Sang Pemuda

Sang Pemuda
25


__ADS_3

Kami bertiga keluar dari butik dengan Dinda menggandeng erat lenganku. Lihat, anaknya malah ia biarkan berjalan sendiri di depan kami. Dia mendongak dan menyunggingkan senyum kudanya. Kuharap dibalik senyumannya Dinda tidak meminta yang lain lagi.


"Pah, jangan lupa ke toko mainan dulu ya." tutur Givan sesaat setelah berada di atas sambil memeluk tangki motorku. Aku mengangguk menyetujui permintaannya.


"Abang tak punya mobil kah? Aku tak nyaman naik motor abang. Serasa di d*ggy sejalan-jalan." ucap Dinda hendak naik ke motorku dengan memegang bahuku dan satu kakinya sudah berada pada footstep belakang.


Beberapa orang yang berada di parkiran butik menatap geli ke arah kami, karena mendengar ucapan Dinda yang tidak pernah di saring itu.


"Kau balik sendiri sajalah dek. Malu betul abang bawa-bawa kau." ungkapku kesal dengan membantunya naik dengan memegang tangannya yang berada di bahu ku.


Setelah dia sudah duduk, aku membantunya membenarkan roknya yang tersingkap. Untung dia menggunakan celana panjang ketat juga. Jadi masih aman untuk naik motor. Tidak mengekspose kakinya yang pergelangannya saja sudah membuatku hilang fokus itu.


"Abang kesal terus nampaknya kalau sama aku. Ya maaf kalau memang kenyataannya abang tak punya mobil. Bukan maksud hati untuk..." tuturnya ku pangkas dengan ucapanku, "Bukan masalah mobil! Yang jadi masalah yang kau bilang d*ggy itu!" aku berkata dengan sedikit menoleh ke belakang dengan suara yang ku pelankan. Aku tak mau Givan mendengar perdebatanku dan Dinda yang tidak baik untuk perkembangan otaknya.


"Memang kenyataannya begitu pun. Pinggangku pegal sekali rasanya." ungkapnya tidak mau di salahkan. Aku malas berdebat, aku bersiap menjalankan motorku menuju toko mainan yang Givan tunjukan saat perjalanan ke butik tadi.


~


Sesampainya kami di toko mainan, Givan langsung menuju tempat robot yang ia inginkan. Dinda melepaskan gandengannya pada lenganku dan entah hilang kemana dia. Aku heran dengannya, kenapa berjalan mesti menggandeng lengan seseorang terus. Saat aku bertemu dengannya dan juga Haris waktu kencan pertamaku dengan Devi sebelum memiliki hubungan, Dinda asik menggandeng lengan Haris dan membiarkan anaknya dengan pengasuh. Sekarang lebih parah lagi, dia membiarkan anaknya berjalan kesana kemari sendiri dan dirinya asik menggandeng ku saja. Tak habis pikir aku kalau ibu dari anak-anakku macam Dinda. Pasti anakku akan jadi tumbal keteledorannya nanti. Huft, jangan sampai pokoknya. Aku menggeleng cepat dan membuang jauh pikiran burukku.


Givan sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, sekarang aku dan Givan tengah menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari ibunya tersebut.


Kami sudah sangat lelah, kuputuskan untuk meninggalkan Dinda. Toh dia juga sudah besar pasti bisa pulang sendiri. Aku lalu menggendong Givan yang nampak kelelahan dan menuju kasir untuk membayar mainan yang Givan pilih tadi.


Tak jauh dari kasir, kulihat Dinda berjongkok dan memegangi mainan anak-anak yang lumayan banyak. Perasaanku langsung tidak enak, pantas saja tadi dia menghilang rupanya tengah asik memilih mainan juga.


Dia melihatku dan langsung menarikku menuju kasir. Dia menaruh mainan yang ia bawa di atas meja kasir, dan aku hanya menaruh satu mainan dari tangan Givan. Sang kasir tersenyum ramah dan menanyakan apa ada lagi. Dinda menjawab dengan menggelengkan kepalanya saja dan tersenyum ramah.


"Dek, ini kau kan yang bayar?" tanyaku berbisik padanya. Aku tak mau kami jadi bahan tontonan orang-orang lagi.

__ADS_1


"Abanglah, aku belum gajian." ucap Dinda pelan juga sambil melihat sekeliling.


Aduh, rasanya aku ingin kabur saja. Atau tiba-tiba menghilang dari tempat ini dan muncul kembali di tempat lain. Bisa-bisa aku miskin mendadak sehari diajaknya jalan-jalan begini. Entah setelah ini dia minta kemana lagi. Otak ku sedang menghitung jumlah rupiah yang aku keluarkan hari ini, tiba-tiba dia mencubit perutku kuat sekali. Aku hampir berteriak karena tindakannya, "Pungo kah! Kuat sekali kau cubit. Ada apa hah?" tanyaku menatap tajam padanya. Jelas aku marah atas tindakannya barusan.


Dia tersenyum amat manis, "Bayar loh bang hai. Kenapa kau melamun terus hm?" ucapnya begitu halus dan jangan lupakan senyumannya itu. Mungkin kalau Devi sudah nangis-nangis jika ku katai dirinya gila seperti yang sering ku katakan pada Dinda.


Aku pasrah, ku keluarkan dompetku dari saku belakang celanaku. Dan menyerahkan kartu ku pada kasir. Aku pasrah bukan karena senyumannya itu. Lebih ke arah untuk menjaga harga diriku saja. 1,8 juta milikku ku tukar dengan beberapa mainan saja. Untuk barang yang bahkan aku tidak menggunakannya.


"Bang, lepas ini kita ke....." ucapannya ku potong lagi, "Tak ada tak ada. Pokoknya kita pulang sekarang!" seruku padanya. Dinda langsung cemberut mendengarnya.


"Tapi bang aku pengen jajan!" rengeknya memeluk lenganku. Apa dia tidak mengerti kalau ini tempat umum. Dia bertingkat seolah aku orangtuanya.


"Habis loh dek uang abang!" ungkapku dan mengambil beberapa barang darinya untuk ku taruh di motorku.


"Masa sih bang? Aku tau keuntungan dari hasil ladang abang. Masa baru di pakai sepuluh juta udah habis aja." sahutnya membantuku menata barang bawaannya.


"Sepuluh juta kau bilang. Abang habis 11,3 juta tadi." ungkapku kesal dan menaikan Givan ke atas motorku, "Bentar bang, pegangan kuat-kuat." ucapku pada Givan.


"Udah, cepet naik!" seruku dan membantunya naik ke motorku kembali.


Sepanjang perjalanan aku tak menghiraukan perkataan Dinda yang ingin jajan ini dan itu. Dia lebih berisik dari perempuan manapun. Bukannya aku pelit. Uang yang keluarkan cukup banyak di hari ini. Dan lagi memang dia siapa sampai harus ku turuti kemauannya.


"Bang, main ke bang Haris dulu ya?" ucap Dinda memberikan arahan.


"Bukannya Haris balik jam empat sore dek kalau tugas pagi?" sahutku tetap fokus melajukan motor.


"Ya. Akukan mau ketemu anak-anaknya." balas Dinda kemudian. Sejak tadi aku sedikit merasakan sesuatu di punggungku. Ada untungnya juga bawa barang banyak begini. Hmm, padatnya Dinda punya.


~

__ADS_1


Kami pun sampai di rumah Haris. Dinda masuk ke dalam tanpa mengajakku. Aku memilih duduk dan menyandarkan kepala ku di sofa ruang tamu Haris. Aku merasakan nyaman dengan posisi duduk ku, sepertinya sebentar lagi aku akan memejamkan mata.


Tapi malah terdengar suara anak-anak yang cukup berisik. Spontan akupun mencari asal suara tersebut. Pintu ruang bermain terbuka lebar, akupun tergerak untuk melihatnya.


Wow, kulihat Dinda yang tengah melonggarkan hijabnya. Nampak sedikit rambutnya yang berwarna keemasan. Hmm, rupanya banyak yang di vermak dari dirinya. Ku kira di balik hijabnya tersimpan rambut yang hitam. Dan lihat lehernya begitu jenjang, mulus, dan bersih. Sayang sekali tak terdapat kalung disana, tentunya dia akan lebih cantik dan indah bila tergantung kalung emas di lehernya. Kulit Dinda berwarna putih sedikit kuning, entah disebutnya apa. Tapi terlihat begitu alami dan rata. Tidak putih pucat seperti bintang K-Pop. Tidak wajahnya saja yang putih seperti yang sering kulihat dimana-mana. Sepertinya jika diberikan sedikit seni kemerahan di lehernya mungkin akan memberi kesan seksi.


"Uhh, memang Dinda ini barang bagus ya Di?" suara Haris mengangetkanku. Sungguh aku tak menyadari kehadirannya. Aku mengelus dadaku dan menatap tajam kearahnya. Haris tertawa geli dan berlalu masuk ke ruangan bermainnya.


Haris sedang membisikan sesuatu pada Dinda. Aku langsung pergi dari posisiku saat Haris menunjuk kearah ku dengan dagunya dan Dinda menoleh padaku juga.


Jadi, tadi aku ketangkap basah oleh Haris? Aduh, pasti aku akan malu sekali saat bertemu Dinda nanti. Sudah pasti Haris menceritakannya pada Dinda tadi. Aku memutuskan untuk pergi tanpa pamit terlebih dahulu. Aku memakai helm ku dan menyalakan mesin motorku.


"Abang, mau kemana? Nanti bang bareng aku!" teriak Dinda dari pintu rumah. Aku mematikan kembali motorku dan menurunkan kembali standar motorku.


"Abang ditelpon abang Mun dek. Suruh balik ke kedai." Bohongku padanya.


"Iya nanti bareng aku. Sini masuk, kita nyantai dulu." ucap Dinda menghampiriku dan menarik lenganku masuk ke dalam rumah.


"Bentar dek, abang lepas helm dulu!" balasku cepat.


Kami bertiga berada di halaman belakang rumah Haris. Untung dari tadi Dinda dan Haris tidak menyindirku dengan masalah yang tadi. Mungkin Haris tau sifatku pikirku.


Dinda begitu pro dengan obrolanku dan Haris. Dan sesekali dia menanggapinya. Beginikah jenis orang fleksibel itu? Memang partner ngobrol yang asik seorang Adinda di mataku.


TBC.


Hai kak, ikutin terus ya ceritanya 😊


Jangan lupa tinggalkan like, rate 5, vote, coment dan favoritkan juga ya. Agar dapat notif jika ceritanya sudah up.

__ADS_1


Terimakasih 🥰


__ADS_2