
Sang Pemuda bakal tamat di episode 141. Tapi bakal lanjut lagi di season 2nya kok.
Kenapa di bikin season 2?
Karena sekarang pemudanya, si Adi Riyana. Udah menikah, udah tak lajang lagi 😅 (konyol ya alasannya? tapi tak apa lah)
AYO KITA LANJUTKAN CERITANYA DULU 😊
"Mau ke mana, Di? Givan?" sapa ibu dari kak Ayu. Istrinya kakak abiku.
"Beli sayur." sahutku kemudian. Dan dia tertawa geli mendengarnya.
"Mamahnya ke mana, Nak?" tanyanya dengan memberikan Givan beberapa makanan ringan.
"Masih bobo. Semalam berisik aja, aku sampai kaget." jawab Givan polos. Tentu saja Mak wa dan orang-orang yang mendengarnya mentertawakanku dengan puas. Mak wa adalah sejenis panggilan untuk pakde, atau bukde. Atau seseorang dari kakak abiku atau umiku.
"Makasih Mak wa. Aku pergi dulu ke tukang sayur." ungkapku berterima kasih untuk makanan ringannya. Dan kami pamit untuk melanjutkan tujuan kami.
Terdengar bisik-bisik suara yang membicarakan aku yang berubah derastis seperti ini.
Aku tak pernah merasa malu bila aku dikatakan bahwa aku takut istri, atau semacamnya. Bukannya aku takut, aku hanya ingin menjadi selayaknya seorang suami dan seorang papah untuk keharmonisan keluarga kecil kami.
Aku membeli sayuran yang dibutuhkan dan juga bumbu pelengkapnya. Setelah siap, aku kembali ke rumahku dengan Givan yang minta digendong.
"Waduh, pengantin baru sampai pada merah macam itu." ledek teman-temanku yang akan pergi ke ladang.
Benarkah leherku merah semua. Pantas semua orang sepertinya tengah berbisik-bisik saat aku lewat tadi.
"Macam tak pernah aja kau." ucapku santai dengan melanjutkan langkah kakiku.
Akhirnya aku sampai di rumah juga. Aku langsung mencari ponselku dan mencari tutorial untuk memasak sayur asem.
Kurang lebih tiga puluh menit. Akhirnya jadi juga sayur buatanku. Dan Givan memakannya dengan lahap. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa membuat perut anakku kenyang.
"Papah aku belum mandi." ucap Givan setelah selesai makan.
"Yuk mandi." ajakku padanya. Dan di hari itu aku yang mengerjakan pekerjaan rumah. Dan mengurus anak juga. Dinda baru bangun dari tidurnya setelah lepas waktu dzuhur.
~
~
~
__ADS_1
Tiga minggu sudah terlewati. Pagi tadi aku baru bisa mencairkan uang depositoku, setelah sekitar tiga harian aku harus bolak-balik ke bank. Dan aku tetap diminta pihak bank untuk menyimpan uangku di kantor cabang mereka. Apa lagi kalau bukan karena target tahunan sejenisnya.
Lalu aku langsung menyelesaikan masalah hutang piutangku dengan pamanku. Aku berhutang untuk biaya rumah sakit Dinda, waktu aku baru menikah itu.
Dan siangnya, aku langsung memindahkan semua barang-barangku. Aku akan tinggal sementara di rumah abusyik yang sesekali di tempati cucu-cucunya itu. Karena rumahku akan dibangun ulang. Sesuai konsep yang Dinda minta.
Tentu dengan ruang bermain anak-anak, dan ruangan khusus berolah raga. Dengan tambahan halaman. Dan lantai dua juga. Jadi mau tak mau aku harus membeli lahan kosong yang berada di belakang rumahku. Rincian biaya dari bahan mentah sampai berbentuk menjadi rumah, kurang lebih 4M. Nilai yang cukup fantastis untukku. Kalau bukan karena permintaan Dinda, aku tak akan membuang uangku hanya untuk hunian saja. Aku lebih suka tinggal di rumah sederhana.
Karena memang di provinsi A ini rawan terjadi bencana alam. Aku meminta untuk dibuatkan bangunan yang tahan gempa.
Dinda tengah sibuk mengurus tiket untuk kepulangan kami ke pulau J. Aku harus meminta restu secara baik-baik pada keluarga Dinda. Dan aku akan mencoba berbicara baik-baik pada umi.
Jika umi memang masih tak mau mengerti aku. Aku akan terus berusaha untuk membuat istriku hamil terlebih dahulu. Dan baru akan meminta restu kembali. Toh, aku dan Dinda sudah sah secara agama juga.
"Bang, a Afan dan anak istrinya lagi ada di rumah ibu." ucap Dinda yang mengahampiriku.
"Bagus dong. Biar Abang kenal sama kakak pertama Adek juga." sahutku dengan menarik tangannya untuk duduk di pangkuanku.
"Givan lagi mainan di sana, jangan mesum aja coba Bang! Aku juga belum selesai haid." balasnya setelah merasakan sesuatu yang aku tekan di antara selang*angannya.
"Mesum sama istri sendiri, masa tak boleh? Abang kuat, Adek nggerutu terus. Abang cepet k.o Adek marah terus. Heran, kenapa sih tak pernah bersyukur sekali?" ujarku padanya. Dengan mencium pipinya gemas. Entah dia tengah hamil atau belum, tapi memang badannya terlihat agak berisi. Tapi memang tidak gemuk, dan tidak berlipat-lipat juga.
"Abang kuat kan karena pakai obat oles itu kan? Tak pakai itu tetap k.o juga sama aku." tuturnya yang selalu saja seperti mengejekku. Apa ia tak paham kah, bila laki-laki diejek macam ini. Dia akan merasakan akibatnya nanti jika anaknya sudah tertidur.
"Abang pakai sekali itu, Dek. Demi Allah. Eh besok-besoknya langsung ketahuan sama Adek." tukasku cepat.
Flashback On
"Apa ini Bang?" tanya Dinda dengan membawa sesuatu yang aku simpan di rak yang berada di kamar mandi.
"Eh, anu Dek." jawabku dengan gelagapan.
Dinda memperhatikan barang itu dengan seksama, dan membuka tutupnya. Lalu ia mengendus baunya.
"Oh, aku tau. Enak pakai ini? Mau ku oles di hidung Abang? Atau di mulut Abang sekalian?" serunya memarahiku. Jangan-jangan Dinda mengenal barang ini?
"Jangan dong, Dek. Bahaya loh itu." sahutku dengan menghindar dari serangannya yang akan mengolesiku barang itu.
"Apa enaknya? Ini buat milik Abang kebas! Pantas saja Abang kemarin malam hampir dua jam main-main sama aku. Mana setelah itu Abang ulangin sekali lagi." balasnya dengan wajah yang memerah karena emosi.
"Tapi memang efeknya cuma dua jam yang pertama itu. Setelahnya itu murni Abang kontrol sendiri." jelasku berharap Dinda mau mengerti. Apa dia tak paham juga, aku merelakan Adi's bird kebas hanya untuk memuaskannya?
"Bohong!" serunya dengan menatapku tajam. Terlihat Givan memperhatikan kami yang tengah beradu argumen.
__ADS_1
"Udah dong, Dek. Jangan marah-marah di depan anak. Tengok! Kita diperhatikan oleh Givan." ungkapku dengan membawakan dalam pelukanku. Berharap Dinda mau meredam emosinya.
"Jelasin, atau aku tak mau nurut sama Abang lagi." tuturnya begitu cetus. Dan berbalik badan dan pergi menuju kamarku.
Lalu aku menghampiri Givan. Dan memberinya pengertian. Kemudian aku mengajaknya bermain ke rumah Safar.
Sebetulnya aku ingin menitipkannya sebentar, agar aku bisa menyelesaikan masalahku dengan Dinda.
Setelah Givan anteng di sana dengan Liana. Aku langsung bergegas menuju ke rumahku lagi.
"Dinda, sayang." panggilku beberapa kali. Setelah masuk ke dalam rumah.
Aku menemukannya di ruang keluarga, ia masih cemberut saja.
"Hei, Abang beli itu pun sengaja biar bisa muasin Adek. Kalau memang Adek tak ingin Abang pakai itu lagi. Ok, Abang janji tak bakal pakai barang itu lagi. Asal janji sama Abang, Adek jangan kecewa sama nafkah batin yang mampu Abang beri." ungkapku kemudian. Dinda menoleh memperhatikan wajahku.
"Abang pun tak tau kenapa, Abang bisa keluar cepet macam itu. Dan Adek tau sendiri. Kalau Abang tak pakai itu, Abang cuma bisa bikin Dinda kl*maks satu sampai dua kali aja. Itu pun untung-untungan, Abang ngontrolnya setengah mati." lanjutku dengan menundukkan kepalaku. Sebetulnya aku ingin menjadi yang terhebat dan selalu bisa memuaskannya. Hanya saja memang keadaanku sekarang begini.
"Tolong, bertahanlah sama Abang. Tunggu Abang cari jalan keluarnya yang lebih aman untuk Abang. Abang mohon jangan minta cerai gara-gara Abang tak bisa muasin Adek." ungkapku dari hati. Karena memang aku khawatir Dinda meminta cerai karena hal itu.
Dinda malah memelukku erat dan menangis kejar. Kenapa dengannya? Apa aku salah bicara?
"Bang, aku cuma takut Abang kenapa-kenapa kalau pakai obat kuat macam itu. Ok, batang Abang jadi kuat. Tapi jantung Abang tak kuat. Apa lagi dengan begitu lamanya Abang aktif mompa aku. Itu malah bikin jantung Abang tak bisa ngontrol aliran darahnya. Harusnya jantung Abang memompa darah sekian perdetik. Dengan aktifitas Abang yang asik di atasku, itu bikin jantung Abang memompa dua kali lebih cepat. Gimana kalau jantung Abang meletup nanti, atau nafas Abang tak kuat. Aku tak mau Abang kenapa-kenapa." ungkapnya setelah beberapa lama terdiam dan hanya fokus menangis.
"Bang Haris dan Bang Jefri pernah nanganin pasien yang jantungnya bermasalah karena obat kuat semacamnya. Ini bukan bualan aku aja. Yang paham, aku tak mau Abang kenapa-kenapa." lanjutnya dengan menghapus air matanya kasar.
"Terus Abang harus gimana, saat istri gagal kl*maks dan marah sepanjang hari? Abang tak punya solusi lain. Karena Abang tau keadaan Abang sekarang udah beda." sahutku dengan membingkai wajahnya.
"Abang tak mau Adek kekurangan apa pun. Entah itu masalah materi, atau tentang nafkah batin." lanjutkan dengan tersenyum samar. Ini bukan rayuanku, ini murni seorang suami yang ingin segala kebutuhan istrinya terpenuhi.
"Ayo kita cari jalan keluarnya sama-sama. Abang stop pakai obat oles itu lagi, dan jangan pernah pakai obat kuat." ucapnya yang langsung kuangguki.
"Janji jangan tinggalin Abang, Dek." sahutku yang diiyakan oleh Dinda.
Aku membelai lembut rambutnya, dan membawanya dalam dekapanku.
Dinda mendongak menatap wajahku. Kenapa dengannya? Aku tak paham kode-kode yang perempuan berikan.
"Kenapa sayang?" tanyaku dengan mecium bibirnya sekilas.
"Ada yang bangun, Bang." jawabnya enteng. Oh, ternyata dia merasakan sesuatu yang bangun itu.
Aku tersenyum lebar padanya. Dan langsung menyambar bibirnya merah piasnya itu.
__ADS_1
TBC.
Adi's bird gacor, Wak 😂