi dalam ujian rumah tangga kita." ucap Adi dengan membingkai wajah istrinya.


"Iya, aku janji. Abang pun jangan pernah tinggalkan aku, tinggalkan anak-anak aku nanti. Tetaplah jadi suami yang sebaik mungkin." ujar Adinda kemudian.


"Iya Abang janji, Dek. Jangan nangis dong. Abang jadi ikut sedih." sahut Adi dengan menghapus bulir air mata istrinya. Dan ia mendekatkan bibirnya untuk meraup bibir tipis istrinya.


Namun… "Mau ngapain? Aku minta permennya." ujar anak laki-laki dari kursi belakang. Yang membuat kedua orang berlainan jenis itu salah tingkah.


"Tak ngapa-ngapain kok. Papah tak makan permen." jelas Adi dengan menoleh ke belakang. Dan Adinda mulai melajukan kembali mobilnya perlahan.


"Sih mulutnya gitu-gitu." terang Givan dengan membuka sedikit bibirnya, "Aku kira Mamah minta permen. Karena Papah belum cuci tangan jadi pakai mulut. Karena kalau pakai kaki malah lebih kotor, dan jelas tak sopan." lanjutnya membuat Adi terkekeh geli.


"Sini pindah ke depan. Hmm, anak Papah. Lupain ya yang tadi." ucap Adi dengan menyeimbangkan tubuh Givan.


"Memang tadi mau ngapain?" tanya Givan yang malah merasa penasaran.


"Itu tadi… " jawab Adi disela oleh istrinya.


"Itu Bang, ada ondel-ondel kepala besar." tunjuk Adinda mengalihkan perhatian Givan.


"Alhamdulillah." ujar Adi pelan. Dan Adinda terkekeh kecil.


"Eh, Dek. Kayanya Abang pernah lewat jalan ini." ungkap Adi setelah Adinda berbelok ke gang rumah pelaku.


"Jangan bilang pelakunya…..


TBC.


Siapa nih kira-kira?


Heran aku, tiap akhir episode pasti nanggung macam ini 😅

__ADS_1


Bikin aku penasaran aja 🤭


__ADS_2