
Masih harus pegangan kuat-kuat 😆
Oleng tanggung sendiri 🤭
Sontak membuatku langsung mencabut jariku. Aku tak ingin istriku kl*maks hanya karena jari tengahku.
"Ck, kenapa Abang cabut?" ucap Dinda kecewa.
Tanpa menjawab pertanyaannya. Aku langsung menaikan tubuhku dan menempatkan Adi's bird tepat di depan sarangnya.
"Mau langsung? Tak mau diemu…" ujarnya belum selesai namun segera kubungkam mulutnya dengan mulutku.
Dengan satu tanganku menjadi tumpuan tubuhku. Dan satu tangan lagi mengarahkan Adi's bird pada tujuannya.
Namun Dinda malah menaikan tubuhnya saat Adi's bird hendak membelah mulut bawahnya.
"Mau ke mana mundur-mundur macam itu? Jangan bilang tak mau dilanjut." ucapku dengan menegakkan tubuhku dan menarik kembali tubuh Dinda dengan kedua tanganku yang mengunci posisinya dengan memegangi pinggangnya.
"Aku takut... dia panjang kali, pasti mentok betul. Mana besar kali kepalanya. Ada gelangnya pulak. Pasti grenjel-grenjel gitu." ucapnya yang membuatku terkekeh geli.
"Heh, bukannya Adek dulu selalu bilang cuma mau sama yang besar dan panjang. Sekarang malah bilang takut." sahutku kemudian.
"Aku bilang begitu cuma buat membentengi diriku dari laki-laki hidung belang macam Abang." balasnya dengan memperhatikan Adi's bird yang mengacung tegak.
Tapi benar juga. Dengan ucapannya yang seperti itu. Menjadikan laki-laki enggan untuk bermain-main dengannya. Apa lagi dengan tampang sombongnya saat ia mengucapkan hal tersebut.
Lalu aku menurunkan lagi kepalaku. Aku ingin Dinda benar-benar siap untuk melahap Adi's bird dengan mulut bawahnya.
"Jangan terlalu lama, aku udah tak tahan kali." ungkap istriku. Baiklah, sudah saatnya.
Aku menempatkan dengan posisi yang benar. Dengan menindihinya kembali, aku memasukkannya perlahan. Ini adalah pertama kalinya untukku bermain tanpa pengaman.
"Abang…" rengek Dinda kesekian kalinya.
"Buka matanya. Abang bentar lagi masuk sempurna." ucapku dengan perlahan mendorong pinggangku agar Adi's bird terbenam sempurna.
__ADS_1
"Penuh kali. Udah aja, jangan dalam-dalam!" sahut Dinda dengan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya.
"Sakit kah?" tanyaku setelah Adi's bird lenyap dimakan milik Dinda.
"Saket mangat." jawabnya dengan tersenyum samar. Aku terkekeh pelan karenanya. Saket mangat berarti sakit enak. Tak habis pikir aku padanya.
"Jangan ngelucu aja. Kita lagi kawin loh ini, Dek." sahutku menciuminya gemas.
"Gerakin pelan-pelan. Sampai pintunya ya, Bang?" pintanya dengan menyumbui leherku.
Sungguh aku tak paham. Aku bergerak sampai pintu katanya. Pintu yang mana? Apa aku dan dia harus berpindah posisi terus.
"Mmmmhhh, jangan diremas-remas macam itu. Abang keenakan." ujarku yang masih enggan bergerak.
"Ya cepet gerak, aku udah geli kali." balas istriku dengan menarik leherku, agar mendekati wajahnya.
"Gerak sampai pintu gimana, Dek?" tuturku mengutarakan ucapannya yang tak kumengerti.
"Cepet lah Abang turun. Kesal betul aku! Biar aku yang gerak aja." sewotnya tidak sabaran.
"Abang tak paham, pas Adek kata suruh gerak sampai pintu." tukasku cepat. Aku tak ingin Dinda yang memegang kendali permainan ini.
"Ok sayang. Tinggal ngomong, tak perlu sewot macam itu." sahutku yang mulai bergerak.
Gila, seenak ini istriku. Tau begini, langsung kunikahi saja dia dari awal.
Hanya saja, memang Dinda sedikit berisik. Tapi biarkan sajalah. Aku dan dia sudah halal melakukan ini. Biarkan dirinya mengekpresikan rasa yang ia dapat dariku.
Tak lama aku mencabut Adi's bird. Untuk menetralisir rasa yang memuncak ini. Aku melihat milikku sudah berkedut, sebentar lagi ia akan muntah gara-gara remasan dan hisapan dari milik Dinda. Aku pun baru merasakannya sekarang, bahwa kewanitaan bisa hidup macam ini.
"Bentar lagi aku sampai. Abang kalau mau keluar cabut, ok? Abang keluar di luar aja." ucap Dinda yang menarik tubuhku kembali untuk menindihinya.
"Bentar sayang, Abang udah diujung betul." ungkapku dengan menciumi lehernya yang penuh dengan tanda dariku.
"Besok olah raga ringan, ok? Abang lama tak nge-gym." ujarnya dengan memainkan miliknya sendiri. Sungguh aku tak menyukai tindakannya. Aku serasa tak berfungsi di sini.
__ADS_1
Aku hanya minta waktu sebentar, tapi nampaknya ia tak bisa mentolerir kekuranganku sekarang. Jujur aku malu sendiri di depan istriku, aku selemah ini.
Aku membuang tangannya yang sedang menggosok daging kecilnya itu. Dan memasukkan kembali milikku dengan hentakan yang cukup keras.
"Akhhh, yah macam itu Bang. Yang kuat, agak kasar, lebih dalam." suaranya yang terdengar tengah kenikmatan itu.
Sungguh aku tak bisa menahannya lagi, "Dinda masih lama kah, sayang?" ucapku menurunkan tempo hentakanku. Agar aku bisa mengundur cairanku agar tak segera tumpah.
"Capek kah? Biar aku yang di atas." ungkapnya yang aku jawab dengan gelengan kepala. Bukan aku capek menggoyangkan pinggangku maju mundur ini. Hanya saja aku akan segera keluar. Jika aku mengungkapkannya, aku khawatir ia kecewa padaku.
Aku memutuskan untuk bergoyang memutar saja. Namun malah membuat Adi's bird serasa diperas dari ujung sampai pangkalnya. Gila sekali, kenapa rasanya senikmat ini? Aku mengeluarkan kembali milikku. Berharap bisa bertahan lebih lama lagi.
"Aku paham. Sok Abang keluarin. Tapi di luar ya." ucapnya dengan tersenyum lebar. Namun matanya terlihat begitu kecewa. Setetes air matanya lolos begitu saja. Dan Dinda langsung menghapusnya. Jelas saja ia merasa kecewa. Sudah diujung nafsu, hanya tinggal beberapa hentakan lagi dia keluar. Aku malah mengeluarkan milikku. Beberapa kali aku seperti itu, jelas saja Dinda kesal. Namun ia malah tersenyum, mungkin ia menjaga perasaanku.
"Kenapa sih harus keluar di luar. Kita udah suami istri." ucapku dengan menggosok-gosokan Adi's bird di l*bianya.
"Kita cuma nikah siri. Kalau aku hamil, nanti anak aku tak punya akte lahir." jawabnya dengan membuang mukanya.
Mungkin aku akan mencoba sekali lagi, setelah aku kl*maks. Agar Dinda pun merasa plong karena sudah aku keluarkan.
Aku memasukkan kembali Adi's bird, dan menghentak-hentaknya beberapa kali lalu aku mencabutnya. Dan mengeluarkan airku di atas perut Dinda. Dasarnya aku tak berpengalaman keluar di luar seperti ini. Malah jadi berceceran begini. Dan sepertinya aku tadi sudah keluar di dalam juga. Aku selalu keluar di dalam, tapi jelas dengan menggunakan pengaman. Biar sajalah, Dinda begitu pun sepertinya karena khawatir aku tinggalkan begitu ia hamil. Meski kebenarannya aku tak akan begitu padanya. Apa pun yang terjadi aku tak akan meninggalkannya.
"Udah?" tanya Dinda yang memperhatikan wajahku. Aku mengangguk dan berbaring di sebelahnya. Dinda mengambil bajuku, untuk dijadikan sebagai lap untuk airku yang berada di atas perutnya. Ia mengelapnya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dan ia pergi dari kamar ini. Meninggalkan aku dengan sisa-sisa kenikmatanku begitu saja.
Sungguh aku tersinggung ia bersikap demikian. Aku paham ia kecewa, karena aku tak bisa membuatnya kl*maks. Tapi tak seperti ini juga. Aku berpikir tadi untuk mengulangnya. Tapi ia malah meninggalkanku sendirian di kamar ini.
Saat aku kembali ke kamarku, aku masih ingin mengajaknya untuk bermain sekali lagi. Namun terlihat Dinda sudah berpakaian lengkap, dan tidur dengan memeluk Givan.
"Dek… udah tidur kah?" tanyaku ragu-ragu. Namun Dinda tak menyahutiku. Tapi aku yakin meskipun Dinda sudah tertidur, namun ia belum lelap dalam tidurnya. Ya sudahlah, mungkin esok pagi aku harus minta maaf padanya.
TBC.
Abang kenapa ya, kok macam itu? 🙄
Kan jadi ada yang kecewa 😥
__ADS_1
Bagi VOTE di bagian kolom biru itu ya kak 🙏😁
Bagi LIKE, VOTEnya ya kak 🙏