
Apa aku kurang bikin penasaran kah?
Atau aku memang ceritaku tak menarik lagi?
Ayo dong bagi author semangat, LIKE, VOTE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, COMENT, FAVORIT, FOLLOW, bagi TIPnya juga barangkali berkenan 🤭
Happy reading 😍
"Alim, ngomong juga seperlunya. Dan biasanya kalau ada beban pikiran, dia pasti langsung sakit." jawab ibu Risa jelas.
Sejak pertama kali bertemu, aku tak menemukan titik kealiman seorang Dinda. Masalah dia ngomong seperlunya, okelah masih bisa masuk kategori. Tapi perasaan ia selalu berisik jika di dekatku. Dan lagi yang masalah Dinda pasti sakit karena punya masalah, aku baru tau sekarang.
"Tapi Dinda masakannya enak loh, Bu. Sempet aku makan masakannya waktu ada acara di rumahku kemarin." umi menyahuti ucapan ibu Risa.
"Memang enak. Tapi musim-musiman." balas ibu Risa dengan menahan tawanya.
"Musim-musiman gimana, Bu?" tanya umi kemudian.
"Kadang males gitu." jawab ibu Risa sedikit pelan.
"Terus aja bagi tau mereka!" seru dinda sepertinya tidak menyukai kami yang sedang membahasnya.
Tak lama kami sudah sampai di rumah salah satu kiyai haji yang memiliki asrama pesantren.
~
~
Aku dan Dinda tengah berada di ruang tamu, dengan bermain game ludo di ponselku. Givan tidur di temani oleh ibu Risa dan umi. Sudah pasti mereka sedang ngerumpi secara bisik-bisik sekarang.
"Ngobrol apa aja Bang?" tanya Dinda setelah mendapat giliran pertama.
"Cuma dibilangin suruh puasa aja tiga hari. Shalat jangan kendor. Shalat malam juga, suruh minta petunjuk. Gitu-gitu aja sih Dek. Cuma ngobrol biasa aja." jawabku dengan menarik kesimpulan dari ceritaku saat mengobrol bersama kiyai tadi.
Dinda manggut-manggut mengerti, "Terus apa lagi Bang?" sahutnya kemudian.
"Disuruh minta semangat dari kau, Dek. Katanya sih mesti dikelonin dulu gitu. Biar amunisinya full." balasku yang sebetulnya bergurau.
Dinda menoleh tanpa ekspresi, "Aku juga pengen. Takut mampet lama salurannya tak dialiri." ucapnya seperti sedang berharap.
Tapi aku tak bisa menahan lonjakan geli yang ditimbulkannya. Mana ekspresinya amat lucu sekali lagi.
"Sssttttttt, jangan kuat-kuat ketawanya!" ujar Dinda memberiku peringatan.
"Ya kau jangan ngelawak terus." sahutku dengan meredakan tawaku.
"Aku lagi serius. Jangan bikin orang tersinggung kenapa, Bang! Aku lagi ngomong terus terang, malah dibilang ngelawak." balas Dinda sewot.
Aku memegang pipi kanannya, untuk kugapai pipi kirinya dengan bibirku.
"Is, agresif sekali kau. Sana jauh-jauh!" seru Dinda mendorongku untuk menjauhinya.
__ADS_1
"Perlu Abang ingatkan. Kau yang kemarin nempel terus sama Abang, Dek. Sekarang sombong kali kau. Nyuruh Abang jauh-jauh lagi." ujarku kemudian.
"Ini rumah orang tua aku Bang. Kita bebas kalau bukan di sini." ucapnya penuh penekanan.
"Dasar kau, bermuka dua!" tukasku dengan meliriknya sesaat dan menggeser posisi dudukku.
"Biar orang tuaku tak malu, punya anak macam aku." ungkapnya yang membuatku cukup tersinggung.
Bagaimana dengan orang tuaku? Yang punya anak macam aku begini. Menyekolahkan aku sampai tinggi. Sampai lulus jadi sarjana. Ehh, aku malah masuk bui. Bukannya berkarya, atau membuat bangga mereka. Tapi malah mencoreng nama baik keluarga. Dinda benar-benar bisa menyadarkanku tanpa maksud menyinggungku.
"Heh, cepet maju! Malah ngelamun lagi." tuturnya dengan menggoyangkan lenganku.
~
Setelah beberapa kali putaran, tibalah waktu Dzuhur. Aku pergi mengambil wudhu, dan Shalat di dalam mushola kecil yang muat untuk satu orang saja itu, yang berada di samping dapur.
Lalu kami diajak makan siang bersama. Setelah selesai, aku dan umi pamit untuk pulang. Namun Givan terbangun dan memaksa ingin ikut denganku.
Dinda mengizinkan anaknya ikut denganku, meski terlihat ibu Risa tak mengizinkannya. Tentu saja ia merasa khawatir cucunya dibawa oleh orang asing seperti kami.
"Ke rumah aku aja. Nanti kelar sama cucian, aku nyusul ke sana." ucap Dinda sesaat sebelum kami pergi.
"Jangan lama-lama ya, Dek?" sahutku yang langsung mendapat anggukan dari Dinda.
"Abang sama Nenek aja. Nanti nyusul ke Papah sama Mamah aja ya?" Ibu Risa membujuk Givan kembali.
"Emong, karo Papah Adi bae." ucap Givan yang sepertinya menolak tawaran neneknya, tapi bahasanya tak kumengerti.
"Apa Dek katanya?" tanyaku pada Dinda.
"Bahasa sini itu?" sahutku bertanya lagi.
Dinda mengangguk, "Bahasa kota C, Bang." jelasnya kemudian.
"Tenang aja, Nek. Givan udah biasa kok ikut sama Adi." ujar umiku.
Ibu Risa sepertinya kaget, tau cucunya sering ikut denganku. Pasti setelah aku pergi, ibu Risa akan memborbardir pertanyaan pada Dinda.
"Ya udah, hati-hati ya." tukas ibu Risa kemudian, "Abang, jangan nakal ya? Jangan nyusahin orang!" lanjutnya berkata pada Givan.
"Tak menyusahkan kok, Bu. Tenang saja." balas umiku dengan tersenyum.
Lalu setelah kami pamit. Kami pun berjalan menuju mobilku. Tentu saja mobil milik ayah yang aku bawa dari ibu kota J itu.
Sepanjang jalan, Givan berceloteh tentang banyak hal. Ia menceritakan tentang mainan yang ia punya. Umi menanggapi Givan dengan senyum yang mengembang. Umi terlihat begitu bahagia bersama Givan. Betulkah umi sudah menginginkan cucu dariku?
"Ok, nanti kita mampir ke toko mainan dulu." ungkap umiku untuk menyenangkan Givan.
"Mainan lagi? Kan waktu itu udah beli sama Papah." sahutku dengan melirik Givan sesaat.
"Kan udah lama. Aku dibeliin mainan setiap lewat toko itu." ucap anak laki-laki yang berada di pangkuan umi itu.
__ADS_1
"Sama siapa?" tanyaku kemudian.
"Ya sama siapa aja, sama Mamah, sama Ayah Jefri, sama Abi Haris." jawabnya dengan menghitung nama orang yang ia sebutkan tadi dengan jarinya.
Aku mendengar nama Haris, rasanya teringat kembali kata-kata yang diucapkannya. Dan rupanya dia juga mendekati anak Dinda juga. Aku tak boleh kalah dari Haris. Aku ingin Givan lebih berat padaku, ketimbang dengan Haris.
"Ok nanti kita beli mainan yang banyak. Mainan dari Abi Haris, Abang buang aja ya." ujarku kemudian.
"Kenapa memang?" tanya Givan padaku. Umi terlihat sedang memperhatikanku.
"Ya kan udah rusak kan?" jawabku merasa bingung, ingin beralasan apa.
"Masih baru kok. Tapi ada juga yang rusaknya." sahut Givan seperti mengingat sesuatu.
"Iya yang rusaknya Papah ganti baru." balasku sambil memutar arah, menuju toko mainan yang pernah Givan tunjukan.
Sesampainya kami di toko mainan. Givan memilih beberapa mainan dengan begitu antusias. Dan sesekali ia meminta izinku untuk mengambil beberapa mainan yang ia mau. Herannya aku, kenapa ia mengerti dengan mainan mahal. Robot yang sama tapi dengan Seri terbaru pun ia paham.
Ia bertanya pada pegawai yang merapihkan mainan dalam rak, "Seri yang sebelum ini di rak mana, Om?" tanyanya seperti orang dewasa.
Aku merasa bangga padanya, hebat sekali anak ini mampu berkomunikasi sehebat ini. Sebetulnya berapa sih usia aslinya.
"Aku mau beli seri komplitnya Pah. Sekarang aku udah punya semua yang aku mau." ujarnya setelah mendapatkan apa yang ia cari tadi.
"Terus apa lagi, Bang? Masa cuma segitu." ucap umiku yang dari tadi mengawasi Givan.
Apa umi kata tadi? Cuma segitu? Kutengok jika ditotal harganya sudah mencapai dua juta empat ratus, dari tiga mobil yang bisa berubah menjadi robot itu.
"Sama mau itu, mobil RC monster. Boleh tak Pah?" ungkapnya dengan mendongak menatap wajahku dengan menarik ujung bajuku.
"Kok mobil semua? Gitar-gitaran atau balok susun gitu." ucapku memberikan opsi lain yang lebih murah.
"Aku pengen itu juga. Alat konstruksi itu." sahutnya dengan menunjuk rak yang berada di belakangku. Belum selesai dengan mobil RC monster, sekarang ia meminta alat konstruksi.
"Itu kan sama mobil juga." balasku dengan berbalik badan, untuk bisa melihat rak yang ia tunjuk.
"Tapi mau, Pah." ujarnya sedikit memaksa.
"Mobil yang bisa dinaikin aja tuh." jawabku dengan menunjuk barisan mobil yang cukup besar dan terdapat alat untuk mendorong di bagian belakangnya.
"Kaya anak-anak. Aku udah mau lima tahun, bentar lagi aku mau sekolah. Aku malu lah, Pah. Aku udah bosan juga didorong-dorong pakai mobil-mobilan itu. Aku udah puas mainannya." ungkapnya dengan menghentak-hentakan kakinya. Jangan-jangan ini anak mau nangis lagi.
"Ok, ok. Ambilah yang kau mau." ucapku menyerah dengan anak kecil ini.
"Yeyyy…." serunya dengan girang.
Aku menghela nafas dan menggelengkan kepalaku, melihatnya menunjuk ini dan itu pada pegawai toko mainan tersebut.
Dengan begitu sopan ia meminta bantuan pada mereka. Tentu saja mereka dengan senang bisa melayani Givan.
"Papah minta lima puluh ribu." ucapnya padaku, dengan memperhatikan mainannya yang sedang dimasukan dalam troli oleh pegawai toko untuk bisa dibawa ke kasir.
__ADS_1
TBC.
kesuwun kabean e 🙏😚