
Tak bosan-bosannya aku mengingatkan untuk LIKE and VOTE.. 🤭
"Iya, pokonya tak boleh nakutin Mamah!" ucap Adinda memperingati Givan. Lalu Givan mengangguk dan berjanji tak membuat ibunya ketakutan lagi.
"Dan satu lagi, Abang tak boleh ngobrol sendiri lagi. Itu juga bikin Mamah takut." tambah Adinda dengan mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan angka satu.
"Masa ditanya tak dijawab. Kan tak sopan Mah." sahut Givan kemudian.
"Tak usah ngobrol sama mereka. Ngeri kali loh Mamah, Bang!" seru Adinda.
"Liat nanti aja deh." ucap Givan terkekeh melihat ibunya itu.
Akhirnya mereka sudah sampai di tempat tujuan. Kabar yang ia dapatkan dari Jefri, Adi sudah sadar namun masih butuh bantuan alat pernapasan.
"Nunduk! Tengok apa heh?" ucap Adinda melihat anaknya yang pandangannya kemana-mana.
"Ok ok Mamah." sahut Givan memamerkan giginya yang mulai mengikis dan akan berganti dengan gigi baru itu.
"Eh, itu Ayah Jefri." ujar Adinda menunjuk ke tempat Jefri berdiri yang sedang berbicara dengan seorang perawat wanita.
"AYAH." teriak Givan. Jefri melihat sekelilingnya mencari sumber suara tersebut. Ia merasa tak asing dengan pemilik suara itu.
Jefri tersenyum dan melambaikan tangan pada Givan dan Adinda, lalu mereka berdua pun menghampiri Jefri.
"Ya udah, aku pergi dulu ya." Pamit perawat itu begitu Givan dan Adinda berada di samping Jefri.
"Ehh, mau kemana Nis?" ucap Jefri, yang diketahui perawat itu bernama Ganis Nur Gayatri, kekasih Jefri yang akan dipinangnya beberapa bulan ke depan. Namun Ganis pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari Jefri.
"Kenapa tuh betina kau Bang?" tanya Adinda heran dengan tingkah Ganis, "Perasaan selalu menghindar kalau ada aku." lanjut Adinda merasa tersinggung dengan sikap Ganis.
"Soalnya kau nyebelin." sahut Jefri dengan tawa pelan.
"Tak sadar Mamah, Yah." Givan menimpali ucapan Jefri. Lalu ia minta gendong pada Jefri.
"Ayah udah cuci tangan kan?" tanya Givan begitu ia berada dalam gendongan Jefri.
"Udahlah, memang kenapa Bang?" jawab Jefri memperhatikan wajah Givan dari dekat.
"Mana tau habis operasi. Kan tangan Ayah pasti kena darah." balas Givan melingkarkan tangan kanannya pada leher Jefri.
"Sok tau kau! Eh kau jadi hitam gini sih Bang." ujar Jefri dengan mencium pipi Givan.
Givan tertawa karena merasa geli, "Jangan cium-cium aku! Ini geli." ucapnya.
"Iyalah hitam, mainnya panas-panasan terus!" Adinda menyahuti perkataan Jefri barusan.
"Tapi pas loh Dek jadi anak Adi. Mana Givan kebawa logat sana lagi." ungkap Jefri yang mendapat cubitan di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Adinda pelakunya.
Terlihat wajah Adinda yang tersipu malu. Jefri menunjuk pada wajah Adinda dan tertawa karenanya. Lalu Adinda menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Mereka tak sadar diseberang sana ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan kesal, "Sialan kamu Dinda!" gumamnya geram.
__ADS_1
"Ayo sih Bang anterin ke Bang Bos." ucap Adinda kemudian.
"Oh rupanya ada yang tak sabar. Ada keluarganya Dek. Jangan nyosor aja ya." sahut Jefri melirik ke Adinda.
"Apa sih kau Bang? Aku tak begitu pun!" balas Adinda menyangkal pernyataan Jefri.
"Eh Bang, kok kau ada di sini. Kan belum masuk shift malam." lanjut Adinda mengalihkan pembicaraan.
"He'em, abis nyerahin rekam medis pasien Dek. Semalam kebawa sama Abang." jawab Jefri. Lalu mereka berjalan beriringan menuju ke ruangan Adi.
Mereka berjalan dengan sesekali menjawab pertanyaan dari Givan yang ingin tau ini dan itu. Untungnya Givan digendong Jefri, jadi Givan tak bisa kemana-mana untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar Adi. Adinda mengetuk pintu ruang inap Adi.
Tok, tok, tok.
"Assalamualaikum." ucap Adinda.
"Wa'alaikum salam." sahut beberapa orang dari dalam ruangan Adi.
Lalu Zulfa membukakan pintu.
Ceklek.
"Eh Kak Dinda, Bang Jefri. Masuk aja." sapa Zulfa ramah dan mempersilahkan mereka masuk.
"Hai Nak, Abang Givan." sapa umi dengan tersenyum pada Givan. Dan yang lainnya menahan tawa mendengar protes Givan tadi.
Terlihat Adi tengah duduk dengan bantal di punggungnya.
Adinda melewati Adi dengan mengkedipkan satu matanya. Adinda menyalami ibu Meutia dan Pak Dodi terlebih dahulu.
Adi menggeleng dan mengelus dadanya.
"Cuma dikedipin Di. Jangan bilang sesak napas lagi karenanya." ujar Jefri yang melihat jelas tingkah mereka berdua. Dan yang lain tergelak karena perkataan Jefri.
"Bang, aku udah bawa potongan daun seledri buat Abang." ucap Adinda yang mendekati Adi dan menggapai tangan Adi untuk ia cium. Adi terlihat bingung dengan tindakan Adinda demikian.
"Buat apa daun seledrinya, Dek?" tanya Adi lemah. Adi sudah tak menggunakan alat bantu pernapasan lagi sekarang. Tapi terlihat kondisinya masih lemas.
"Buat ditaburin di atas kuburan Abang." ucap Adinda dengan cengengesan.
"Sialan kau!" sahut Adi yang menarik hidung Adinda lumayan kencang.
Mereka yang ada di situ paham Adinda hanya bercanda. Sedikit banyaknya mereka sudah paham dengan pembawaan Adinda yang senang bercanda dengan caranya sendiri itu. Mungkin orang yang baru mengenalnya akan tersinggung dengan cara bercanda Adinda, seperti Adi waktu pertama kali mengenal Adinda.
"Kerja tuh bolak-balik aja gimana sih, Dek?" tanya Adi saat Adinda duduk di tepian ranjangnya.
"Aku tuh nungguin Abang balik. Abang janji minggu ini kan datang nemuin aku." ucap Adinda mengingatkan janji Adi minggu lalu, "Kau lupa ya nyiramin ladang timun kau yang kekeringan di sana." lanjut Adinda lagi.
__ADS_1
Mereka semua yang mendengar ucapan Adinda tertawa terbahak-bahak. Namun Adi merasa bingung, tak mengerti dengan situasi sekarang, "Abang tak punya ladang timun, Dek!" ucap Adi.
Lalu Jefri membisikan sesuatu bermaksud agar Adi mengerti. Begitu Adi mendengarnya dari Jefri, ia paham maksud ucapan Adinda tadi.
Ia melebarkan matanya dan mencengkram lengan Adinda. Adinda menoleh pada Adi dan tertawa melihat ekspresi wajah Adi yang terlihat kaget itu. Adi pun ikut menyuarakan tawanya.
Suasana di dalam kamar inap itu pun menghangat berkat kehadiran Adinda, dengan keadaan Adi yang berangsur membaik.
Ibu Meutia menyadari bahwa pengaruh Adinda cukup baik dalam kehidupan Adi. Ia bersyukur kondisi anaknya kian membaik, terlihat dari wajahnya yang berseri dan bersemangat kembali.
Beberapa jam kemudian dokter memeriksa keadaan Adi kembali. Dokter memberitahukan untuk satu hari ke depan Adi dalam masa observasi terlebih dahulu. Untuk memantau keadaannya, membaik atau semakin memburuk.
Jefri sudah kembali untuk bersiap tugas malam. Dan Pak Dodi, beserta istrinya dan juga Zulfa kembali ke rumah untuk beristirahat malam ini. Sementara yang lainnya beristirahat Edi diminta untuk menjaga Adi malam ini. Dengan Adinda dan Givan yang masih bersama Adi.
"Kak, aku keluar sebentar ya, cari makanan sekalian mau ngerokok juga." ucap Edi mengalihkan perhatian Adinda yang sedang bergurau dengan Adi. Dan Givan yang sesekali menanggapi candaan dari ibunya, karena ia sibuk dengan ladang gandum dalam permainannya yang siap panen.
Adinda mengangguk, "Ok, biar Bang Adi aku yang jagain." sahut Adinda kemudian.
"Akak sama Givan mau makan apa?" tanya Edi dengan mengambil ponselnya dan bungkus rokok yang tergeletak di meja.
"Hmm, aku mau makan chicken K*C. Tapi minta potongan dadanya yang besar ya." ucap Givan dan kembali memainkan game pertanian dalam ponsel Adinda. Adi tersenyum dan mengelus kepala Givan.
"Aku mau burgernya aja." ujar Adinda memberitahu.
Edi mengangguk, "Ada lagi gak kak?" tanya Edi sebelum berlalu.
"Tak ada." jawab Adinda. Lalu Edi pun keluar dari kamar inap Adi.
"Kok cuma burger aja. Kalau sama Abang kau jajan banyak kali, Dek." seru Adi menyelapkan rambut Adinda yang keluar dari hijabnya. Sebenarnya Edi hanya mencari alasan saja untuk bisa keluar sejenak dari ruangan ini. Mereka terlihat begitu mesra sejak orang tua Adi permisi pulang tadi.
"Kan aku udah bilang, aku begini cuma sama Abang." ungkap Adinda lebih mendekatkan dirinya pada Adi.
"Oh, dalam hal makanan pun itu berlaku juga ya Dek?" tanya Adi dengan tersenyum menggoda.
"Udah jangan mulai! Adinda sabar, Adinda tak boleh gatal." ujar Adinda untuk dirinya sendiri. Tawa Adi pecah kembali karenanya.
"Jangan kuat-kuat lah kau ketawanya Bang! Takut kali bengek kau kumat loh Bang." ucap Adinda yang membuat tawa Adi berhenti mendadak.
"Abang baik-baik aja Dek! Tenang aja." sahut Adi meyakinkan.
"Tak mungkin kau baik-baik aja Bang. Apa yang kau rasain kemarin? Gimana ceritanya sampai kau ada di sini?" tanya Adinda memperhatikan wajah Adi yang terlihat belum pulih betul.
TBC.
*I**kutin ceritanya terus ya kak 😁 🙏*
jangan lupa tap ❤️ favorit, agar dapat notifikasi dari ceritanya 😁
terimakasih 🥰
__ADS_1